Kolaborasi Citra Srikandi Indonesia dengan Salam Radio

Refleksi Cendekia Indonesia Ihwal Ibu sebagai Mata Air Peradaban

| dilihat 606

catatan Delanova

Citra Srikandi Indonesia (CSI) berkolaborasi dengan Salam Radio, menghelat refleksi sejumlah kaum cendekia Indonesia (budayawan, akademisi, dan seniman) merefleksi diri tentang ibu, Rabu (22/12/21).

Acara kolaborasi yang berlangsung selama tiga jam dengan format ragam gunemcatur satu tajuk, itu disajikan dalam programa siaran Tilik Bang Sém Special.

Produser programa siaran ini, Agustian mengatakan, Salam Radio selalu ambil peduli menayangkan programa siaran semacam ini, sehingga pusaran arus komunikasi, termasuk media sosial, kian beragam.

Langkah ini ditempuh, menurut Agus sebagai salah satu cara memanfaatkan jaringan komunikasi via internet untuk menghidupkan arus pemikiran positif antar masyarakat. Hal ini sesuai dengan salah satu misi Salam Radio, memediasi arus perenungan dan pemikiran masyarakat.

Akan halnya Ketua Umum CSI, Prof. Dr. Endang Caturwati, SST, MS., mengemukakan, bahwa CSI yang merupakan perkumpulan para perempuan cendekia Indonesia, memberi perhatian terhadap acara semacam ini, untuk memberikan sumbangsih kepada masyarakat, negara dan bangsa dalam format yang berbagai.

Sebelum-sebelumnya, CSI menggelar acara dalam format webinar, penerbitan - peluncuran dan bedah buku pumpunan karya anggota, workshop pantun, dan lain-lain.

Endang bersama Bang Sém, memandu refleksi dari Prof. Dr. Setiawan Sabana (Budayawan / ITB), Prof. Dr. Riris Toha K. Sarumpaet (Sastrawati - UI), Prof. Dr. Peter Carey (Sejarawan), Prof. Dr. Tinneke Mandang (IPB University), Prof. Dr. Zuzy Anna (UNPAD), Prof. Dr. Ir. Agustinus Purna Irawan ( Rektor Universitas Tarumanegara), Prof Dr. H. Husnan Bey Fananie, M.A (Dubes RI Azerbaijan 2016 -2020, Staf Ahli Mentri Bapennas), Prof. Jamal Wiwoho (Rektor UNS), Ass. Prof. Dr. Eddy Supriyatna Marizar, M.Hum (Universitas Tarumanegara), Dr. Susas Rita Loravianti (Koreografer), Laksda. Purn. Agus Purwoto, Dr. Nuning Damayanti  (Perupa - ITB), Bunga Desri Nur Ghaliyah, M.Sn ( Seniman ), dan Kinanti Sekar (Seniman). Selain memandu acara, Endang juga menembangkan karyanya ketika masa belia, Katineung Indung Bapa.

Riris mengawali refleksi ini dengan mengungkap kisah perjuangan ibunya di lingkungan masyarakat Batak dalam membuka cakrawa peran perempuan di tengah dominansi patriaki. Ibunya, seorang guru dan aktivis, akhirnya berhasil membuka cakrawala baru tentang eksistensi perempuan di lingkungan gereja dan politik.

Riris membaca puisinya, yang dia tulis untuk ibunya dengan pilihan kosa kata yang indah, menggugah, dan bertenaga untuk kembali memahami hakikat ibu dan perempuan.

Setiawan Sabana, budayawan yang belum ini pensiun sebagai guru besar seni rupa ITB, mengungkap bagaimana ibu, kembarannya, almarhumah istrinya, dan istrinya menginspirasi dia untuk mengembangkan potensi perempuan di jagad seni, khasnya seni rupa.

Guru besar senior yang juga menggeluti peradaban kertas dan jagat perempuan dalam seni, ini meninggalkan beberapa pesan khas, antara lain, "menjadi seniman itu mudah, yang susah adalah menjadi manusia."

Tinneke Mandang yang ahli dalam ilmu tanah, menggugah tentang perempuan dan ibu yang dari pengalaman pribadinya, kokoh dan teguh menghadapi tantangan. Termasuk dalam menghadapi problematika dari wilayah domestik sampai wilayah pengabdian. Tak terkecuali di dunia akademik.

Ia bercerita bagaimana, sebagai peneliti, mesti menghadapi situasi lahan gambut yang terbakar, mesti melanjutkan studi di negeri orang, selepas melahirkan.

"Saya juga ingin, kita merayakan hari Ibu untuk para ibu yang mampu merawat dan mendidik anak-anak yang tak dilahirkannya, karena takdir menentukannya, tak bisa melahirkan anak. Mereka juga hebat," kata Tinneke. Ia membacakan puisinya yang menggugah dan refleksi solidaritas mendalam tentang perempuan petani miskin di tengah kehidupan sehari-hari.

