Neo Nihilisme

| dilihat 338

bang sém

MENGAPA pandemi penyakit harus ditaklukan? Bukankah ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya ilmu dan teknologi kedokteran mengalami kemajuan sangat luar biasa? Tidakkah perkembangan sains dan teknologi kedokteran, itu akan mampu memenangkan pertarungan yang akan berdampak baru pada cakrawala kemanusiaan dan peradaban baru manusia?

Perkembangannya sudah sangat jauh dari ketika Hippocrates, Galen dan Ibnu Sina menemukan ilmu dan cara mengatasi wabah yang tular sedemikian dahsyat?

Akan haruskah kita menghadapi wabah yang lebih suka saya sebut sebagai nanomonster Covid-19 yang menimbulkan krisis kesehatan, resesi ekonomi dunia, dan menebar was-was berkepanjangan, hanya dengan pasrah lantaran ikhtiar sudah mencapai puncaknya?

Bukankah serangan wabah Black Death selama lima tahun (1347-1352) yang memakan jutaan korban dan menggoyang peradaban Eropa, itu sesungguhnya telah memberikan pelajaran berharga untuk diulang kaji di abad ke 21 ini?

Pertanyaan-pertanyaan menyesakkan dada, ini terus berulang dan nyaris tak menemukan jawaban pasti, semua jawaban yang mengemuka adalah ketidakpastian yang menyebabkan manusia gamang, karena persoalan kian ribet dan kemenduaan sikap pemerintah di berbagai negara kian menampakkan juntrungannya.

World Health Organization (WHO) alias badan kesehatan dunia sampai kini belum menemukan dengan pasti sebab musabab muncul dan menyebar luasnya wabah ini yang terus menjadi momok ini.

Kompendium epidemia yang dihasilkan para saintis di Universitas Paris abad ke 14 dan ke 15, sebagai jawaban atas pertanyaan Raja Prancis Philippe VI sesuai perkembangan sains dan teknologi kedokteran masa itu, jelas menyebutkan. Musabab dari sebaran wabah ini diyakini berpangkal dari kondisi ekologi yang mengalami kemerosotan dahsyat. Antara lain, udara buruk yang tercemar oleh dinamika awal masuknya era industri, yang dalam banyak hal menyebabkan terjadinya perubahan ekologi dan ekosistem planet-planet.

Apa yang tersurat dan tersirat dalam kompendium epidemia, itu agaknya tak berubah, meski telah terjadi perubahan era sangat cepat dari era industri ke era informasi, menuju era konseptual - digital selama enam abad, seperti yang dilansir para saintis dan diungkap oleh James Martin (Oxford University, 2007).

Ternyata selama masa itu, peradaban manusia yang ditopang oleh perkembangan sains dan teknologi, sekaligus menunjukkan kecerdasan dan keterampilan manusia nyaris tak mengubah kebiasaan hidup manusia, merusak semesta.

Sejumlah kearifan dan kecerdasan lokal bangsa-bangsa yang berkembang sampai abad ke 17, yang berpijak pada hubungan manusia dengan alam, Tuhan dan sesama insan, ditinggalkan oleh gaya hidup yang menempatkan nilai-nilai tradisi dianggap sebagai masa lalu. Padahal masih selalu relevan.

Martin dan kawan-kawan sampai pada simpulan, kemajuan manusia yang dipercepat oleh singularitas tak dengan sendirinya memberi manfaat saat melayari transhumanitas, ketika kesenjangan antara skill dengan kearifan, terbiarkan. Manusia memperlakukan semesta nyaris tanpa kendali, dan baru muncul kesadaran di abad ke 20, ketika terjadi perubahan-perubahan alam yang mempengaruhi lagi peradaban, akibat pemanasan global, pencemaran air dan dan tanah, alih fungsi lahan, deforestasi besar-besaran, dan berlangsungnya berbagai situs penambangan mineral, minyak dan gas bumi, yang sekaligus menghancurkan ekosistem yang berdampak langsung tak langsung pada kondisi biosfeer bumi.

Dominansi politik dan ekonomi untuk menguasai bumi, perlakuan yang nyaris tak berubah atas planet, antara lain melalui perang tak berkesudahan dengan menggunakan senjata nuklir dan biologi di berbagai ajang  perang langsung, atau penguasaan frekuensi - bandwidth -  berlebihan utuk kepentingan proxy war yang saling melantakkan kebudayaan antara bangsa agar mudah dikendalikan melalui global single culture. Termasuk degradasi kualitas keilmuan dan kemanfaatannya pada lembaga sentra pencerahan dan keunggulan manusia (centre of excelent), khasnya universitas dan lembaga pendidikan tinggi di negara-negara dunia ketiga dan keempat, sebagai akibat gaya hidup memburu formalisme administratif untuk dan atas nama pamor intelektualisme dengan menanggalkan mutu kecendekiaan - intelektualita.  Mendahulukan cangkang katimbang isi.

