Pailit

| dilihat 1793

Delanova

ABU Hurairah berkesaksian, suatu ketika Rasulullah Muhammad SAW bertanya kepada para sahabat: “Tahukah kalian, siapa orang pailit di antara umatku?”

Seorang sahabat menjawab, orang yang pailit adalah mereka yang bangkrut, dan karenanya tak mempunyai harta benda. Rasulullah menggelengkan kepala, lalu bersabda, ”Sesungguhnya, orang yang pailit dari umatku, adalah mereka yang datang di hari kiamat, lengkap dengan salat, puasa, dan zakatnya. Tetapi, orang itu juga telah menista si A, me­nuduh si B, memakan harta si C, menumpah­kan darah si D, dan melukai si E.

Allah mem­berikan hasanat, kebaikan untuk salat, puasa, dan zakatnya kepada A, B, C, D, dan E. Jika habis hasanatnya, namun belum cukup tang­gungannya, maka diambilkan dari dosa-dosa orang yang dianiaya itu, lalu dibebankan ke­padanya. 

Akan halnya suatu bangsa akan meng­alami kepailitan, bila bangsa itu mengalami lima kejadian yang buruk. Rasulullah Muham­mad SAW.

Pertama, menjalarnya pelacuran karena legalisasi, sehingga ber­kembanglah wabah tha’un (AIDS) dan berbagai penyakit yang tidak pernah terjadi pada nenek (orang-orang tua) mereka;

Kedua, berkembang­nya bencana bala’ kahat atau laip, berupa ber­kurangnya hasil bumi, berkembangnya pe­ngangguran, ber­langsungnya krisis ekonomi, dan kejamnya pemerintahan (penguasa), akibat berlangsung­nya transaksi bisnis yang tidak adil, dan per­dagangan yang curang;

Ketiga, berlangsungnya perubahan musim penghujan dan kemarau, dengan ke­marau panjang. Kalaupun hujan turun, hal itu hanya karena di negeri itu masih terdapat hewan ternak. Bencana itu disebabkan oleh sikap penduduk yang enggan (dan bahkan menolak) kewajiban membayar zakat harta;

Keempat, datangnya penjajah bangsa lain untuk merampas hak milik mereka, se­bagai akibat mereka tidak percaya, tidak yakin terhadap janji Allah dan rasul-Nya; dan, Kelima, binasanya para imam karena ulah dan polah sendiri (pertikaian) yang tidak mau mengikuti petunjuk yang sudah digariskan Allah di dalam kitab suci Al Qur’an.

Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib, menegaskan, jangan meminta hajat kebutuhan dari manusia, yang rizqinya di ujung takaran dan timbangan. Karena pada dasarnya merekalah yang kelak akan pailit, dan men­ciptakan kepailitan bagi umat manusia. Karena itu, amiril mukminin mengajarkan hikmat yang tepat:

Sungguh celaka mereka yang menjual habbah (biji-bijian), dan dikurangi (dipotong) jannah (surga), selebar langit dan bumi. Atau membeli habbah untuk ditambah dengan jurang di jahanam (neraka), yang apabila bukit-bukit dunia di masukkan ke dalamnya, pasti akan cair. Karena itu, berhati-hatilah dengan mereka yang menjual dan curang dalam timbangan, sehingga mengurangi hak orang lain. Karena mereka, sesungguhnya, orang-orang yang pailit di neraka, karena telah mem­buang surga. Dan orang yang membeli, lalu melebihi takaran yang semestinya, sesungguh­nya ia sedang menambah bilangan jurang di dalam jahanam.

Orang-orang yang pailit adalah mereka yang meratapi masa depannya, karena meng­abaikan kesempatan berbuat baik, bajik, dan bijak di masa kini. Laksana kisah Malik bin Dinar, yang menjenguk tetangganya yang me­ngeluh, seolah sedang mendaki dua bukit api. Ketika Malik bertanya, apa pekerjaannya dulu, keluarga tetangganya itu bercerita: “dia mempunyai dua timbangan untuk membeli dan menjual.” Malik meminta kedua timbangan itu dan meng­hancurkannya. Tapi, belum cukup. Sang tetangga mati dalam keadaan pailit.| 

 

Editor : Web Administrator
 
Sainstek
01 Nov 23, 11:46 WIB | Dilihat : 951
Pemanfaatan Teknologi Blockchain
30 Jun 23, 09:40 WIB | Dilihat : 1175
Menyemai Cerdas Digital di Tengah Tsunami Informasi
17 Apr 23, 18:24 WIB | Dilihat : 1440
Tokyo Tantang Beijing sebagai Pusat Data Asia
12 Jan 23, 10:02 WIB | Dilihat : 1586
Komet Baru Muncul Pertama Kali 12 Januari 2023
Selanjutnya
Humaniora
02 Apr 24, 22:26 WIB | Dilihat : 534
Iktikaf
31 Mar 24, 20:45 WIB | Dilihat : 1057
Peluang Memperoleh Kemaafan dan Ampunan Allah
24 Mar 24, 15:58 WIB | Dilihat : 284
Isyarat Bencana Alam
16 Mar 24, 01:40 WIB | Dilihat : 751
Momentum Cinta
Selanjutnya