Catatan Perjalanan dari Seoul (2)

Peran Strategis Chaebol

| dilihat 263

Sawedi Muhammad

Di rezim Park inilah para chaebol (konglomerat) memainkan peran yang sangat menentukan. Mereka diberikan garansi pinjaman bank serta pembuatan kebijakan yang mendorong mereka untuk ekspansi industri berorientasi ekspor.

Chaebol akhirnya menggurita karena dua hal; pinjaman luar negeri dan kebijakan favoritisme dari negara. Chaebol yang ditahun 1950-1960-an hanya memproduksi rambut palsu dan tekstil, pada pertengahan 1970-1980-an, sudah dominan di industri besar seperti pertahanan dan industri kimia.

Di awal 1990-an chaebol kemudian berkonsentrasi penuh untuk pengembangan elektronik dan industri teknologi tinggi. Diantara chaebol yang terkenal adalah Samsung, Hyundai, Daewoo, LG dan Lotte group. Samsung sebagai chaebol terbesar di tahun 2017 berada diurutan ke-6 brand-value tertinggi di dunia.

Berdasarkan pendapatan perusahaan, Samsung adalah perusahaan terbesar dunia di bidang IT dan pembuatan kartu chip. Industri kapal Samsung menjadi terbesar kedua di dunia tahun 2017. Sementara Samsung Engineering dan Samsung C&T sebagai perusahaan konstruksi terbesar ke-13 dan ke-36 dunia.

Samsung dengan berbagai prestasinya telah menjadi pendorong utama "Miracle on the Han River". Afiliasi perusahaannya berkontribusi sebesar seperlima total ekspor Korsel. Pendapatan Samsung di tahun 2017 sama dengan 17% dari Pendapatan Domestik Bruto Korsel, 1,082 milyar dollar.

Meski Park Chung-hee memerintah secara otoriter dengan berbagai catatan pelanggaran HAM dan rezim yang korup, Park adalah peletak dasar kemajuan Korsel.

Di zaman Park, industri baja POSCO (Pohang Iron and Steel Company) didirikan. Industri inilah yang menopang pembangunan infrastruktur Korsel dengan menjual produknya dengan harga lebih murah dari baja impor. Park juga membangun Gyeongbu Expressway, jalan tol tertua kedua dan paling padat dilewati lalu lintas yang menghubungkan Seoul, Daejeon, Gumi, Daegu dan Busan. Panjang jalan dari Seoul ke Busan sekitar 416 km.

Program fenomenal lainnya dari Park adalah Saemaul Undong. Program ini adalah gerakan rakyat baru yang diluncurkan di bulan April 1970. Tujuan program ini adalah modernisasi perdesaan berdasarkan kearifan lokal Korea yang sangat komunal-tradisional yang mereka sebut sebagai Hyangyak.

Program ini diharapkan mengurangi kesenjangan kualitas hidup masyarakat kota yang mengalami proses industrialisasi dan kehidupan perdesaan yang semakin terpuruk dalam kemiskinan. Ketekunan, disiplin, kemandirian dan kerjasama adalah slogan utama untuk menggalakkan partisipasi masyarakat.

Di tahap awal, gerakan ini berhasil meningkatkan kualitas hidup dan lingkungan. Tahap selanjutnya terpusat untuk pembangunan infrastruktur perdesaan dan peningkatan pendapatan.

Akumulasi dari perencanaan pembangunan yang konsisten dan berkelanjutan, pemihakan negara untuk pengembangan industri dalam negeri serta pemerataan pembangunan antara kota desa, di bulan desember 1996 Presiden Kim Young-Sam mengumumkan bahwa Korsel telah resmi bergabung di negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development).

Negara yang tergabung dalam OECD adalah yang berpendapatan besar dengan Indeks Pembangunan Manusia yang sangat tinggi. Di tahun 2017, negara anggota OECD secara kolektif memiliki 62,2 persen GDP dunia (49,6 triliun dollar).

Pembangunan Sumber Daya Manusia

Menyadari miskinnya sumber daya alam negaranya, pemimpin Korsel menjadikan pendidikan sebagai isu kritikal dalam pembangunan. Pasca perang korea, filosofi pendidikan yang baru dibentuk oleh United States Army Military Government in Korea (USAMGIK), dengan fokus pada sistem pendidikan demokratis.

Sistem baru ini adalah pendidikan untuk semua dan mendorong administrasi pendidikan yang mandiri. Kebijalan khususnya adalah mendidik kembali para guru, menurunkan angka buta huruf, pendidikan untuk orang dewasa serta restorasi bahasa korea untuk istilah teknis tertentu.

Kebijakan penganggaran untuk pendidikan sangatlah memihak. Di tahun 1975 dianggarkan 220 miliar won, sama dengan 2,2 persen dari GDP atau 13,9 persen dari total belanja negara. Tahun 1986, belanja sektor pendidikan sudah mencapai 3,76 triliun won atau sama dengan 4,5 persen GNP, dan 27,3 persen dari total alokasi APBN.

Terlepas dari berbagai kebijakan pemerintah, banyak pengamat menilai bahwa keberhasilan pendidikan di Korea Selatan tidak lepas dari tekad yang kuat dari individu untuk berinvestasi di sektor pembangunan SDM. Gengsi tradisional bagi mereka yang berpendidikan adalah mereka yang berprofesi sebagai ilmuwan, teknisi dan pekerjaan yang memerlukan pengetahuan khusus. Teknokrat berpendidikan tinggi dan ekonom perencana dapat mengklaim kontribusinya terhadap pembangunan Korsel sejak 1960. Selain itu, warga Korsel terjangkit virus yang disebut demam pendidikan (education fever).

Adalah tabu secara kultural apabila seseorang tidak menyelesaikan pendidikan formalnya di universitas. Tanpa gelar kesarjanaan, seseorang akan mengalami stigmatisasi di tengah masyarakat, diperlakukan sebagai warga negara kelas dua dan akan sulit mendapatkan lapangan kerja. |

Baca juga : Keajaiban dari Sungai Han

Editor : bungsem | Sumber : foto berbagai sumber
 
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 143
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 618
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 159
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya
Humaniora
13 Nov 19, 10:15 WIB | Dilihat : 985
Masjid Apung di Tengah Aksi Transformasi Ancol
11 Nov 19, 14:53 WIB | Dilihat : 1016
Mimpi Karyawan di Sebalik Pembangunan Masjid Apung Ancol
04 Nov 19, 15:57 WIB | Dilihat : 988
Amsal Ayam Jago dan Merpati dalam Pernikahan
01 Nov 19, 11:10 WIB | Dilihat : 576
Menyegarkan Komitmen di Tanakita
Selanjutnya