Refleksi

Misu Misu

| dilihat 323

Bang Sém

Misu-misu atawa gerundelan merupakan ekspresi kejengkelan, ketika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Bisa juga merupakan ekspresi kekecewaan yang dalam atas suatu keadaan.

Ada orang yang mengekspresikan misu-misu secara terbuka, ada juga yang mengekspresikannya secara tertutup dan terbatas. Puncak dari misu-misu adalah ancaman, yang bisa dilakukan, bisa juga tidak. Bisa bergerak eskalatif menjadi kemarahan dan aksi dalam diam. Bisa juga menguap begitu saja, ketika penyebab misu-misu teratasi.

Ibu saya memberi nasihat, daripada misu-misu, lebih baik ngaji diri, melakukan introspeksi. Mengulang kaji, mengapa, misalnya, kenyataan yang dialami tidak sesuai dengan harapan, ekspektasi. Bisa saja, keadaan yang kita alami justru bermula dari diri sendiri.

Misalnya tidak pernah jelas dalam memberi arahan, mudah lumer karena pujian, tidak konsisten dalam menyatakan pendapat, atau karena kita sendiri suka bikin jengkel orang lain.

Ketika memimpin berbagai lembaga dan korporat, saya ingat pesan ibu dan saya praktikan dengan baik. Saya selalu berusaha menghindari diri dari misu-misu. Apalagi misu-misu di depan anak buah.

Sebagai pemimpin, saya punya ruang yang luas untuk melakukan review atau evaluasi atas kinerja staf. Saya biasa memanggil staf satu persatu untuk menyampaikan hasil penilaian. Selain karena sudah ada standar penilaian alias key performance indicator (KPI), juga karena saya mengenali betul staf saya orang per orang. Terutama, karena dalam proses rekruitmen mereka menjadi staf saya, saya pelajari betul hasil assesment.

Tak hanya itu, saya juga mempunyai deskripsi lengkap psychotype mereka yang diperoleh melalui proses penilaian psychometry yang jelas.  Saya menghindari diri mengekspresikan kejengkelan dengan misu-misu, apalagi menyampaikan ancaman kepada staf yang bersifat dubieus. Karenanya, saya tak pernah menjanjikan fasilitas legal formal apapun yang bisa saya berikan, hanya untuk mendorong achievement dan enhancement.

Bagi saya, pantang melontar sisindiran secara terbuka di hadapan staf dalam forum rapat manajemen. Apalagi menyebarkan suasana rapat kepada khalayak ramai. Apalagi hanya ingin menunjukkan, bahwa saya sungguh berkomitmen untuk melayani kepentingan khalayak ramai yang lebih luas.

Saya menganut prinsip kerja berbudaya. Artinya kerja dengan standar pergerakan dan pencapaian yang jelas takaran kinerjanya, bukan sekadar kerja. Kalau terpaksa tak bisa mengendalikan diri dari misu-misu, saya panggil staf, setelah menyampaikan berbagai hal penilaian saya atas kinerjanya. Saya sering menggebuk langsung dengan kata-kata yang menyengat, misalnya: "Kamu manajer apa kambing?"

Setiap kali saya ajukan kalimat begitu, staf saya biasanya cuma bisa diam dan menunduk. Baru saya jelaskan kepadanya, apa beda manajer dengan kambing. Perbandingan negatif? Tidak juga.

Kambing, termasuk yang baru dilahirkan, punya naluri untuk melakukan apa yang harus dia lakukan, terutama merumput. Tidak bergantung kepada induknya. Manajer, tentu mempunyai cara yang tak hanya naluriah, instinktif, karena menggunakan nalar untuk menganalisis suatu masalah dan menemukan cara mengatasi dan menyelesaikan masalah itu. Manajer punya harkat dan kemuliaan dengan nalarnya. Tapi, kalau dia bekerja hanya mengandalkan naluri dan lebih suka akal-akalan, maka dia setara dengan kambing alias hayawan an nathiq, hewan yang berakal.

