Ongol Ongol

| dilihat 501

Bang Sem

Salah satu makanan ringan (biasa juga disebut jajan pasar) yang saya suka adalah Ongol-Ongol, terbuat sagu (ada juga yang membuatnya dari tapioka), gula aren, garam, dan kelapa parut yang ditaburkan.

Untuk memberi warna, ada yang menggunakan daun pandan atau zat pewarna makanan.

Kenyal. Manis. Enak. Biasa disuguhkan sebagai teman minum kopi atau teh pagi hari.

Ongol-ongol 'satu genre' dengan getuk, getuk lindri, cendil, dan sejenisnya. Termasuk cara mengolah dan memasaknya.

Ongol-ongol terbilang kudapan yang memberi inspirasi siapa saja di lingkungan sosial tertentu.

Salah satu lagu Keroncong Betawi bertajuk Besukaan, memasukkan Ongol-Ongol sebagai metafora dalam syair lagu ini untuk menggambarkan suasana hati ekspresi cinta yang mengental dan kenyal.

Di lingkungan masyarakat Betawi, juga Sunda, Ongol-Ongol sering menjadi metafora sekaligus menggambarkan karakter seseorang. Khasnya mereka yang berwatak kenyal dan manis di lidah.

Masyarakat Betawi sebagai masyarakat urban yang berinteraksi dengan segala etnis dan bangsa sejak masa lampau, tentu karib dengan metafora. Terutama karena kota, seperti ditulis Rosío Peñalta Catalán (2011), secara anrtopologis merupakan ruang emosional. Masyarakat kota, sering memberi isi hubungan sosial sesamanya dengan metafora.

Ongol-Ongol dalam konteks metafora dari sisi positif, merupakan gambaran kelenturan yang diikuti sikap humble dalam berinteraksi dengan siapapun, termasuk dalam melakukan interaksi dan interrelasi, seprti yang disebut  antropolog Marc Augé.

Dengan menggunakan metafora, masyarakat memberi makna hakiki atas kota sebagai tempat tinggal manusia, bekerja, bersenang-senang, berhubungan dengan sesamanya dan berkomunikasi dengan orang lain. Metafora 'menghidupkan' suasana.

Di Jakarta, kaum Betawi merawat egaliterianisma dan sikap humornya dengan metafora, yang tersublimasi ke dalam pantun dan syair lagu. Pun dalam obrolan sehari-hari yang memberi aksentuasi atas interaksi dan interrelasi sosial.

Metafora dalam pergaulan itulah yang kemudian menjadi refleksi sosial sekaligus gambaran eksepsi komunikasi kaum Betawi, seperti terlihat dalam berbagai adegan di film-film karya Sjumandjaja, Nawi Ismail, Benyamin.S, Deddy Mizwar, dan Rano Karno. Metafora juga berkembang menjadi idiom, bahkan simbol, dan mewarnai retorika komunikasi sehari-hari.

Metafora, seperti halnya 'Ongol-Ongol' secara fungsional juga dipergunakan sebagai bagian dari cara menaklukan ekspresi kekesalan dengan euphémisme. Mengubah makian menjadi sindiran atau sesampiran.

Dari cara pandang lain, metafora 'Ongol-Ongol' ketika dihubungkan dengan personifikasi dipergunakan untuk menggambarkan sosok atau figur tokoh yang tak konsisten. Ini terbilang metafora organik yang membandingkan figur tokoh sebagai kitsch, barang kemasan, termasuk kue.

Saya sering mendengar ungkapan dalam dialog begini:

"Enak ajah, masa' Lurah nyuruh milih si Entong yang kayak Ongol-Ongol ntu jadi Ketua RT?"

"Si Entong yang sering belegodan?"

"Iyah.. Si Entong Ongol-Ongol."

Dalam dialog ini, Si Entong adalah gambaran sosok yang biasa bertelajang dada kala berangin-angin, sebagai ekspresi ketidak-patutannya sebagai pemimpin.

Dalam dialog lain, di lingkungan masyarakat Betawi yang bermukim di perbatasan dengan Provinsi Jawa Barat atau Provisi Banten, kita bisa mendengar kalimat, "Masya Allah.. baek banged tuh nasib si Saroh, abis kawin, Si Cauk Ongol-Ongol lakinyah sekarang udah jadi lurah."

Ekspresi kagèt yang tak sengaja juga mengekspresikan rasa kagum mengetahui informasi, bahwa Cauk sebagai sosok yang tak dianggap sebagai figur yang tak dianggap, ternyata berkarir baik, sehingga Saroh, isterinya bernasib baik.

Dalam situasi lain, bisa juga kita mendengar kalimat, "Siapah? Si Ongol-Ongol lagi yah yang dateng. Paling-paling cuman mau bohong ajah." Ini kalimat ekspressif untuk menunjukkan kekesalan kepada sosok pemimpin yang sudah mengecewakan.

Dari alam fikir gender, Ongol-Ongol sebagai metafor dalam lingkungan masyarakat, khasnya kaum Betawi dan Sunda, mengandung akuitas. Berbeda dengan metafor lain seperti Bika dan Apem, yang secara konotatif lebih cenderung feminin.

Boleh jadi karena kekenyalan (yang bisa dimaknai kelenturan) Ongol-Ongol secara metaforis, penggunaannya dalam komunikasi sosial sehari-hari bisa dikonotasikan dengan siapa saja, baik lelaki maupun perempuan.

Lepas dari itu semua, yang justri melekat di benak saya adalah keberadaan Ongol-Ongol sebagai kudapan dalam kenduri yang sekarang sudah menembus strata sosial, lintas etnik, lintas agama, dan bahkan lintas partai politik. |

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 206
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 196
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 336
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
25 Mar 19, 12:00 WIB | Dilihat : 816
Lompatan Kutu Anjing
Selanjutnya
Seni & Hiburan
19 Jun 19, 12:59 WIB | Dilihat : 234
Kejujuran
12 Jun 19, 23:33 WIB | Dilihat : 231
Hafez dalam Abadi Cinta
10 Jun 19, 10:45 WIB | Dilihat : 259
Perempuan di Makam Ibu
29 Mei 19, 10:25 WIB | Dilihat : 483
Rumah yang Rapuh
Selanjutnya