Menghadapi Wabah

Rasulullah Muhammad SAW Menyerukan Karantina

| dilihat 113

Sejak virus China - Wuhan alias virus corona yang kemudian dikenal dengan nama Covid-19 sebagai nanomonster yang mengancam kehidupan manusia, di berbagai belahan dunia islam ramai dikutip hadits Rasulullah Muhammad Salallahu alaihi wa Salam yang diriwayatkan Bukhari Muslim.

Hadits itu, menyeru : "Jika Anda mengetahui wabah terjadi di suatu tempat, jangan memasukinya! Dan jika wabah itu menyerang tempat di mana Anda berada, jangan keluar! "

Hadis ini mengisyaratkan, ketika terjadi pandem atau epidemi seperti yang kita alami kini, yang harus dilakukan adalah melakukan karantina. Baik karantina di dalam rumah, kampung, desa, provinsi, bahkan wilayah negara.

Di hadits lain, yang diriwayatkan Ahmad, disebutkan, sesiapa yang melampaui seruan, itu (mengabaikan karantina) untuk keselamatan diri pribadi, keluarga, dan masyarakat pada umumnya, setara dengan pembelot. Akan halnya mereka yang bersabar dan bertahan melakukan karantina, sampai wabah bisa diatasi, mereka itu ibarat martir.

Convertistoislam - Islam untuk Semua -- dalam rubrik  Scientific Discoveries, 3 Juni 2011, menurunkan artikel menarik bertajuk La Mise en Quarantine. Artikel ini mengupas tentang langkah karantina ketika wabah menerjang.

Begini :

Setelah evolusi ilmu pengetahuan, kita menemukan realitas organisme mikroskopis, cara reproduksi virus, dan bagaimana virus menyebabkan penyakit, epidemi dan bahkan pandemi.

Kemudian diketahui, bahwa orang sehat yang tidak memiliki gejala penyakit di daerah yang terinfeksi wabah, dapat menjadi pembawa mikroba patogen. Karenanya, mereka berisiko mencemari wilayah -- terutama yang tak belum dimasuki. Mereka membawa virus ke mana pun mereka bergerak dari satu tempat ke tempat lain.

 Menyusul penemuan realitas ini, sistem karantina diberlakukan, di mana semua penduduk suatu daerah yang terkena epidemi dan pandemi dilarang meninggalkan daerah itu, seperti halnya semua orang yang dari luar area wabah ini, dilarang masuk.

Prinsip karantina yang diserukan Rasulullah Muhammad SAW di Eropa, dikenal ketika benua, itu terserang wabah di abad keempat belas dan abad kelima belas, antara lain ketika wabah Black Death menyerang. Saat itu, Eropa kehilangan seperempat penduduknya.

Pada abad ke 15, belajar dari pengalaman menghadapi wabah Tha'un di masa Rasulullah dan masa khulafa ur Rasyidin, serta wabah Pes di masa kemudian, dunia Islam lebih berhasil menangkal terjadinya epidemi dan pandemi. Padahal, ketika itu hampir semua penyakit menular marak di Eropa pada masa bersamaan.

Pada masa jahiliyah, sebelum masa kerasulan Muhammad SAW, manusia hanya mengandalkan penyerahan diri mereka untuk keselamatan dirinya, sampai para tabib menemukan keberadaan virus.  bahwa penyakit disebabkan oleh roh jahat, setan, dan bintang.

Masyarakat di masa jahiliyah meyakini, pengetahuan tentang penularan virus antar manusia melalui organ mikroskopis tidak terpikirkan. Wabah penyakit yang menyerang manusia mereka yakini sebagai serangan roh jahat yang hanya dapat diatasi dengan sihir.

Sejak awal syi'ar Islam oleh Rasulullah Muhammad SAW, pengetahuan tentang virus, berkembang sesuai perkembangan ajaran Islam tentang kebersihan (thaharah) dan perilaku manusia (mental health) di sisi lain.

Dalam lingkungan masyarakat yang sama, Rasulullah menetapkan aturan mendasar, yang kemudian menjadi salah satu prinsip dasar kedokteran untuk mencegah virus secara modern, guna menangkal terjadinya pandemi dan epidemi di kota-kota dan tempat-tempat orang ramai berkumpul.

Rasulullah Nabi mengintroduksi cara menghambat penyebaran virus dengan tindakan karantina, seperti yang kita kenal kini. Pelaksanaan hadits Rasulullah yang dilakukan secara konsisten dan konsekuen, terbukti mampu melokalisasi penyebaran virus, dan umat mematuhinya, karena nilai berkah yang mereka dapat ketika mematuhi perintah karantina, setara dengan pahala seorang martir.

Dan yang menarik adalah, siapa saja yang meninggalkan kewajiban mengurung diri (karantina) wajib mereka untuk memeriksa dirinya kepada tabib. Dan, ketika kedapatan terinfeksi virus, wajib bagi mereka menyampaikan ke publik, bahwa mereka terinfeksi virus dan mendapatkan kemalangan.

Meski seruan melakukan karantina ketika virus menyerang telah berlangsung empat belas abad lalu, tetapi seruan itu masih relevan. Terbukti, dalam kasus serangan virus corona Covid-19, mereka yang lekas melakukan karantina, dapat mengatasi persoalan epidemi dan pandemi cepat.

Mungkinkah empat belas abad yang lalu bahwa manusia akan mengatakan hal-hal seperti itu, kecuali jika informasi ini diungkapkan kepadanya oleh Yang Mahatahu yang terkenal karena mahluknya?

Dari sejarahnya perkembangan pandemi dan endemi virus, terbukti, strategi karantina yang diserukan Rasulullah, merupakan strategi yang paling efektif dan efisien.  Kendati, pada masanya, kaum Muslim yang melakukan karantina karena kepatuhannya kepada Rasulullah, diperolok-olok.

Belakangan mereka yang memperolok-olok, itu baru paham, bahwa karantina merupakan pilihan tepat menghadapi virus yang bergerak cepat dan dalam bilangan yang sangat besar. | Tique

Editor : Web Administrator | Sumber : Convertistoislam
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1047
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1457
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 646
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1071
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Humaniora
01 Apr 20, 08:04 WIB | Dilihat : 73
Humbling Experience for Mankind
31 Mar 20, 09:58 WIB | Dilihat : 130
Melawan Covid 19 dengan COVID
27 Mar 20, 20:20 WIB | Dilihat : 140
Forhati Peduli Ojol
26 Mar 20, 16:11 WIB | Dilihat : 227
Anies Siapkan Hotel untuk Rehat Petugas Kesehatan
Selanjutnya