Sandiaga Uno Telangkai Emak-emak dengan Generasi Millenial

| dilihat 678

Catatan Bang Sém

PEMILIHAN Presiden-Wakil Presiden 2019 ini menarik dan strategis. Tak hanya karena berada di penghujung 25 tahun pembangunan jangka panjang, selepas reformasi (1998), sekaligus akan menentukan langkah awal menuju seabad Indonesia merdeka (2045).

Proses pemilihan itu juga berlangsung di tengah transisi kuat antara konsolidasi demokrasi menuju transformasi demokrasi. Perubahan itu akan menghadapkan Indonesia pada gambaran masa depan yang prospektif, sekaligus merisaukan.

Bangsa ini akan menghadapi potensi yang bisa menggerakkan perubahan cepat dan ramatik, karena struktur demografi yang dipenuhi oleh lapisan kaum muda produktif, yang belakangan disebut generasi millenial.

Ini generasi ketiga yang mengurusi dunia dengan ragam karakternya. Dalam pandangan Strauss (2005), Generasi Millenial adalah generasi yang lahir pada paruh pertama dekade 80-an, saat ini berusia 26 tahun atau lebih muda. Generasi baru ini menyusul Generasi X yang berusia antara 36 - 49 tahun.

Sebelumnya adalah generasi Baby Boomers yang saat ini sudah setengah baya, berusia antara 50 sampai 65 tahun.  Sebelumnya adalah Silent Generation yang kini berusia di atas 66 tahun.

Generasi millenial inilah yang berhadapan langsung dengan kecenderungan perubahan nilai yang didorong oleh kemajuan sains dan teknologi, yang sekaligus mengubah minda tentang orientasi industri. Generasi millenial lahir di era informasi dan akan banyak mengubah karakter nilai masyarakat baru yang sedang bergerak di era konseptual.

Berbeda dengan dua generasi sebelumnya yang banyak berbicara mundur ke masa lalu, karena tertambat dengan romantisme peran di hari kemarin. Generasi millenial berfikir jauh ke masa depan, visioner. Mereka berfikir menambah-baik nilai apa yang sudah baik, memperbaiki apa yang belum baik, dan menemukan (invent) hal-hal baru untuk kehidupan masa depan. Mereka berfikir kreatif dan inovatif, tak sekadar menjadi bintang videotik menunggang kuda besi melintas di alam fantasi.

Sandiaga Salahuddin Uno adalah bagian dari Generasi X yang biasa disebut Generasi ke 13. Generasi inilah yang paling dekat dan mampu beradaptasi dengan Generasi Millenial. Menurut Alicia Moore (2007), Generasi millenial lahir berbarengan dengan Mac dan PC, Starbuck, voice mail, Steve Job, BillGates, HDTV, dan secure sexual contact.

Generasi millenial tak lagi menggunakan korek api di konser rock, dan menggantinya dengan nyala layar telepon bimbit (selular) mereka. Mereka tak kan menulis surat cinta dan mengirimkannya via kantor pos, cukup mengirim pesan lewat bimbit dengan bilangan karakter yang singkat.

Mereka belajar agama lewat jalan pintas, melalui kajian dengan pemikiran bebas yang tak pernah terbayangkan oleh generasi sebelumnya. Nilai-nilai dan ajaran agama, merupakan nilai yang harus dipraktikan dalam hidup, bukan sesuatu yang harus diperdebatkan.

Hidup mereka ringan-ringan saja, tak pernah nyelimet dengan beragam teori ekonomi dan mazhab, karena yang terpenting buat mereka adalah bagaimana menghadapi fakta-fakta brutal yang selalu bergerak dan berubah mempengaruhi perekonomian dunia.

Mereka tidak kaya karena warisan orang tua, karena mereka berkutat dengan gagasan kreatif dan inovasi untuk mewujudkan prinsip happynomic. Mereka tak terjebak dalam ikatan ideologi, karena ideologi berkembang selaras dengan dinamika perubahan zaman yang juga ketat.

