Mimpi Karyawan di Sebalik Pembangunan Masjid Apung Ancol

| dilihat 1080

Geisz Chalifah

Mengawali tugas di Ancol adalah dengan mendengar, dengan belajar pada banyak teman yang telah puluhan tahun bekerja disitu.

Mendengarkan keluh kesah mereka juga beragam ide, ada yang terlaksana dan banyak pula yang tak terlaksana, hambatan birokrasi biasanya menjadi kendala untuk sebuah gagasan walaupun original dan layak dilaksanakan.

Adalah Sunarto General Manager Taman Impian dalam satu perbincangan dipasar seni mengatakan, "Pak, di Ancol sini kalau dibangun Masjid Apung bagus pak. Saya menyimak saja idenya tanpa memberikan persetujuan secara langsung."

Tak lama kemudian Martua Hami Siregar -- biasa dipanggil Ucok --, Ketua Serikat Pekerja Ancol yang baru saja selesai bertugas sebagai Ketua Serikat Pekerja, juga menyampaikan gagasan yang sama, agar dibangun Masjid Apung di Ancol.

Ucok adalah sosok dengan kepandaiannya bernegosiasi, banyak menyelesaikan masalah karyawan dengan baik, tanpa demo, tanpa ada yang dikeruhkan wajahnya, dengan mencapai solusi yang baik bagi kedua belah pihak. Berbagai keputusan direksi yang berfihak pada karyawan terwujud berkat komunikasinya yang intensif.

Saya mengendapkan sementara gagasan atau ide masjid apung itu, yang entah sudah berapa tahun menjadi mimpi para teman-teman yang bekerja diancol.

Saya fokus lebih dulu terbangunnya sebuah taman didekat kantin untuk karyawan.

Agar gagasan terlaksana satu persatu, juga renovasi kantor-kantor di seputar Ancol yang rasanya sangat mendesak untuk segera dilakukan, untuk kenyamanan mereka bekerja merupakan hal yang sangat penting. Belum lagi merubah landscape Ancol yang sudah sangat perlu peremajaan.

Beragam gagasan itu perlu dikomunikasikan dengan baik secara intensif, tak hanya diusulkan, lalu terlewat begitu saja. Tak dengan cara menggurui apa lagi sekedar menyalahkan tanpa memberi solusi.

Sebuah taman yang dibuat dengan indah untuk karyawan melepas lelah adalah langkah awal yang sedang diupayakan terwujud, mengajak bicara betapa pentingnya ruang terbuka hijau, mengajak berfantasi sambil bercanda bila taman itu jadi, dan terkadang perlu juga sedikit keras bila keputusan bersama sudah diambi,l namun pekerjaan tak kunjung terlaksana.

Masjid itu perlu biaya relatif besar, perlu waktu untuk membangun narasi dan argumen yang layak, rasional, tak hanya dalam konteks spritual, namun juga ada aspek bisnis untuk disampaikan dalam rapat direksi dan komisaris.

Mimpi dari teman-teman karyawan Ancol sekian bulan mengendap. Menemukan argumentasi yang kuat setelah menonton tayangan iklan disebuah bioskop yang mempromosikan sebuah merek kulkas dengan stempel halal. Gagasan itu menjadi menguat dengan argumen sosiologis tentang kelas menengah muslim.

Memiliki gagasan adalah satu hal, namun menyampaikan gagasan untuk disetujui dan diterima oleh banyak orang adalah hal yang lainnya lagi.  

Perlu pendekatan yang berbeda, tak hanya hitung-hitungan bisnis, tapi juga mengajak orang lain untuk meyakini bahwa gagasan itu penting untuk diwujudkan.

Mendekati satu persatu direksi, membicarakan di saat santai, bukan dalam rapat resmi, karena bila sebuah gagasan langsung disampaikan dalam rapat formal seringkali yang terjadi malah lepas dari tujuan.

Tentu saja cara berfikir direksi keuangan adalah untung rugi, berapa biaya yang diperlukan, kapan balik modal dan sebagainya.

Perlu kemampuan bahasa bisnis untuk meyakini direksi keuangan dalam menyampaikan sebuah gagasan, setelah mengajaknya berhitung tentang struktur bangunan, total perkiraan biaya yang diperlukan dan berapa peningkatan kunjungan setelah Masjid itu rampung.

Pak Daniel yang saat itu menjabat direksi keuangan mengatakan, "Hitungannya rasional dan menarik untuk kita bahas layak kita bicarakan dalam rapat Dirkom (Direksi - Komisaris).

