Ihwal Kebohongan Pasca Kebenaran

Menghindari Kedunguan Kolektif

| dilihat 738

Di zaman Pasca Kebenaran (Post Truth), ketika kebohongan diulang-ulang untuk dipercayai sebagai kebenaran, memburu kebenaran yang sesungguhnya, seperti berburu di kebun binatang. Semua orang sebenarnya sudah tahu dan paham, mana yang benar dan mana pula yang bohong, tapi asyik membicarakan dan mendiskusikannya.

Persis seperti memburu ular, begitu sudah berhasil menjerat sang ular, yang dilakukan adalah sibuk mencari ketiak ular. Dan itu dilakukan dengan menggunakan perangkat mutakhir hasil kemajuan teknologi informasi, sesuai dengan lompatan digitalisasi.

Itulah yant kerap kita temukan di berbagai fitur media dengan beragam platform, termasuk whatsapp, twitter, facebook, telegram, dan lainnya. Padahal yang semestinya dilakukan adalah menggunakan peluang kemajuan digitalisasi untuk menegaskan kebenaran yang sesungguhnya.

Anthony Gooch, Direktur Urusan Publik dan Komunikasi OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) wilayah Spanyol dan Inggris, mengingatkan khalayak supaya, "Memanfaatkan kesempatan digitalisasi yang menawarkan kita untuk menyalurkan kecerdasan kolektif kita, sehingga menghindari penyimpangan menuju kedunguan kolektif"

Dalam artikelnya bertajuk "In Pursuit of The Trusth," - majalah UNO (24/2017) Gooch menukilkan cerita singkat yang menarik sebagai amsal. Begini:

Dahulu kala, enam orang bijak yang buta, penasaran berkumpul untuk menemukan (pemahaman tentang) gajah. Mereka memutuskan untuk mencari pachyderm (binatang berkulit tebal) ini untuk menghilangkan keraguan mereka. Setelah berjalan jauh, mereka menemukan gajah yang besar dan jinak. Setiap orang dari mereka mendekati binatang, itu dan menyentuhnya.

Yang pertama membelai belalainya, dan segera berilusi, membandingkannya  dengan ular. Yang kedua menyentuh taringnya dan  berpikir tentang tombak. Yang ketiga meletakkan tangannya di ekor berbulu, dan mempercayanya sebagai sikat.

Begitu seterusnya, hingga mengemuka enam deskripsi berbeda dari hewan yang sama. Mereka semua percaya bahwa mereka tahu penampilan gajah yang sebenarnya tetapi tak bersepakat satu dengan lainnya.

Dengan mengubah posisi, mereka menyadari bahwa ada lebih dari satu cara memandang binatang itu.

Moral dari cerita pendek ini, tulis Gooch adalah untuk mengilustrasikan dan mengingatkan kita bahwa gagasan tentang kebenaran dan pencariannya rumit, dan (itu) melekat pada manusia.

Kenyataannya, kebenaran memerlukan analisis fakta obyektif dan diskusi tentang bukti-persyaratan yang melimpahkannya dengan nilai besar yang harus dilestarikan oleh para profesional di bidang apa pun.

Dalam beberapa masa belakangan hari, banyak outlet media berdebat tentang devaluasi kebenaran yang berkembang dengan merujuk pada narasi politisi, influencer, dan outlet media yang bermain untuk sensasi dan kenyamanan informasi selektif.

Fenomena inilah, yang 'dibaptis' sebagai pasca-kebenaran (post truth), yang telah didefinisikan dalam Kamus Oxford sebagai suatu keadaan di mana fakta-fakta obyektif memiliki pengaruh yang lebih kecil dalam opini publik daripada emosi dan kepercayaan pribadi. Dan kata (post truth) itu,  dinyatakan sebagai Word of the Year untuk 2016. (Baca: Eksplorasi Kebohongan dalam Pemilu)

Akibatnya, tulis Gooch, konsep-konsep seperti "fakta-fakta alternatif" dan "berita palsu" telah muncul di belakangan hari.

"Perlu diingat, bahwa kesamaan kebohongan bukanlah inovasi abad ke-21. Namun demikian, yang baru adalah pengukuhan mendalam pasca kebenaran dalam masyarakat informasi dan semangatnya dalam konteks ketidakpuasan dan kekecewaan politik, dalam globalisasi yang terang, (yang) pada beberapa kasus, berada di luar kendali," tulis Gooch kemudian.

Saat ini, menurut Gooch, akses ke konten informatif, serta kedekatan dan volumenya, tidak memiliki preseden. Dampak digitalisasi dalam dunia komunikasi telah membawa revolusi dengan cara orang dapat menghasilkan informasi sendiri. Salah satu contoh penting dari demokratisasi media ini adalah: jurnalisme warga. Hal  itu telah mengubah cara khalayak mengonsumsi dan mengasimilasi konten informasi.

Menurut sebuah studi oleh Pusat Penelitian PEW pada tahun 2016, 62 persen dari penduduk Amerika Serikat akan menggunakan media sosial menjadikan diri mereka tetap up to date. Paradoksnya adalah, "karena aliran berita yang tak henti-hentinya, kita bisa menjadi lebih salah informasi daripada sebelumnya."

Dalam edisi September 2016, The Economist, menampilkan cerita sampul (cover story) "Art of the Lie," yang didedikasikan untuk kebenaran. Di antara halaman-halaman edisi ini, menyoroti grafik yang menunjukkan, bahwa konten Facebook dengan informasi palsu dibagikan beberapa kali sama dengan informasi yang sebenarnya.

Fenomena ini menjadi semakin mengkhawatirkan ketika kita mempertimbangkan pengaruh algoritma dan tekanan finansial. Algoritma menghasilkan ekosistem virtual yang mencerminkan pendapat yang berpikiran sama, dan dalam banyak kasus mendorong orang untuk menciptakan kebenaran mereka sendiri. Setarikan nafas, persaingan (untuk berada pada peringkat di bagian atas) hasil mesin pencari memberi penghargaan pada jumlah 'like.' Seperti yang ditunjukkan Katherine Viner, Editor-in Chief of The Guardian, dalam artikelnya "Bagaimana teknologi mengacaukan kebenaran." Viralitas lebih diutamakan daripada kualitas dan etika.

Apa yang disebut pasca-kebenaran (post truth) meresap ke pemilihan presiden di Amerika Serikat dan bahkan sebelum itu, pada referendum di Inggris. OECD beroleh informasi tangan pertama yang terakhir.

OECD, tulis Gooch, mempresentasikan laporan di London School of Economics, berbulan-bulan sebelum pemungutan suara, tentang kemungkinan konsekuensi ekonomi dari Brexit bagi ekonomi Inggris. Apa yang terjadi? Pers yang sensasional mendistorsi statistik OECD untuk memperkuat posisi mereka atas kebijakan tentang migrasi yang membatasi, dan keperluan untuk "mengembalikan negara". Kampanye 'holiday' yang dilakukan media, menunjukkan bahwa "populasi umum" tidak lagi mempercayai "para ahli," termasuk ahli dari OECD, dan mereka berusaha mendiskreditkan, menuduh bahwa organisasi tersebut didanai oleh Uni Eropa.

Gooch berkesimpulan, yang pertama adalah kritik-diri sangat penting. "Kami bertanya pada diri sendiri apakah kesalahan membuat laporan mendalam yang penuh dengan data ekonomi, dengan latar belakang daya tarik emosional dan harapan (tapi ilusi) harapan. Kami mengabar kepada orang-orang yang bertobat dengan pergi ke London, membawa pesan kami kepada warga yang paling skeptis di luar kota besar. Kami tidak cukup menekankan kemajuan positif dalam kualitas hidup warga negara Inggris, sehubungan dengan keanggotaan negara itu di Uni Eropa." ungkap Gooch.

Dia menegaskan, saktunya telah tiba untuk mengembangkan data objektif yang lebih relevan bagi masyarakat, yang telah menyaksikan peningkatan ketimpangan dan kurangnya kesempatan untuk beberapa waktu sekarang. Kombinasi dari memohon jiwa dan logika orang.

Pelajaran kedua, menurut Gooch, kita harus mendedikasikan lebih banyak waktu untuk mendengarkan komunikasi yang sering terlupakan. Untuk tertarik pada apa yang dilihat orang lain, mentransmisikan tetapi juga menerima. Teknologi dan platform digital seperti Better Life Index OECD's  memungkinkan kami untuk lebih memahami prioritas kesejahteraan rakyat melalui partisipasi dan keterlibatannya. Untuk menjadi lebih inklusif, agar menjadi lebih relevan, dan dengan cara ini menghubungkan pekerjaan kami dengan aspirasi dan kepedulian masyarakat.

Singkatnya, dalam menghadapi kebisingan media yang berlebihan dan kurangnya kepercayaan, kita bisa belajar menjadi pemandu yang lebih baik dan membiarkan diri kita dibimbing. Mengambil kesempatan yang ditawarkan digitalisasi kepada kita untuk menyalurkan kecerdasan kolektif kita, sehingga menghindari penyimpangan menuju kedunguan kolektif. | delanova

Editor : Web Administrator | Sumber : UNO Mag 24/17
 
Seni & Hiburan
06 Sep 19, 22:46 WIB | Dilihat : 269
Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch Haesy
18 Agt 19, 21:05 WIB | Dilihat : 1077
Kemerdekaan Adalah Jiwa Raga Sehat Tegakkan Keadilan
13 Agt 19, 20:56 WIB | Dilihat : 793
Gubernur Anies Undang Warga Jakarta Nonton JMF2019
Selanjutnya
Sainstek
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 418
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 847
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
19 Jul 18, 09:52 WIB | Dilihat : 1669
Volante Vision, Visi Kendaraan Udara Aston Martin
20 Feb 18, 12:07 WIB | Dilihat : 2588
Tragedi Archimides di Tangan Serdadu
Selanjutnya