Wisata

Sawarna, Alternatif Lain Surfing

| dilihat 1823

Ketika teman saya berfoto belatarbelakang dua buah batu karang besar dan mempostingnya di akun facebook. Komentar decak kagum pun banyak bermunculan. Mereka mengira, teman saya itu berada di Thailand.”Wah indah nian pantai dan batu karangnya...Lagi di Thailand ya kok enggak ajak-ajak sich,” komen Santi pada status teman saya, Dian.

Sontak saja Dian tertegun dan bertanya pada saya,”Emang mirip ya sama di Thailand...kok mereka enggak tahu ada tempat sebagus ini di Banten.”

Rasa kaget dan heran Dian itu cukup beralasan, pasalnya tak banyak yang tahu sesungguhnya dua karang besar itu adalah ikon di Pantai Tanjung Layar, letaknya bersebelah dengan Pantai Sawarna, Banten. Pantai Sawarna adalah salah satu objek wisata pantai di wilayah Banten yang cukup indah untuk dikunjungi. Lokasi di Desa Sawarna, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten.

Kini, dua pantai ini begitu dikenal oleh para backpacker alias wisatawan lokal yang gemar berwisata dengan bujet minimal. Meski demikian, tak banyak yang tahu bagaimana menjangkau tempat ini tanpa bergantung pada jasa event organizer wisata. Ternyata lokasi tak terlampau sulit tapi hanya butuh waktu lama dalam mencapainya. Dan kami  pandu Anda menuju kawasan ini.

Jalan Terjal dan Berliku

Ketika kami berkunjung ke Pantai Sawarna, kami menempuh perjalanan panjang sekitar sembilam jam dari Jakarta melalui kota Serang menuju jalur Malingping, Pandeglang, Saketi, Bayah, serta Sawarna. Padahal jarak dari kota Jakarta sekitar 240 kilometer, seharusnya ditempuh sekitar lima hingga enam jam saja. Itu terjadi karena lokasi yang jauh dan jalan yang terjal serta berlubang sehingga memperlambat waktu tempuh.

Kami tak lantas menuju dua karang besar di tengah Pantai Tanjung Layar itu. Justru langkah pertama dimulai dari Pantai Sawarna. Ketika berjalan menuju pantai, suasana hijau dan asri lebih dulu terlihat lantaran pantai ini dikelilingi bukit dan persawahan. Di pantai ini Anda bisa menikmati deru ombak yang cukup besar dan melihat langit biru yang membentang luas, nampak begitu jernih, indah dan tentunya lanskep pantai yang cukup bersih.  Tak lupa, harus berhati-hati karena banyak anjing liar. Konon, anjing berseliweran itu adalah penunggu pantai tapi Anda jangan takut karena anjing-anjing itu tidak menganggu para turis.

Disebut tadi, meski dikenal oleh backpacker lokal tapi pantai ini belum begitu dikenal oleh turis lokal umum, semisal keluarga. Kabar baiknya, kawasan ini justru cukup dikenal oleh turis asing, khususnya penikmat surfing. Bisa dibilang Pantai Sawarna adalah alternatif wisata surfing baru yang layak didatangi.

Butiran pasir putih, kerasnya deburan ombak membuat pantai ini begitu elok dan tak boleh dilewatkan begitu sajaoleh pecinta olahraga surfing. “Saya sudah dua kali ke pantai ini, ombaknya bagus buat bermain surfing, suasananya tenang karena belum ramai dikunjungi orang,” ujar Jason asal Australia yang bekerja di Kawasan Sudirman.

Sayang, daerah ini belum digarap secara maksimal oleh penguasa setempat, terbukti dari minimnya transportasi dan akomodasi di lokasi ini. Meski begitu turis bisa menginap di cottage dan homestay dengan tarif mulai  Rp 100 ribu rupiah. Jika datang berkelompok  sebaiknya menyewa rumah seharga Rp 400 ribu rupiah sekaligus dua kali makan yang  disediakan oleh pemilik rumah.

Sawah dan Goa

Selain bisa menikmati sunset di pinggir pantai. Yang suka jalan-jalan pagi, juga bisa menikmasi sunrise di atas bukit. Selepas itu, jika bosan menyusuri Pantai Tanjung Layar dan Pantai Sawarna, Anda juga bisa mengunjungi Pantai Karang Taraje dengan hamparan batu karang dan ikan-ikan kecil, serta Pantai Lagoon Pari yang dikenal punya pasir putih dan air laut yang jernih. Selanjutnya, pelancong juga bisa berjalan menyusuri sawah menuju sebuah goa, kalau tak salah disebut Goa Pari,  yang menurut cerita, goa ini tak ada ujungnya. Masyarakat setempat bilang, goa ini pernah ditelusuri oleh pecinta alam dari beberapa universitas tapi tak ditemui ujungnya. Akhirnya mereka berbalik dari pintu awal mereka masuk.  

Melihat beragam wisata di wilayah Banten ternyata tak membosankan, malah banyak tempat wisata lain di wilayah ini belum terjamah. Jika infrastruktur digarap dengan baik, mulai dari akses jalan, transportasi, akomodasi, fasilitas pendukung lain dan kebersihan dijaga secara kontinu serta edukasi pemerintah seiring kesiapan masyarakat setempat dalam menyaring budaya baru yang masuk, maka tak menutup kemungkinan wilayah Banten akan menjadi salah satu tujuan wisata impian sekaligus jadi potensi wisata andalan pemerintah Banten. Kita tengok saja nanti, apakah masih indah dan asri atau justru sebaliknya.

Editor : Nur Baety Rofiq
 
Lingkungan
01 Nov 20, 23:18 WIB | Dilihat : 505
Anies Nyata Memimpin Transformasi Jakarta
01 Nov 20, 12:10 WIB | Dilihat : 174
Jakarta Jawara Dunia Tata Kelola Transportasi
04 Okt 20, 16:55 WIB | Dilihat : 189
Bangkitkan Marwah Banténois
20 Sep 20, 09:04 WIB | Dilihat : 755
Manusia Cerdas versus Manusia Pandir
Selanjutnya
Humaniora
22 Nov 20, 20:02 WIB | Dilihat : 135
Mentimun Bungkuk atawa Ketimun Bongkeng
22 Nov 20, 09:20 WIB | Dilihat : 154
Duri Beracun dalam Daging
20 Nov 20, 09:08 WIB | Dilihat : 105
Masih Banyak Profesor Sungguh Cendekiawan
19 Nov 20, 09:10 WIB | Dilihat : 107
Secercah Harapan kepada Muhammadiyah
Selanjutnya