Satu teryakini, lalu mulailah berbicara pada penanggung jawab utama semua kebijakan, yaitu Pak Paul selaku Direktur Utama.

Pak Paul yang akomodatif terhadap beragam ide untuk -- yang namanya -- perubahan, terlebih untuk kemajuan Ancol selalu cepat merespon secara positif, terlebih bila ide tersebut rasional.

Dua direksi sudah bisa dikatakan 90 persen setuju, walaupun keduanya adalah non muslim, tapi ini bukan sekedar gagasan fasilitas rumah ibadah, melainkan banyak aspek lainnya: destinasi wisata spiritual, rekam jejak sejarah perjalanan islam di Jakarta Utara, yang tentunya menarik untuk menjadi referensi sejarah dalam bentuk sebuah bangunan.

Perjalanan kemudian adalah; mensosialisasikan ide pada empat direksi lainnya, mengajak mereka bicara satu persatu dalam waktu yang berbeda.

Resto Putri Duyung adalah sarana untuk berbincang berbagai macam hal tanpa formalitas, Resto itu menjadi saksi sejarah beragam keputusan terjadi sebelum diketuk dalam rapat formal.

Setelah beragam perbincangan di berbagai kesempatan dan waktu yang berbeda, seluruh direksi menyatakan setuju dan mendukung.

Perlu kesabaran dan ketelatenan untuk mengajak orang lain berada dalam pikiran yang sama.

Membangun persamaan terhadap ide adalah adalah hal yang penting, namun mengeksekusi gagasan jauh lebih penting, agar ide tak hanya menggantung di awang-awang.

Di jajaran komisaris dari jauh hari sebelumnya -- sejak awal -- sudah diajak bicara, Pak Rene dan Pak Trisna Mulyadi. Dukungan sudah langsung didapat.

Setelah yakin para pengambil keputusan akan memberikan dukungan, maka gagasan masjid Apung diminta untuk dimasukkan dalam rapat direksi dan komisaris.

Hari bersejarah itu tiba, Rabu 27 Maret 2019. Keputusan diketuk. Masjid Apung akan dibangun di Ancol.

Foto bersama dilakukan untuk menjadi cerita di masa nanti tentang sebuah keputusan bersejarah.

Dalam rapat itu pula, diputuskan, agar arsitek memiliki referensi dalam membuat desain masjid maka diusulkan nama Syamsuddin Ch Haesy, seorang intelektual yang memiliki pemahaman sejarah dengan berbagai referensi dipilih untuk menulis sejarah perjalanan Islam di Jakarta, agar desain masjid memiliki ornamen dam bangunan yang melambangkan perjalanan sejarah masuknya Islam di kota  (Jakarta) ini.

Kesamaan terhadap ide adalah adalah hal yang penting, untuk mengeksekusinya menjadi kenyataan, perlu dorongan yang kuat dan persetujuan dari pemimpin Ibu Kota.

Dalam suatu pertemuan silaturahmi Idul Fitri di rumah Gubernur, gagasan tentang masjid apung dan arsitekturnya didiskusikan.

Gubernur Jakarta, Anies Baswedan menyambut baik dan memberikan berbagai tambahan saran-saran menarik dalam mewujudkannya.

Nama Andra Matin arsitek utama muncul dalam perbicangan malam itu.

Rapat direksi sudah diketuk, Gubernur telah memberikan dukungan, lalu pertanyaan terakhir adalah: Kapan dilaksanakan ?

Tanggal 28 Oktober 2019 dipilih, namun Gubernur memiliki ide yang lebih baik. Menyarankan agar dipilih waktu tgl 9 November 2019 yang bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Sabtu sore, di hari yang angin tak malas bertiup. Sirene tanda dimulainya pembangunan dibunyikan, tiang pancang di atas laut ditanamkan.

Sabtu, 9 November 2019, sang Gubernur, bersama ketua Dewan Masjid Indonesia Muhammad Jusuf Kalla didampingi oleh direksi Ancol uang dipimpin Direktur Utama, Sahir Syahali, meresmikan dimulainya pembangunan Masjid Apung Ancol.

Mimpi karyawan Ancol yang mungkin saja dari puluhan tahun lalu, adanya sebuah masjid apung di area itu Insya Allah terwujudkan.

Semoga pembangunan masjid ini berlangsung dengan lancar dan menjadi keberkahan bagi kita semua. |

 

Penulis Komisaris PT Pembangunan Jaya Ancol.

Editor : bungsem
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 899
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1341
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 513
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 937
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 679
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 699
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 211
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya