Memori Gerakan Nasionalisme Indonesia

Saatnya Boven Digoel Memperoleh Nilai Tukar Sepadan

| dilihat 586

Syaiful Bahri Ruray

“A country without memory  is a nation of madmen.”  [George Santayana].

Bagaimana mungkin kelompok-kelompok masyarakat yang miskin dan lemah tapi punya kekuatan bermimpi melepaskan diri dari kemiskinan dan ketertidakberdayaan mereka dengan menggunakan kekuatan mereka, terutama di zaman ketika pandangan tentang akhirat semakin samar dan ketika penderitaan dunia menjadi lebih kasat mata dan semakin tak tertahankan? (Alexis de Tocqueville, Recollections, 1851).

Mengawali wacana, perkenanlah saya mengutip kalimat Alexis de Tocqueville yang dikutip kembali oleh Elizabeth Fuller Collin dalam bukunya: Indonesia Dikhianati (2008) pada prolognya.

Menarik mengkaji ungkapan Tocqueville karena Revolusi Perancis, di mana jebolnya penjara Bastille, sebagai tonggak awal perubahan mendasar, tidak serta merta menghasilkan perbaikan sebagaimana cita-cita luhur semboyan liberte, fraternite, dan egalite tersebut. Karena Alexis de Tocqueville merekam pada tahun 1850 masih terjadinya kelaparan dan ketertinggalan yang menyengsarakan rakyat, karena gagalnya kepemimpinan politik dan korupsi pemerintahan, sebagaimana suratnya kepada rekannya, Nassau William Senior, pada 1848. Padahal di Paris mulai bangkit kebebasan pers, kebebasan berkumpul dan berserikat, dan pemberian hak pilih kepada semua orang.

Terdapat 479 surat kabar baru di Paris pada 1848, perkumpulan politik bermunculan dalam bentuk jaringan organisasi-organisasi dimana-mana. Ia merekam 203 perhimpunan dengan lebih dari 70.000 anggota. Namun saja, kebebasan luar biasa tersebut, tidak serta serta menghadirkan kekuatan sosial yang dapat dijadikan tumpuan untuk membebaskan rakyat dari tekanan dan depresi. Bahkan yang terjadi adalah demonstrasi terjadi di mana-mana sebagai ungkapan aksi protes atas nasib rakyat.

Apa yang diungkapkan oleh Tocqueville ini, menyimpulkan bahwa bergulirnya demokrasi, yang terjadi seiring dengan dibuka selebar-lebarnya kran kebebasan, ternyata tidak serta merta menghasilkan kesejahetaraan bagi rakyat banyak. Karenanya, harus ada memori yang kuat, dalam menegakkan tujuan dan cita atas kebebasan berdemokrasi itu sendiri.

Boven Digoel, Tempat Kristalisasi Gagasan Nasionalisme Indonesia.

Bahwa kita di Indonesia, bukan tidak mungkin, sejak bergulirnya kebebasan atas nama reformasi, malah yang terjadi adalah amnesia atas tujuan dan cita atas apa dan bagaimana bangsa ini ada. Walau diskursus tentang politik, setiap hari bergulir ramai melalui medsos, bahkan cenderung menjadi bola liar. Penyair Goenawan Mohamad (Pembentuk Sejarah, 2021), mewanti-wanti akan hal ini.

Perubahan tanpa isi, sangat berbahaya, karena akan mudah ditunggangi kepentingan-kepentingan pragmatisme sesaat, yang justeru berbalik berkhianat terhadap cita dan tujuan dibangunnya negara ini.

Goenawan menulis tentang Romo Mangunwijaya, yang sangat mengagumi Syahrir tersebut, menyebut orang ini “kalah atau gugur.”

“Apa arti kalah atau menang dalam pengertian historis?” menurut Romo Mangunwijaya, sangat besar artinya. Karena dapat menembus relung-relung panjang sang waktu kedepan. Sebagaimana penyaliban yang dihujat maupun dipuja hingga ratusan tahun kemudian.

