Dari Webinar CSI dan ISBI Bandung

Reposisi Perempuan Masa Kini dan Masa Depan

| dilihat 423

Catatan Endang Caturwati

Menteri Riset dan Teknologi  (Menristek) Bambang Brodjonegoro berharap para perempuan di bidang Ristek menjadi tokoh yang terdepan dalam masa pandemi Covid-19 dengan hasil penelitiannya.

Setiap perempuan harus meneladani semangat Pahlawan Nasional Indonesia RA Kartini yang menjadi pelopor kebangkitan perempuan Indonesia.

"Perempuan Indonesia yang memiliki profesi sebagai peneliti, perekayasa, inovator dan profesi lain, di bidang riset teknologi dan inovasi mampu menghasilkan inovasi yang hebat dan menjadi solusi bagi permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia dan dunia Perjuangan perempuan khususnya di bidang Ristek sangat besar karena beberapa di antara mereka harus juga berperan sebagai seorang istri dan ibu sehingga memiliki tugas ganda (suara.com, 21 .04. 21).

Selaras dengan hal tersebut,  Rabu (21 April 2021), Citra Srikandi Indonesia (CSI) bekerjasama dengan ISBI Bandung, menggelar webinar internasional secara daring, bertema: “Kartini as Inspiration: Repositioning Women’s Role in Contemporary Indonesia.”

Webinar ini menghadirkan pembicara dari 3 negara. Prof. Dr. Sri Rochana Widyastutieningrum dari ISI Surakarta, bertindak sebagai keynote speaker. Para pembicara lainnya adalah Dr. Hanisa Hassan, Dekan Faculty of Creative Technology and Heritage, Universiti Malaysia Kelantan; Prof Juju Masunah, Ketua Prodi S2 Pendidikan Seni, UPI Bandung; Ratna Lestari Harjana M.A., Kepala Fungsi Penerangan Sosial Budaya, KBRI Singapura; dan, Rhomayda Alfa Aimah, M.A. dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Tulungagung.

Selain webinar, juga disajikan video pembacaan puisi Kartini karya Gus Nas oleh empat Guru Besar perempuan dan pembacaan puisi oleh 40 anggota CSI dari buku kumpulan puisi karya 19 perempuan CSI berjudul ‘Senarai Asa Perempuan’ (2021). Pembacaan puisi tersebut, arahan Prof, Dr. Yudiaryani, MA, dosen ISI Yogyakarta.

Rangkaian kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk apresiasi sekaligus respon CSI dan ISBI Bandung atas jasa-jasa Kartini bagi kemajuan perempuan di Indonesia.

Saat ini peran perempuan Indonesia telah banyak mengalami perubahan dan memberikan pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat. Kaum perempuan telah memainkan peran utama dalam berbagai bidang penting, seperti politik, pekerja profesional, pendidikan, kedokteran, bisnis, hukum, dan sebagainya. Tentu, faktor terpenting bagi perubahan ini adalah pendidikan ketika kaum perempuan memiliki akses pendidikan yang lebih luas.

 Memberi Motivasi dan Menyediakan Bahan Kajian

Kartini adalah tokoh inspiratif yang membawa gagasan untuk mendukung kebebasan dan pendidikan perempuan. Ide-idenya yang telah ditulis sejak usia sangat muda tentang berbagai isu (modernitas, nasionalisme, pendidikan, budaya, bahkan agama), menjadi bukti bahwa Kartini, semasa hidupnya yang singkat merupakan seorang penulis muda yang luar biasa. Karenanya, ia selalu layak dikenang.

Webinar tentang posisi Kartini sebagai inspirator, ini mengemukakan berbagai pandangan ke depan, tentang bagaimana memikirkan dan mempertimbangkan kembali peran-peran perempuan di berbagai sektor. Khasnya untuk menjawab masalah, tantangan, dan peluang, sehingga dapat meningkatkan kontribusi kaum perempuan untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Paparan para narasumber  yang beragam, memberikan motivasi dan menyediakan bahan  kajian yang dapat  dikembangan menjadi isu-isu penelitian.

