Profesor Kumpeu

| dilihat 244

DelaNova

Sejak kecil bocah itu dipanggil "Si Kumpeu," meski namanya bukan itu.

"Kumpeu" itu istilah yang sering dipakai untuk menjuluki siapa saja di antara kami yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan senang bicara sesuatu tanpa dipikirkan secara masak.

Dia juga disebut dengan istilah itu, karena selalu senang disuruh siapa saja untuk melontarkan sesuatu yang bikin gaduh.

Dia senang melakukannya, alasannya sangat sederhana, "lebih cepat populer." Katimbang dengan cara lain, seperti mengubah penampilan dan gaya hidup.

Belakangan hari, gaya hidup 'Kumpeu,' dianut banyak orang di berbagai lapangan kehidupan. Baik di lingkungan kampus, pemerintahan, dan di luar pemerintahan.

Para penempuh jalan pintas untuk memenuhi ambisi dan syahwat beroleh kekuasaan dan imbalan yang menyertainya.

Bagi mereka, popularitas dan otoritas adalah surga yang nyata di dunia, karena pada keduanya melekat berbagai hal yang dianggapnya 'membahagiakan.'

Otoritas menjadi penting, karena menyediakan fasilitas, paling tidak tunjangan jabatan, dan bukan tunjangan kinerja.

Sejumlah orang di perguruan tinggi yang mencapai jabatan akademik tertinggi, dan kemudian menyandang sebutan Profesor, termasuk kategori ini.

Tak banyak yang tahu, bagaimana tim review kinerja akademik melakukan penilaian, sehingga mereka bisa mendapat jabatan akademik, yang di masa lalu, sangat dimuliakan oleh kaum intelektual Etruskan, karena sangat kompeten di bidang keilmuan dan pengetahuan.

Dalam beberapa kesempatan saya bertemu dengan mereka di lingkungan kampus dan terkejut-kejut karena pendapat dan pandangannya tentang sesuatu hal, sering nampak split dan ambivalen.

Mereka hidup di abad ke 21 dan berusaha mengenakan gaya hidup abad ke 21, tetapi alam pikirannya, jauh tertinggal ke era pra agraris.

Saya menyebutnya Profesor Kumpeu.  

Bila pada dekade 1970-an muncul julukan 'teh botol,' alias tehnokrat bodoh dan tolol yang tak berkontribusi kreatif untuk mencerdaskan bangsa. Kini, mereka boleh diberi julukan Profesor Kumpeu.

Tentu, karena tidak layak dan patut, karena tidak mempunyai kelayakan dan kepatutan untuk disebut sebagai 'kaum terpelajar.'

Jalan pikiran dan pernyataan-pernyataan personal yang disampaikannya lebih banyak mengandung mudharat katimbang maslahat. Terutama, karena profit lebih didahului katimbang benerfit.

Jalan pikiran dan pernyataan-pernyataan personal yang disampaikannya tidak mencerminkan kecendekiaan, tidak pula menunjukkan kreativitas dan inovasi dalam makna yang sesungguhnya.

Mereka tidak berkomitmen memberikan pengabdian sejati untuk menghidupkan kemaslahatan umat manusia, yang menyadari prinsip-prinsip dasar keilmuan untuk menguji dan memperjuangkan kebenaran. Karena pengabdian yang mereka maksudkan adalah bagaimana memproduksi pembenaran yang diperkuat oleh beragam opini superlatif.

Keberadaan mereka mengontaminasi begitu banyak para guru besar atau profesor di berbagai lembaga pendidikan tinggi yang sungguh merupakan intelektual (yang tak terseret jebakan fantasi intelektualisme).

Celakanya, di jaman sungsang, penyelenggaraan negara lebih suka menempatkan para Profesor Kumpeu untuk menyandang jabatan dan tanggungjawab  publik. Termasuk di lingkungan pendidikan tinggi.

Mudah-mudahan, berbagai perkumpulan dan asosiasi para guru besar di negeri ini, mempunyai sikap kritis keilmuan yang berkhidmat kepada kebenaran. Lantas, tidak membiarkan formalisma jabatan akademik guru besar, kehilangan muruahnya sebagai pentas kecendekiaan.

Kita memerlukan guru besar yang kompeten secara akademis, punya integritas, mau dan mampu memainkan perannya sebagai suluh bagi umat manusia di remang perubahan zaman. | Bandung 21.02.20

Editor : bungsem
 
Seni & Hiburan
25 Mar 20, 12:15 WIB | Dilihat : 211
Adzan Sembilu
08 Feb 20, 22:15 WIB | Dilihat : 413
Yanti Menyusul Chrisye Meninggalkan Cerita Cinta
08 Feb 20, 01:54 WIB | Dilihat : 388
Embun Malam Mengusik
24 Nov 19, 14:03 WIB | Dilihat : 810
Puisi Novita dan Kefasihan Agustian Jelma Distraksi
Selanjutnya
Budaya
22 Mar 20, 10:39 WIB | Dilihat : 280
Jarak Budaya - Jarak Sosial dan Paradoks Kemanusiaan
28 Jan 20, 09:32 WIB | Dilihat : 323
Saatnya Geli dan Terbahak
28 Okt 19, 11:57 WIB | Dilihat : 632
Sumpah (Serapah) Pemuda
Selanjutnya