Demikian halnya memori kita tentang Boven Digoel. Banyak yang berlalu, bahkan sengaja diterlantarkan tak berbekas dalam benak bangunan memori kolektif kita. Ia hanya sebatas ujung sebuah republik yang dibangun melalui jalan panjang revolusi. Padahal, justeru dari Digoel-lah dapat diretas pucuk, bahkan puncak dari jalan kebangsaan tentang Indonesia. Bahkan celakanya, kita seakan menelan bulat-bulat bahwa Hindia Belanda itu telah dijajah 350 tahun penuh.

Bumi Papua, tidak demikian adanya. Juga Batak, Bali, Kalimantan, dan Aceh. Dalam catatan Batara R. Hutagalung (Indonesia Tidak Pernah Dijajah, 2018), juga penelusuran dokumen kolonial di Belanda yang dilakukan Laksamana Madya (Purn) Freddy Numberi (Refleksi Kritis Sejarah Kontemporer Papua, 2020), menemukan bahwa Koloni West Nieuw Guinea, hanya efektif dikuasai Belanda selama 125 tahun sejak 24 Agustus 1828 hingga 1 Mei 1963. Apalagi menghitung penjajahan berawal sejak Cornelis de Houtman dan Federick de Houtman membuang sauh di Teluk Banten pada Juni 1595, yang hanya dengan bermodalkan peta buatan Huyghen van Linschoten tersebut.

Hal yang sama dikritik oleh Prof. Mr. G.J. Resink (Bukan 350 Tahun Dijajah, 2016) dengan berbasis dokumen hukum masa lalu, dapat menunjukkan bahwa Indonesia terbukti tidak sepenuhnya dijajah oleh Kolonial Belanda. Karena hukum adat lokal masih memiliki legal standing dimana-mana.

Tidak mengherankan jika wartawan senior Rosihan Anwar, menyebut kita adalah bangsa yang bermemori pendek, karena sering mengidap amnesia historis, lupa akan sejarah. Tidaklah berlebihan jika filsuf Spanyol George Santayana menyebutkan bahwa sebuah negeri tanpa memori adalah negerinya orang gila, sebagaimana saya kutip diawal tulisan ini.

Adalah Prof. Takashi Shiraishi (Hantu Digoel, Politik Pengaman Politik Zaman Kolonial, 2001), seorang sejarawan dengan spesialis Boven Digoel dari Kyoto University, yang menyebut bahwa di Digoel lah terjadi persemaian dan akumulasi gagasan serta ideologi nasionalisme yang melahirkan Indonesia. Kenapa itu terjadi? Karena di Boven Digoel lah kamp konsentrasi pertama dalam sejarah dikenal dunia yang mendahului Kamp Konsentrasi Yahudi yang dibangun Nazi Jerman pada Perang Dunia II, dan Kamp Gulag, Siberia, pada era Uni Soviet, bertemu para aktivis kemerdekaan dengan berbagai latar belakang, baik ideolog, daerah, partai, yang berinteraksi membentuk gagasan kemerdekaan Indonesia.

Boven Digoel memang bukan sekedar penjara alam biasa-biasa saja, apalagi dibandingkan dengan dengan Abughraib, Guantanamo, Kuba, yang baru saja ditutup Joe Biden pada akhir Januari 2022.

Dari Digoel-lah holocaust gagasan kebangsaan Indonesia diberangus oleh kolonial Belanda. Dan itu berlangsung sejak 1926 hingga takluknya Belanda karena serbuan Pasukan Dai Nippon ke Hindia Belanda pada 1942.

