Ruwaybidah, Jabatan Publik dan Bencana

| dilihat 240

Haedar Alwi

JABATAN (khasnya jabatan publik) adalah sarana untuk melakukan pelayanan kepada orang banyak. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin berat tanggungjawab pelayanan yang harus dilaksanakannya.

Di dalam jabatan selalu terkandung tanggungjawab yang melekat kuat dalam amanah. Artinya jabatan bukanlah hadiah atau pemberian.

Rasulullah Muhammad SAW  menegaskan, “Barangsiapa yang Allah angkat sebagai pengatur urusan umat Islam, lalu ia bersembunyi dari kewajiban-kewajibannya, maka Allah pun akan menghindar dari keperluannya di hari kiamat”.

Itulah sebabnya, jabatan di dalam Islam bukan untuk mereka yang meminta (jabatan itu), namun untuk mereka yang berhak (pantas dan layak) menerimanya. Yaitu, mereka yang memenuhi kualifikasi untuk menerima amanah.

Abu Musa berkesaksian, suatu ketika Rasulullah dikunjungi dua orang lelaki dari Bani Amir.

Keduanya memohon, “Ya Rasulullah, Jadikan aku sebagai pimpinan atas sebagian dari apa yang Allah jadikan engkau sebagai pemimpinnya.”

Kepada keduanya, Rasulullah SAW menyatakan, “Sesungguhnya, kami – demi Allah – tidak menyerahkan pekerjaan ini kepada seseorang yang memintanya atau seseorang yang sangat berhasrat untuk itu.”

Rasulullah SAW tidak pernah memberikan jabatan kepada mereka yang meminta jabatan itu. Rasulullah hanya memberikan jabatan kepada mereka yang dinilai pantas dan patut menerimanya, dan diyakini: amanah dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.

Ada proses seleksi dengan kategori jabatan dan kriteria kepatutan – kepantasan. Hal itu berlaku bagi siapa saja. Tanpa kepatutan dan kepantasan, yang akan berlaku adalah bencana yang tak dapat dimigitasi dengan cara apapun.

Kriteria kepatutan dan kepantasan yang utama adalah: amanah, shadiq, fathanah, dan tabligh.

Amanah:  dapat dipercaya untuk mengemban tugas dan tanggungjawab memimpin dan melayani. Shadiq: selalu berfikir, bersikap dan bertindak benar, serta berkhidmat pada kebenaran. Fathanah : cendekia dan arif dalam memimpin dan melayani masyarakatnya. Tabligh : komunikatif dan beretika dalam berkomunikasi (dengan menggunakan kata dan cara yang baik) – bil hikmah, wal mauidzatil hasanah.

Kriteria kepatutan dan kepantasan itu menjadi penting, untuk menghindari, agar jabatan (khasnya jabatan publik) tak sampai diberikan kepada orang jahil : pandai berbohong,  curang – korup, merasa diri paling hebat dan paling benar, dan tak berakhlak – terutama dalam berkomunikasi.

Orang jahil itulah yang disebut Ruwaybidah. Siapa dia? Rasulullah Muhammad SAW ( hadits riwayat Ahmad, Ibnu Majah, dan al Hakim, bersumber dari Abu Hurairah) menyebut : al-rajul al-tafihu yatakallam fi amri’l – ‘ammah (orang jahil – tercela yang – diberikan wewenang  berbicara dan mengurusi – urusan publik).

Ruwaybidah akan ada dalam kehidupan umat manusia pada zaman, ketika tiba tahun-tahun dusta, tahun dimana para pendusta dipercaya, yang benar dianggap pendusta, orang jahat disangka baik, dan yang baik dituding jahat, serta orang yang dapat dipercaya dianggap berbahaya.

Secara leksikal, Ruwaybidah boleh dikatakan sebagai manusia yang tak layak dan tak patut, tidak mempunyai integritas pribadi yang sesuai dengan standar budaya dan peradaban.

Ruwaybidah adalah mereka yang berpengetahuan elementer tentang banyak hal, namun merasa mempunyai kapasitas dan kompetensi luar biasa. Termasuk dalam mengelola urusan sosial politik dan pemerintahan.

Ruwaybidah menjadi salah satu faktor bencana kehidupan sosial masyarakat. Rasulullah Muhammad SAW, seperti yang dituturkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib menyebut, satu dari 15 (lima belas) penyebab bencana bagi suatu masyarakat, adalah ketika orang jahil semacam itu menjadi pemimpin masyarakat (HR Tirmidzi, 2136).