Setarikan nafas, juga  'merangsang' kreativitas dan inovasi  dalam menghasilkan produk kreatif. Termasuk menjadi motivasi dan inspirasi dalam melakukan  kegiatan Tri Darma Perguruan Tinggi. Keluarannya kelak, berupa publikasi dalam jurnal ilmiah yang terkreditasi nasional, serta internasional.

Hal tersebut sangat dimungkinkan apabila para dosen dan guru menyikapi, setiap kegiatan CSI dari yang terkecil, seperti menulis buku bersama bagi penulis pemula, dapat dijadikan dasar untuk mengembangakan lebih lanjut sesuai dengan kompetensi masing-masing.

Membuka Wawasan

Pada webinar internasional tersebut, paparan nara sumber, mulai  dari keynote speaker, memberikan jalan untuk para perempuan membuka wawasan, serta  mengembangkan ilmunya.

Sri Rochana, selaku keynote speaker, memberikan kunci solusi, dan menegaskan, "Tidak ada kata selesai dalam memperjuangkan peningkatan harkat dan martabat perempuan."

Perempuan Indonesia  terus berjuang meningkatkan harkat dan martabatnya. Perempuan, ungkap Sri Rochana, adalah anugerah Illahi yang penuh dengan keberkahan dan kebahagiaan, karena dilengkapi dengan kekuatan, kegigihan, ketangguhan, keuletan, ketekunan, kesabaran, dan pantang menyerah.

Perempuan Indonesia tetap kreatif, inovatif, inspiratif, dan adaptif dalam menghadapi tantangan masa depan.  

Perempuan adalah tiang negara yang berkewajiban mempersiapkan generasi penerus yang cerdas, handal dan berakhlak mulia.

Pembicara Hanisa Hassan dari Kelantan, Malaysia, dalam presentasinya memaparkan, mengenai Konsep asas yang berkaitan dengan proses pembelajaran yaitu, Internalisasi, Sosialisasi, dan Enkulturasi. 

Perempuan asal Kelantan yang telah mengubah perspektif peran sebagai, ‘Dekan Pertama Perempuan‘ di negeri kelahirannya yang berbudaya khas, itu mengungkapkan, Internalisasi merupakan proses belajar dalam diri seseorang dari lahir sehingga dia berakhir; pengalaman mengajar manusia tentang emosi, perasaan dan cara menghadapi kehidupan sehari-hari.

Sosialisasi merupakan proses belajar melalui kelompok sosial oleh anggota keluarga atau masyarakat dengan tatacara atau norma-norma tertentu. Sedangkan enkulturasi, adalah memilih unsur-unsur elemen budaya tertentu, mengambil apa yang sesuai atau meninggalkan apa yg tidak lagi sesuai dalam sesuatu budaya untuk diamalkan dari aspek kentara atau tidak kentara.

Enkulturasi,  secara mengalir telah menjadi pilihan perempuan Kelantan - Malaysia, yang terkait dengan eksistensi kiprah perempuan negeri jiran, itu di masa kini, dengan melalui proses tiga dekade.

Dekade pertama, Era Klasik atau Tradisional yang ditandai oleh ciri-ciri: Tidak ada pendidikan formal; Pakem adat yang masih utuh; Pernikahan yang ditentukan keluarga; Pengetahuan terbatas pada hal-hal domestik; Sistem sosial masih di sekitar keluarga dan tetangga (keluarga besar); Perempuan tinggal di rumah dan tidak bekerja; Kalaupun bekerja, di sektor-sektor pertanian domestik; Penampilan dan gaya mereka masih klasik/ tradisional.

Dekade kedua,  Era Kolonial dan Pasca Kolonial, ditandai oleh ciri-ciri: Perempuan mendapat akses pendidikan formal; Mulai dapat bertutur di dalam Bahasa Inggris; Perempuan sudah mulai keluar dari pakem sosialnya; Sistem ekonomi masih separa indipenden; Perempuan mulai bekerja di sektor-sektor pendidikan, pembantu perubatan dan pertanian; dan, Penampilan dan gaya mulai berubah ke arah Barat.

Dekade ketiga, Era Modern, ditandai dengan ciri-ciri:  Perempuan bertutur dengan bahasa Inggris dan Melayu; Perempuan sudah mulai belajar ke peringkat tertinggi.; Lebih indipenden dalam banyak hal.; Mempunyai ekonomi sendiri dan tidak lagi bergantung hidup pada keluarga; Rata-ratanya bebas membuat pilihan sendiri tentang masa depan serta kehidupan.; Mulai berhijrah ke kota-kota besar/ luar negeri; Sudah mulai memasuki sektor professional.; Penampilannya juga lebih ‘Percaya Diri’ (PD), fleksibel mengikuti jenis pekerjaan.

Sosok Srikandi dalam Epos Mahabharata

Juju Masyunah, Guru Besar UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) Bandung,  yang berlatar belakang profesi sebagai penari,  menyampaikan presentasi bertajuk, ‘Suara Perempuan di Panggung: Inspirasi Kartini.’

Juju mengungkap pengalaman pribadinya dalam melihat peran inspirasi Kartini. Juju mulai dengan pertanyaan, “Apa yang bisa  kita pelajari  dari Kartini?”

Kartini, ungkap Juju, adalah pahlawan dan perempuan untuk pendidikan perempuan di Indonesia. Karya pemikiran tertulisnya yang  sangat terkenal (terjemahan Armijn Pane), adalah Habis Gelap Terbitlah Terang.

Juju mengandaikan, Kartini adalah sosok Srikandi yang terdapat pada epik Mahabrata versi Jawa. Sosok perempuan yang pantang menyerah, memikirkan perempuan bangsanya untuk maju, 'mendobrak' kegelapan menuju  sinar terang yang akan menjadikan cahaya bagi generasi penerus bangsa.

Juju memberi pernyataan yang tersirat menyangsikan peran laki-laki. Juju bertanya, ‘Apakah laki-laki mempunyai andil mendukung kiprah perempuann untuk maju?'

Juju mengungkapkan pernyataan rasa, di balik kesuksesannya, ada perempuan-perempuan yang mendukung untuk menjadi  pribadi yang percaya diri. Dari pribadi yang bukan apa-apa menjadi Guru Besar bidang Pendidikan Seni.

Pertama adalah Ibunya, sosok panutan pertama dan utama. Kemudian Endang Caturwati, dosen di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia) Bandung, yang dia akui, telah menjadikannya perempuan yang percaya diri untuk tampil menari dan membuat karya tari.

Lalu, Sri Rochana  yang mendukung  dan membimbingnya dalam studi S2  di ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta, dan Menteri Mari E. Pangestu, tatkala dia mengemban amanah sebagai Direktur Direktorat Industri Seni Pertunjukan dan Musik, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2012-2014). Semua perempuan itu, menurutnya, mempunyai andil untuk personal, dan masyarakat adalah Ibu Bangsa.

Sembilan tahun bekerja di bidang akademik dari tahun 1990 hingga 2019 di UPI,  dan karyanya berguna bagi masyarakat, antara lain:   Inovasi Model Pendidikan Tari Multikultural;  Menjadikan Festival sebagai Model Pasar Seni Pertunjukan; dan, Model Pengabdian Masyarakat untuk Pariwisata Seni.  

Dari  sikapnya yang tenang, santun, selalu menghargai orang lain, kreatif dan produktif,  Juju mendapatkan penghargaan  sebagai ” Akademic Leader Award 2019”.

Juju, mempunyai prinsip, bahwa Citra perempuan, adalah tercermin  dari performa dirinya, menghargai orang lain dan dapat beradaptasi  dengan masyarakat sehingga bisa mendapat dukungan dari masyarakat.

Juju berbagi untuk kemajuan perempuan, yaitu: Harus berpengetahuan luas; Memiliki kompetensi sosial dan personal; Jangan pernah menyerah, harus terus bekerja; Harus mempunyai mimpi besar; dan  Senantiasa sabar dan berdoa.   Juju menegaskan,” Setiap Perempuan bisa menjadi Pahlawan bagi diri sendiri dan Orang Lain”

 Surat Surat Kartini Disensor Abendanon

Pembicara lain dalam webinar ini adalah Rhomayda A. Aimah, dosen termuda  IAIN Tulung Agung, yang  lama studi di Universiteit Leiden - Belanda. Rhomayda juga peneliti naskah-naslah surat Kartini.