Tercatat banyak tahanan yang gila, mati, karena mencoba melarikan diri namun kemudian lenyap tak tentu rimbanya, ataupun tunduk pada kemauan penguasa kolonial. Gagasan tentang Indonesia, sengaja dihancurkan dari Digoel, sejak 1926 tersebut, namun Shiraishi menyebutkan dari Digoel-lah sebenarnya kemerdekaan sebuah bangsa baru, Indonesia, terkristalisasi menjadi solid. Bahkan dalam catatan biografi I.F.H. Chalid Salim (Lima Belas Tahun, Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea, 1977), juga Mohamad Bondan (Memoar Seorang Eks-Digoelis. Totalitas Sebuah Perjuangan, 2011), dan isterinya Molly Bondan alias Molly Warner (In Love with A Nation, Penuturan Dalam Kata-Katanya Sendiri, 2008), menjelaskan implikasi luas dan pengaruh dari Boven Digoel, telah bergulir jauh hingga manca negara. Hingga Australia, Eropa, bahkan New York melalui pertarungan diplomasi Indonesia di berbagai forum internasional.

Australia bangkit membela Indonesia, sebagai bangsa baru, terjadi karena para Digoelisten telah membuka mata dunia di berbagai kota-kota besar Australia.  Aktivis buruh Australia, hingga New Zealand, bangkit menyatakan simpati, mendukung eks Digoelisten.

Mereka berkampanye dan berhasil memblokade kapal-kapal KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschapij) yang hendak bongkar muat amunisi di pelabuhan Australia untuk tujuan menduduki kembali Indonesia, guna menjadikannya negara jahahan. Karena Digoel-lah, sehingga Australia (Richard C. Kirby) mengajukan diri sebagai wakil Indonesia, dalam perundingan Komisi Tiga Negara, yang dimediasi Amerika Serikat (Frank B. Graham). Sedangkan pihak Belanda diwakili Belgia (Paul van Zeeland).

Komisi ini bertugas menyelesaikan konflik Indonesia-Belanda, karena sikap Belanda yang ngotot mau kembali menjajah Indonesia yang telah memproklamasikan kemerdekaannya.

Dalam catatan A.K. Pringgodigdo (Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia, 1967) menyebut 4.500 tokoh buruh yang dijebloskan ke penjara kolonial. 1.300 orang aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, dikirim ke Boven Digoel sebagai tahanan politik. 4 orang di hukum mati. Hingga 1928 saja tercatat ada 823 orang, diantaranya 15 perempuan dan 10 orang Tionghoa, 629 berasal dari Jawa, 77 berasal dari Sumatera, dan 33 berasal dari Maluku.

Maluku Utara mencatat 4 orang Digoelisten, yakni A.M. Kamaruddin, kawan sekamar Bung Hatta di Digoel, Ismail Sahjuan Sangadji, Daniel Bohang, dan Haji Salahuddin bin Talabuddin. Beberapa dari mereka ini, telah ditahan sejak awal didirikannya Kamp Konsentrasi Boven Digoel dibangun oleh Gubernur Jenderal Andries Cornelies Dirk de Graeff, pada 18 November 1926 tersebut. Terjadi 16 kali percobaan pelarian dari ganasnya Kamp Konsentrasi Digoel ini sejak 1929 hingga 1943, yang melibatkan 50 interniran.

Mereka yang hilang, sebut saja si raja pelarian Thomas Najoan, Dahlan, dan Sukrawinata. Adapun tahanan sisanya banyak diserang malaria tropika, bahkan ada yang tewas dalam perkelahian di kamp konsentrasi. Termasuk yang diterkam buaya di sungai Digoel, sebagaimana dijelaskan Prof. Rudolf Mrazek (Sjahrir, Politik dan Pengasingan di Indonesia, 1996).

Dalam catatan Pramoedya Ananta Toer (Cerita dari Digul, 2019) menyebutkan angka penghuni Boven Digoel mencapai 2.233 orang. Mereka mendapat perlakuan kasar, kerja paksa membabat hutan dan membuka perladangan, tugas yang mahaberat. Lalu mereka dikepung penyakit disentri, beri-beri, dan tiga jenis malaria. Yang paling ditakuti adalah malaria hitam; bila air kencing sudah mulai berwarna hitam, itu pertanda bahwa ajal sedang menjemput.

Dua kakek saya, adalah penyintas Digoel, yakni A.M. Kamaruddin alias Ali Kama alias Ali Saus alias Ali Soviet, dan Ismail Sahjuan Sangadji, yang oleh anak cucu, kami panggil mereka berdua dengan sebut Kakek Sau dan Kakek Mael Digoel.

Ismail Sahjuan Sangadji terlibat penembakan terhadap pihak Belanda di Batavia dalam sebuah pesta dansa, dan Ali Saus alias Ali Soviet, bersama Daniel Bohang, terlibat Pemberontakan Silungkang dan Banten (1926-1927). Mereka ditangkap Politieke Inclichtingen Dienst (PID), semacam badan intelijen politik bentukan kolonial yang dibentuk Gubernur Jenderal Johan Paul van Limburg Stirum pada 1916 tersebut.

Ali Saus menempati ruangan yang sama dengan Bung Hatta, ketika Bung Hatta dan Syahrir dibuang ke Digoel pada tahun 1935. Ia menjadi asisten Bung Hatta, merapikan tempat tidur, menyemir sepatu, dan merapikan buku-buku Bung Hatta sebanyak 16 peti tersebut. Dari bilik situlah Bung Hatta menulis buku Alam Pikiran Yunani, yang kemudian menjadi mas kawin saat pernikahannya dengan Ibu Rahmi Hatta kelak.

Bung Hatta selama di Digoel, mengajarkan sejarah, filsafat dan ekonomi, kepada para sesama tahanan. Buku Alam Pikiran Yunani sendiri, adalah kumpulan bahan pelajaran filsafat selama di Boven Digoel. Prof. Rudolf Mrazek menyebutkan Syahrir juga mengajar, namun tidak seintens Bung Hatta.

Adapun pengaruh Hatta terhadap Ali Saus sangat besar, karena interaksinya dengan Bung Hatta selama di Digoel. Padahal Digoel menampung aktivis-aktivis PNI, PKI, PARI (Partai Republik Indonesia), Partai Indonesia (PARTINDO), Perhimpunan Muslimin Indonesia (PERMI), Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) dan lain-lainnya, yang sengaja dibungkam di Digoel.

Kedua kakek saya ini, setelah kemerdekaan, membawa warisan dari Digoel yang terus dibawanya hingga akhir hayat, yaitu malaria tropika dan rusaknya pendengaran karena banyak mengonsumsi pil kina selama di Digoel. Juga penyakit batuk pada paru-paru yang tak kunjung sembuh, karena iklim rawa-rawa dan sengatan nyamuk malaria selama ditahan di Boven Digoel.  

Ismail Sahjuan Sangadji menjadi pendukung setia PNI hingga akhir hayatnya, sedangkan A.M. Kamaruddin, menjadi Ketua Masyumi Maluku Utara hingga Masyumi membubarkan diri dibawah tekanan PKI terhadap Soekanro. Adapun Haji Salahuddin bin Talabuddin, tewas di depan regu tembak KNIL di Keluarahan Skep, Ternate. Sedangkan Daniel Bohang, meninggal karena usia tua di Desa Ngidiho, Distrik Galela Halmahera.

Boven Digoel, adalah Monumen Kemerdekaan Indonesia

Posisi Boven Digoel, sebagai tempat persemaian gagasan kemerdekaan, sebagamana dikatakan Prof. Takashi Shiraishi, Molly Bondan, Prof. Rudolf Mrazek, juga Prof. M.C. Ricklefs, memang hingga saat ini, seakan luput dari perhatian bangsa Indonesia. Padahal Digoel, berbeda dengan tempat pembuangan lainnya, sebutlah Endeh, Bandaneira, Bengkulu atau pun penjara sekelas Glodok, Sukamiskin, bahkan Nusakambangan sekalipun. Karena di Digoel terjadi konvergensi ideologi besar para aktivis kemerdekaan Indonesia, bahkan banyak yang hingga meregang nyawanya di sana.

