Monopoli Pikiran

| dilihat 127

Muchlis R. Luddin

Hari ini dan mungkin juga hari-hari berikutnya, diskursus publik diberi tanda-tanda yang baru. Diskursus publik kita dipenuhi oleh pikiran-pikiran. Kadangkala, pikiran yang muncul datang begitu saja tanpa disertai jalan pikiran.

Setiap orang memasok pikiran masing-masing tanpa jalan pikiran. Semuanya berlangsung dengan masif. Tak ada satupun yang tak berkata-kata. Setiap orang berkata-kata. Semua kata dirangkai dengan kata yang lain. Pikiran orang berkelindan dengan pikiran orang lain.

Satu pikiran bertemu dengan satu pikiran yang lain. Ia berkomentar kepada komentar yang lain. Saling komentar menjadi gaya hidup baru. Namun demikian, dalam komentar tak termaktub jalan pikiran. Kemudian, komentar hanya menjadi kata-kata, atau komentar hanya berupa susunan kata-kata, yang acap kehilangan makna, tanpa pesan, dan apalagi tujuan.

Dunia, sekarang ini dipenuhi oleh aspirasi-aspirasi. Aspirasi yang ingin menunjukan eksistensi. Beberapa aspirasi menunjukan adanya keinginan “memperkenalkan diri” bahwa ia hadir ditengah kehidupan.

Beberapa aspirasi yang lain hanya ingin menyembul kepermukaan tanpa membawa makna dan pesan. Ia hadir bukan karena kehadirannya berguna bagi orang lain. Tetapi ia hadir hanya sekedar hadir, tanpa kehadirannya harus dikenal oleh orang lain. Hadir hanya dengan disertai oleh sebuah “limited aspirations”.

Itulah diskursus publik kita. Diskursus yang meramaikan media sosial kita. Pasokan aspirasi tak lagi bersifat publik, tetapi aspirasi bergerak terus dari yang bersifat personal kepada yang publik, begitu juga sebaliknya. Kadangkala kita tak bisa lagi mengenal mana aspirasi publik, mana pula aspirasi personal. Semua aspirasi bercampur, layaknya “gado-gado.”

Setiap orang—kemudian—diminta untuk menyortir sendiri, mana aspirasi yang bermakna dan berguna bagi dirinya. Mana pula aspirasi tak tak bermakna dan tak berguna bagi dirinya. Kita kemudian dipaksa untuk memiliki keterampilan baru, yakni keterampilan menyortir dan mengklarifikasi. Memilah mana aspirasi yang bermakna dan berguna. Mana pula aspirasi yang hanya sebuah sampah (pikiran) masyarakat.

Itulah pasokan aspirasi. Ia datang begitu masif ketika terjadi liberalisasi pikiran, tanpa harus menyertakan jalan pikiran. Liberalisasi pikiran seperti sebuah episode yang bersifat heroik. Ia seolah memecah solitaritas individual dan mendorongnya kearah “collective existence.”

Setiap orang “berinvestasi pikiran” di alam raya media sosial dengan hiruk pikuk. Mereka membangun jaringan pikiran dan menciptakan—apa yang saya sebut sebagai—“the wisdom of crowds”. Pikiran-pikiran orang (yang tanpa jalan pikiran) bertemu, berkolaborasi, membentuk sebuah monopoli jastifikasi.

Mereka mendefinisikan pikiran-pikiran tanpa jalan pikiran. Mereka mengartikulasikan pikiran dengan bebas, dan kemudian membentuk “a bureaucratic description of us”. Apa yang kita perbuat mereka nilai dan deskripsikan sendiri, walaupun pikiran itu hanya bersifat retorika.

Dunia kehidupan kita—sekarang ini—dipenuhi dengan dan oleh monopoli retorika. Retorika-retorika itulah yang mengarahkan “the human path”. Bahkan retorika-retorika itu pula yang membentuk dan mengendalikan “the values of institutions”, tanpa pernah memperhatikan restorasi terhadap “our lost individuality.”

Setiap hari kita menyaksikan adanya produk-produk baru dari komentar. Komentar yang tanpa pikiran, apalagi dengan jalan pikiran. Semuanya berlangsung dengan begitu saja. Ia melekat pada praktik kehidupan sehari-hari kita. Kita memproduksi budaya baru yakni memasok pikiran tanpa jalan pikiran. Oleh karena itu, praktik kehidupan kita dipenuhi oleh—meminjam terminologi yang digunakan oleh Franklin Foer (2017)—“Intelectual and freelance writers”.

Pengetahuan dimonopoli oleh mereka. Pengetahuan (knowledge) tak lagi menjadi ilmu pengetahuan (science), karena pengetahuan itu tak mengandung jalan pikiran. Ia miskin (proses) obyektifikasi. Ia tak memiliki sistematimatisasi. Ia hadir dengan pasokan yang besar, memonopoli ruang-ruang pikiran manusia. Tetapi, ia tak memberi inspirasi terhadap jalan-jalan pikiran baru yang mencerahkan dan mencerdaskan.