Dalam kesempatan bicara, Rhomayda menjelaskan,  tidak semua surat-surat Kartini dalam perspektif penguasa Belanda dapat dipublikasikan.

Abendanon menyensor surat-surat, terutama yang berisi kritik sosial terhadap penguasa Belanda, kala itu. Alasan Abendanon menyeleksi surat Kartini, antara lain adalah, ada beberapa surat tersebut yang dikategorikannya tidak  layak untuk dibaca khalayak.

Beberapa surat, bahkan, disobek di bagian tertentu. Padahal surat itu penting karena tidak hanya menyuarakan soal eksistensi perempuan berdaulat, seperti yang dikenal banyak orang. Surat-surat bernada kecaman Kartini terhadap kebijakan pemerintah Belanda dalam memonopoli candu di Jawa, juga disdensor. Termasuk kritik Kartini atas kepindahan seorang residen dari Jepara, karena Jepara dianggap sudah aman dan sejahtera.

Sebagian besar surat Kartini, ditujukan kepada Rosa Abendanon - Mandri. Gagasan Kartini tentang pendidikan untuk anak perempuan, adalah topik yang berulang dalam banyak surat yang dia tulis, menjadi komunikator yang rajin dalam lingkaran teman dan kenalan yang luas.

Kartini tidak hidup hanya untuk melihat ide-idenya yang menyebar ke luar dari lingkungannya. Setelah kematiannya yang terlalu dini, J.H. Abendanon menganggap surat - surat Kartini sangat penting. Karena itu, dia menerbitkannya pada tahun 1911 dengan judul Door duisternis tot licht [Melalui Kegelapan Menuju Terang].

Buku itu memiliki pengaruh yang sangat besar di Hindia Belanda dan mendasari pendirian Sekolah Kartini untuk anak perempuan Indonesia. Oleh J.H. Abendanon (Jr), koleksi ini disumbangkan ke KITLV (1986). Bersama dengan koleksi KITLV, surat-surat  Kartini dipindahkan ke Perpustakaan Universitas Leiden pada tahun 2014.

Perempuan Diplomat

Pembicara kemudian adalah Ratna, perempuan Diplomat Republik Indonesia untuk Singapura. Ratna merupakan satu dari 1.207 perempuan diplomat Indonesia yang tersebar di berbagai negara.

Ratna mengemukakan, kini  Indonesia memiliki 10 perempuan dari total 75 Duta Besar, 34 Ketua Misi lainnya, dan 6 Konsul Jenderal di seluruh Indonesia.   Kementrian Luar Negeri, menurutnya, terus menerapkan kebijakan yang responsif gender, dan memprioritaskan pengarusutamaan gender dalam kebijakan luar negeri Indonesia.

Hal tersebut, menurutnya, merupakan kemajuan bagi perempuan Indonesia, setelah  Laili Roesad, beberapa tahun yang lampau, merupakan diplomat perempuan pertama Indonesia yang menjadi Duta Besar RI untuk Belgia.

Sangat banyak yang harus dilakukan oleh Diplomat Perempuan, antara lain :  Konferensi dan Acara Internasional yang Relevan untuk Perempuan Indonesia dalam Kerjasama dan Kebijakan Luar Negeri,   Peran Wanita dalam Operasi Penjaga Perdamaian PBB,  Pertemuan Komite Khusus Operasi Penjaga Perdamaian di New York, Seminar Internasional United Nations Days on Development of Civil Society in Indonesia and its role for Peace Sustainability di Jakarta, 27 Oktober 2017, dan berbagai kegiatan lain yang sangat tersebar, termasuk bermacam pelatihan yang terkait denganberbagai aspek kehidupan dasar masyarakat.  2018.