Sumber bencana lainnya adalah ketika, ghanimah – harta pampasan hak umat – dianggap sebagai milik pribadi, zakat dianggap cukai (pajak), amanah dijadikan pampasan, suami menjadi budak isteri, sehingga durhaka kepada ibu, mengutamakan sahabatnya sehingga berbuat zalim kepada ayahnya, riuh gaduh di dalam masjid – yang bertentangan dengan syari’ah, seseorang dihormati karena semata-mata takut dengan kejahatannya, khamar (alkohol dan zat yang memabukkan lainnya) tersebar merata dan biasa dikonsumsi khalayak, laki-laki mengenakan pakaian (termasuk berbahan) pakaian perempuan, penyanyi dan penari perempuan (yang tak senonoh) dielu-elukan, serta  generasi muda mencela dan mencerca generasi terdahulu.

Bencana ditandai dengan angin merah (kebakaran  alamiah yang disebabkan ulah manusia sendiri), bumi tenggelam perlahan-lahan (karena gempa, longsor, instrusi air laut, erosi, dan sejenisnya), dan berbagai fenomena yang mengubah peradaban, termasuk perubahan bentuk kezaliman di masa lalu yang menjelma dalam bentuknya yang baru.

Standar kepatutan dan kelayakan pemangku jabatan publik sebagai pemimpin dan pelayan masyarakat itu menjadi penting. Karena merekalah yang akan menentukan bagaimana kualitas hidup masyarakatnya. Ibnu Hazm – cendekiawan muslim besar dari Spanyol – mengatakan, “Tidak ada yang lebih berbahaya bagi suatu masyarakat, kecuali masuknya pemikiran ke dalam pikiran mereka, dari pemikiran orang-orang jahil. Karena kelak, ketika mereka pandir, mereka merasa memiliki pengetahuan. Mereka menyebabkan terjadinya korupsi, ketika mereka merasa sedang meluruskannya.”

Rasulullah Muhammad SAW memberikan contoh yang baik, ketika memilih seorang pemuda dua puluh tahunan yang pribadinya mempunyai standar kepatutan dan kelayakan sebagai pemimpin, yaitu Usamah bin Zaid, yang diangkat sebagai panglima tentara dan menugaskannya ke medan laga bersama para sahabat terbaik dan kaum muhajirin.

Usamah berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik dan mencapai prestasi gemilang. Padahal, dia termasuk seorang pemuda yang sebelumnya tak mengharapkan jabatan. Tetapi, ketika ditugaskan dan diangkat sebagai pemimpin, dia menunjukkan kualitasnya, kendati diremehkan banyak orang.

Kunci keberhasilan Usamah bin Zaid adalah tegas, cerdas, cermat, mau belajar keras, dan bekerja tuntas dalam mengemban amanah yang diberikan kepadanya.

Berbahagialah mereka yang tak meminta-minta jabatan, tetapi selalu selalu mampu membuktikan kualitas dirinya sebagai pemimpin dan pelayan umat, serta bekerja dengan sangat baik. Sesungguhnya, yang terpenting bagi manusia adalah kemampuan, kualitas, dan kompetensinya. Bukan jabatannya.

Contoh lainnya adalah Ustman bin Abi al-Ash, yang diberikan amanah oleh  Rasulullah SAW mengangkat seorang anak muda, memimpin di Tsafiq, karena  dia tak pernah meminta jabatan itu. Anak muda ini, mempunyai kompetensi dan kepemimpinan yang baik, selain ikhlas menjalani hasratnya mengajarkan al Qur’an.

Pada akhirnya, Allah akan menempatkan mereka yang layak dan patut memimpin, memperoleh amanah mengurusi rakyat, tanpa harus meminta apalagi memburunya.

Nilai manusia terletak pada kemampuan dan kualitas dirinya, yang terukur dalam kualitas ketakwaannya, bukan pada jabatannya. | 

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Sainstek
10 Jan 17, 15:25 WIB | Dilihat : 152
Honda Kembangkan Teknologi Motor Pintar
23 Des 16, 05:31 WIB | Dilihat : 272
Menanti Kehadiran Penghasil Listrik Berteknologi Nano
16 Des 16, 07:34 WIB | Dilihat : 390
Oasis, Mobil Unik dengan Kebun Mini
11 Nov 16, 14:21 WIB | Dilihat : 877
Motochimp, Si Mungil yang Unik
Selanjutnya
Energi & Tambang
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 612
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
15 Des 16, 21:23 WIB | Dilihat : 834
Pertamina Serius Investasi di Hulu
Selanjutnya