Politik Hijab di Iran

| dilihat 1318

Catatan Jeehan Sanaz

PULANG ke Isfahan, Iran, kali ini adalah pulang kerinduan. Pulang ke tempat ibu yang senantiasa memelihara rindunya. Pulang ke titik kasih sayang yang tak pernah bisa diceritakan.

Sayang, kali ini tiba dalam situasi iklim yang tak menentu. Sejak November 2017, Badan meteorologi Iran mengisyaratkan, tingkat presipitasi yang rendah, dan akan terus berlangsung hingga  Maret 2018.

Tak hanya Isfahan yang mengalami suasana iklim yang seperti ini. Beberapa provinsi mengalami curah hujan, 25 persen lebih rendah dari masa (bulan) yang sama di tahun lalu.

Ya.. 55 persen lebih rendah dari rata-rata curah hujan tahunan. Di Isfahan, bahkan mengalami penurunan cukup tajam, sama dengan Khorasan Selatan, Qom, Markazi, Yazd, Kerman, Sistan – Baluchestan, Bakhtiari dan Teheran.

Ketika tiba di Isfahan awal Desember 2017, surah hujan memang sedang menjadi, bahkan lebih rendah dari keadaan normal.

Situasi ini lebih banyak kumanfaatkan membayar kangen pada ibu dan saudara-saudaraku, terutama kakakku, Yasmine.

Beberapa sahabat kuhubungi lewat saluran telepon. Mereka senang mendengar kabar aku pulang, lalu datang berkunjung ke rumah.

Ketika baru tiba, kebetulan hujan hanya turun rinai. Aku tertegun beberapa saat ketika melintasi Chahar Bagh Theological School, tempatku sempat bersekolah dulu.

Yasmine, lebih banyak bertanya tentang muslimah di Bandung, serta Indonesia dan Malaysia pada umumnya. Dia sedang  menekuni perubahan minda (mindset) perempuan muslimah yang terjadi di Indonesia dan Malaysia, serta Asia Tenggara pada umumnya.

Dia menyimak ceritaku tentang perubahan dahsyat muslimah Indonesia yang kian banyak mengenakan hijab, bahkan dengan cara berhijab yang jauh lebih ketat dibandingkan dengan Iran sendiri. Walaupun begitu, kukatakan kepadanya, pengaruh Arab Saudi lebih dominan.

PEMAHAMAN tekstual tentang hijab, tak sertamerta menunjukkan kesalihan. Tapi, muslimah Indonesia mengenakannya dengan sukarela, dan sebagian melihatnya sebagai mode fashion.

Di Indonesia, cara saleh tidak diatur. Persis seperti di Iran sebelum dekade 70-an. Tak ada regulasi yang mewajibkan muslimah Indonesia mengenakan hijab.

Beda dengan muslimah Iran, yang tak lama setelah Revolusi Islam tahun 1979, secara hukum wajib mengenakan hijab, yang di Indonesia lebih populer disebut jilbab.

Ada persamaannya, muslimah Indonesia mengenakan jilbab, mengikuti kaidah syariah yang diatur dalam Al Qur’an dan diajarkan para ustadz dan ustadzah.

Fleksibelitasnya sedikit lebih longgar dibandingkan dengan muslimah Iran. Terutama karena regulasi Iran, cenderung tidak ada definisi jilbab yang jelas dalam hukum pidana.

Karenanya, muslimah di Indonesia, seperti halnya di Iran, fleksibel dalam menentukan ragam dan coraknya. Ada yang mengenakan hijab atau jilbab syar’i, namun tak sepenuhnya menutup tubuh, seperti jubah.

Lebih banyak yang menggunakan baju muslimah yang mix and match dengan ragam busana casual atau formal, khasnya untuk perempuan profesional.

Di beberapa teman umum, di Bandung maupun Isfahan, ada juga perempuan muslimah yang mengenakan busana tradisional, chador.

Tapi, lebih banyak yang mengenakan jilbab pendek yang menutupi kepala, leher, tangan, dan pergelangan kaki. Tak sedikit yang mengenakan celana panjang menyerupai pantalon.

Yasmine tersenyum menyaksikan beragam foto yang kutunjukkan melalui telepon selularku. Tapi, ada hal yang sangat esensial, bahwa di Iran, karena regulasi dan sistem perundang-undangannya, perempuan muslimah Iran modern, rela hidup dengan peraturan yang tidak dibuat sendiri, dan merasa berhak menafsirkan aturan itu.

Tak terlalu keliru apa yang pernah dituliskan Elizabeth Bucar dari The Atlantic,  refleksi (sekaligus) impressi perempuan Iran dalam berbusana, sekaligus merupakan bukti kesetiaan kepada komitmen perubahan yang diekspresikan melalui Revolusi Iran, dengan pola kehidupan berbasis demokrasi Islam.

Artinya, di Iran dan di Indonesia, busana juga menjadi code yang khas, tak terkecuali dalam menunjukkan identitas mereka.

Bedanya, di Indonesia kaum muslimah menentukan dress code dalam keseragaman untuk kepentingan-kepentingan tertentu, seperti pesta pernikahan, majelis taklim, atau organisasi. Di Iran, busana bisa menjadi dress code setiap kali melakukan unjuk rasa. Misalnya, ketika berlangsung demonstrasi White Wednesday.

Ketika itu, cerita Yasmine, perempuan muslimah Iran, mengenakan jilbab putih dan menunjukkan secara terbuka dress code itu sebagai identitas komunitas.

DALAM konteks ekspresi politis, muslimah Iran bisa menggunakan busana sebagai cara meluahkan perasaan mereka, memprotes sesuatu. Misalnya, dengan cara melepas hijab mereka saat melakukan demonstrasi. Lalu mengibarkan jilbab mereka di tongkat-tongkat yang mereka bawa. Tapi, begitu demonstrasi usai, mereka mengenakan lagi untuk mematuhi regulasi.

Demonstrasi biasanya berlangsung di musim panas. Pada masa seperti itu, panas terik di kota-kota penting seperti Isfahan dan Teheran, biasanya, polisi moralitas Iran, senang berteduh di pos-pos favorit mereka. Hanya satu dua regu saja yang berpatroli.

Aksi melepas jilbab dalam aksi tahun 2014, telah membuat 195 anggota parlemen Iran menandatangani sebuah surat peringatan kepada Presiden Iran Hassan Rouhani untuk serius menghadapi perempuan yang tidak mengenakan jilbab. Presiden Hassan Rouhani, dianggap oleh para anggota parlemen, terlalu moderat.

Kemarahan anggota parlemen terhadap sikap perempuan Iran, itu bukan tanpa sebab. Menurut mereka, berbusana bagi kaum perempuan di Iran, merupakan salah satu cara utama dalam menghadapi serbuan budaya Barat.

Salah satu cara Barat, khasnya Amerika menggempur pertahanan budaya Iran, menurut para anggota parlemen itu, adalah melalui sikap dan cara berbusana perempuan Iran.

Kewajiban berjilbab adalah cara masyarakat Iran menghadapi "konsekuensi yang tidak dapat dipulihkan," dari serangan budaya Barat. Terutama karena budaya Barat, selalu berusaha "mengubah cara hidup perempuan Iran yang ditandai dengan jilbab dan kesucian."

Yasmine bercerita, ketika saya kembali ke Bandung, tahun 2014 itu, berminggu-minggu masalah jilbab menjadi topik hangat yang dibahas melalui talkshow televisi negara, serta perdebatan di parlemen dan di kampus-kampus.

Poster-poster pro hijab dan kewajiban berjilbab menghiasi tempat-tempat biasa memasang poster, baliho, bahkan giant banner. Hal itu juga menghiasi jejaring media sosial.

Puncak perdebatan itu adalah ketika Presiden Rouhani meminta kelompok garis keras untuk berhenti "mengganggu kehidupan manusia."

Pada perayaan innaugurasinya sebagai Presiden Republik Islam Iran, Rouhani menyindir lawan politiknya, dia mengatakan, “Jangan kalian mengira kita masih hidup di zaman batu.”

ROUHANI menyatakan, perempuan Iran di era millenium kini, telah mempunyai kesadaran intelektual untuk  mengenakan jilbab, sesuai dengan ketentuan Al Qur’an.

Rouhani mengingatkan, bukankah sebelum Revolusi Islam, terjadi pun, perempuan Iran sudah saleh, meski tak berjilbab. Berdasarkan sikapnya, terjadi kompromi dengan parlemen untuk menegakkan aturan tentang busana perempuan Iran, itu sesuai dengan apa yang tersurat dan tersirat dalam undang-undang.

Rouhani memilih political footpath untuk mengendalikan polisi moralitas, yang berada di luar kontrolnya sebagai presiden. Tapi, Rouhani sempat gagal untuk memutasi komandan polisi moralitas, karena dia gagal memindahkan institusi moralitas polisi di bawah yurisdiksi kementerian dalam negeri. Kekuatan konservatif mengalahkannya, karena secara historis, mereka menguasai institusi yang berada di bawah otoritas para mullah.

Semua cerita di atas, sesungguhnya menunjukkan realitas, dalam hal busana, regulasi tak sepenuhnya bisa dipatuhi. Bilapun perempuan Iran mengenakan hijab, sesungguhnya, lebih karena mereka merupakan perempuan rendah hati (arif).

Hijab, tak sekadar menyembunyikan bentuk tubuh wanita, terutama pinggang, pinggul, dadanya, dan rambutnya. Tapi menyimpan sejumlah nilai terkait dengan identditas budaya yang lebih luas pada stabilitas dan kesesuaian peradaban.

Selain itu, nilai hijab yang ditampilkan dalam jilbab, juga berfungsi nilai estetika yang lebih bernilai. Inilah yang membedakannya dengan jilbab di Saudi Arabia.

Politik dan busana bagi perempuan di Iran, mengalir dalam satu nafas, ekspresi keislaman yang universal dan sangat menghargai ruang inovasi artistik, estetik, dan etik.. Keyakinan ini membuat bintang TV Iran, Azadeh Namdari, mempromosikan pemakaian hijab, bertahun-tahun. |

 

(Tulisan ini merupakan rangkaian tulisan berseri. Penulis, perempuan asal Isfahan, pensyarah filsafat sosial)

Editor : sem haesy | Sumber : foto-foto dari beragam sumber
 
Ekonomi & Bisnis
14 Jan 18, 20:51 WIB | Dilihat : 1019
Quo Vadis Politik Pangan Nasional
26 Des 17, 12:32 WIB | Dilihat : 523
Kelola Sendiri Terminal 3 Bandara Soekarno - Hatta
01 Nov 17, 17:04 WIB | Dilihat : 1220
Jalan Panjang Pengaturan Transportasi Online di Indonesia
06 Okt 17, 14:55 WIB | Dilihat : 1315
Sistem dan Keunggulan
Selanjutnya
Humaniora
19 Feb 18, 14:03 WIB | Dilihat : 19601
Anies Memang Harus Dihadang untuk Turun
14 Feb 18, 12:10 WIB | Dilihat : 1319
Politik Hijab di Iran
03 Feb 18, 11:29 WIB | Dilihat : 1103
FORHATI : Berantas LGBT Cegah Kerusakan Bangsa
28 Jan 18, 00:02 WIB | Dilihat : 1294
Sendiri
Selanjutnya