Melihat Indonesia dari Kabin Pesawat

| dilihat 228

DARI bandara ke bandara, dari kota ke kota, sepanjang lintas khatulistiwa, pesawat yang sedang membawa kita melintas angkasa raya Indonesia, ini sungguh sedang ruang bertemunya para patriot.

Ruang yang mempertemukan para pecinta tanah air. Ruang kabin yang membuktikan hakekat besar perjuangan para founding father, para pendiri bangsa dan republik yang amat kita cintai ini.

Setelah melintasi masa hampir lima abad, dan 73 tahun setelah pesawat Seulawah disumbangkan rakyat Aceh sebagai sarana transportasi udara pertama di Indonesia, pesawat yang sedang membawa kita ini, adalah pertanda dan tonggak lain sejarah, bahwa bangsa kita sungguh sudah bergerak maju. Dan akan terus bergerak maju ke masa depan.

Menghubungkan anak-anak bangsa – mulai dari masyarakat awam hingga guru besar – menjadi satu kesatuan dimensi kebangsaan yang pada dirinya tersandang amanat untuk memajukan bangsa. Kabin pesawat ini bisa menjadi ruang belajar sangat efektif untuk mengeja Indonesia.

Acapkali menikmati penerbangan di dalam kabin pesawat saya selalu mendapatkan nilai keindonesiaan yang sedemikian substantif. Yakni, keberbagaian dan multkulturalitas kita.

Berkali-kali, di dalam pesawat ini saya memperoleh informasi tentang banyak hal potensi sumberdaya alam yang dimiliki bangsa ini, dari rekan yang duduk di sebelah saya.

Sepanjang perjalanan saya memperoleh begitu banyak informasi, dan dalam interaksi – saat ngobrol – yang karib, saya belajar banyak lagi, dan serasa sedang berkunjung ke relung sukma Indonesia yang sesungguhnya.

Dari sesama pengguna jasa penerbangan ini, pengetahuan saya bertambah tentang banyak hal.

Tentang rumput laut, kakao, kopi, jeruk, mangga, durian, beras (termasuk beras kewal dan gaga), dan aneka produk pertanian Indonesia. Juga tentang nikel, pasir besi, tembaga, batubara, emas, minyak, gas dan panas bumi, semen, tanah liat penghasil keramik kelas wahid, dan berbagai produk pertambangan lainnya.

Pengetahuan saya juga bertambah tentang jati, gondorukem, pinus, mahoni, eboni, rotan, dan beragam produk kehutanan. Pengetahuan saya pun bertambah tentang stasiun transmisi penguat frekuensi handphone, dan banyak hal yang berkait dengan perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan telekomunikasi.

Di kabin pesawat, pengetahuan saya tentang politik, pemerintahan, otonomi daerah, tata ruang, dan keunggulan kompetitif masyarakat di berbagai daerah, juga semakin luas.

Bahkan, secara tak sengaja, saya sering belajar tentang udang galah, bandeng asap, sate bandeng, bandeng presto, terasi, kecap, lumpia, pecel, berem, dan aneka hal yang berkaitan dengan kuliner.

Suatu ketika, saat terbang ke Solo, dari seorang perempuan cantik, saya mendapat pengetahuan tentang kucing aneka jenis, dan baru tersadarkan, bagaimana Tuhan memberikan kemakmuran kepada hamba-Nya melalui kucing.

Kabin pesawat ini seringkali memberikan ruang bagi saya untuk selalu kian mengenali Indonesia, yang seperti kata MAW Brouwer yang diteruskan Bimbo, laksana surga yang diciptakan Tuhan sambil tersenyum.

Sekaligus, di kabin pesawat yang sedang melaju, saya mendapat begitu banyak pengetahuan dan gagasan, tentang bagaimana kita mesti memelihara dan memperlakukan Indonesia, agar kelak tidak berdosa kepada anak cucu dan generasi mendatang.

Seorang guru besar, dalam penerbangan Jakarta – Medan, mengingatkan saya tentang bagaimana kita mesti mengelola bangsa ini secara tepat dan benar. Sedangkan dari seorang pelajar SMA di Sidoardjo, yang disadarkan, bagaimana kita mesti memberi makna terhadap fenomena alam yang terjadi. Mengubah derita menjadi harapan.

Saya bersyukur, di kabin pesawat ini, saya selalu memperoleh kesempatan menjenguk Indonesia dan termotivasi untuk selalu menciptakan kedamaian dan harmoni sosial.

Caranya? Banyak menyimak dan mau bertukar informasi saat dalam perjalanan. | Bang Sem

 

Editor : Web Administrator | Sumber : Pernah dipublikasi LionMag
 
Humaniora
14 Jan 19, 14:26 WIB | Dilihat : 226
Ongol Ongol
29 Des 18, 22:02 WIB | Dilihat : 431
Anggota Forhati Mesti Fahami dan Amalkan Insan Cita
27 Des 18, 14:15 WIB | Dilihat : 433
Ihwal Perempuan
Selanjutnya
Lingkungan
11 Jan 19, 21:59 WIB | Dilihat : 412
Merawat Cinta Keluarga di Ancol
25 Des 18, 13:53 WIB | Dilihat : 239
Isyarat Krakatoa dan Tunggang Laya Banten Selatan
23 Des 18, 11:36 WIB | Dilihat : 230
Tsunami dan Pasang Purnama Terjang Pantai Banten
23 Des 18, 02:14 WIB | Dilihat : 209
Pasang Naik Kala Bulan Purnama Kasmaran
Selanjutnya