Rawatlah Cinta Isterimu

| dilihat 563

Bang Sem

KARENA terlambat datang akibat traffic jam, pengajian nyaris tertunda. Nadya tak henti mengontak saya. Agar pengajian dapat terus berlangsung, saya minta Atiqa memulai saja.

“Nunggu aja deh,” ujar Tiqa. Hati saya agak lega juga, karena Ferial datang.

Tiqa mengontak saya, mengonfirmasi acara. Malam itu, giliran Ghiffari mengaji. Dia membaca Surah An Nisa ayat 32 sampai 34. Ferial sangat suka membahas tentang perempuan.

Ketika saya datang, Ferial baru saja membaca iftitah. Dia baru mulai membahas hal ihwal perempuan. Saya menyimaknya dengan takdzim.

Perempuan, ungkap Ferial, mendapat tempat yang baik dalam keseluruhan konteks ajaran Islam. Termasuk konstelasi sosialnya. “Secara fisik, kepada perempuan, Allah memberikan berbagai kelebihan dan keunggulan pada perempuan.  Elok rupa, manis, enak dipandang, seolah memadukan keindahan yang tampak luar dan keindahan yang tersembunyi di dalam,” tuturnya.

Atiqa tersenyum. Nadya juga. Amira yang duduk dekat saya menyimak penjelasan Ferial. Karena berbagai kelebihannya, itulah, kata Ferial, “Allah SWT mengingatkan, agar kaum lelaki tak perlu iri kepada kaum perempuan. Demikian pula sebaliknya, perempuan tak perlu iri dengan kaum lelaki yang diberikan kelebihan lain: tampan, gagah, dan nampak rupawan.”

Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu dari sebagian lainnya. (Karena) Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS An-Nisâ’ : 32).

Lelaki diberikan peran dan fungsi kodrati memandu dan melindungi perempuan secara psikal dan fisikal, dengan cinta dan kasih sayang. “Lelaki, berkewajiban memandu perempuan dalam melaksanakan ibadah dan memelihara akhlak kariimah sebagaimana dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW,” ungkap Ferial lagi.

Perempuan mempunyai peran dan fungsi kodrati mulia sebagai wahana reproduksi untuk menjamin keberlangsungan eksistensi manusia. Mengelola rumah tangga dan berbagai urusan muamalah sebagai wadah dan cara membangun harmoni.

“Dengan saling menguatkan, lelaki dan perempuan bersama-sama menciptakan kondisi kehidupan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Harmonis, penuh kasih sayang, dan cinta,” tegasnya lagi.

Saya senang ketika Ferial menjelaskan firman Allah, bahwa lelaki adalah imam yang memandu (qowwamun) dan bertanggung jawab melindungi perempuan.

Kepada  lelaki, Allah memberikan kewajiban utama memberikan nafkah dengan harta. Karenanya, lelaki sebagai suami, berhak atas perempuan sebagai isteri, untuk dipatuhi.

Akan halnya perempuan, beroleh banyak hak: mulai dari nafkah sampai hak untuk dilindungi, dan karenanya hanya mempunyai satu kewajiban saja: mematuhi suami.

Ferial mengutip penegasan Allah di S. Annisa, ayat 34: “Perempuan salehah adalah yang taat kepada Allah, lagi memelihara diri, ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). Perempuan-perempuan yang dikuatirkan nujyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkan mereka di tempat tidur mereka..”

Meski demikian, lelaki berkewajiban memberikan reward, apresiasi, penghargaan, ketika perempuan menaatinya sesuai dengan kewajiban yang dipenuhi lelaki kepada mereka.

Allah memperingatkan kaum lelaki: “Janganlah mencari-cari jalan untuk menyusahkannya (perempuan)”.  Maknanya, sayangi, kasihi, cintai, dan rawatlah cinta perempuanmu, isterimu .... |

Editor : Web Administrator
 
Lingkungan
Budaya
07 Agt 19, 20:46 WIB | Dilihat : 561
Berguru pada Sejarah, Transformasi Elang
22 Jul 19, 16:15 WIB | Dilihat : 488
Dimensi Kaum Betawi
21 Jul 19, 14:19 WIB | Dilihat : 269
Refleksi dari Arena Lebaran Betawi
Selanjutnya