Mengintip Langkah Anies R. Baswedan

Melawan Covid 19 dengan COVID

| dilihat 363

N. Syamsuddin Ch. Haesy

Tak perlu memuji Anies Rasyid Baswedan sebagai pemimpin, karena dia tidak memerlukan itu.

Anies bukan pembalap yang sedang melintas di track balapan dengan kecepatan tinggi yang kudu menurunkan kecepatannya ketika pembalap lain berkeringat dingin melawan diri sendiri.

Anies juga bukan selebritas yang memerlukan tepuk tangan dan pujian dengan standing occasion.

Anies sedang berpacu dengan virus corona - Covid-19, nanomonster asal Wuhan - China yang berkembang cepat penularannya ke seluruh dunia, meski menurut banyak ahli kesehatan, tingkat mortality death (tingkat kematian)-nya lebih rendah dibandingkan dengan penyakit mematikan lainnya.

Anies sedang berpacu dengan ketidakseimbangan sistem pelayanan kesehatan, tenaga kesehatan, dan infrastruktur kesehatan dengan populasi korban yang tertular bergerak bilangannya sangat cepat.

Anies sebagai Gubernur Jakarta, sebagai pemimpin rakyat yang memperjuangkan keadilan, sedang berpacu dengan waktu untuk memastikan penyebaran nanomonster Covid-19 terputus dan rakyat terselamatkan. Terutama karena Jakarta merupakan episentra penyebaran virus itu.

Anies tak ingin apa yang dialami Italia, Iran, dan Amerika Serikat, tiga dari berbagai negara yang keteteran menghadapi percepatan penularan virus itu.

Tak hanya karena organisasi kesehatan dunia (world health organization) sudah menyatakan  Covid-19 merupakan pandemi global yang memerlukan respon cepat seluruh negara di dunia.

Jauh dari itu lagi, karena ketidakmampuan menghambat atau memutus penyebaran virus ini akan berdampak pada terjadinya proses dehumanitas, peluruhan kemanusiaan sampai ke titik paling nadir.

Sejak Desember, ketika nanomonster ini bergerak di Wuhan, Anies dan Pemerintah Provinsi Jakarta sudah merespon gerak cepat penyebaran virus ini dan dampak yang akan terjadi. Karenanya, sejak awal dia memberi berbagai isyarat dan peringatan dini (early sign and warning) semua pihak kepada bangsa ini untuk waspada. Lantas beraksi kongkret dengan langkah-langkah responsi dan antisipasi yang cepat, diperkuat oleh cara dan manajemen logika kebijakan (way and logic of policy) berorientasi pada penyelamatan rakyat.

Kendati pada saat itu dan Januari 2020, banyak petinggi pandir yang melecehkannya disertai serangan bertubi-tubi, serentak, dan serempak oleh kaum pandir ikutannya yang menuding Anies menebar kecemasan.

Isyarat dan peringatan dini yang dikemukakan Anies bukan diterima sebagai isyarat untuk bersiap diri merespon segala kemungkinan yang bakal terjadi. Karena kepandiran serempak, yang dilakukan adalah menangkal isyarat yang disampaikan Anies dengan berbagai cara. Termasuk menebar virus kepandiran (saya sebut cipeung virus) yang melasak dengan pernyataan, "yang berbahaya bukan virusnya, melainkan kecemasan yang ditebar."

Data mutakhir pemerintah yang disampaikan jurubicara Achmad Yurianto di Graha BNPB pada Senin, 30 Maret 2020, tercatat 1.414 kasus - karena terjadi penambahan 129 pasien. Sudah 122 pasien yang dinyatakan meninggal dunia, termasuk profesor farmasi, sejumlah dokter, dan petugas kesehatan yang menangani mereka.

Penyebaran virus dari Jakarta ke berbagai daerah lain di Jawa, diperkirakan akan meningkat, bersamaan dengan penjelasan Presiden Jokowi, bahwa telah terjadi arus mudik dalam jumlah besar, 14.000 orang dalam 8 hari terakhir.

Bisakah kita menghambat penyebaran Covid-19? InsyaAllah bisa. Sepanjang seluruh kalangan termasuk masyarakat luas, disiplin dan patuh terhadap upaya yang dilakukan. Terutama perpanjangan masa isolasi diri (karantina pribadi) - tidak keluar rumah, bekerja dari rumah, menjaga dan memelihara kekebalan tubuh, dan pemerintah melakukan langkah lebih kongkret yang mungkin diikuti oleh seluruh rakyat. Termasuk menjamin logistik, baik untuk masyarakat perkotaan, pinggiran kota, dan perdesaan.

Setarikan nafas, juga menempuh berbagai kebijakan cepat mendahulukan keselamatan rakyat dengan mengurangi beban yang dapat memicu situasi underpressed dan understressed di sektor ekonomi. Termasuk gerak cepat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan kalangan industri keuangan dan perbankan untuk melakukan relaksasi. Terutama yang berkaitan dengan beban bunga kredit yang dipikul rakyat, karena tanpa kebijakan yang tepat akan mempercepat proses pemiskinan. Muaranya adalah krisis moneter, yang akan menggiring bangsa ini tergelincir ke dalam krisis kala pertumbuhan ekonomi hanya bergerak antara 2 persen - 0 persen pada tahun 2020.

Belajar dari langkah yang ditempuh Anies Rasyid Baswedan dalam mengelola kepemimpinannya yang tak gentar menghadapi kecaman kaum pandir dan anti kemanusiaan, melalui media sosial, nanomonster Covid-19 harus dihadapi dengan cara cepat dan tepat, bukan dengan alasan cupet dan akal-akalan. Targetnya awalnya adalah menghadirkan transparansi - kejelasan situasi.

Anies Baswedan melawan Covid-19 dengan COVID (cooperation, optimism, vitality, integrity, dan dedication), suatu memetika (virus akalbudi) positi untuk menghidupkan renjana (gelora semangat) ikhtiar, perlawanan dan kesungguhan memutus mata rantai penyebaran virus ini.

Cooperation atau kerjasama seluruh kalangan, termasuk elemen masyarakat diperlukan untuk menghambat terjadinya bencana sosial yang jauh lebih parah, yaitu pemiskinan. Penentunya adalah pemerintah yang harus tangkas, cerdas, tuntas, dan ikhlas mengambil kebijakan-kebijakan strategis yang kelak memudahkan proses pembalikan kemiskinan, ketika serangan Covid-19 reda.

Optimisme atau semangat optimistik berpengharapan bagi seluruh rakyat dengan dimulai oleh pemastian, bahwa negara hadir bersama rakyat melawan virus dan memastikan pemerintah bersama seluruh kalangan, memperkuat benteng pertahanan yang kokoh, sehingga pejuang kemanusiaan (para dokter dan tenaga medis) di garis depan dapat bekerja sesuai dengan kapasitas, kompetensi, kapabilitas, dan juga terlindungi. Secara paralel, kalangan agamawan, cendekiawan, media, dan lainnya bahu membahu menghidupkan ketahanan spiritual dan ruhaniah, bahwa ujian Tuhan ini akan berakhir. Sekaligus menebar hikmah, bahwa di balik kondisi yang mengalirkan derita ini, selalu ada inspirasi dan kemudahan untuk bangkit.

Vitality atau daya hidup, harus terus dibangunkan dengan langkah-langkah dan kebijakan yang terukur, bukan aksi yang 'tiba masa tiba akal.' Salah satu cara untuk mewujudkan daya hidup ini adalah memastikan fokus dan prioritas penyelenggaraan pemerintahan dan negara saat ini, adalah menyelamatkan rakyat - warga negara sesuai dengan amanat konstitusi, lain tidak. Seluruh wakil rakyat bertanggungjawab untuk menggerakkan vitalitas rakyat di daerah pemilihannya masing-masing, meski dengan cara bekerja dari rumah. Pun demikian halnya dengan siapa saja yang masih mempunyai formalitas di sektor masing-masing. Dalam konteks ini, sekurang-kurangnya negara mesti mengambil inisiatif untuk menjamin ketersediaan pasokan listrik dan komunikasi, termasuk jaringan internet. Hal ini untuk menjamin berlangsungnya proses 'bekerja dari rumah,' sungguh efektif dan efisien. Di sini, prinsip IoT (internet on think) sungguh diuji. Dalam konteks votalitas ini, juga pemeliharaan inisiatif-inisiatif kreatif dan positif. Terutama memberantas informasi wadul (hoax) dengan memberikan sanksi kepada para penyebarnya, bukan malah memelihara buzzer.

Integrity atau integritas, meliputi kualitas diri (kejujuran, ketulusan, kesungguhan, kejelasan, akuntabilitas, tanggungjawab, kewajaran, dan kemandirian) seluruh aparatur negara, sampai ke tingkat desa, dan bahkan dusun atau kampung, diperlukan. Inilah momentum paling strategis dan emas bagi siapa saja yang mengemban amanat untuk membuktikan dirinya sebagai pemangku amanah yang benar dan adil, komunikatif dan dapat diandalkan, dan cerdas. Mampu memilih prioritas dalam menerbitkan kebijakan, tidak mudah menempuh jalan pintas yang akan menyengsarakan rakyat berkepanjangan. Menghindari diri dari kepentingan sesat sesaat. Terutama dalam menghidupkan kesadaran dan antusiasme positif, kolektif yang mampu menghidupkan simpati, empati, apresiasi, dan respek, sehingga mampu menghidupkan kecintaan mendalam kepada rakyat dan bangsa ini, sebagaimana kecintaan kepada keluarga, serta masa depan generasi baru. Sekarang ini momentum untuk mencatatkan kualitas peran diri dalam sejarah perjalanan bangsa yang kelak akan dibaca anak-cucu.

Dedication atau dedikasi. Tunjukkan kepada dunia, bahwa seluruh pengemban amanah di negeri ini, termasuk yang berada di luar pemerintahan sesuai dengan bidang profesinya masing-masing untuk membuktikan dirinya sebagai pengemban civil servant dan civic mission, yang sungguh mau dan mampu melayani rakyat dengan pelayanan terbaik. Termasuk mewanti-wanti seluruh petugas lapangan untuk melakukan cara-cara yang tidak memicu kisruh sosial yang bisa memicu krisis politik.

Anies Rasyid Baswedan sebagai pemimpin adalah model yang sudah memulai langkah melawan Covid-19 dengan COVID. Tak ada salahnya para pemimpin lain yang sedikit melakukan hal yang sama di tengah situasi bangsa yang surplus petinggi dan minus elite (kashshas) masyarakat yang sungguh mampu jadi panutan.

Lupakan urusan politik praktis dengan segala pikiran sesat yang menyertainya. Lawan Covid-19 dan utamakan rakyat. Kita akan mampu melakukan upaya membangkitkan bangsa ini dari keterpurukan ekonomi dan politik, tapi kita bukan Tuhan yang mampu menghidupkan manusia yang mati dengan segala sansai yang menyertainya. Bila setiap kita mampu berkontribusi pemikiran dan semangat positif, yakinlah, kita mampu melawan Covid-19 ini dengan COVID.

Bagi umat Islam virus COVID-19 harus dihadapi dengan COVID19, yakni COVID -- cooperation (ta'awanu alal birri wat taqwa), optimism ( sesuai hadits Rasulullah Muhammad SAW, "Seandainya esok tiba kiamat, sedangkan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit kurma, sebelum kiamat tiba hendaklah dia menanamnya" - HR Ahmad, Bukhari, Ath-Thayalisi, Ibn Arabi, dari Anas r.a), vitality ( QS al Insyirah 94 - Faidzaa faraghta fanshab, wa ilaa rabbika farghab -  bila kamu telah menyelesaikan sesuatu urusan (menyelesaikan masalah) - kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan - tugas) yang lain, hanya kepada Rabb-mu sajalah engkau berharap), integrity (Hadits Rasulullah riwayat Bukhari dan Muslim, "Pemimpin yang khianat dan menipu rakyat, haram surga baginya") dan dedication (QS Adz Dzaariyaat 56: Wa ma khalaqtu jinna wal insa ilaa liya'buduun - tidaklah aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk berdedikasi kepada-Ku) -- 19 rakaat salat khusyu' (17 rakaat salat fardhu: 2 subuh, 4 dzuhur, 4 ashar, 3 maghrib, 4 isya' plus minimum 2 raka'at salat lidaf'il bala' - salat menolak tulah - bala). |

(Karantina Hati - Kebon Jeruk, Selasa 31.03.20)

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
22 Mei 20, 08:48 WIB | Dilihat : 422
Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma dalam Kenangan
21 Mei 20, 00:28 WIB | Dilihat : 85
Ke Mana Nalar Keadaban
15 Mei 20, 04:27 WIB | Dilihat : 83
Khalwat
09 Mei 20, 09:06 WIB | Dilihat : 255
Tantangan Cendekiawan Muslim Sejati
Selanjutnya
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1016
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1856
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1550
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya