Mengintip Indonesia via Generasi Millenial dari Platform 78

| dilihat 322

Di Bandung ada kafè baru. Platform 78, namanya. Tempatnya nyaman, di simpang tiga Jalan Taman Sari dan Jalan Dayang Sumbi. Suasananya nyaman. Menu makanannya enak. Dan, mungkin karena baru, harganya juga terjangkau.

Selain rangkaian meja dan kursi, plus beberapa sofa di ruang terbuka, ada beberapa ruangan di dalam yang menarik untuk rapat atau diskusi terbatas.

Saya dengar kabar, pemilik kafè itu, sepuluh orang alumni mahasiswa ITB (Institut Teknologi Bandung). Lokasinya memang tak jauh dari Kampus ITB.

Beberapa malam lalu, saya datang ke situ.

Begitu masuk, ada pemandangan menarik yang tampak. Sejumlah anak muda -- yang pantas disebut generasi millenial -- memenuhi kafe itu, dalam beberapa kelompok menyerupai koloni di beberapa island dalam konteks tata ruang interior.

Saya perkirakan, usia mereka antara 21 tahun sampai 30 tahun.

Sekelompok mereka yang berada di depan tempat saya duduk, terdengar sepintas sedang membahas konsep tentang kuaci dari bunga matahari. Bahasannya keren, mulai dari soal agritech yang akan dipergunakan, sampai desain mesin pengolah dan kemasan.  

Dua orang mahasiswi berjilbab yang tampak cantik, masuk dan bergabung dengan mereka. Tak berapa lama, saya dengar, salah seorang di antara keduanya bicara tentang konsep packaging dan promosi produk.

Karena ada sekelompok di antara mereka yang meninggalkan sofa, saya segera pindah duduk ke sofa yang baru ditinggalkan. Di sebelah sofa yang saya duduki, sekira tujuh orang sedang diskusi tentang politik, sangat praktis. Mereka membahas soal capres. Pandangan mereka kritis, cerdas, sekaligus tajam.

Fokus bahasannya beberapa program talkshow televisi, yang menurut mereka debat televisi baru sekadar 'sentak sengor,' adu mulut. Dan.. ini yang menarik perhatian saya, dari perbincangan mereka disebut beberapa nama orang muda : Faldo dan Gamal Albin Said, dan sejumlah nama anak muda lain, termasuk Agus Harimurti Yudhoyono dan Sandiaga S. Uno.

Di mata mereka, Faldo dan Gamal adalah representasi mereka, sebagai orang muda yang punya prinsip dan komitmen terhadap perubahan bangsa ini secara visioner. Tentu dengan berbasis ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi.

Tak hanya itu, mereka menyebut nama-nama anak muda itu, termasuk yang tergabung dalam 'SobatSandi' adalah mereka yang terjun ke dunia politik dan sosial, bermula dari kesadaran mandiri.

Mereka paham menempuh jalur politik sebagai cara menjadi bagian perubahan, dan kemudian menjadi energizer di dalamnya. Bukan sekadar sebagai followers fanatis yang hanya menjadi ekor figur idola. Belakangan, seorang anak muda datang dan bergabung di sofa, itu. Dia kenal saya, lalu segera memperkenalkan saya dengan semua anak muda di sofa sebelah yang saya simak diskusinya tadi. Jadilah saya terlibat pembicaraan di dalamnya, meski hanya menjadi penyimak.

Dari mereka saya tahu, sekarang terbentang jejaring luas anak-anak muda yang peduli pada sesama dan rakyat dalam wujud yang kongkret. Komitmen membangun bangsa, mereka semai dengan program-program aksi yang juga nyata. Tak hanya di perkotaan, tapi juga di pedesaan. Tak hanya bicara tentang kreativitas dan inovasi, tapi sekaligus investasi. Termasuk melakukan upaya kongkret serentak dan serempak bagaimana merespon 17 tantangan abad ke 21 yang ditawarkan James Martin dari Universitas Oxford.

Seketika saya ingat Platform 77-79 gerakan mahasiswa Indonesia, selepas aksi 1974, ketika bangsa ini membuka ruang besar untuk foreign direct invesment (FDI) yang dikuasi Jepang.  Januariu 1974 meletus aksi Malari, ketika Perdana Menteri Jepang Tanaka datang berkunjung ke Jakarta.

Platform 77-78-79 adalah kembalikan kedaulatan ke tangan rakyat, kemandirian ekonomi, dan penguatan budaya yang head to head dengan budaya global. Tidak alergi terhadap budaya asing, tapi getol berkreasi menghadirkan budaya nasional yang seimbang. Platform kebangsaan yang jelas dalam konteks ekonomi, sosial, politik, dan budaya, tanpa jargon dan sesanti yang hanya merupakan fantacy trap, yang banyak diwawar lewat pidato Bung Karno dan politik stel kendo Soeharto.