Prof. Takashi sendiri menyayangkan akan Digoel yang tidak memperoleh perhatian dalam memori kolektif bangsa Indonesia, padahal dari situlah gaung perjuangan kemerdekaan menggema hingga melintasi batas teritorial Hindia Belanda. Hal tersebut, tak terjadi dari tempat tahanan lainnya di Hindia Belanda.

Sebenarnya, kita patut malu terhadap tetangga Australia, karena para Digoelisten yang meneruskan perjuangan kemerdekaan ketika di bawa secara paksa oleh Belanda ke Australia, mereka ternyata melanjutkan komitment atas kemerdekaan Indonesia di Australia. Lantas, oleh pemerintah Australia, disediakan tempat khusus bagi mereka yang tertembak dan tewas di kamp-kamp internir Belanda selama di Australia.

Australia menyediakan Taman Makam Pahlawan khusus bagi Pejuang Kemerdekaan Indonesia eks Digoelisten ini di Kota Cowra, Negara Bagian New South Wales, Australia, sebagai bentuk penghargaan atas para pejuang ini. Selama pecah Perang Dunia II (1942-1945), Pemerintah Kolonial Belanda mengangkut paksa 524 tahanan politik dari Boven Digoel ke Australia dengan status sebagai tawanan perang, bukan lagi tahanan politik. Oleh Charles Olke van der Plas, Ketua Komisi Nederland-Indisch, yang juga ikut mengungsi ke Australia, mereka para tahanan Digul ini difintah dan dimanipulasi statusnya menjadi tawanan perang, dengan cap baru, yaitu ikut membantu Jepang.

Dan terjadilah pemogokan terbesar dalam sejarah kaum buruh Australia, yang ikut membela perjuangan para Digoelisten ini. Sejarah mencatat buruh Australia yang ikut mogok adalah Australian Seamen’s Union (Serikat Buruh Laut Australia) dan Waterside Worker’s Federation (Federasi Buruh Dok dan Pelabuhan) Sydney. E.V. Elliot, pimpinan Serikat Buruh Australia, bahkan, memberikan sebuah bendera Merah Putih berukuran besar kepada eks Digoelisten, dalam aksi boikot ini, sebagai bentuk simpati dan dukungan kepada para Tahanan Digoel dan kemerdekaan Indonesia.

Bondan juga mencatat dukungan tentara Australia yang mengawal aksi-aksi ini, karena mengagumi akan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Peristiwa Black Armada (Armada Hitam), karena berhasil menghadang 400 kapal Belanda yang hendak menuju Indonesia untuk membawa amunisi dan peralatan perang.

Aksi para Digoelisten ini, disiarkan langsung oleh jaringan media dan Radio Australia (ABC) secara luas, bahkan menggema hingga ke ruang sidang Security Council (Dewan Keamanan) PBB di New York. Negara-negara Sekutu, dimana termasuk Belanda selama Perang Dunia II, mulai berbalik memprotes sikap Belanda yang disebut telah bertindak layaknya fasisme Jerman, karena berupaya menduduki Indonesia.

Dari Digoel-lah Indonesia Berawal.

Nah, posisi historis Boven Digoel yang sedemikian penting dalam konteks sejarah nasional bagi terbentuknya Indonesia, hingga bergaung ke manca negara ini, sangatlah disayangkan jika tidak ada upaya serius untuk merekonstruksi memori kolektif Indonesia. Bahwa Indonesia, walaupun Proklamasi 17 Agustus 1945, dilaksanakan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, namun itu hanyalah momentum eksekusi politik.