Nuning Damayanti mengeksplorasi pengalaman batinnya dan bercerita tentang arus gen seni ke dalam dirinya, mulai dari uyutnya. Sejak kanak-kanak dia terbiasa beroleh dongeng edukatif dari ibunya, yang diturunkan dari neneknya. Ibunya seorang perempuan yang berbakat tari, bermain drama, dan bertutur dongeng. Kakeknya, seorang pelukis alamiah. Dari mereka, Nuning beroleh energi menggerakkan 22 perempuan bergiat di dunia senirupa Indonesia. Nuning membacakan puisinya tentang ibu, yang mengalirkan kerinduan.

Ekspresi kerinduan itu kian terasa, ketika Zuzy Anna - Direktur SDG's Center UNPAD mendendangkan lagu Mother How Are You Today gubahan Maywood. Zuzy tampil dengan suara khasnya yang lirih, dan mempersiapkan diri dengan memanfaatkan penuh berbagai fitur teknologi virtual yang kompatibel dengan sistem siaran radio virtual multi platform.

Tampilannya dengan ilustrasi videotik, sistem suara dan pencahayaan, secara visual nampak utuh dan tak terganggu instabilitas jaringan internet yang sering mengganggu.

Kesiapan untuk tampil dalam format variety talkshow, juga terasa dilakukan Bunga Desri, yang refleksinya melalui tembang Indung dan Suluk Mantra Manyura terasa magis, mengusik spiritualitas, dengan kepiawaiannya memainkan rebab dan nembang yang merasuk ke dalam telaga rasa.

Kehadiran Desri dengan performanya yang tersambung dengan tembang Kanya'ah Indung Bapa Endang, menyadarkan kita, perempuan adalah perawat setia kekayaan kultural bangsa ini.

Dimensi kedalaman itu, terekspresikan dengan sajian Susas Rita Loravianti, koreografer dan penari yang sehari-hari adalah pensyarah di Institut Seni Indonesia - Padang Panjang, yang terlahir sebagai perempuan Minang, yang berjiwa perantau. Jiwa perempuan 'perkasa' yang berani menata dan ditata dalam norma dan nilai budaya matrilinial yang kuat.

Konsepsi Bunda Kanduang sebagi 'driver' seluruh kekuatan pendorong budaya Minang yang juga bertanggungjawab atas semesta, terasa dalam karyanya yang ditarikannya sendiri, bertajuk Alam Takambang Jadi Guru.

Lora melakukan eksplorasi dan eksplorasi gerak gestur, mimik, interaksi musik string biola yang menyayat dengan olah tubuh yang kuat ditingkah kostum yang menafsir marawa dengan tata warna lebih kaya.

Harkat, martabat, dan darajah perempuan terasa dalam karyanya. Air, bebatuan, pepohonan, humus, dan 'kehidupan' di bawah kanopi hutan hujan tropis khas Minang, bercerita, betapa ibu dan perempuan adalah ibu peradaban.

Pesan itu diperkuat oleh karya Kinanti, yang masih dalam masa karantina setelah kembali dari Ekspo Indonesia di Dubai, lewat karyanya, Nitipraja. Terkirim pesan khas ibu sebagai pendidik utama dan pertama anak-anaknya.

Kinanti memantik resonansi batin dimensi 'dunia di dalam' dan 'dunia di luar' dan mencuri perhatian kita untuk merenung tentang realitas dan filosofi garba. Rahim ibu dan semesta.

Air terjun yang melatari tarian Lora dan air pancuran yang melatari tarian Kinanti, suasana di bawah kanopi hutan dalam tarian Lora dan suasana desa terbuka dalam tarian Kinanti, seolah tawaran untuk mendalami pertanyaan asasi: ketika ibu memberikan semesta sebagai ruang kreativitas, apa dan bagaimana kita mesti mengisi dan memaknainya dalam kerja kreatif.

Karya-karya yang memadukan beragam anasir artistik, estetik, dan etik dalam dimensi maknawi tentang ibu dan 'ibu' ini, menjadi sedemikian bermakna sebagai pernyataan batin, "Ibu adalah keperkasaan yang sengaja disembunyikan Tuhan. Keperkasaan yang halus bagai cindai. Karena ibu adalah mata air cinta dan kasih sayang, tak pernah lelah dan bosan mengaliri sungai sungai kehidupan."

Dalam dimensi ke-Indonesia-an, ibu memang tak sebatas hanya berurusan ekuitas dan ekualitas gender, perempuan menjadi sumber daya utama dalam membentun karakter awal pemimpin.

Perempuan adalah mata air kesadaran trilogi, yang oleh HOS Tjokroaminoto dinyatakan sebagai sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan, dan siasat. Menguatkan keteguhan dan sikap, mencaapai ketinggian nalar, dan kepiawaian bersiyasah menghadapi tantangan zaman.

Peter Carey - sejarawan berkebangsaan Belanda yang mengungkap, bagaimana darah kepejuangan Pangeran Diponegoro, mengalir dari nenek dan ibunya, selain dari ayahnya. Kesadaran imani dan budaya yang menghidupkan jiwa ksatria, dan panduan para guru spiritual, para mursyid dari tariqah Syatariyah menempa Pangeran Diponegoro yang mengalami 'lockdown' di ruang pengap Benteng Rotterdam Makassar selama lebih dari dua dekade. Semua itu terungkap dari Surat Pangeran Diponegoro kepada neneknya.