Sandiaga Salahuddin Uno, lahir di Rumbai (28 Juni 1969) dari rahim seorang ibu berpendidikan, Mien R. Uno, buah cintanya dengan Razif Halik Uno – profesional di perusahaan minyak Stanvac. Dia menikah dengan Nur Asia, gadis Betawi metropolis berpendidikan baik. Seperti Sandi yang menyandang nama Salahuddin (yang mengingatkan orangtuanya dengan sahabat Salahuddin al Ayyubi) yang selalu punya cara menemukan solusi menghadapi kesulitan yang dihadapi umat, sekaligus bijaksana dan elegan.

Sandi dididik dengan model pendidikan islam yang berlaku dalam keluarga, karena ibunya sungguh menerapkan prinsip, ibu sebagai ‘madrasatul ula,’ pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Karenanya pendidikan agama di dalam keluarga dan pengalaman spiritual keislaman Sandi lebih teguh di banding kebanyakan muslim seusianya.

Terutama karena dia bersekolah dasar di PSKD (Protestan), SMP Negeri 12 – Kebayoran, SMA (Katolik), dan kuliah di Wichita State University – Kansas, Amerika Serikat. Pengalaman spiritual semacam ini yang menyebabkan Sandi menjalankan prinsip-prinsip ubudiah yang total, termasuk melaksanakan salat sunnat.

Ibu dan istri memperkaya spiritualitas Sandi sebagai muslim pekerja keras, pekerja cerdas, pekerja ikhlas, pekerja tuntas, dan tahan banting ketika digilas oleh perubahan era sangat dinamis transformasi ekonomi kapitalistik – dengan aneka fakta brutal yang terbawa serta, termasuk melemahnya mata uang rupiah.

Banyak orang berteori membangun strategi mengatasi keadaan di masa sulit, ketika perekonomian mengalami penurunan tajam. Sandi mengalaminya. Itu dia alami sejak tahun 1993, ketika bekerja di Singapura, bergabung di perusahaan investasi Seapower Asia Investment Limited, sebagai manager investasi.

Sandi juga meniti karirnya di NTI Resources Ltd – Kanada, sebagai Executive Vice President, tahun 1995, dengan gaji USD8.000 per bulan. Ketika perusahaan diterjang badai perekonomian dunia yang sangat brutal, dia pulang ke tanah airnya, Indonesia. Kondisi di dalam negeri berbeda dengan Singapura dan Kanada.

Yang dilakukan Sandi adalah mengubah minda (mindset) dari eksekutif profesional menjadi enterpreneur. Dia menjadi pengusaha. Bersama teman-teman SMA-nya, seperti Rosan Perkasa Roeslani – sekarang Ketua KADIN, dia mendirikan PT Recapital Advisors (1997) yang bergerak di bidang jasa konsultan keuangan.

Setahun kemudian (1998) bersama Edwin Soeryadjaya dia mendirikan perusahaan investasi PT Saratoga Investama Sedaya. Sandi yang terbilang sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia, tercatat pernah menggerakkan perusahaannya mengakuisi Bank BTPN (yang didirikan pertama kali oleh Soemitro Djojohadikusumo). Kemudian dia mengelola beberapa perusahaan: Saratoga Capital, PT Tower Bersama Infrastruktur Group Tbk, PT Adaro Energy Tbk, dan PT Recapital Advisor.

Sandi yang sangat disayangi ibu dan isterinya, itu sangat karib dengan dunia emak-emak. Ketika dia mengatakan, “the power of emak-emak,” yang dia katakan adalah ekspresi spiritual dan empiris. Sandi paham betul bagaimana ibu dan isterinya mentransfer energi kebaikan dan perubahan bagi dirinya.

Ada getaran ‘batin’ ketika dia menyebut Partai Emak-emak.  Di mata saya, Sandi bisa menjadi titik temu antara emak-emak dengan generasi millenial. Sandi bisa memainkan peran sebagai telangkai bagi emak-emak untuk mengenali dunia anak-anaknya, yang boleh jadi tak kan terhampiri secara empiris.

