Poek atawa Gelap

| dilihat 421

Catatan Renungan Bang Sém

Poek (baca: poék). Ini kosakata dalam bahasa Sunda, yang berarti gelap gulita atau gelap pekat. Saya yakin, setiap kita pernah mengalami keadaan di dalam situasi poék.

Sejak kecil, berulangkali saya mengalami keadaan poék. Musababnya, seringkali, lantaran sambungan listrik yang terputus, karena berbagai ihwal. Termasuk gangguan pokok Sengon, yang pernah terjadi ketika Jawa terkepung gelap beberapa waktu lalu.

Sekali-sekala gelap memang direncanakan dengan berbagai alasan teknis yang hanya diketahui PLN (perusaahaan listrik negara), termasuk pemadaman listrik bergiliran.

Ada juga gelap dilakoni karena alasan ritus spiritual atau ritus non spiritual, seperti memperingati hari bumi.

Bisa juga karena alasan politik dan keamanan, seperti seringkali terjadi pada dekade 60 - 70-an, ketika diberlakukan jam malam.

Rabu (13 April 2022) jelang akan memandu acara Tilik Bang Sém di Salam Radio, yang dilaksanakan melalui fasilitas zoom meeting,  tetiba listrik di lingkungan kompleks perumahan tempat saya tinggal, padam.

Tentu saya tidak bisa melaksanakan tugas sebagai pemandu dialog acara yang menghadirkan narasumber Ibu Dr. Sri Rustiyanti - Sekretaris Jendral Citra Srikandi Indonesia, yang sehari-hari menyandang amanah sebagai Dekan Fakultas Budaya dan Media - Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

Alhamdulillah acara tersebut terus berlangsung. Agustian, Direktur Salam Radio mengambil keputusan cepat, tampil on air sebagai host, menggantikan saya. Prinsip the show must go on, yang menjadi adab penyiaran, berlaku.

Saya terkepung poék di dalam rumah, kemudian duduk di beranda balkon rumah yang juga sangat gelap. Di situ juga saya menunaikan qiyamul layl yang selama bulan Ramadan disebut salat tarawih.

Di dalam rumah, nyala lilin menerangi secara ala kadar.

Beberapa jam dikepung gelap di situ sambil menikmati hembusan angin malam, membuat saya tertidur. Ketika terjaga, dinihari, alhamdulillah listrik telah mengalir lagi dan rumah kembali terasang, seperti sedia kala.

Meski sering mengalami gelap, tak urung suasana mencekam dalam kesendirian, terasa juga.

Saya pernah mengalami gelap yang amat mencekam, antara lain, ketika mendaki gunung Sangga Buwana yang terletak di wilayah Kabupaten Cianjur. Terutama karena harus menelusuri jalan setapak dengan semak belukar. Juga, kala mendaki beberapa bukit dan gunung lain, seperti Gunung Benom di Pahang, Malaysia; Merapi, Merbabu, Dieng, dan lain-lain.

Pula, ketika melintasi jalan darat dari Makassar ke Malili di Luwu Timur, atau melintasi hutan hujan tropis antara Malili - Sorowako, Pulau Alor, dan lain-lain. Atau ketika menelusuri kawasan hutan Ujung Kulon.

Beberapa bulan lalu, bersama beberapa kolega, saya juga melintasi gelap pekat jalur lintas Sumatera antara Betoeng - Lubuk Linggau. Kami terkepung gelap antara Karangringi, Ngulak, Prabumulih, Mambang, dan Petoenang.

Poék alias gelap gulita juga menginspirasi saya, antara lain menulis puisi dan monolog, antara lain Bercermin dalam Gelap. Dalam beberapa karya tulis saya yang lain, gelap saya pergunakan sebagai metafor, termasuk dalam memaknai perintah Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW, untuk memandu manusia mengelola peradaban, yang diamsalkan bergerak dari kegelapan menuju cahaya terang benderang.

Bila kehidupan diamsalkan berada dalam peradaban yang gelap, manusia berkewajiban mencari suluh, sehingga dirinya bisa menjadi suluh bagi manusia lain. Suluh beramsal cahaya, itulah ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh sebersih-bersih tauhid, untuk memperoleh cara hidup yang jiuga bersih.

Dalam politik, berlaku amsal gelap dalam konteks perilaku politisi atau siapa saja yang berkecimpun di dunia politik praktis. Karenanya, kiga mengenal istilah, "bergelap-gelap dalam terang, berterang-terang dalam gelap," sebagai metafor untuk kiat dan siasat politik. Perjuangan politik di masa lampau adalah proses untuk menciptakan kondisi, Habis gelap terbitlah terang yang menjadi tajuk pumpunan surat-surat RA Kartini.

Dalam berbagai diskusi dengan sejumlah kolega di Garut, ketika bicara berbagai isu mutakhir, saya mendengar beragam istilah poék. Tak hanya dalam konteks poékeun atau kemalaman saat melintasi satu daerah menuju daerah lain.  

Jauh dari itu, juga poékeun dalam konteks bingung tak pernah mampu mendapatkan solusi untuk menyelesaikan masalah. Poék mongkléng buta radin, gelap gulita yang pekat dan teramat kelam. Suatu gambaran situasi kehidupan rakyat dalam kegelapan yang mencekam, yang dialami sejak beberapa tahun terakhir. Khasnya, ketika nanomonster pandemi Covid-19 menebar krisis kesehatan, ekonomi, bahkan kemudian berimbas ke dalam kehidupan praktis.

Utang negara yang terus meningkat, langka (dan mahalnya harga) minyak goreng, himpitan pajak yang bertubi, pengangguran, hoax yang seliweran, dan beragam ambisi politik yang hendak meruyak konstitusi, dipandang sebagai keadaan kehidupan kebangsaan yang sedang mengalami poék mongkléng buta radin.

Di masa Orde Baru yang represif, Rendra lewat Sajak Anak Muda, memberikan gambaran situasi poék mongkléng buta radin dengan narasi dan diksi yang lugas.

Begini, puisi itu berbunyi : Kita adalah angkatan gagap / yang diperanakkan oleh angkatan takabur / Kita kurang pendidikan resmi / di dalam hal keadilan,/ karena tidak diajarkan berpolitik,/ dan tidak diajar dasar ilmu hukum // Kita melihat kabur pribadi orang,/ karena tidak diajarkan kebatinan atau ilmu jiwa./ Kita tidak mengerti uraian pikiran lurus,/ karena tidak diajar filsafat atau logika. / Apakah kita tidak dimaksud / untuk mengerti itu semua ? / Apakah kita hanya dipersiapkan / untuk menjadi alat saja ? / inilah gambaran rata-rata / pemuda tamatan SLA, / pemuda menjelang dewasa. // Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan./ Bukan pertukaran pikiran. / Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan,/ dan bukan ilmu latihan menguraikan./ Dasar keadilan di dalam pergaulan,/ serta pengetahuan akan kelakuan manusia, / sebagai kelompok atau sebagai pribadi,/ tidak dianggap sebagai ilmu yang perlu dikaji dan diuji. // Kenyataan di dunia menjadi remang-remang./ Gejala-gejala yang muncul lalu lalang,/ tidak bisa kita hubung-hubungkan./ Kita marah pada diri sendiri // Kita sebal terhadap masa depan./ Lalu akhirnya,/ menikmati masa bodoh dan santai. // Di dalam kegagapan, / kita hanya bisa membeli dan memakai / tanpa bisa mencipta. // Kita tidak bisa memimpin,/ tetapi hanya bisa berkuasa, / persis seperti bapak-bapak kita.// Pendidikan negeri ini berkiblat ke Barat/ Di sana anak-anak memang disiapkan / Untuk menjadi alat dari industri./ Dan industri mereka berjalan tanpa berhenti. / Tetapi kita dipersiapkan menjadi alat apa ? // Kita hanya menjadi alat birokrasi ! / Dan birokrasi menjadi berlebihan / tanpa kegunaan - / menjadi benalu di dahan. // Gelap. Pandanganku gelap. / Pendidikan tidak memberi pencerahan. / Latihan-latihan tidak memberi pekerjaan / Gelap. Keluh kesahku gelap./ Orang yang hidup di dalam pengangguran./ Apakah yang terjadi di sekitarku ini ? / Karena tidak bisa kita tafsirkan, / lebih enak kita lari ke dalam puisi ganja. / Apakah artinya tanda-tanda yang rumit ini ? / Apakah ini ? / Apakah ini ? / Ah, di dalam kemabukan, / wajah berdarah / akan terlihat sebagai bulan. // Mengapa harus kita terima hidup begini ? / Seseorang berhak diberi ijazah dokter, / dianggap sebagai orang terpelajar, / tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan. / Dan bila ada ada tirani merajalela, / ia diam tidak bicara, / kerjanya cuma menyuntik saja. //Bagaimana ? Apakah kita akan terus diam saja. / Mahasiswa-mahasiswa ilmu hukum / dianggap sebagi bendera-bendera upacara, / sementara hukum dikhianati berulang kali. // Mahasiswa-mahasiswa ilmu ekonomi / dianggap bunga plastik, / sementara ada kebangkrutan dan banyak korupsi. // Kita berada di dalam pusaran tatawarna / yang ajaib dan tidak terbaca. / Kita berada di dalam penjara kabut yang memabukkan. //Tangan kita menggapai untuk mencari pegangan. / Dan bila luput, / kita memukul dan mencakar / ke arah udara // Kita adalah angkatan gagap. / Yang diperanakan oleh angkatan kurangajar. / Daya hidup telah diganti oleh nafsu. / Pencerahan telah diganti oleh pembatasan. // Kita adalah angkatan yang berbahaya.|

Dalam kondisi gelap, menelusuri kehidupan menjadi kehilangan arah, sebagaimana tergambar dalam dangding KH Hasan Mustopa, tentang pencarian (neangan) kebenaran yang tersaput gelap, seperti terungkap dalam karyanya, bertajuk Puyuh Ngungkung dina Kurung.

Dangding itu berbunyi: Sapanjang neangan kidul//kaler deui kaler deui//sapanjang neangan wetan, kulon deui kulon deui//sapanjang neangan aya//euwuh deui euweuh deui//Ngalantung neangan tungtung//Kawit deui kawit deui//Sapanjang neangan tengah//Sisi deui sisi deui//Sapanjang neangan awas//Huam deui huam deui//Ngalantun timu panemu//Nimu deui nimu deui//Sapanjang neangan ngaran//Lain deui lain deui //Sapanjang neangan padang surem deui surem deui.

Pencarian kebenaran dalam 'kegelapan' adalah kebingungan, dalam katastrop. Sepanjang mencari Utara, Selatan jua yang ditemukan. Sepanjang mencari Timur, Barat jua yang ditemukan. SEpanjang mencari tengah, tepi jua yang didapat. Sepanjang mencari ada, tiada jua yang ditemukan.... dan seterusnya. Ujungnya adalah: sepanjang mencari terang, suram jua yang ditemukan.

Dalam poék, terutama poék mongkléng buta radin, yang kita dapatkan hanya kehilangan, kelangan, sebagaimana tereksplorasi dalam karya tari Prof. Endang Caturwati bertajuk Kelangan.

Gerakan aksi Mahasiswa -- Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia -- (11 April 2022) -- lalu, yang dikoordinatori Kahar, dan beroleh respon spontan dari Wakil Ketua DPR RI : Sufmi Dasco Ahmad, Rachmat Gobel, Lodewijk F. Paulus dan Kapolri Jendral Polisi Listyo Sigit Prabowo, boleh dipahami sebagai seberkas cahaya di kegelapan.

Gerakan aksi mereka murni dan positif dengan nyala kesadaran dan antusiasme menyuarakan aspirasi rakyat, dan perlu dilindungi dari para penyuka gelap (kaum popoékeun) yang selalu hendak 'mencuri kesempatan dalam gelap.'

Bagi siapa saja yang suka kegelapan, kita sarankan: sudahilah berkemul dan memantik gaduh dalam kegelapan ! Kita tak hendak merutuk gelap, juga tak hendak bergaduh lantaran kegelapan. Au ah gelap ! |

Editor : delanova
 
Ekonomi & Bisnis
03 Des 22, 15:17 WIB | Dilihat : 41
Ginanjar Nilai Semua Investasi Jepang Lancar
15 Jun 22, 09:26 WIB | Dilihat : 361
Gobel : PMK Hewan Memukul Kedaulatan Pangan
Selanjutnya
Budaya
28 Okt 22, 07:08 WIB | Dilihat : 186
Demokrasi, Musyawarah dan Mufakat
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 282
Merawat Negeri Terindah di Dunia
07 Jul 22, 22:03 WIB | Dilihat : 359
Anies Bicara tentang Perpustakaan dan Pustakawan
Selanjutnya