Carey menyadarkan kita tentang hakekat, mater flumine vitae - ibu sebagai hulu kehidupan - yang menuliskan dan memainkan peran penting dalam sejarah, sehingga kita mengenal prinsip historia vitae magistra, sejarah sebagai ibu kehidupan.

Penghayatan esensi eksistensi ibu dalam konteks kesejarahan yang manusiawi ini, terasa dalam refleksi Agus Purwoto, satu-satunya serdadu yang menjadi narasumber dalam acara ini.

Agus membacakan tiga surat prajurit angkatan laut yang mati di tiang gantungan di Singapura, Oesman Harun dan Bahrun Said, anggota korps komando operasi (KKO) Angkatan Laut, kepada ibunya. Surat yang berisi ungkapan nurani para pejuang yang gigih dan optimistis hingga akhir hayat tergantung di utas takdir.

Apa yang diungkapkan Agus, terasa sebagai sukma yang juga mengalir dalam dimensi ibu, seperti dalam puisi karya Eddy Supriyatna Marizar yang dibacanya secara duet dengan seorang ibu. Pun pada puisi karya Jamal Wiwoho yang dibaca Endang Caturwati. Dimensi maknawi kesadaran insani menjunjung kasih ibu, yang terefleksikan dari realitas kehidupan yang terasakan.

Realitas itu tercermin dari cerita Agustinus Purna Irawan yang bertutur tentang kiprah ibunya, seorang guru yang berjuang bersama suaminya di kawasan transmigrasi Lubuk Linggau - Sumatera Selatan.

Seorang ibu, yang adanya menjadi mata air inspirasi, yang menyibak tirai perjuangan hidup keluarga, dan menghantarkan anak-anaknya dalam jejak profesi kependidikan - akademik yang lebih baik. Bila sang ibu dan suaminya (ayah Agus) menjadi Kepala Sekolah, Agus dan Adiknya menyandang tanggungjawab sebagai rektor, dan seorang lagi menjadi dosen. Pengalaman hidup yang mengisyaratkan, betapa transformasi merupakan suatu proses perubahan dramatik yang menarik dan memantik.

Kesemua itu menegaskan, ibu adalah supreme generator dalam kehidupan anak-anaknya, dan kelak berdampak luas pada masyarakat, negara dan bangsa, seperti tercermin dalam kisah kembara akademis H. Husnan Bey Fananie, yang sejak belia mengembara menuntut ilmu dan pengalaman hidup. Dari Pondok Modern Gontor Darussalam - Ponorogo, ke berbagai kota di Pakistan dan Belanda. Lalu menjadi Duta Besar di Azerbaijan.

Cerita Husnan Bey Fananie sangat kaya hikmah dan mengekspresikan hakikat eksistensi ibu sebagai sosok insani yang melahirkan, merawat, mengasuh, dan menghantar anak-anaknya menuju samodera peradaban luas tak bertepi. Ibu adalah mata air kearifan dan kebajikan yang terus mengalirkan keseimbangan dan harmoni, bagi masyarakat, negara, dan bangsa.

Bang Sém, menyerap seluruh refleksi itu dengan, rangkaian simpul makna, "Ibu adalah daya semesta, membentang nalar dan naluri, nurani dan rasa, hingga sukma melesat ke cakrawala, dan raga menyatu bumi sampai nyawa di utas tali takdir...  Maka, jangan pernah membuat ibu bersusah hati.

Sewajarnya, para anak-anak, boleh menyenandungkan dalam batin mereka, "Ibuku pejuangku..Ibuku hatiku..  Ibuku surgaku.. Ibuku.. aku malu.. Aku pulang kepadamu. Aku pulang ke do'a ibu, ketika rindu bertemu di bulan purnama. Untuk ibu kualirkan cintaku dalam Hu.. dalam dua aksara penyimpan kemuliaan dan kehormatan.

Programa siaran refleksi kaum cendekia tentang Ibu, yang disajikan Citra Srikandi Indonesia dengan Salam Radio, memberi aksentuasi maknawi tentang ibu sebagai mata air peradaban.. |

Editor : delanova
 
Sainstek
27 Okt 21, 17:41 WIB | Dilihat : 514
Waspadai Kabar Palsu Artis Meninggal di Media Sosial
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 2337
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
Selanjutnya
Energi & Tambang
27 Sep 22, 12:58 WIB | Dilihat : 170
Rachmat Gobel : Indonesia Mesti Bisa Swasembada Aspal
29 Mar 21, 20:15 WIB | Dilihat : 761
Pertamina Jamin Pasokan BBM Aman
28 Jan 20, 13:31 WIB | Dilihat : 1611
Komitmen Budaya pada Reklamasi Pertambangan
22 Okt 19, 12:46 WIB | Dilihat : 1814
Sinergi PHM dengan Elnusa Garap Jasa Cementing di Rawa
Selanjutnya