Sebagai pemimpin yang dilengkapi dengan KPI untuk menilai kinerja staf, saya selalu memegang prinsip good governance: fairness, transparancy, responsibility, accountability, independency. Saya tak mau mengubahnya menjadi transparancy, accountability, responsibility, independency, dan fairness yang sering disingkat menjadi TARIF. Karena secara konotatif atau denotatif, singkatan itu tidak sesuai dengan budaya dan nilai korporat yang sudah disepakati.

Saya juga tidak suka ngomel dan mempertontonkan kualitas kinerja staf saya, karena saya menganut paham, 'tidak ada staf yang pandir,' kalau sampai ada di antara mereka yang tidak becus, yang pandir bukan mereka, tetapi saya. Kepandiran staf saya, dalam banyak hal, terjadi karena saya pandir memberikan arah, yang melekat dalam job description dan work description saya sebagai pemimpin. Karena untuk itulah, saya mempunyai otoritas sebagai kelengkapan fungsio kepemimpinan.

Seluruh staf saya paham, kalau saya sudah mulai berhenti bicara, setelah menyampaikan beberapa hal yang sangat minim reward, pasti saya sedang marah. Kalau sudah begitu, biasanya saya sudah sampai ke titik kecewa yang dalam atas kinerja mereka. Lantas, kata sekretaris saya, biasanya staf pimpinan menunggu agenda untuk saya panggil.

Saat memanggil mereka itulah saya jelaskan ulang tolok ukur pencapaian kinerja yang harus dijangkau, kondisi obyektif pencapaian, dan penilaian saya atas kinerja staf. Begitu saya mengucapkan terima kasih, biasanya mereka paham, pasti akan diganti. Saya beri kesempatan kepada siapa saja yang saya mau ganti, siapa yang dia rekomendasikan menggantikannya sementara, sebelum akhirnya saya memutuskan, siapa penggantinya.

Suatu ketika, salah seorang wakil saya menyampaikan sikap dan menyatakan tak lagi bisa bekerjasama dengan saya. Saya tak bertanya apa alasan dia merasa seperti itu. Saya terima pernyataannya. Lantas kami ngobrol, sambil mencari cara terbaik bagaimana 'berpisah.' Selepas itu saya putuskan momentum terbaik untuk melakukan pelepasan.Sampai hari ini, hubungan saya sangat baik dan jauh lebih baik dari ketika dia menjadi wakil saya.

Supaya tidak terjebak situasi yang bisa membuat jengkel, misu-misu, apalagi marahyang membuat suasana batin tidak nyaman, saya memegang prinsip kepemimpinan terbuka dan sahaja. Tanpa basa-basi. Tentu sesuai dengan standar nilai dan budaya korporat yang disepakati.

Begitu juga sebaliknya, ketika saya menyatakan tidak bisa bekerjasama dengan pemimpin saya. Saya nyatakan dulu sikap, kemudian menyampaikan pendapat kepadanya, lalu memberikan alternatif pengganti, siapa yang bisa dipertimbangkannya untuk menggantikan sementara, kemudian mengambil sikap mufarraqah. Berhenti dan keluar. Jangan pernah memaksakan diri untuk mengikuti sesuatu yang membuat diri tak nyaman. Jangan karena hendak mempertahankan posisi atau jabatan, membiarkan diri melakukan sesuatu pekerjaan secara tidak optimum. |

Editor : Web Administrator
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1549
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1961
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 1098
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
Selanjutnya
Seni & Hiburan
31 Okt 20, 09:24 WIB | Dilihat : 127
Serangan Cinta dari Utara
06 Okt 20, 11:37 WIB | Dilihat : 311
Warkah Pelangi di Ujung Cakrawala
03 Sep 20, 21:13 WIB | Dilihat : 397
Cerita Seputar Alterasi Seni Rupa - Seni Tari
26 Agt 20, 09:04 WIB | Dilihat : 456
Tilik Indonesia Gaya Bu Tedjo
Selanjutnya