Obituari

Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma dalam Kenangan

| dilihat 1223

Endang Caturwati

Tanggal 20 Mei adalah Hari Kebangkitan Nasional. Hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia, serta memiliki arti  penting dalam memaknai rasa dan  semangat Persatuan, Kesatuan, dan Nasionalisme, serta kesadaran bangkit untuk memperjuangkan  kemerdekaan Negara Republik Indonesia, yang dahulunya tidak pernah muncul  selama penjajahan  oleh Belanda dan Jepang.

Berbagai pelajaran dapat  dipetik dari Hari Kebangkitan Nasional dengan kondisi bangsa Indonesia seperti saat ini, di tengah pandemik coronavirus desease 2019 (Covid-19), yang telah menimbulkan berbagai dampak memprihatinkan.  Terutama banyaknya korban yang meninggal dunia akibat terkena virus, tak terkecuali, para petugas kesehatan - pejuang kemanusiaan di garda depan.

Bangsa Indonesia harus bangkit dengan berbagai solusi, mulai dari kesehatan hingga perubahan nilai sikap hidup, yang belum pernah terjadi. Walaupun situasi dan kondisi ini, harus disikapi dengan sabar, tetap optimistis, dan kreatif. Tak dapat disangkal, salah satu dampak yang paling menonjol dan banyak dikuatirkan, bahkan kemudian menimbulkan perdebatan dalam memilih solusi, adalah kondisi multi krisis. Mulai dari krisis kesehatan, krisis ekonomi, dan krisis sosial yang bisa merebak menjadi berbagai krisis.

Dalam memerangi Covid-19, tak ada pilihan dan solusi lain, kecuali memutus mata rantai penyebarannya yang sangat cepat, dengan memberlakuan Protokol COVID-19, yaitu : kerap cuci tangan sesuai dengan standar kesehatan, jaga jarak fisik, jarak sosial, tidak berkerumun dan menggunakan masker di tempat terbuka, dan diam di rumah (stay at home) - melalui proses karantina mandiri.

Dalam konteks pencegahan ini, pemerintah, melalui Pemerintah Provinsi, Kabupaten, dan Kota memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Karena pemerintah tak memilih pembatasan total (lockdown), seperti berlaku di berbagai negara yang sangat cepat mengatasi penyebaran (seperti Vietnam dengan tanpa kematian) dan lain-lain.

PSBB berdampak sosial ekonomi langsung akibat terhambatnya aktivitas bisnis, ekonomi, sosial, dan budi. Banyak masyarakat di berbagai daerah banyak yang terpuruk. Miris mendengar keluhan-keluhan mereka, baik melalui WA, maupun telpon. Banyak korban masih terisolasi  dirawat di berbagai rumah sakit dan yang meninggal  dunia. Dari beberapa korban Covid-19, yang meninggal dunia, terdapat kawan-kawan dosen dari perguruan tinggi.

 

Di luar kasus terpapar COVID-19, pada masa prihatin -- karantina mandiri sekaligus ibadah puasa di bulan Ramadan -- juga datang kabar duka, akibat  penyakit bawaan. Salah satunya adalah Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma, Guru Besar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Bandung yang sempat menjabat Dekan Fakultas Sastra (2001-2005) - cikal bakal FIB - Unpad.

Saya mengenal Prof. Fatimah sebagai sosok yang sangat rendah hati dan santun. Kepada saya Prof. Fatimah selalu 'membahasakan'  dirinya  ‘Ceuceu’ (kakak prempuan), dan saya dipanggilnya dengan sebutan ‘ayi’ (adik). Panggilan akrab dalam persahabatan yang  sangat mengayomi.  Saya merasa bersyukur dapat bersahabat dengan Prof. Fatimah. Dari persahabatan dengannya, banyak kenangan manis yang tidak bisa dilupakan selama hidup saya, dan mungkin hanya terjadi pada diri saya.  Peristiwa yang mungkin terlihat sederhana, tetapi sangat luar biasa maknanya.

Ketika di sore hari, pada tanggal 20 Mei, saya mendengar berita bahwa Prof. Fatimah meninggal dunia, betapa terkejut dan masih tidak percaya atas kepergiannya. Sosok yang selama ini saya hormati, saya kagumi  sebagai  Guru Besar Perempuan  yang konsisten dengan keilmuannya. 

