S.A.G.O.N

| dilihat 1031

Bang Sem

SAGON bakar itu baru saja saya terima dari seorang pengantar titipan kilat, ketika sedang berdiri di beranda, menunggu mesin mobil dipanaskan. Sejak kecil saya memang senang dengan sagon bakar.

Sejak berceramah dalam pelatihan indigopreneur yang digelar salah satu BUMN di Sukabumi, saya selalu mendapakan kiriman sagon itu dari seorang peserta. Ibu muda beranak satu yang gigih mengembangkan produknya dengan cara-cara yang wajar dan biasa saja.

Lewat email, kami mendiskusikan banyak hal tentang sagon itu. Mulai dari penyempurnaan resep dan cara masak, pengemasan, sampai pemasaran. Ria, produsen sagon itu memang cerdas dan kreatif.

Ia tak pernah henti mengembangkan kreativitasnya. Selama ini, satu-satunya teman dia berkonsultasi tentang produk adalah ibunya, yang mewariskan resep pengolahan sagon bakar itu.

Setelah merasa pas dengan standar mutu produk dan berhasil mengungguli produk sejenis di pasar, Ria berfikir mengembangkan cara produksi yang lebih efisien.

Dengan pengetahuan terbatas, ia mengutak-atik imajinasinya tentang mesin pengolah bahan dan mengubah pola distribusi pembakaran pada oven.

Kami mendiskusikan kembali, sampai dia menemukan seorang teman yang memberikan waktu mendesain mesin pengolah bahan. Ria mendatangi bengkel di dekat rumah dan meminta membuatkan mesin seperti desain yang dia terima dari temannya.

Mesin yang dibuat di bengkel tetangga, hanya bisa mengefektifkan proses produksi, tapi belum efisien. Setelah memperbaiki berulang-ulang, akhirnya berhasil. Sekarang mesin sudah efektif dan biaya produksi juga sudah efisien.

Kualitas produk juga lebih baik. Tinggal lagi mengubah kemasan yang lebih eye catch, sehingga ketika dipasang di display toko, akan cepat menarik perhatian.  

Saya memandu Ria memasukkan narasi kecil dalam kemasan untuk memperkuat brand yang sudah melekat di benak pelanggan. Di dalam narasi itu, tak hanya cerita tentang asal usul sagon bakar yang diinformasikan. Bahkan cara produksinya.

Mulanya Ria keberatan. Ia mengganggap dengan menjelaskan cara dan proses produksi akan mematikan usahanya, karena akan menambah jumlah orang bisa memproduksi dan akhirnya menjadi pesaing. Tapi, ia merelakan juga narasi itu masuk dalam kemasan.

Surprise! Permintaan pasar justru meningkat. Hasil survey kecil-kecilan, sekadar questioner menunjukkan, kian mengetahui proses pengolahan dan produksi, konsumen justru bertambah yakin dengan kualitas produk. Termasuk standar hygiene sanitasi produk ini. Narasi ini juga yang menjadi alasan toko-toko meminta tambahan produk untuk memenuhi permintaan pasar.

Lewat diskusi dengan berbagai penjaga toko di kota-kota yang tak jauh dari kotanya, Ria juga mendapat informasi yang memicu kreativitasnya untuk terus berinovasi, yakni panduan menghidangkan sagon bakar di dalam keluarga.

Saya katakan kepadanya, suatu produk makanan ringan yang berkompetisi dengan produk fabrikan selain harus memenuhi standar hygiene sanitasi yang sama, harus menunjukkan kelebihan dan kenggulannya yang khas. Yaitu manfaat produk bagi konsumennya baik secara personal maupun sosial.

Biarkan konsumen, dengan inisiatif dan caranya sendiri menyebar informasi kemanfaatan dan keunggulan produk itu kepada konsumen lain secara lebih luas.

Selebihnya adalah jadikan produk sebagai bagian dari kebanggaan konsumen, ketika mereka menjadikan produk ini sebagai ‘suvenir’ atau ole-ole bagi kerabat dan koleganya.

Kami memulainya. Setiap berkunjung ke rumah famili, saya, Ria, dan ibunya bercerita tentang produk yang relatif terjangkau ini. Kemudian menjadikan produk sebagai bagian dari identitas yang khas.

Kreativitas, inovasi, kerja keras, dan keja cerdas Ria mengawal produksinya kini mula berbuah keberhasilan. Sejumlah program kemitraan sejumlah perusahaan mulai mendekat, ketika perlahan-lahan BUMN mengurangi program kemitraan secara langsung.

Belakangan, bahkan sejumlah bank nasional bermodal asing yang agresif mengisi ruang ‘kosong’ yang ditinggalkan BUMN untuk memperkuat akses Ria dan banyak pelaku usaha kreatif mandiri terhadap modal. |

Editor : sem haesy
 
Budaya
20 Mei 18, 22:08 WIB | Dilihat : 693
Abah Iwan Dian Tak Pernah Padam
04 Apr 18, 14:35 WIB | Dilihat : 3299
Budaya Tanding dari Wine ke Bir Pletok
06 Mar 18, 09:59 WIB | Dilihat : 1648
Jangan Sembarangan Nyomot Betawi
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
07 Mei 18, 12:45 WIB | Dilihat : 2703
Soal TKA Yang Diperlukan Cara Bukan Alasan
25 Apr 18, 01:49 WIB | Dilihat : 712
10 Alasan Perusahaan Gagal Dalam Layanan Prima
23 Apr 18, 12:58 WIB | Dilihat : 624
ICPF2018 Jendela Industri Kreatif dan Budaya
Selanjutnya