Sampai pada hari Sincian, Jum'at (12.02.2021) upaya penanganan nanomonster Covid-19, masih berkutat pada tindakan kuratif dan rehabilitatif, meski telah lebih efisien dan efektif dengan kemajuan teknologi, tetapi konsep pencegahan penyakit belum beranjak jauh dari teori aerist. Antara lain dengan teori populer 4 M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan) dan 3 T (testing, tracing, treatment).

Pola pencegahan yang dianggap terbaik oleh masyarakat, juga masih berkutat pada   pola lama: 5 M (Mengisolasi diri di tempat yang terlindung dari angin buruk; Meningkatkan imunitas; Makan makanan bergizi; Menghirup aroma terapi herbalia; dan Mendekatkan diri kepada Tuhan). Dalam satu tarikan nafas yang tersengal, persoalan 5 M esensial masyarakat, tak segera teratasi: Menganggur, Mangkreng, Melarat, Menderita, dan Mati merana). Karena isyarat kearifan lokal 5 M (Maling - korupsi, Madon - mengumbar syahwat politik dan ekonomi, Madat - mabuk kuasa dan formalisme, Main - berjudi dengan kemungkinan, dan Mateni - membunuh karakter melalui sebaran infodemi) terbiarkan.

Secara substansial, pandemi masih tetap berada pada rumusannya yang baku: "Kematian dan wabah datang melalui kontak dan penularan." Sejak wabah Black Death merangsek enam abad lalu, tindakan isolasi dan karantina profilaksis masih dipandang relevan, dan diwajibkan kepada penduduk -- melalui berbagai regulasi --, tanpa masyarakat memahami alasan biologis-nya. Dalam situasi semacam itu, yang menarik adalah, mereka yang mengemban amanah dan bertanggungjawab atas tata kelola lingkungan hidup, hutan, pertambangan, dan dan yang terkait, nyaris tak tersentuh. Meski kemudian Tuhan 'menyapa' dengan banjir bandang, longsong, gempa bumi, erupsi gunung berapi, badai salju, dan berbagai isyarat alam lainnya. Kelak baru akan 'grabag grubug' ketika bencana alam dan bencana sosial 'bersekutu' mengepung dan merangsek manusia.

Apa kemudian yang akan terjadi? Situasi religius pasca black death akan berulang, Manusia, meminjam pandangan Nietzsche, akan sampai pada titik nihilisme. Gagasan bahwa hidup tidak memiliki makna atau nilai - tidak dapat dihindari; kita harus melewatinya, sama menakutkan dengan sepi yang sesungguhnya.

Paling tidak, ketika menyaksikan jenazah korban pandemi nanomonster Covid-19 dimakamkan di pemakaman yang kian terbatas lahannya, serta masjid, katedral, gereja, kuil, pagoda, vihara kian senyap. Kala itulah, seperti kata Nietzsche, manusia baru akan bergumam: "Without God, we are alone, exposed to a natural universe devoid of the comforting idea of a God-given purpose to things." - Tanpa Tuhan, kita akan sendirian, terpapar pada semesta tanpa gagasan yang menghibur tentang tujuan yang diberikan Tuhan untuk berbagai hal.

Lantas, sebagian besar manusia lainnya, bahkan penguasa terus disibukkan oleh kekuatiran yang amat berkuasa di dalam dirinya, sehingga harus gigih mempertahankan posisinya dengan cara-cara maciavellian, menghalalkan segala cara. Termasuk memelihara cyber trooper dan para buzzer yang hidup sukacita dan menciptkan tuhan baru di dalam dirinya, kepeng receh yang tak jelas dari mana sumbernya.

Lantas orang-orang upahan yang cekak pikir, itu tak kan henti melecehkan dan meniadakan peran agama dalam kehidupan manusia. Mengikuti arus pemikiran Karl Marx, yang mengatakan, "Agama hanyalah matahari ilusi, yang bergerak mengelilingi manusia selama dia tidak bergerak di sekitar dirinya sendiri."

Neo nihilisme mungkin sudah nongkrong di beranda rumah atau ruang tamu kantor kita. Kelak akan masuk juga ke relung batin kita, kala sunyi mencekam itu tiba.. |

Editor : eCatri
 
Budaya
22 Mar 21, 10:28 WIB | Dilihat : 254
Peradaban Undur Undur
26 Feb 21, 10:56 WIB | Dilihat : 161
Alor, Aku Berguru Kepadamu
11 Feb 21, 09:24 WIB | Dilihat : 202
Allah Menyapa
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 235
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 402
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 398
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 337
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
Selanjutnya