Sebaliknya, Sandi juga bisa menjadi telangkai bagi generasi millenial untuk menyampaikan isyarat tentang dunia mereka kepada emak-emak. Dan kelak, bisa mengatakan kepada emak-emak, “Selamat datang di dunia generasi millenial.”

Sandi mungkin geli hati menyikapi para pengeritiknya yang sangat subyektif mendedas dia soal program OK-OC yang digagasnya dan masih berproses. Juga mendedas dia dengan hal-hal printil, baik pengeritik dari kalangan generasi ‘senyap’ sampai generasi yang ‘seolah-olah millenial.’

Sebagai kandidat Calon Wakil Presiden, keberadaan Sandiaga Uno akan menjadi titik perubahan transformatif yang menarik bagi bangsa ini, ketika Prabowo Subianto fokus pada kedaulatan bangsa, nation dignity, politik luar negeri, transformasi sistem penyelenggaraan negara yang akan menguatkan pertahanan negara di sektor sosial, ekonomi, politik, hukum, pertahanan dan keamanan, serta pemuliaan anasir-anasir utama bangsa: ulama, cendekiawan, tentara, polisi, pengusaha, pekerja, petani, nelayan, aparatur sipil negara, guru, dan eksponen lainnya.

Akan halnya Sandi fokus menggerakkan transformasi ekonomi, pendidikan, pengembangan potensi generasi millenial, dan kelembagaan negara dan pemerintah, yang memungkinkan tersedianya layanan negara terhadap generasi millenial, sehingga bonus demografi, sungguh menjadi berkah dan bukan musibah, kelak.

Termasuk melakukan transformasi nilai yang memungkinkan warga bangsa, yang sebagian besar generasi millenial, membalik kemiskinan, menciptakan lingkungan cerdas, sehat, dan mampu secara ekonomi. Untuk akhirnya menegaskan esensi pembangunan sebagai gerakan peradaban, sehingga apapun yang dibangun (tak terkecuali infrastruktur) sungguh berdampak langsung pada keadilan dan kemakmuran kolektif. Tentu dengan nilai-nilai baru yang mampu berinteraksi dengan nilai-nilai global.

Lewat Sandi, emak-emak dan seluruh orang yang berfikir visioner, cerdas dan bijak akan mampu memahami karakter generasi millenial yang berbeda, tak mudah ditekan oleh keadaan, ambisius untuk berpestasi, berorientasi tim (bukan one man show), terkoneksi ke seluruh dunia, berorientasi pada layanan, pengelola waktu yang baik, terencana, untuk melayani dan melindungi rakyat.

Prabowo Subianto memang cerdas dan prajurit tangkas, sangat paham memilih, siapa yang mesti mendampinginya menghantarkan bangsa ini ke kondisi lebih baik. Menentukan Indonesia transformation kick off.

Pemimpin yang memuliakan ulama, cendekiawan, dan prajurit patriot, senantiasa menyayangi emak-emak dan generasi millenial. Saya yakini hal itu. |

 

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Energi & Tambang
14 Des 18, 10:48 WIB | Dilihat : 114
Surya Darma Sahabat Terbarukan
25 Nov 18, 12:33 WIB | Dilihat : 329
Nicke Widyawati di Tengah Arus Transformasi Pertamina
24 Nov 18, 08:44 WIB | Dilihat : 151
Menjaga Marwah Jurnalis Via AJP2018
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2763
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
Selanjutnya
Humaniora
06 Des 18, 12:07 WIB | Dilihat : 300
Reuni Mujahid 212 Referensi Relasi Rakyat dengan Media
05 Des 18, 00:03 WIB | Dilihat : 285
Seonggok Batik Berwiru
04 Des 18, 10:28 WIB | Dilihat : 305
Gairah dan Ghirah Mujahid Mujahidah 212
Selanjutnya