Akumulasi dan kristalisasi gagasan akan kemerdekaan, justeru terjadi di Boven Digoel. Gagasan yang semulanya akan dibungkam secara paksa dan kejam oleh upaya sistematis kolonial, ternyata mendapat perlawanan justeru dari Boven Digoel. Untuk itu, tidaklah berlebihan jika di Boven Digoel, harus di bangun Museum Perjuangan Kemerdekaan dan Pembentukan Indonesia, sebagai upaya melawan lupa. Sekaligus hal ini sangat penting, untuk menjadikan Indonesia, bukan bangsa pelupa dan negerinya orang gila, sebagaimana kalimat filsuf Spanyol George Santayana dan wartawan pejuang Rosihan Anwar yang saya kutip di awal tulisan ini.\

Silahkan kita bandingkan dengan Singapore yang kecil, namun mampu merenovasi Pulau Sentosa, eks kamp tawanan Jepang pada Perang Dunia II tersebut, menjadi museum sejarah nasional tentang Singapore, bahkan Sentosa Island telah menjadi destinasi wisata utama. Belanda sendiri, negara yang tak seluas Jawa Barat tersebut, memiliki sekian banyak museum, sebutlah Tropenmuseum, KNIL Museum Bronbeek, Rijksmuseum, Van Gogh Museum, Anne Frank Museum (AnneFrankhuis), Museum Maluku (MuMa), Maritime Museum, Leiden American Museum, dan lain-lainnya. Hal ini menandai betapa seriusnya negara memelihara memori kolektif bangsa tersebut.

Bagi Boven Digoel, bisa juga dibangun sebuah tugu peringatan dibangun, agar anak bangsa sadar akan sejarahnya, bahwa Indonesia, pergumulan idenya terjadi di Boven Digoel lalu mendunia. Imajinasi tentang kebangsaan, memuncak di Boven Digoel, bukan di tempat lain. Benedict Anderson, mengingatkan bahwa bangsa itu terbentuk karena imajinasi. Tidak mengherankan jika I.F.M. Chalid Salim, seorang akvitivis komunis pada awalnya, kemudian menjadi seorang pendeta, yang lama mendekam di Boven Digoel, menuliskan kisahnya pada 1973 dari Rijswijk, Belanda, sengaja memilih judul pada bukunya: "Limabelas Tahun Digoel, Kamp Konsentrasi di Nieuw Guinea, Tempat Persemaian Kemerdekaan Indonesia" (Vijftiejn Jaar Boven-Digoel: Concentratiekamp in Nieuw Guinea Bakermat van de Indonesische Onafhasikelijkheid, 1973).

Prof. A. Hasjmy juga menulis catatan menarik: Tanah Merah, Digoel Bumi Pahlawan Kemerdekaan Indonesia (1976). Menurut informasi, di Arsip Nasional terdapat dokumen tentang kehidupan di Digul setebal tak kurang lebih dari tiga meter atau berjumlah 24 boks dari periode 1927-1942. Bahkan Prof. Anthony Reid, juga mencatat tentang tokoh Abdoe’l Xarim M.s (Abdoel Karim bin Moehamad Soetan), seorang Digoelisten dalam karyanya: The Blood of The People, Revolution and The End of Traditional Rule in Northern Sumatra (1979).

Perlu ada kerja sama Pemerintah Daerah dengan Arsip Nasional maupun Perpustakaan Nasional, untuk menghimpun kembali semua dokumen dan referensi tentang  Boven-Digoel, dan membangun museum sekaligus perpustakaan lokal yang dapat mendokumentasikan kembali perjuangan kemerdekaan Indonesia ini. Karena ada pepatah no document, no history, juga adagium historia vitae magistra (sejarah adalah guru sang kehidupan).

Sudah saatnya Boven Digoel memperoleh nilai tukar yang sepadan dengan apa yang dipersembahkannya bagi nation building Indonesia.

 

Kaki Gamalama, 2 Februari 2022.

Penulis adalah cucu salah seorang penyintas Kamp Konsentrasi Boven Digoel)

Editor : delanova | Sumber : foto berbagai sumber
 
Polhukam
Energi & Tambang
27 Sep 22, 12:58 WIB | Dilihat : 170
Rachmat Gobel : Indonesia Mesti Bisa Swasembada Aspal
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 761
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1614
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1815
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya