PM Jacinda Ardenne Jamin Keselamatan Umat Islam Selandia Baru

| dilihat 485

HANYA kaum yang dungu, yang tak merasakan dan mengabaikan realitas, bahwa penembakan brutal yang dilakukan seorang atheis ekstrim fundamentalis, di Masjid Al Noor  - Christchurch  dan Linwood - Selandia Baru, sebagai aksi teror yang dilakukan karena kebencian terhadap Islam dan insan sesama.

Ekspresi simpati dan empati yang ditampakkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, menjadi bagian gelombang besar kepedulian, antusiasme, simpati, empati, dan apresiasi, dan respek yang bergerak menjadi kekuatan dunia baru, kekuatan cinta, sebagai refleksi dari sifat Rahman dan Rahim Ilahi.

Jacinda Ardern - Perdana Menteri Selandia Baru, bersama Wakilnya Winston Peters, pemimpin oposisi Selandia Baru, Simon Bridges, wakil pemimpin Partai Hijau, James Shaw dan menteri senior menunjukkan hal itu.

Mereka menunjukkan cara negara mengatasi masalah mengunjungi komunitas muslim Selandia Baru.

Jacinda Ardern mengenakan jilbab saat kunjungannya ke Canterbury Refugee Centre di Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (16/3) sehari setelah penyerbuan brutal dilakukan dan menewaskan 50 jamaah di dalam kedua masjid tersebut. Dia dan rombongan, terbang dari Wellington dan menyaksikan langsung dampak psikologis dan psikis yang ditimbulkan oleh aksi teror paling brutal, itu.

Ardern menjumpai umat islam di sana, dan menyatakan, "simpati dan cinta untuk semua komunitas Muslim." Pernyataan itu disampaikan menyusul keputusan pemerintah mengubur serentak para mujahid, korban teror sesuai dengan ketentuan agama Islam, dan merawat para korban terluka yang masih selamat. Ardern dan politisi Selandia Baru, tak memanfaatkan situasi dan aksinya itu untuk kepentingan politik cèmpèngan.

Jacinda Ardern bertemu dengan para pemimpin masjid dan umat Islam di Christchurch, yang menjadi target aksi teror itu. Untuk dan atas nama pemerintah,  dia meyakinkan dan memberi jaminan, bahwa umat Islam di Selandia Baru akan kembali hidup aman dan nyaman.

"Keamanan dari polisi akan menjaga masjid-masjid di seluruh Selandia Baru sampai terlihat tidak ada lagi ancaman," katanya.

Ardern duduk dalam suasana yang akrab dengan umat Islam yang dikunjunginya, lalu saling berterima kasih kepada bangsa itu atas curahan dukungan dan berkomitmen menjawab keraguan, sekaligus meyakinkan, tragedi kemanusiaan yang menimpa umat Islam, pada Jum'at (15/3) itu tak akan terjadi lagi.

"Kami tidak mengharapkan hal itu terulang. Kami sangat berterima kasih, dan semoga kita diberkati Allah," kata anggota Habib Ullah, salah seorang pemimpin komite masjid.

Umat Islam dan pemimpin pemerintahan di Selandia Baru, itu lantas membicarakan rencana jangka panjang untuk mereka yang selamat. Sekaligus saling berkontribusi mengembangkan gagasan paling nyata untuk menghapus kekuatiran yang beralih ke keamanan jangka panjang umat Islam. Peristiwa serangan brutal dan gila yang terjadi hari Jum'at, itu membawa dampak sosial langsung,  karena para mujahid yang menjadi korban, itu merupakan pencari nafkah tunggal bagi keluarganya.

Ardern menjawab kekuatiran itu, dan langsung berfikir, tentang, "Bagaimana kita memastikan mereka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari."

Ardern dan beberapa petinggi pemerintah Selandia Baru, itu diterima umat Islam di Hagley College, hanya beberapa menit dari masjid Al Noor, yang menjadi tempat kejadian perkara aksi teror brutal yang dilakukan Brenton Tarrant, yang tak lebih dari 24 jam dibekuk dua polisi di daerah pedesaan Canterbury.

Pemimpin umat Islam yang dikunjungi Ardern memuji keberanian dan kecepatan dua polisi, itu menangkap teroris asal Australia, itu. Apresiasi juga diberikan untuk aksi kepolisian yang sangat manusiasi, sesuai dengan tugas utama mereka, melayani dan melindungi rakyat, bukan hanya alat pemerintah untuk menciptakan ketertiban dan disiplin sosial.

"Polisi terus berhubungan langsung dengan anggota keluarga dan berusaha melakukan semua yang mereka bisa untuk memenuhi harapan semua yang ada di Christchurch," kata Ardern.

Karena situasinya, kunjungan Ardern bersama beberapa petinggi pemerintah pada hari Sabtu, disertai dengan pengamanan yang ketat. Sejumlah polisi bersenjata lengkap nampak di jalan-jalan sekitar kota.

Kunjungan Ardern adalah kunjungan yang menunjukkan tanggungjawab pemerintah kepada rakyatnya, tanpa memandang etnis dan agama. Ia hadir, membawa suara cinta rakyat Selandia Baru seluruhnya, yang mengekspresikan komitmen kebersatuan dan solidaritas kepada umat Islam yang sedang dilanda duka.

Aksi teror dan kekuatiran penuh kecemasan yang ditimbulkannya, ungkap Ardern, tidak mencerminkan realitas kebangsaan yang sesungguhnya. "Ini bukan Christchurch, ini bukan Selandia Baru yang ada yang tahu," katanya. "Apa yang terjadi di kota yang terkenal damai dan rukun, itu merupakan tragedi paling menyedihkan dan gelap sepanjang sejarah, tetapi tidak menunjukkan rakyat Selandia Baru, sambung Ardern.

Ucapan Ardern bukan basa-basi. Rakyat Selandia baru di kota itu dan di beberapa kota lainnya, pun di Wellington, keluar rumah mereka, membawa bunga duka, dan meletakkannya di berbagai tempat strategis untuk menunjukkan simpati dan empati mereka.

Ardern telah melakukan kunjungan yang menjadi peluang penting untuk berbagi keprihatinan dan menghidupkan spirit persatuan rakyat secara langsung, dengan ungkapan nyata kemanusiaan untuk mereka yang mengalami kehilangan.

Diapit Wakil Perdana Menteri Winston Peters, anggota parlemen, pemimpin oposisi dan politisi di pemerintahan lokal, Ardern menyatakan, dia membawa pesan cinta dan dukungan atas nama semua rakyat Selandia Baru. Dia disambut Ahmed Tani, Ketua Asosiasi Pengungsi Nasional Selandia Baru, yang tahun lalu diangkat menjadi Perwira Orde  Selandia Baru untuk layanan bagi masyarakat pengungsi.

Tani memperkenalkan kepada Ardern, keluarga korban yang terdampak tragedi di dua masjid, itu satu per satu. Pertemuan Ardern di Hagley College, akhirnya menjadi pertemuan emosional yang sendu keluarga para korban. Kepadanya, keluarga korban menyebutnya laksana segelas air dalam perjalanan jauh, dan bunga di ambang pintu yang sangat berarti untuk melanjutkan kehidupan.

Sejumlah orang yang selamat bercerita tentang pengalamannya. Mohamed Jama, yang pertama kali bertemu teroris, itu dan  beruntung bisa lolos dari berondongan peluru, dan mengalami cedera serius. Keluarga korban yang syahid, meminta Ardern dan seluruh penyelenggara pemerintahan di Selandia Baru, sampai ke tingkat desa, memberikan jaminan tentang keamanan dan perlindungan untuk seluruh aktivitas masjid.

Ardern tercernung beberapa jenak, dan menyerap ungkapan hati umat Islam yang dijumpainya, dan menunjukkan kefahaman, ada "ketakutan di masyarakat," bahkan termasuk kecemasan untuk melaksanakan ibadah dan ekspresi budaya mereka, secara aman dan nyaman, seperti sebelum-sebelumnya.

Ardern langsung meyakinkan, bahwa dia dan seluruh aparatus pemerintahannya, akan memberikan perlindungan, terutama polisi. Ardern langsung mengambil keputusan, menambah petugas pemerintah  untuk memberikan bantuan dan dukungan bagi keluarga, mulai dari mengatasi biaya pemakaman.

Selain itu, dia menyatakan, penting bagi polisi, masyarakat dan pemerintah pusat untuk terus berdialog, memastikan bahwa umat Islam merasa aman dan terlindungi. Ardern, merespon baik keprihatinan terbesar bagi umat Islam yang dikunjunginya, melakukan pemakaman atas jenazah para korban, sesuai dengan ketentuan agama dan tradisi umat Islam di Selandia Baru.

Ardern juga menugaskan para spesialis bekerja bersama staf lokal untuk mendukung keluarga muslim, dan membantu memulihkan situasi sekaligus melindungi pelaksanaan keyakinan sebagai umat Islam secara konsisten, dengan mempertimbangkan keadaan menjadi lebih baik, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setelah itu, perdana menteri memerinci proses pemindahan jenazah para mujahid, dari luar negeri, ke negara asal masing-masing dengan cara-cara yang konsisten dengan keyakinan Islam.

Peristiwa yang terjadi di masjid Al Noor - Christchurch dan Linwood, memang ibarat gempa yang melanda tiba-tiba, baik bagi polisi maupun pemerintah Selandia Baru yang dipimpinnya. Untuk menemukan solusi dan cara terbaik melakukan pemulikan, Ardern menyiapkan berbagai langkah, termasuk bantuan pemerintah terkait sumber pendapatan utama keluarga korban.

Dia juga menugaskan sejumlah petugas  yang fasih dalam banyak bahasa untuk melakukan komunikasi intensif. Sejalan dengan itu, tindakan hukum dilakukan kepada teroris. Dalam kunjungannya ke Pusat Keadilan, Ardern mendapatkan presentasi dari komandan polisi setempat dan bertemu dengan petugas garis depan. Dia memberikan apresiasi tinggi kepada dua polisi daerah pedesaan Canterbury yang menangkap tersangka Brenton Tarrant.

Secara resmi, Perdana Menteri Sekandia Baru yang masih mempunyai anak balita, itu akan membawa peristiwa ini sebagai agenda utama dalam rapat kabinet pada Senin, 18/3/19. Suatu brifing tingkat tinggi segera disiapkan. Termasuk membahas tentang Undang-Undang mengenai senjata api.

Di lapangan, dalam kunjungannya Ardern beroleh informasi tentang lima senjata yang dipakai teroris, merupakan senjata modifikasi, menjadi senjata semi otomatis. Dari pemeriksaan cepat polisi, diperoleh informasi awal,  kelima senjata yang digunakan teroris, dibeli secara legal, meskipun fakta menunjukkan lisensi kelas-A yang dimiliki teroris, seharusnya tidak diizinkan. Dan teroris itu, tidak patut mendapatkan senapan semi-otomatis.

Sebelum terbang kembali ke Wellington, Ardern mengunjungi unit perawatan intensif rumah sakit dan bertemu dengan keluarga korban dan staf rumah sakit. Dia menawarkan dukungan bagi keluarga korban, khasnya korban yang sedang dalam kondisi kritis.| Delanova, Haedar

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1117
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 830
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 829
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya
Seni & Hiburan
25 Mar 19, 17:31 WIB | Dilihat : 578
Dangdut dan Betawi dalam Minda Musika Chrisye
12 Mar 19, 13:09 WIB | Dilihat : 438
Mengenang Chrisye Merawat Cinta di Ancol
12 Mar 19, 13:37 WIB | Dilihat : 416
Hadapi dengan Senyuman
Selanjutnya