Prof. Fatimah yang saya kenal, adalah seorang perempuan cerdas, tegas  dan  disiplin kepada mahasiswanya. Karirnya  untuk seorang perempuan dalam pendidikan akademis, pada masanya, patut dibanggakan. Prof. Fatimah masuk Fakultas Sastra UNPAD - Bandung (1968) jurusan sastra Sunda, yang ketika itu belum diminati, karena mungkin dianggap tidak prospektif. Tapi, Prof. Fatimah malah membuktikan, bahwa dari jurusan yang tak diminati itu, dirinya mampu 'jadi orang.'

Setelah menjadi dosen di almamaternya, Prof. Fatimah melanjutkan studi ke Universitas Leiden - Nederland, dan merampungkan Postgraduate for General Linguistics & Austronesian Languages (1982). Kemudian, melanjutkan studi program Doktor di Universitas Indonesia (1986), dilanjutkan studi Postdoktor J.W Gothe Universitat, Frankfurt, Jerman (1988).  Sebelumnya, Prof. Fatimah menjadi External Assessor for the Promotion to the Post Professor Universiti Kebangsaan Malaysia (1977).

Profesor Fatimah sangat produktif menulis  buku dan  tulisan untuk jurnal  ilmiah. Artikel-artikelnya tersebar  di berbagai jurnal tingkat regional, nasional, dan internasional. Beberapa buku mengenai linguistik hasil tulisannya, antara lain, Gramatika Sunda (1987), Semantik 1 (1993), Semantik 2 (1993), Metode Penelitian Linguistik (1993), Wacana Pemahaman dan Hubungan Antarunsur (1994), Analisis Bahasa, Sintaksis dan semantik (1997), dan Penalaran Deduktif-Induktif dalam wacana Bahasa Indonesia (1999). Prof. Fatimah sangat paham betapa pentingnya arti sebuah buku bagi para mahasiswa, dan juga tanggungjawab moral seorang dosen untuk memberikan materi atas dasar hasil penelitian.

Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma, merupakan pejuang  perempuan dalam bidang pendidikan yang tangguh, terutama bisa membagi peran seorang perempuan  dalam menjalankan multi fungsinya sebagai seorang istri, ibu dan  meraih cita-citanya, menjadi seorang ilmuwan hingga ke jenjang jabatan akademik Guru Besar. Terutama dalam mencari ilmu hingga ke negeri orang, yang pada saat itu masih langka, di dalam Nilai Kasundaan, bisa disebut  “manuk hiber ku jangjangna, jelema hirup ku akalna ,"  artinya adalah “manusia itu hidup dengan akalnya, jadi gunakanlah akal tersebut dengan sebaik-baiknya."

Akal dan pikiran Prof. Fatimah untuk mencari ilmu hingga ke negeri orang yang sangat jauh, serta apa yang  telah dilakukannya telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa dan negara. Dari akal yang sehat - pikiran yang positif tersebut, banyak prestasi yang  diraih Prof. Fatimah, selain sebagai dosen di di Fakultas Sastra Unpad sejak tahun 1989 dan di Program Pascasarjana Unpad sampai sekarang.  Terutama  membina mata kuliah: Metode Penelitian Linguistik, Teori-Teori Linguistik, Dialektologi, Semantik, Filologi Bahasa, Analisis Wacana, Filsafat llmu dan Fisafat Gramatika

Telah banyak mahasiswa yang dididiknya berhasil menjadi  doktor, dan meraih jabatan akademik profesor, yang tersebar di berbagai Perguruan Tinggi. Selain itu Prof. Fatimah pun masih menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra di UNIKOM Bandung, hingga akhir hayatnya.

Tim Promotor

Begitu banyak prestasi yang telah diraih Prof. Fatimah, tak membuatnya congkak. Prof. Fatimah, bahkan semakin sangat rendah hati, ibarat padi, makin berisi, semakin merunduk. Saya merasa sangat beruntung bisa bertemu, dekat dan bersahabat dengan Prof. Fatimah. Ibaratnya, menemukan  referensi yang handal untuk bidang yang belum pernah saya ketahui. Saya sering berkesempatan dialog dan diskusi dengannya.

Begitu asyik diskusi dengan sosok Guru Besar yang sungguh Guru Besar, tidak pelit ilmu, mengalir bagai air, hingga terkadang saya tertegun setiap kali mendengar Prof. Fatimah berceritera. Kami sama-sama mengajar di Program Doktoral Ilmu Budaya Unpad. Saya mengajar beberapa mata kuliah sejak Tahun 2010, dan diangkat sebagai Koordinator Kosentrasi Bidang Seni Program S3 Ilmu Budaya. Hal ini, antara lain, karena dibukanya Program S3  Ilmu Budaya, berangkat dari kerjasama STSI Bandung dengan Unpad dalam rangka akselerasi Program Doktor bagi para dosen STSI Bandung. Mahasiswa Angkatan Pertama (2010) terbanyak para dosen STSI Bandung (sekarang ISBI Bandung).

Pada tahun 2013, saya harus pindah kerja  ke Jakarta, tugas dari Kemdikbud untuk mengemban amanat sebagai Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman, padahal saya menjabat sebagai Ketua STSI Bandung baru selama  1,5 tahun. Tentu saja saya tidak bisa lagi mengajar secara rutin, baik di STSI Bandung, maupun  di Unpad.  Akan tetapi  saya masih  membimbing para mahasiswa S3 Unpad pada saat saya  pulang ke Bandung, setiap akhir pekan. Masih ada beberapa bimbingan S3 dan juga tugas menguji Ujian Proposal, dan Ujian Sidang Terbuka. 

Komunikasi saya dengannya pun lancar, terutama   komunikasi telepon. Apalagi, Prof. Fatimah dan saya satu tim promotor dalam membimbing mahasiswa doktoral Unpad. Diskusi kami sangat intens, khususnya dalam menganalisis  nilai-nilai filosofi dalam seni Pertunjukan. Banyak berbagai teori  linguistik diterapkan untuk membedah kedalaman gerak dan estetika tari, karena gerak pun merupakan 'bahasa tubuh' untuk mengungkapkan  ekspresi  tubuh. 

Diskusi dengan Prof. Fatimah menambah wawasan bagi saya untuk mengaplikasikan berbagai ilmu pada  bidang seni. Di tengah kesibukan kami masing-masing, masih ada saja canda, menggoda saya. Saya balik menggoda, terutama tentang kecerdasannya, serta keberaniannya untuk melanjutkan  studi ke  Belanda dan Jeman.

Untuk seorang perempuan pada masanya,  tidak terbayang  betapa dulu banyak yang kapengpeyongan pada Prof. Fatimah dengan paras yang cantik dan tubuh yang ideal tunggi untuk ukuran perempuan Indonesia. Cantik dan Cerdas, sungguh beruntung  laki-laki yang menjadi pendamping hidupnya. 

Ada peristiwa  yang tidak bisa saya lupakan, yang secara pribadi  saya anggap sangat   fenomenal, sekaligus surprise. Tidak bisa diukur dan  tidak akan tergantikan dengan nilai apapun, seberapapun.  Suatu nilai yang sangat mahal, bagi saya.

 

Suatu hari  (di tahun 2014), sekretaris saya membawa surat disposisi,  ada seoarang Guru Besar Unpad meminta waktu untuk bertemu dengan saya.  Setelah saya baca, ternyata Prof. Dr. Fatimah. Saya sangat terkejut, surprise, seorang  Guru Besar senior ingin menghadap saya dengan surat resmi, padahal sebelumnya kami sering berdiskusi, baik secara tatap muka, maupun  melalui telepon  berkaitan dengan bimbingan mahasiswa, dan progres rencana penelitian, serta mimpi Prof. Fatimah tentang perkembangan kebudayaan  terutama bahasa Sunda.

Akan tetapi untuk berkunjung ke kantor saya di Direktorat Kesenian dan Pembinaan Perfilman  Kemdikbud, Prof. Fatimah  menggunakan jalur  resmi, melalui prosedur formal. Saya kagum, dengan peristiwa tersebut, yang mencerminkan ciri dari seorang yang mengerti aturan, dan prosedur yang benar.  Saya terharu. Saya langsung menelponnya, dan mengatakan, mengapa harus  jauh-jauh datang dari Bandung ke Jakarta, akan sangat melelahkan, karena waktu tempuh Bandung –Jakarta (ketika itu), bila dalam keadaan macet bisa memakan waktu sampai sepuluh jam. 

Dengan nada santai, halus dan renyah, Prof. Fatimah tertawa kecil sambil menjawab, “teu sawios ayi, ceuceu mah bari ameng be, sono ongkoh tos lami teu teupang   sareng ayi.’  (tak apa-apa adik, kakak sambil main saja, juga sangat  rindu kepada adik). Saya balik merespon,  “ceu padahal mah wios be abdi anu ngadeuheus ka ceuceu pami abdi ka wangsul ka Bandung’’ (Kak, padahal biar saja saya yang menghadap kakak, jika saya pulang ke Bandung).  Prof. Fatimah menjawab : “teu sawios ayi seueur anu bade didugikeun” ( tidak apa-apa adik, banyak yang akan disampaikan).

Sesuai janji, pada hari dan tanggal yang sudah kami sepakati, Prof Fatimah  datang bersama beberapa dosen muda dan staf dari UNIKOM. Biasanya kalau di Bandung Prof. Fatimah selalu mengajak teman karibnya, Dosen Senior Unpad yang mengajar Hubungan Internasional Prof. Aelina Surya yang juga salah satu Wakil Rektor di UNIKOM.  Kedua sosok perempuan ini sungguh merupakan teman, sahabat, kakak yang baik, supel, rendah hati, dan familiar. Terlebih Prof. Aelina mempunyai hobi Seni Rupa dengan merangkai asesoris berupa perhiasan kalung, dan selalu saja ada hadiah buat saya.  Saya seakan mempunyai dua kakak perempuan cerdas,   kakak yang mengasuh  dalam bidang akademik.  Sangat terasa nilai Kasundaan silih asih asah asuh.

Ketika datang ke kantor saya, seakan-akan saya ini bukan orang Bandung. Prof. Fatimah membawakan oleh-oleh penganan khas Bandung. Katanya,”kalau-kalau saya rindu makanan Bandung.” Ternyata kedatangannya, meminta saya untuk memberi  pembekalan pada mahasiswa baru  di Fakultas Sastra UNIKOM, dan juga memberikan ‘Apresiasi Seni,  pada Acara Studium General Fakultas Ilmu Budaya Unpad,

Lagu Kanyaah Indung Bapak

Ada permintaan yang tidak seperti biasanya, selain memberikan materi  mengenai apresiasi Seni, saya pun harus menyanyikan lagu Sunda karya saya, yang berjudul “Kanyaah Indung Bapak.” Saya mengatakan, “berarti saya harus mebawa grup musik,  karena lagu tersebut, diaransemen khusus, tidak semua pemusik bisa langsung mengiringi tanpa latihan terlebih dahulu, sesuai dengan aransemen lagu.  Prof. Fatimah mengatakan," Jangan kuatir untuk hal tersebut."

Tiba waktunya saya memberi sambutan dan Materi Apresiasi Seni, di UNIKOM. Tidak ada obrolan lanjutan saya harus menyanyi,  saya berfikir, barangkali Prof. Fatimah juga sudah lupa. Saya pun naik ke panggung  dengan memberikan materi Seni,  sesuai permintaan point-point yang harus dibahas. 

 

Selesai mengakhiri materi Apresiasi Seni, tiba-tiba pembawa acara menyampaikan kepada hadirin, bahwa acara akan dilanjutkan dengan lantunan lagu Kanyaah Indung Bapak, dari saya. Layar  panggung bagian depan (apron) yang semula tertutup, tiba-tiba terbuka, terlihat para pemain musik (para mahasiswi - mulai dari gitar, organ, biola, drum) berderet, dan langsung memainkan intro lagu Kanyaah Indung  Bapak. (Artikel terkait: Refleksi Kanyaah Indung Bapak)

Serasa mimpi,  perasaan saya bercampur  aduk, antara  gembira, terharu, surprise, sedih bercampur  menjadi satu. Untung saja saya bisa selesai menyanyikan lagu sampai tuntas, karena tidak tahan untuk meneteskan  air mata dan menahan isak.

Pertama, kejutan dengan mempersiapkan khusus iringan musik mahasiswi mempelajari lagu saya, yang sengaja dilatih dengan mendatangkan instruktur; Kedua, terharu dengan ide yang  sama sekali tidak terfikirkan dan diduga; Ketiga, saya menjadi  sedih, ketika kata demi kata, larik demi larik lagu dilantunkan, terbayang kedua orang tua saya, indung (ibu) dan bapak saya yang selalu mengasihi tanpa pamrih, yang selalu mendukung, mencarikan guru tari Jawa  dan tari Sunda, mengajarkan lagu-lagu pupuh dan gamelan, membelikan buku-buku bacaan sesuai dengan perkembangan umur anak, mendorong anak-anaknya harus maju, sebagaimana yang tersirat  dalam syair lagu tersebut. Terbayang pula wajah Bapak Nano S, guru saya yang selalu mendukung  ketika saya membuat lagu-lagu Sunda.

Selesai pertunjukan, saya turun dari panggung disambut  hangat oleh Prof. Fatimah dan Prof. Aelina Surya, dua sosok perempuan  bijak, dengan  pelukan dan ciumam.  Entah apa yang saya rasakan. Kegembiraan yang tak terhingga, kejadian yang hampir-hampir membuat shock, tertegun melihat para pemain musik yang semua perempuan memainkan iringan lagu saya dengan sempurna. Saya menanyakan hal itu sekilas, Prof. Fatimah hanya tersenyum-senyum saja.  Tampaknya  enggan untuk menjawab. Belakangan ada bocoran, penggesek biola dari deretan pemusiknya adalah masasiswi  ISBI  Bandung, jurusan Musik Bambu.

Beberapa waktu kemudian, Prof. Fatimah menelpon saya, mengingatkan kehadiran saya  di Studium General Penerimaan Mahasiswa Baru Fakultas Ilmu  Budaya Unpad, untuk  memberikan materi Apresiasi Seni, dan tidak  lupa harus menyanyi kembali lagu Kanyaah Indung Bapak.

Kini Prof. Fatimah telah tiada,  semua hanya tinggal kenangan manis yang tidak bisa dilupakan. Ada diskusi  dengan saya yang masih belum tuntas tentang bahasa daerah Sunda, yang seakan termarjinalisasi di rumahnya sendiri.  Kemudian kami sepakat, untuk mewujudkan harapan dan cita-citanya, yaitu   menjadikan Seni dan bahasa  daerah yang keberadaannya diakui oleh negara,  untuk diperhatikan oleh pemerintah, sebagai kebanggan dan potensi daerahnya masing-masing, dengan mengadakan workshop-workshop dan pergelaran di setiap kota dan daerah.

Tidak itu saja,  Prof. Fatimah pun mengatakan, bukan “hanya kurikulum pendidikan dasar  saja yang terus dibenahi, tapi juga promosi-promosi  pariwisata melalui jargon-jargon di setiap daerah harus mengunakan unsur kedaerahan.” Sebagai contoh,  ucapan   ‘Selamat Datang’  di Bandung. Bukan hanya ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa nasional, tetapi juga harus ada bahasa daerahnya juga, Wilujeng Sumping. 

Orang luar negeri datang ke Indonesia bukan untuk  melihat budaya mereka, mereka datang ke Indonesia,  karena keindahan serta keanekaragaman budaya Indonesia yaitu budaya daerah,” oleh karenanya  harus diperlihatkan identitas daerah, melalui budayanya antara lain  kalau di Jawa Barat tentu  dengan Seni dan Bahasa daerah Sunda. |

 

Prof. Dr. Endang Caturwati adalah Guru Besar Ilmu Seni & Budaya ISBI Bandung

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 183
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 164
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 217
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 350
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya
Lingkungan
01 Nov 20, 23:18 WIB | Dilihat : 505
Anies Nyata Memimpin Transformasi Jakarta
01 Nov 20, 12:10 WIB | Dilihat : 174
Jakarta Jawara Dunia Tata Kelola Transportasi
04 Okt 20, 16:55 WIB | Dilihat : 189
Bangkitkan Marwah Banténois
20 Sep 20, 09:04 WIB | Dilihat : 755
Manusia Cerdas versus Manusia Pandir
Selanjutnya