Mengunjungi Ramadan

| dilihat 899

Sem Haesy

ALHAMDULILLAH. Bersyukur kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena masih diberi peluang berkunjung lagi ke bulan Ramadan 1439 Hijriah. Sekaligus melayarinya dengan ibadah karena kecintaan kepada Allah Mahakuasa.

Sebagian dari orang-orang tercinta dan terdekat, saudara, kerabat, dan sahabat tak lagi dapat mengunjungi Ramadan, karena telah terlebih dulu dipanggil pulang ke haribaan-Nya.

Ramadan adalah bulan yang ditetapkan Allah sebagai masa untuk secara khas menjalankan ibadah shaum.

Ibadah shaum, yang dalam banyak sekali referensi dinyatakan untuk memenuhi hak Allah. Ibadah khas yang wajib bagi setiap insan beriman (mukmin dan mukminat), untuk meningkatkan ketaqwaan – kepatuhan kepada segala ketentuan-Nya.

Ibadah shaum melatih insan beriman menempatkan dirinya sebagai subyek mengharmonisasi keseimbangan nalar, baluri, perasaan, dan indrianya. Inilah latihan kepemimpinan (leadership training) yang tiada banding, tiada sanding.

Selama menjalani ibadah shaum, setiap kita diberi peluang untuk mengarahkan, sekaligus mengelola diri sendiri secara khas. Termasuk melakukan perencanaan, pengorganisasian, aktivasi, dan kontrol atas diri sendiri.

Selama 29 hari (sekali-sekala 30 hari) selama Ramadan -- yang juga merupakan bulan diturunkannya Al Qur’an bagi umat manusia --, setiap insan beriman ditempa untuk taat agenda. Sekaligus mengenali esensi awal dan akhir. Tak terkecuali, mendahulukan cara katimbang alasan, dalam memberi manfaat atas fasilitas yang diberikan Allah.

Ibadah shaum di bulan Ramadan, adalah ibadah edukatif untuk mencapai kualitas zuhud, penyerahan diri penuh seluruh untuk beroleh keridhaan Allah. Bukan karena terpaksa tidak mampu memperoleh kesenangan yang halal. Bukan juga karena putus-asa menghadapi kehidupan. Melainkan zuhud karena kecintaan kepada Allah.

Sayyidina Ali Karamahuwajhah melukiskan zuhud sedemikian, itu dengan nasihat yang indah : “Kekurangan di dunia dan kelebihan di akhirat, lebih baik daripada kekurangan di akhirat dan kelebihan di dunia.”

Ibadah shaum mengedukasi setiap insan beriman untuk memahami esensi tauhid yang bermuara pada mutu atau kualitas imani, lantaran Allah memberikan kebolehan yang jauh lebih banyak daripada larangannya.

Ibadah shaum menyadarkan kita untuk meninggalkan larangan yang lebih sedikit itu.

Mengunjungi Ramadan untuk menempa diri, menguatkan dimensi kedalaman insaniah manusia, pun bermakna, memandu setiap insan beriman (mukmin dan mukminat) menyadari hakekat dirinya sebagai ahsanit taqwim. Sebaik-baiknya makhluk, yang selalu terkoneksi dengan Allah sebagai al khaliq, maha kreator yang melengkapi ciptaannya dengan pemeliharaan tak berbilang.

Kita mesti pasang motivasi asasi, mengunjungi Ramadan, karena kita ingin memberi makna atas peluang yang Allah berikan, sehingga usia yang amat terbatas, jelas peruntukannya, jelas pula manfaatnya. Agar kelak, di penghujung usia, kita dapat melangkah melintasi gerbang utama husnul khatimah menuju kepada-Nya. Allah sumber segala sumber kasih sayang, ar Rahman dan ar Rahim.

Allahumma sallamni li ramadhaan. Wa sallam ramadhaana wa sallamhu minaa mutaqabbalan. Ya Allah, mohon dengan sangat, berikanlah keselamatan kepada kami untuk (melayari) ramadhan. (Mohon dengan sangat) berikan keselamatan ramadhan bagi kami dan mohon terimalah (seluruh) ibadah ramadhan kami. |

Bandung, 16.5.18

Editor : sem haesy
 
Energi & Tambang
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 1656
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 617
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 1043
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
Selanjutnya
Sporta
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 507
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 515
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
11 Jul 18, 08:53 WIB | Dilihat : 651
Sundulan Berkah Umtiti Hantar Perancis ke Final
12 Okt 17, 09:39 WIB | Dilihat : 1431
Golf Memadupadan Olah Raga dengan Olah Rasa
Selanjutnya