Melihat Anies dari Jendela Hati

| dilihat 296

Bang Sém

 

angin utara

berembus kala pagi

asa terbentang

 

Apa tugas utama pemimpin? Ini pertanyaan dasar yang selalu saya tanya kepada anak dan cucu, setiap kali mereka masuk sekolah menengah. Jawabannya tak rumit: mendidik rakyat mencintai lingkungannya. Setarikan nafas, bertanggungjawab untuk itu. Caranya? Disiplin.

Nilai utama pendidikan adalah akhlak dan integritas pribadi. Bukan hanya kecerdasan. Itu sebabnya, saya selalu menjadi menempatkan pendidikan dan pengajaran dalam pengembangan didaktis dan pedagogis dalam satu tarikan nafas.

Intinya pemahaman yang saya transfer kepada anak-anak adalah proses pendidikan yang mereka ikuti adalah untuk memperoleh pengetahuan, ilmu dan budaya (pengalaman budaya) yang seluas-luasnya, setinggi-tinggi, dan sedalam-dalamnya. Dengan semua itu, mereka menyiapkan diri menjadi manusia dengan kemerdekaan sejati.

Etos pendidikan yang saya akrabi adalah karakter individual dan sosial yang mampu membangun hubungan antara dimensi kedalaman manusia (termasuk perkembangan jiwa), konsepsi moral, dan manifestasinya berupa perilaku. Basisnya adalah trilogi perjuangan hidup manusia, seperti ditawarkan Omar Said Tjokroaminoto: sebersih-bersih tauhid (religion ground), ilmu pengetahuan (life tools), dan siasah (strategic way).

Setiap individu, sejak masih kanak-kanak mesti mengalami proses pendidikan yang semacam ini, sehingga bertumbuh dalam harmoni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual, yang akhirnya berkembang menjadi kecerdasan budaya.

Rasionalitas nalar bersanding dengan sensivitas naluri, mengampu irrasionalitas rasa, terpancar pada indrianya. Dari sisi ini, saya melihat Anies Rasyid Baswedan mengembalikan fungsi utama kepemimpinan ke tempatnya yang benar. Mendidik dirinya, lingkungan sosialnya, dan siapa saja untuk memahami hakikat eksistensinya sebagai warga Jakarta.

Apakah para pemimpin Jakarta sebelum ini tidak melakukan hal yang benar dalam menjalankan fungsi utama pendidikan yang melekat pada dirinya? Apakah praktik pendidikan dalam kepemimpinan di Jakarta selama ini tidak mencerminkan dan tidak mewakili visi sosial yang kita dukung? Apakah kita mengajar setiap individu tentang warga dan kewargaan penting bagi rakyat? Bagi masyarakat masa depan Jakarta?

Serangkaian pertanyaan di atas, akan terjawab dengan sendirinya, ketika kita mengulang ingat beberapa sesanti yang pernah ditawarkan sejumlah gubernur Jakarta. Paling tidak, sesanti sosialis religius (Tjokropranolo), Bersih - Manusiawi - Wibawa (Wiyogo), dan Teguh Beriman  -- Tertib, Tangguh, Bersih, dan Nyaman -- (Suryadi Sudirdja).

Yojana (visi) kepemimpinan Anies dengan menghidupkan fungsi utama mendidik warga, merupakan upaya kongkret untuk menggerakkan akselerasi pencapaian visi kolektif yang termaktub dalam Peraturan Daerah No.1/2018 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah. Yakni, "Jakarta kota maju, lestari dan berbudaya yang warganya terlibat dalam mewujudkan keberadaban, keadilan dan kesejahteraan bagi semua." Parameternya, tersimpan dalam sesanti, "maju kotanya, bahagia warganya." Tantangan utamanya, penegakkan keadilan sebagai sumber masalah.

Itu sebabnya, proses pembangunan Jakarta dalam kepemimpinan Anies, merupakan proses memperjuangkan kata-kata menjadi realitas. Inisiatif-inisiatif yang jelma ke dalam gagasan, jelas dan gamblang narasinya. Lantas terurai dalam perencanaan dan tertampak, terasakan oleh pengalaman (empiristik) siapa saja.

Dinamika perubahan yang digerakkan Anies, melintasi gagasan perubahan Jakarta dari the big village (kampung besar) yang diubah secara radikal oleh Ali Sadikin -- dengan perencanaan jangka pandang 25 tahun, kemudian terbiarkan -- nyaris tanpa perubahan nyata, kecuali betonisasi kali (kanal) dan pembangunan RPTRA (ruang publik terpadu ramah anak) -- berselimut corporate social responsibility perusahaan mitra -- di era Basuki Tjahaya Purnama (Ahok). Anies memberi aksentuasi pada fungsi kepemimpinan yang tersembunyi, dan bahkan nyaris babak belur (pada periode 2014 - 2016). Membuka kembali ruang partisipasi aktif dan kritis warga.

Bagi saya, Anies tak bisa dibandingkan dengan gubernur DKI Jakarta siapapun, termasuk Ali Sadikin. Pendekatan dan aksi kepemimpinan Anies berbeda. Anies tidak menempatkan rakyat sebagai warga Jakarta sebagai obyek pembangunan, melainkan subyek yang punya daya setara dengan pemerintah sebagai pengemban amanat sekaligus pelayan rakyat.

Asumsi-asumsi yang berkembang sebagai perspektif dalam kepemimpinan Anies mengisyaratkan perubahan yang nyata. Karena dunia berubah dan perubahannya bergerak cepat dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam pemikiran imagineering (rekacita), realitas hari ini, nyaris tidak ada hubungannya dengan realitas kemarin, kecuali dalam obsesi dan impian kelam (dark dreams) kaum pecundang seperti disebut sebagai hambatan.

Sesanti yang ditawarkan Anies, "Maju Kotanya Bahagia Warganya," bermuara pada keadilan dan diperuntukkan bagi semua orang. Spirit ini menjadi asa kolektif, namun dipandang sebagai tembok besar penghalang bagi mereka yang senang dengan ketidak-adilan. Sekaligus terbiasa hidup dalam dikotomi dan telah akut teracuni oleh penyakit bawaan, "yang penting gue hepi."

Wibawa kepemimpinan Anies yang cendekia, tak kan goyah dirongrong kaum pecundang alias communauté d'ordures, yang sibuk dengan intelektualisme -- karena bersekolah tinggi dan gagal memahami hakekat ilmu, pengetahuan, dan teknologi dalam genggamannya -- tapi kehilangan daya intelektualitas. Lantaran terbiasa dengan laku yang jauh dari akhlak.

Episode kepemimpinan Anies, merupakan "angin utara, berembus kala pagi, asa terbentang." Menawarkan kehangatan dan kesegaran untuk mengubah creativity kick off menjadi terobosan inovasi (innovation breakthrough) untuk beroleh temuan-temuan kemajuan baru (invention). Tapi selalu dirasakan sebagai angin yang menghantar panas menyengat dan meluruhkan obsesi siapa saja yang ingin mengangkangi Jakarta.

Dari sudut pandang ini, saya meyakini, aksi kepemimpinan Anies melalui kayuhan sepeda, senyum lepas, narasi dan diksi yang menunjukkan akhlak, diksi yang mencerminkan keberanian untuk tegas menjatuhkan sanksi (punishment), bijak memberikan ganjaran baik (reward), supaya kehidupan di Jakarta bergerak lebih cepat mencapai suasana kota yang tertib, disiplin, aman, nyaman, dan membahagiakan.

Antusiasme kerja Anies, terkait dengan kesadaran kepemimpinannya yang berpijak pada prinsip hing ngarsa sung tulada, hing madya mangunkersa, tutwuri handayani (di depan memberi teladan, di tengah mengembangkan motivasi, dan di belakang melakukan kontrol). Sekaligus mematut diri dengan prinsip, "punya tangan gak asal nyabak, punya mata gak asal ngeliat, punya kuping gak asal ngedenger, punya idung gak asal ngendus, punya mulut gak sekate-kate, punya kaki gak asal ngelangkah."

Dedikasi Anies dengan sendirinya dihidupkan oleh simpati dan empati untuk mau dan mampu mengapresiasi, menghidupkan respek dan amanah diwujudkan lantaran cinta. Dengan begitu dia tidak sensitif kritik. Segala makian dan cerca disimpannya pada tempat yang sesuai, trash basket.

Anies dengan kepemimpinannya mendidik warga Jakarta bersikap modern : sehat, cerdas, mampu (secara sosial ekonomi), lestari (sustnaible mindset). Dia bekerja dalam irama, siminaalimi se'l pemangko kureh ( dalam spirit orang Minahasa). Memberikan hasil kerjanya untuk menambah kebahagiaan dan sukacita kolektif warga.

Nah.. melihat Anies dan kiprahnya dengan jendela hati terbuka, tidak lewat lubang kunci, akan beroleh deskripsi luas. Terutama, karena kita manusia, diberikan instrumen penting oleh Tuhan untuk melihat sesuatu dengan jernih. Yakni: nalar, naluri, rasa, dan indria. Sikap saya tentang pemimpin seperti Anies sederhana, "kian banyak yang mencerca dan memakinya, kian dalam saya mengenali dan mengungkap kebajikannya." |

Editor : Web Administrator
 
Polhukam
20 Nov 19, 11:24 WIB | Dilihat : 678
Fokuslah Kepada Nasib Korban
02 Nov 19, 10:19 WIB | Dilihat : 699
Anies Baswedan versus Orang Separo
22 Okt 19, 12:18 WIB | Dilihat : 211
Tetty Paruntu dan Perencanaan Karir Partai Golkar
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 898
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1341
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 513
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 937
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya