Pendekar Inspirasi Ilmu Giri

| dilihat 1165

ANEKA rona tradisi dan tetabuhan anak-anak bermain drumband semarakkan dusun Nogosari – Selopamioro – Bantul, Yogyakarta, Sabtu 12 Mei 2018 lalu. Di dusun itu berdiri PesanTrend Budaya Ilmu Giri yang menggelar Desa Kebangsaan, bertajuk Pendekar Inspiratif 2018.

Acara itu digelar bekerjasama dengan Direktorat Sejarah, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Pemkab Bantul, Pemprov DIY dan PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia).

Program itu, kata Gus Nas (Nashruddin Anshary) pimpinan Pesantrend Ilmu Giri, ditujukan untuk penguatan karakter dan nilai-nilai budaya.

Gelaran acara itu dihadiri 1.000 santri dan 1.000 guru ngaji yang berada di wilayah Bantul dan Gunungkidul. Pun, disertai dengan acara Nonton Bareng film berjudul Penjuru 5 Santri. Hadir dalam acara, itu Direktur Sejarah Kemendikbud,  Dra. Triana Wulandari, Sekretaris Ditjen Kebudayaan Dra. Sri Hartini, sejumlah Guru Besar UGM, Ketua PARFI Marcella Zalianty, aktor Pong Hardjatmo dan artis senior Tetty Liz Indriaty. Juga, hadir sejumlah Kyai dari Jogjakarta, artis Olivia Zalianty serta beberapa seniman dan budayawan Jogja.

Acara yang dimulai dari jam 15.00 dengan Kirab 3 Gunungan Hasil Bumi. Gunungan itu dikawal Drumband Anak, Group Jathilan Anak dan Jemaah Sholawatan Rodad.

Kyai – penyair Zawawi Imron  dari Madura membacakan do’a, menandai Pembukaan Acara Pendekar Inspiratif 2018 itu. Acara berlangsung dan mengalir begitu rupa, sesaat setelah beduk gaya klenteng ditabuh bersama oleh Sekretaris Ditjen Kebudayaan, Direktur Sejarah Kemendikbud dan para artis.

Para santri dan penduduk desa nampak bersukacita.

Gus Nas, pemimpin pesantrend Ilmu Giri juga seorang penyair dan pembaca puisi. Sejumlah karya puisinya, kontekstual dengan perkembangan mutakhir.

Desa Kebangsaan mentransfer kesadaran kolektif hidup berbangsa melalui format pesantren, tetapi selalu peka dengan tren dan peristiwa yang berkembang. Termasuk peristiwa yang merampas kemanusiaan dan mengorbankan anak-anak dalam aksi kejahatan teror. Umpamanya yang terjadi di Surabaya.

Gus Nas merekam peristiwa itu dalam lauhan impresi dan ekspresinya, seperti tercermin dalam puisinya: Gugur Bunga di Surabaya, seperti ini :

Di bawah pudar cahaya / Langit Surabaya memucat mengabarkan duka / Luka-luka langit makin menganga / Luka-luka bumi mengucapkan perih di ufuk jingga//

Senjakala menjerit merayakan orkestra  / Kasidah gugur bunga menjelma gemuruh ombak di langit Surabaya / Mendung bergelayut di seantero kota / Surabaya dirundung nestapa //

Gerimis tangis dan badai sembilu bertemu dalam partitur kalbu mendedah jiwa / Bersama riak ombak yang menggelegak dalam darah arek-arek Surabaya / Sirine dan takbir memecah sunyi  meraung-raung tanda bahaya / Surabaya bertakbir di cakrawala //

Mengabarkan nyeri para nabi yang tak lahir di sini / Mengikrarkan janji akan 10 perintah Tuhan yang telah dilecehkan oleh kezaliman / Meratapi hak asasi manusia yang makin dinistakan oleh kekejian dan kekerasan / Surabaya bertakbir sendiri di puncak nyeri //

Dalam kemelut kabut ini / Hak asasi manusia telah dimutilasi dan dikubur hidup-hidup dengan sadisnya / Dan di puncak bukit keabadian  / Seorang pemuda tampan dari lorong kesunyian / Berseru dengan bibir kelu pada dunia: "Saksikan wahai pagi dan petang / Catatlah wahai siang dan malam / Saat para manusia yang sesat agama itu meledakkan bom dalam tubuhnya / Menembus jantung gadis kecil tak berdosa yang sedang bermain boneka" / Apakah hanya aku saja yang kini terluka? //

Di puncak kebeningan hati ini / Para malaikat menyalakan obor tanda berduka / Saat kegelapan mengepung di tiap ujung / Saat lagu gugur bunga bergemuruh di dalam dada // (Embun Surabaya 2018 - Gus Nas Jogja)

Lewat program Pendekar Inspiratif, menurut Gus Nas, diharapkan terpelihara senantiasa kesadaran kolektif untuk menggagas kebaikan dan kebajikan. Bangsa ini, katanya, memerlukan gagasan semacam itu. Khasnya untuk tidak memberi kemungkinan bagi gagasan yang merusak, gagasan yang menghancurkan. Apalagi gagasan yang merampas kemanusiaan.

Pesantren yang berpijak pada budaya dan pesanTrend budaya merupakan wahana bagi berlangsungnya proses transfer kesadaran budaya, ketika sains dan teknologi menguasai dinamika sosial masyarakat | Karita Al Kayla

Editor : sem haesy
 
Polhukam
20 Mei 18, 08:20 WIB | Dilihat : 614
Ke Jakarta Anwar Ibrahim Pelihara Ghirah Reformasi
19 Mei 18, 22:25 WIB | Dilihat : 834
Lima Tahun Najib Menabung Kekalahan
18 Mei 18, 21:12 WIB | Dilihat : 1226
Polisi Sita Uang dan Perhiasan Mewah di Rumah Najib
16 Mei 18, 23:23 WIB | Dilihat : 1383
Mencoreng Jelaga di Muka Sendiri
Selanjutnya
Seni & Hiburan
05 Mei 18, 09:33 WIB | Dilihat : 2236
Botol Susu di kamar Tidurku
30 Apr 18, 14:31 WIB | Dilihat : 1537
Pesona Persona Kala Pesohor Baca Puisi
25 Apr 18, 12:18 WIB | Dilihat : 1345
Istana Kura-Kura
25 Apr 18, 11:55 WIB | Dilihat : 797
Benar Kata Ibu
Selanjutnya