Sandiaga Uno, Agus Harimurti Yudhoyono, Faldo, Gamal, Alfi Irfan, Natta Reza, Andreas, Harianto Albar, Edy Fajar Prasetyo, Baban Sarbana, dan banyak lagi generasi millenial yang konsisten membangun peradaban dan keadan baru. Orang-orang muda yang di dalam dirti mereka menyatu kecerdasan dan kesantunan dalam satu tarikan nafas. Baik yang terjun langsung ke kancah politik sebagai politisi, maupun yang sekadar bermitra dalam gerakan perubahan politik.

Mereka menjawab tantangan James Martin dalam bahasa dan platform perjuangan mereka, fokusnya adalah memastikan masa depan bangsa. Mengelola dengan kritis perubahan evolusi kekuatan masa depan dari sum berdaya alam ke modal insan dengan mengendalikan teknologi dan ilmu pengetahuan.

Mereka melihat, posisi Sandiaga Uno sebagai Cawapres Prabowo, merupakan representasi untuk pergerakan transisi besar menghadapi tantangan : Menyelamatkan bumi dan merespon tangkas climate changes; Membalikkan kemiskinan, baik merujuk sembilan langkah memecahkan kemiskinan global Jefferey Sachs, "The End yo Poverty," maupun gagasan genuin berbasis kecerdasan budaya nasional;

Pun, untuk Mengelola Pertumbuhan Penduduk, memberi aksentuasi berkualitas atas bonus demografi yang bakal terjadi; Mencapai Gaya Hidup Lestari berbasis kemakmuran berkeadilan; Mencegah perang total - termasuk mencegah penggunaan senjata nuklir dan biologi; Berkontribusi dalam mengembangkan efektivitas global, sesuai perkembangan dan peningkatan bandwidth, dan Meredakan terorisme yang terkorelasi dengan industri senjata pemusnah.

Setarikan nafas mereka menilai anak-anak muda itu menghadapkan Prabowo - Sandi untuk berada dalam Platform yang asik, pengembangan budidaya kreativitas - inovasi - teknologi, yang akan menyemai entrepreneur society. Ujungnya, mendorong Indonesia menjadi trade and industrial nation.

Mereka juga melihat, jejaring Sandiaga, Agus Harimurti, Faldo dan Gamal berkomitmen kuat pada upaya menaklukan penyakit, menggagalkan penyebaran penyakit menular yang secara cepat bisa membunuh jutaan orang.

Tentu, mengusung platform Memperluas Potensi Manusia dengan mengembangkan kemampuan tersembunyi melalui pemanfaatan teknologi hebat yang mempercepat potensi belajar, seperti laiknya Korea Selatan.

Tentu melindungi bangsa ini dari Singularitas, akibat eksplorasi kecerdasan komputer,  mendorong manusia Indonesia menjadi lebih cerdas dengan kecepatan yang cepat, termasuk platform happylife. Tak terkecuali memperkuat bangsa ini, menghadapi Resiko Eksistensial.

Tak terkecuali, kini jutaan anak-anak muda dengan spirit yang ditularkan Sandiaga Uno dan kawan-kawan, akan mengendalikan kecenderungan bantet menjadi homo faber dan homo sapiens, yang tidak hanya : kerja, kerja dan terus bekerja, melainkan berkarya kreatif dan inovatif dengan parameter kinerja yang jelas.

Dalam konteks lain, mereka yakin, jutaan anak muda dengan potensi seperti Sandi, Agus, Faldo, Gamal, dan kawan-kawan punya daya untuk menjelajahi transhumanisme, dengan tetap mengembangkan akhlak mulia, dimulai dari disiplin pribadi. Ini merupakan model untuk menjembatani keterampilan, kompetensi dan profesionalisme dengan kearifan budaya baru.

Semua ini akan memperkuat kemampuan bangsa ini, menjawab tantangan berikutnya, yaitu kemampuan merencanakan Peradaban Lanjutan. Dengan cara itu, menurut anak-anak millenial yang berdiskusi rileks sambil tergelak tanpa terbahak, akan ada pertahanan supaya otak terbaik masyarakat Indonesia tak jenuh dengan isu-isu langsung yang semakin kompleks, yang tersebar secara sistemik empat tahun terakhir.

Saya simak pemikiran mereka, sampai seorang teman datang, dan kami pindah ke ruang lain, untuk bicara ihwal pendidikan politik rakyat untuk emak-emak.. Optimisme saya membuncah, usai mengintip Indonesia lewat pandangan Generasi Millenial. | Bang Sem

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
25 Nov 18, 12:33 WIB | Dilihat : 326
Nicke Widyawati di Tengah Arus Transformasi Pertamina
24 Nov 18, 08:44 WIB | Dilihat : 143
Menjaga Marwah Jurnalis Via AJP2018
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2759
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 781
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
Selanjutnya
Budaya