Percikan Cerah dari Penelitian Prof. Yasmine tentang M. Husni Thamrin

| dilihat 428

Catatan Sem Haesy

RABU (21 November 2018) pagi. Sejak pukul 09.30 sampai pukul 12.30 wib di ruang sidang yang khas, lantai 9 - Gedung Rektorat Universitas Indonesia - Depok, berlangsung diskusi yang menyenangkan.

Yang dibahas, konsep buku Prof. Yasmine Zaky Shahab, SS, MA, Ph.D., - guru besar antropologi - Universitas Indonesia, tentang Moh Husni Thamrin, berdasarkan penelitiannya yang panjang.

Diskusi yang dipandu Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum., Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya - UI, itu menarik, karena menghadirkan sejumlah akademisi dan cendekiawan yang terkait dengan sejarah dan antropologi.

Dr. Anhar Gonggong, Prof. Dr. Ibrahim Algadrie (dari Universitas Tanjung Pura), Dr. Tony, Dr. H. Abdul Radjak, DSOG., dr. Rusdi, dan saya. Juga dihadiri oleh sejumlah mahasiswa magister dan kandidat doktor.

Penelitian Prof. Yasmine ini menarik dan layak diterbitkan sebagai buku untuk konsumsi publik, karena selain menggambarkan ketokohan Pahlawan Nasional Moh. Husni Thamrin dari pendekatan sejarah dan antropologi dan sudut pandang demografi dengan berbagai temuan yang perlu dipertimbangkan. Khasnya dalam memadupadan dua pendekatan keilmuan yang berbeda perspektif. Pun, dalam konteks nilai dan manifestasinya dalam realitas kehidupan berdimensi kini dan mendatang.

Berbagai pemikiran mengemuka dengan beragam sudut pandang, titik pandang, dan ciri pandang. Semua memperkaya penelitian itu. Termasuk bagaimana nama tokoh pahlawan sering dipakai sebagai nama lembaga, tanpa disertai dengan paparan mendalam tentang tokoh itu sendiri.

Juga berkembang pandangan kritis tentang metode dan cara pengajaran sejarah dan pola kajian antropologi yang lebih menarik dan relevan dengan perkembangan masyarakat.

Seperti pembicara lain, saya menggarisbawahi beberapa hal terkait dengan perpsketif yang lebih kaya, termasuk nilai yang mempengaruhi dan nilai yang ditimbulkan oleh ketokohan seorang pahlawan. Tak terkecuali imbas nilai kepada generasi baru.

Diskusi yang hangat dalam bingkai akademik, sekaligus menawarkan focal concern penelitian dan penulisannya.

Menurut Sekretaris Dewan Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. dr. Budi Sampurna, SH, SpF(K) - diskusi itu memberi suasana lain bagi ruang diskusi yang selama ini lebih banyak dipergunakan untuk rapat Dewan Guru Besar, Majelis Wali Amanat, dan kegiatan sejenisnya. Dan, dihadiri mahasiswa, sehingga ruangan itu penuh.

Bagi saya, ini diskusi yang indah. Diskusi yang membuka ruang pembelajaran dan 'perdebatan' yang luas, tetapi jelas koridornya. Hasil penelitian Prof. Yasmine sendiri layak dan patut diketahui khalayak. Tak hanya itu, Prof. Yasmine yang hampir pensiun itu masih sangat produktif. Salut untuk beliau.

Tentu, buku bertajuk Mohammad Husni Thamrin, Prestasi dan Representasi-nya itu amat bermanfaat. Khasnya, bagi semua kalangan yang selama ini menggunakan nama Muhammad Husni Thamrin bagi lembaga dan organisasinya.

Bagi kaum Betawi, buku ini menjadi penting sebagai bagian dari proses pengayaan dan pemajuan literasi tidak saja tentang ketokohan kaum Betawi, melainkan karena figur Mohammad Husni Thamrin merupakan salah satu sosok anak bangsa yang menjadi bagian penting dalam proses membangsa (to be nation), seperti yang diungkapkan sejarawan Anhar Gonggong.

Menurut Anhar Gonggong, "Hasil penelitian antropologis-historis yang dilakukan oleh prof. Yasmine Zaki Shahab PhD ini, sangat menarik – paling tidak menurut saya, karena ia mengungkapkan persoalan yang berkaitan dengan pemahaman kita, generasi muda, tentang ketokohan seorang pejuang dari Betawi untuk kemerdekaan bangsanya, Mohammad Hoesni Thamrin.

Diungkapkan juga oleh sejarawan ini, hasil penelitian Prof. Yasmine, telah memberikan informasi kepada pembaca tentang pengetahuan terhadap pahlawan nasional kita khususnya di Jakarta, bagi generasi muda Jakarta.

Akan halnya dr. Abdul Radjak - tokoh Betawi yang membangun Rumah Sakit Mohammad Husni Thamrin dan sejumlah akademi dengan nama yang sama, buku hasil penelitian Prof. Yasmine, menarik untuk disimak dan dihayati oleh generasi muda Jakarta. Juga untuk pemerintah DKI Jakarta, guna melengkapi bahan ikon kota Jakarta agar lebih bisa merepresentasikan sejarah Jakarta dan tokoh-tokohnya.

Bagi Dr. Tony Rudyansjah – Antropolog, staf pengajar di Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politk Universitas Indonesia, buku yang ditulis Prof. Yasmine Z. Shahab ini memberikan angin segar buat dunia akademis di negeri ini, terutama di dalam kontribusinya memahami sejarah yang hidup di dalam kesadaran masyarakat Betawi di masa kini di dalam memandang figur sejarah yang ada di dalam masyarakat mereka.

"Melalui penelitian etnografi yang dilakukannya, Prof. Yasmine Z. Shahab melengkapi kajian sejarah yang ada selama ini mengenai Mohammad Hoesni Thamrin," ungkapnya.

Bagi sejarawan JJ Rizal yang masih segar dan getun mengulik Betawi, "Nilai penting buku ini adalah berhasil menggambarkan telah terjadinya pemfosilan pahlawan M.H.Thamrin, Namanya diabadikan, dibuatkan perayaan, monument dan patung. Tetapi semua itu tidak mencerminkan kehadiran kembali nilai-nilai serta elang perjuangannya."

Saya sependapat dengan pandangan Rizal kemudian, "Ironi semakin terasa mengingat hal itu terjadi di tengah krisis sumber keteladanan pada yang hidup, terutama di lapangan politik. Ada yang bilang jika sukar mencari keteladanan pada yang hidup, seharusnyalah orang-orang pulang ke rumah sejarah dan menghidupkan kembali pahlawan mereka yang telah mati, Thamrin salah satunya. Inilah fokus penelitian dan keresahan intelektual penulis dengan bukunya bahwa hal itu tidak terjadi."  

Saya sendiri memandang, buku hasil penelitian Prof. Yasmine tentang Mohammad Hoesni Thamrin, ini penting dimiliki, dikaji, dan dipahami sebagai referensi tentang kontribusi kaum Betawi dalam konteks ke-Indonesia-an yang menyeluruh. Banyak nilai berharga yang diperlukan untuk menghadapi realitas kini dan masa mendatang. Menyegarkan kembali kesadaran kebangsaan dengan pendekatan historis antropologis.

Dan yang terpenting, Prof. Yasmine sudah membuka ruang untuk menghidupkan kembali imajinasi kebangsaan melalui kajian akademik yang dialektis dan terbuka, melalui keragaman pandang tentang sosok pahlawan.

Dengan begitu dimensi pahlawan dan kepahlawanan tak berhenti hanya pada formalisme belaka, dan kajian atasnya tak pula hanya berputar pada pusaran intelektualisma.

Bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, buku dan hasil penelitian ini pun penting sebagai referensi untuk membenahi lagi Museum Mohammad Husni Thamrin di Gang Kenari, agar dikelola secara lebih baik dan serius. tak hanya dalam konteks suprastruktur, tapi bahkan infrastruktur.

Boleh juga diulangkaji langkah Gubernur Ali Sadikin dulu, ketika menerapkan pembangunan dalam konteks Kampong Improvement Program (KIP) yang lebih dikenal dengan Proyek MHT. Suatu aksi kebijakan pembangunan yang sedikit banyak memanifestasikan gairah dan kepedulian Mohammad Husni Thamrin terhadap rakyat kecil.

Ekspresi sikap dan pendirian beliau, yang oleh Anhar Gonggong disebut sebagai sosialis revolusioner. Kendati istilah itu, urung diabadikan Anhar Gonggong ketika menuliskan sosok Mohammad Husni Thamrin, karena hambatan politis di masanya.

Sukses Prof. Yasmine. Jangan pernah lelah memberikan yang terbaik bagi khalayak, sesuai prinsip kaum cendekia sebagai bagian dari kaum khashash (elite) yang sesungguhnya. Kaum yang dengan keilmuannya mencerahkan dan menebar manfaat bagi rakyat seluas-luasnya. |

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
21 Sep 18, 09:06 WIB | Dilihat : 403
Giliran Direksi Pelindo III Dirombak
20 Sep 18, 12:28 WIB | Dilihat : 674
Matamu Itu !!!
18 Sep 18, 14:31 WIB | Dilihat : 505
Kwik Kian Gie Penasihat Prabowo Sandi
Selanjutnya
Budaya