Menghadapi Ujian Hidup

| dilihat 409

Habib Alwi as Segaff

ALLAH SWT mempunyai cara tersendiri untuk merencanakan takdirnya atas manusia, dan perencanaan-Nya atas manusia adalah sebaik-baiknya perencanaan yang tiada tanding dan tiada banding.

Dalam perencanaan Allah SWT, itulah berlaku ketentuan: meninggikan siapa yang mesti ditinggikan dan merendahkan siapa yang mesti direndahkan-Nya.

Oleh sebab itulah, setiap manusia mesti mengelola dirinya dengan meningkatkan kualitas hidup, iman dan taqwa sesuai dengan aturan-Nya, sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Allah SWT senantiasa memilih siapa saja yang paling berkualitas iman dan taqwanya, menjadi insan terpilih.

Allah SWT menguji setiap manusia dengan ujian yang sesuai dengan kapasitas dan kualitas iman dan ketaqwaan umat-Nya. Karena pada hakekatnya, ujian Allah SWT terhadap hamba-Nya adalah wujud kasih sayang-Nya, agar manusia tersebut berkualitas.

Yakni, selain mempunyai ketahanan iman yang baik dan kuat, juga kita meyakini hakekat eksistensi Allah SWT sebagai penentu kehidupan paling absolut.

Di dalam al Qur’an, Surah al Mulk, ayat 2, Allah SWT menjelaskan hakekat ujian yang diberikan kepada hamba-Nya.

Tak hanya untuk mengingatkan manusia tentang absoluditas eksistensi-Nya, yang ‘menghidupkan dan mematikan.’ Juga untuk melatih manusia meningkatkan kualitas dan menjadi yang terbaik amal perbuatan, terbaik karyanya sebagai insan yang beriman dan bertaqwa.

Oleh sebab itu, Rasulullah Muhammad SAW menegaskan, setiap ujian Allah SWT merupakan bagian tak terpisahkan dari kecintaan-Nya terhadap insan ciptaan-Nya. Khususnya dalam mewujudkan perilaku hidup bersyukur, yang dilandasi oleh kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas.

Siapa saja yang mensyukuri nikmat-Nya, Allah SWT akan menambah nikmat itu. Siapa saja yang mengingkarinya, azab Allah SWT sangatlah pedih.

Artinya, Allah SWT memberikan reward yang terbaik kepada siapa saja yang terbaik dalam berkarya dan berikhtiar di jalan-Nya. Dan, Allah SWT akan memberikan punishment terhadap siapa saja yang menyimpang dari jalan-Nya.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda: ' Demi zat yang diriku ada di tangan-Nya, tiadalah Allah menentukan sesuatu keputusan kepada hamba-Nya yang mukmin melainkan akan membawa kebaikan kepadanya." (HR Muslim). Inilah hikmah yang terdapat di balik ujian Allah SWT.

Dalam menerima ujian Allah SWT, yang pertama harus kita lakukan adalah, menerima dengan sadar dan ikhlas (kian meningkatkan kualitas keimanan kepada Allah SWT) setiap ujian yang Allah SWT berikan kepada kita.

Seberat apapun ujian itu, mesti kita yakini, tak akan pernah melebihi kemampuan kita untuk menerimanya. Oleh sebab itu, bila ujian Allah SWT datang, kita pun harus menerima dengan sabar (secara tanpa henti berikhtiar di jalan-Nya dalam menemukan solusi), dan bersyukur (terus bekerja).

Allah SWT di dalam al Qur’an, Surah al Inshirah (Alam Nashrah) memandu kita: di setiap kesulitan selalu ada inspirasi, di setiap ujian selalu ada hikmah yang bermakna pembelajaran.

Allah SWT selalu memberikan solusi melalui ikhtiar kita, “melapangkan dada dan meringankan punggung” kita. Karenanya, selesaikanlah ujian dengan baik dan setelah selesai, lanjutkan dengan kerja dan karya selanjutnya.

Semoga kita termasuk insan yang selalu menerima ujian Allah SWT dengan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita. Lalu bersabar dengan terus berikhtiar dengan cara yang benar, dan bersyukur dengan meningkatkan kualitas karya kita yang sesuai dengan ajaran Allah SWT sebagaimana dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW. |

Editor : sem haesy
 
Budaya
Lingkungan
24 Mar 19, 11:13 WIB | Dilihat : 561
Surat Gubernur Anies Baswedan untuk Pekerja Proyek MRT
06 Mar 19, 12:36 WIB | Dilihat : 266
Sungai Bersih dan Masjid Jamek Pesona Khas Kuala Lumpur
02 Mar 19, 00:45 WIB | Dilihat : 317
Beranda Jakarta dan Rekacita Masjid Terapung Ancol
27 Feb 19, 13:14 WIB | Dilihat : 302
Jangan Menutup Matahari dengan Jemari
Selanjutnya