Virus Sosial Sumber Petaka

Pewadul dan Perwadulan

| dilihat 474

bang sém

"Njid.., siapakah manusia pandir paling bebal?" tanya salah seorang cucu, puteri salah satu kemenakan, yang sering menemani saya di rumah.

Siswi kelas 11 salah satu SMA di Jakarta, ini seperti ibunya kala belia, sering mengajukan pertanyaan tetiba yang tak umum.

"Manusia yang tidak bisa mengendalikan dirinya, sehingga susah membedakan mana kebaikan dan mana pula keburukan," jawab saya.

"Jangan normatif gitu dong.. Lebih spesifik, Njid..," sambungnya.

"Manusia usil yang selalu ingin mencampuri urusan orang, suka menebar rumors atau ghibah, senang melakukan namimah alias menghasut, dan senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang," jawab saya.

Cucu saya tersenyum. Saya balik bertanya kepada dia, "Kok tetiba kamu nanya soal ini?"

"Hehe.. Guruku kasih pekerjaan rumah membuat tulisan yang berhubungan dengan itu semua. Mulai dari ghibah, buhtan atau hoax, fithan, namimah, sampai hasad dan hasud..," jawabnya.

Dia menjelaskan, guru agamanya tidak hanya menekankan masalah akidah dan syariah, terkait dengan ubudiyah. Tetapi menggali lebih dalam soal-soal sosial kemanusiaan, muamalah dan akhlak.

"Aku berkesimpulan mirip dengan Njid. Manusia pandir paling bebal adalah yang tidak mampu mengendalikan dirinya dari hal-hal sepele tapi berdampak buruk secara sosial," lanjutnya.

Sambil bersandar di sofa, dia menyimak omongan saya.

Saya katakan, merujuk berbagai referensi ihwal akhlak yang dicontohkan Rasulullah, ghibah dan penyakit yang ditimbulkan oleh hasad dan hasud, merupakan petaka yang lebih cepat dan punya daya hancur lebih besar, katimbang virus corona. Penyebaran ghibah, buhtan, namimah dan fitnah, lebih cepat dibandingkan penyakit aklah. Klasifikasinya, malah sudah termasuk dalam ketagori 'murtad' dari keimanan, meski dia masih menjalankan ubudiah - ibadah sesuai rukun.

"Ibadah salatnya, puasanya, sadaqahnya, infaknya, zakatnya, rusak, terkontaminasi oleh penyakit yang tak terasa mereduksi nilai ibadah. Terutama karena menjadi salah satu sumber kerusakan dalam hubungan sosial," tambah saya.

"Owh.. dahsyat sekali dampaknya ya Njid. Semua manusia, tak peduli latar akademik, sosial dan budayanya bisa terkena virus perusak masyarakat ini ya, Njid?"

Saya mengangguk. "Di tengah jaman yang gamang seperti sekarang ini, tak sedikit kalangan yang berlatar pendidikan tinggi, malah menjadi sumber virus ini. Termasuk yang memfasilitasi terjadinya segala keburukan ini. Bahkan lebih bebal, karena mereka sengaja melakukan dan berselindap di balik status sosialnya," ujar saya.

Cucu saya mengangguk. Dia memandang saya serius. "Njid menjuluki mereka kaum wadul. Istilah ini lebih pantas daripada julukan hoaxer," ujar saya.

Saya kutipkan untuknya pemahaman ghibah dari kamus Al Jawhari. Ghibah itu berasal dari kata ghaba dan juga ightiyab. Termasuk dalam terminologi ini, para pencerca atau pembuli dan pendengung (buzzer). Tak terkecuali, para penggunjing yang senang membicarakan orang lain 'di balik panggung' atau 'di balik tirai.'

Dosanya termasuk dosa besar, tak terma'afkan sebelum orang yang dighibahkan atau dibuhtankan memaafkan. Perilaku dan perangainya, setara dengan kanibalis yang senang memakan daging mayat saudara sendiri.

Ghibah, Buhtan, Namimah, dan Fithan itu adalah makna literal dari perbuatan sangat hina, bergunjing. Perbuatan mereka menjatuhkan harkat martabat mereka, lebih rendah dari hewan melata, seperti ular berbisa.

Pengarang kitab al Shihah, dari tradisi al-Majlisi memberikan makna teknis (istilahi), bukan hanya makna harfiah ghaba, ightaba dan derivatif lain yang terkait. Karena perbuatan ghibah, buhtan, namimah, dan fithan merupakan ekspresi watak jahat.

Al Misbah al-Munir, bahkan memasukkan kaum wadul, itu sebagai kecacatan mental sejati, perbuatan tidak senonoh yang dilakukan dengan sukacita, tanpa merasa berdosa.

Virus aklah yang menyebabkan penyakit jiwa wadul, ini sepadan dengan farhah, karena menimbulkan derita tak kentara, pedih tanpa nampak lukanya.  Karenanya, kaum wadul disetarakan dengan 'pemakan daging mayat saudara sendiri,' fallah. Terutama karena perbuatan wadul - yang sering berbentuk pergunjingan, itu  juga sekaligus 'melahap habis,' dan menihilkan kebajikan. Termasuk menggerogoti keimanan.

"Hatta si pelakunya melakukan seluruh ibadah, seperti salat tepat waktu, puasa beragam jenis, dan gemar bersadaqah?"

"Ya.. makanya, kamu harus berhati-hati dalam melakukan interaksi sosial. Begitu ada temanmu yang mulai membicarakan orang lain, langsung cegah," pesan saya.

"Apakah meremehkan orang lain termasuk perbuatan wadul?"

"Ya.. Karena perwadulan yang tampak dan terasa dalam pergunjingan, dengan sendirinya meremehkan dan merendahkan orang lain. Berbahaya terhadap reputasi seseorang, dan yang melakukannya, para pewadul, sesungguhnya lebih rendah, menjijikkan, karena rusak reputasinya karena kelakuan pandirnya yang bebal."

"Bagaimana kalau yang diomongkan pewadul itu benar?"

"Itulah ghibah, karena apa yang dia lihat belum tentang fakta yang sebenarnya. Untuk menyatakan seseorang begini begitu mesti dilakukan tabayyun, berupa verifikasi sumber informasi dan konfirmasi kebenaran informasi langsung kepada orangnya. Bukan menggunjing dengan orang lain tentang orang itu."

Cucu saya terbelalak, matanya. "Inikah yang dimaksudkan dalam pepatah: mulutmu harimau-mu?"

"Antara lain begitu," jawab saya.

"Bila gunjingan itu dilakukan dengan wajar saja, tanpa kebencian?"

"Sama buruknya. Pergunjingan bisa dipastikan merupakan perbuatan yang dilakukan seseorang, karena jiwanya sakit. Minimal terkontaminasi oleh kebencian, iri, dengki, hasad, hasud, dan sejenisnya."

"Kalau kita tidak sengaja menggunjingkan seseorang?"

"Buru-buru datangi orang yang menjadi objek gunjingan. Beritahu kepadanya, bahwa kalian telah menggunjingkannya. Kemudian minta ma'af dan bertobat."

"Kalau dia tidak mau mema'afkan?"

"Ya terima akibatnya.. Dosa bergunjing yang setara dengan memakan daging mayat saudara sendiri, kalian bahwa sampai mati dan kelak kalian pertanggungjawabkan di akhirat."

Nampak cucu saya bergidik, bagai sedang ditikam dingin menusuk tulangnya. "Ya.. Allah hindari hamba dari segala perwadulan.. dan jangan masukkan hamba ke dalam kaum pewadul, penebar ghibah, buhtan, namimah, fithan dan sejenisnya.."

Saya mengaminkan. Anda masih suka ngawadul? Berhati-hatilah dan berhentilah!

Editor : delanova | Sumber : berbagai sumber
 
Budaya
28 Okt 22, 07:08 WIB | Dilihat : 186
Demokrasi, Musyawarah dan Mufakat
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 282
Merawat Negeri Terindah di Dunia
07 Jul 22, 22:03 WIB | Dilihat : 359
Anies Bicara tentang Perpustakaan dan Pustakawan
Selanjutnya
Humaniora
11 Nov 22, 22:45 WIB | Dilihat : 197
Jalan Ishlah Menghidupkan Apresiasi dan Respek
10 Nov 22, 12:46 WIB | Dilihat : 123
Kang Tjetje, Kitab Kesadaran dengan Narasi Kritis
26 Okt 22, 21:15 WIB | Dilihat : 261
60 Tahun Tak Mandi, Sekali Mandi Amou Haji Meninggal
Selanjutnya