Monopoli pikiran seperti itu—sesungguhnya—merupakan sesuatu yang berbahaya. Monopoli pikiran bisa menggiring kita kepada sebuah situasi dominasi pikiran. Dominasi pikiran yang seolah-olah menyatakan bahwa hanya pikiran-pikiran itu yang dianggap benar. Monopoli pikiran akan meniadakan “the diversity of competition”. Monopoli pikiran menggiring orang kepada sebuah konformisme, sehingga opini dan perasaan publik dipaksa disatukan, dikonsentrasikan didalam sebuah homogenisasi. Tak ada lagi variansi pikiran, apalagi variansi jalan pikiran.

Akibat semua itu, monopoli pikiran memaksa orang untuk berada didalam keadaan “collective homogeniztion”. Orang akan takut dan khawatir jika melansir gagasan dan ide baru. Orang akan berpikir dua kali jika ingin menyanpaikan pikiran baru. Akibatnya, orang akan berhenti membangun jalan pikiran baru.

Itulah praktik kehidupan kita dimedia sosial. Monopoli pikiran menciptakan sebuah dunia dimana batas-batas antara fakta dan kebohongan (falsehood) mengalami reduksi. Antara fakta dan dusta menjadi semakin sumir. Batas keduanya menjadi tak jelas.

Akibatnya, misinformasi, penyimpangan informasi meluas dan menjadi viral. Pengetahuan orang hanya menjadi sekedar tahu tanpa pemahaman yang memadai. Pengetahuan menjadi kuasi pengetahuan, sehingga pengetahuan tak menjadi ilmu pengetahuan. Itulah konsekuensi dari sebuah monopoli pikiran. Ia menjadikan pengetahuan manusia menjadi kuasi pengetahuan. Dan sayangnya, kita sekarang ini hidup dan berkehidupan didalam situasi dominan semacam itu.

Pertanyaan muncul kemudian, bagaimana cara mengatasi situasi seperti di atas? adakah sebuah “jalan pikiran” yang bisa mengembalikan pikiran menjadi jalan pikiran, sehingga kita bisa membedakan mana yang bersifat tahu, pengetahuan, dan yang bersifat ilmu pengetahuan?

Pertanyaan di atas agak sulit untuk diuraikan diruang yang terbatas. Tetapi ada jalan yang bisa kita tempuh, yakni mengasah kemampuan kita untuk bersedia membaca data atau fakta-fakta. Kita harus memiliki dan bisa membaca data. Dengan mengumpulkan data dan fakta, kita bisa melakukan konstruksi atau merekonstruksi “a potrait of our mind”. Melalui hal itu, kita bisa menelusuri pikiran-pikiran untuk menemukan jalan pikiran yang ada dibalik pikiran-pikiran itu.

Kita bisa mempertemukan antara pikiran dan fakta-fakta, sehingga jalan pikiran muncul kepermukaan. Dengan begitu, “pergaulan kita” di dunia maya, dimedia sosial tak hanya dipenuhi oleh pasokan kebohongan, kedustaan kolektif, tetapi media sosial bisa kita jadikan sebagai “an extension our memory.” Kita harus melakukan “transposed the Values of the counterculture”, sehingga media sosial kita terbuka dan terisi oleh jalan-jalan pikiran yang mencerdaskan kehidupan masyarakat.

Adakah kemungkinan untuk melakukan hal seperti itu? jawabannya tentu saja ada. Ada jika kita bisa membangun “a self-conscious awareness of our place in a large system”, kata Franklin Foer sakali lagi. Setiap informasi, pikiran yang datang kehadapan kita harus kita perlakukan dengan cara “The isolated scholar.”

Kita harus membacanya terlebih dahulu dengan seksama. Memahami arti dan maknanya. Menyortir data dan faktanya. Memahami “insights”nya. Menelusuri arus logika konklusinya. Dengan kata lain, kita harus melakukan—meminjam terminologi yang digunakan oleh Kevin Kelly—“The hive mind”; sebuah upaya yang dilakukan oleh seseorang untuk selalu (gatal) tergerak menggunakan minda kita memeriksa semua pikiran dan informasi yang hadir kehadapan kita.

Dengan kesadaran seperti itu—apalagi didalam jumlah masyarakat yang besar—kita akan lebih mudah memahami jalan-jalan pikiran. Jalan pikiran yang tak hanya sebagai pengetahuan, tetapi juga sebagai ilmu pengetahuan. (MRL09/20). |

---

Prof. Dr. Muchlis R. Luddin - Guru Besar Sosiologi  - Universitas Negeri Jakarta

 

Editor : Web Administrator | Sumber : akun FB atas izin Muchlis R Luddin
 
Lingkungan
04 Okt 20, 19:49 WIB | Dilihat : 124
Bangkitkan Marwah Banténois
20 Sep 20, 09:04 WIB | Dilihat : 687
Manusia Cerdas versus Manusia Pandir
16 Agt 20, 12:41 WIB | Dilihat : 258
Wak Wak Gung
10 Agt 20, 15:39 WIB | Dilihat : 231
Melihat Ferry Membayangkan Cainis dan Bolsonaroan
Selanjutnya
Budaya
21 Okt 20, 11:43 WIB | Dilihat : 127
Ronggeng Dulu dan Setelahnya
18 Okt 20, 19:10 WIB | Dilihat : 116
Reposisi Seni Budaya di Tengah Ketidakpastian
02 Okt 20, 22:21 WIB | Dilihat : 156
Seni Etalase Peradaban
Selanjutnya