Perempuan sangat  diperlukan dalam hal-hal tertentu, yang tidak bisa dilakukan oleh laki-laki. Diplomat Perempuan bagi  Republik Indonesia, membanggakan  dan telah diakui oleh dunia. Hal tersebut nampak pada kiprah Menteri Retno Marsudi yang telah dianugerahi sebagai Agent of Change dari United Nations Women and Global Partnership Forum atas kontribusinya yang tertinggi dalam mempercepat Agenda 2030, dan diplomasi kemanusiaan serta pencapaian damai dalam menangani isu-isu global. Penghargaan tersebut diberikan  oleh Grand Cross of the Royal Norwegian Order of Merit (2011) dan Grand Cross of the Order of the Sun of Peru (2018).

Menjadi diplomat secara profesional harus mampu berdaya saing dalam pengembangan karir, dan meningkatkan pengetahuan tentang berbagai macam masalah.

Selain itu, harus bersemangat mempelajari banyak keterampilan baru, termasuk keterampilan sosial, bahasa. Adaptif dan komunikatif, dan belajar cepat dalam banyak aspek.  Sebagai diplomat, perempuan juga harus mampu bekerja di bawah tekanan selama 24 jam.

Secara personal, perempuan diplomat juga harus mampu  menyeimbangkan tugas sebagai istri dan ibu. Mandiri dan dapat diandalkan sebagai orang yang serba tahu, tegas dan berkemauan kuat; serta, siap berpisah selama 4 tahun bersama suami dan anak.

Nasib Keturunan Kartini 

Semua Paparan para pembicara Webinar Internasional Citra Srikandi Indonesia: “Kartini As Inspiration: Repositioning Women’S Role In Contemporary Indonesia,” memberikan pengetahuan mengenai lika-liku kiprah perempuan yang sangat beragam dalam bidangnya.  

Materi-materi yang disajikan dapat memotivasi para perempuan untuk berkiprah dan berkontribusi kepada masyarakat dan bangsa.  Semua yang disampaikan para narasumber dapat menjadi bahan kajian lebih lanjut untuk diteliti secara mendalam dan kontekstual.

Dari fenomena peringatan Kartini yang dirayakan oleh berbagai Lembaga, Komunitas, Ormas, baik di Indonesia, maupun masayarakat Indonesia yang tersebar di berbagai Negara tahun ini, ada sesuatu yang menggelitik. Yakni, menyeruaknya tulisan dan video di berbagai media sosial, tentang sosok Kartono, kakak laki-laki Kartini,  yang juga mempunyai andil bagi bangsa Indonesia.

Pertanyaan   kemudian adalah bagaimana dengan nasib keturunan Kartini kini? Anak keturunan Pahlawan Nasional R.A Kartini, tidak merasakan keistimewaan moyangnya dengan beragam gelar dan sanjungan.

Cicit Kartini, Samimun, dan cucu lainnya, menjadi tukang ojek dan berbaur dengan msyarakat. Bahkan,  Sekolah Kartini di Kota Rembang, (seperti dilansir Kurnia Azizah, reporter Merdeka.Com, 21.04.21) mulai terlupakan. Informasi tersebut, penting untuk diteliti lebih lanjut dan menjadi rujukan pertimbangan pemerintah. Semoga.!!! |

 




Endang Caturwati | Guru Besar Seni Pertunjukkan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Ketua Umum Citra Srikandi Indonesia

 

Editor : eCatri
 
Budaya
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 380
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
05 Okt 21, 15:01 WIB | Dilihat : 279
Mengingat Siti Quburi di Tengah Arus Deformasi
30 Sep 21, 11:10 WIB | Dilihat : 259
Alih Rupa Sejarah
15 Sep 21, 11:09 WIB | Dilihat : 335
Prespektif Transformasi Budaya Betawi dari Setu Babakan
Selanjutnya
Sporta
12 Jul 21, 10:12 WIB | Dilihat : 208
Italia Boyong Piala Eropa via Penalti
23 Agt 20, 12:51 WIB | Dilihat : 697
Anggur Hijau Douro untuk Bayern Munchen
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1679
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
Selanjutnya