Mbak Tutut

| dilihat 319

SAYA biasa memanggilnya Mbak Tutut. Selama beberapa tahun, saya menjadi anak buahnya, ketika bekerja di Televisi Pendidikan Indonesia.

Betul, yang saya maksudkan adalah Hj. Siti Hardiyanti Rukmana.

Lama saya tak jumpa. Persisnya, sejak 2004, jelang Pemilihan Presiden secara langsung pertama kali.

Suatu malam, bersama almarhum Sys NS saya bertamu ke rumahnya, untuk mengkonfirmasi dukungan Mbak terhadap pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Jusuf Kalla (JK).

Semalam, tak sengaja, saya jumpa seorang teman lama. Entah bagaimana mulanya, kami berbincang tentang Mbak Tutut.

Sikap saya tak akan pernah berubah untuk melihat Mbak Tutut dan keluarganya dari sudut pandang yang obyektif, termasuk berbagai pengalaman berinteraksi dengan beliau selama menjadi anak-buahnya. Artinya, hubungan kami lebih banyak hubungan fungsional dan proporsional.

Sepanjang menjadi anak-buahnya, bila tak dipanggil, nyaris saya tak pernah datang ke rumahnya. Karenanya, ketika bersama almarhum Sys NS, kami mengunjunginya di tengah riuh banyak aksi demo ke Jalan Cendana (Kediaman Presiden Soeharto), kami biasa-biasa saja.

Tak seperti yang banyak dicelotehkan orang – mungkin hanya karena “katanya” – di mata saya, mantan Menteri Sosial ini, sesosok pribadi yang hangat dan manusiawi. Kami sering bercanda dengan candaan yang cerdas.

Karena sama senang menulis puisi, tak jarang perbincangan kami – bila bertemu – menukik ke arah sastra dan lagu, khasnya puisi. Mbak memang gemar menulis lirik dan juga menggubah lagu.

Mbak Tutut terbilang pribadi yang menyenangkan. Darinya saya banyak belajar tentang ‘unggah-ungguh.’ Termasuk belajar menghargai pendapat orang lain. Sebagai pimpinan, dia tak alergi dengan sikap saya, sebagai anak buah, yang oleh pimpinan lain, kadang dianggap nyelenéh.

Di jiran Malaysia dan Filipina, nama Mbak Tutut cukup populer. Di Malaysia, dia dianggap sebagai salah seorang yang menjadi penular kesadaran untuk membangun lebuh raya (jalan tol).

Selama bekerja di Malaysia, tak jarang para petinggi di negara jiran itu, menunjukkan apresiasinya yang besar terhadap Mbak Tutut, sebagaimana besarnya apresiasi mereka terhadap almarhum Presiden Soeharto.

Bagi Perdana Menteri Mahathir Mohammad, Pak Harto tak hanya mitra kepemimpinan se kawasan dan peletak dasar perhimpunan negara-negara Asia Tenggara (Association of South East Asia Nation). Secara personal, Tun Mahathir menempatkan almarhum Pak Harto, laiknya abang.

Dalam memperlakukan anak buah, Mbak Tutut sangat melihat profesionalisme dan kompetensi. Dia juga sangat menghargai kreativitas dan inovasi yang dilakukan.

Sikap semacam itu menjamin kalangan profesional yang bekerja dengannya dapat mengambil jarak tertentu, sehingga dapat berkontribusi berdasarkan loyalitas terhadap gagasan. Bukan sekadar loyalitas personal.

Hal itu yang memungkinkan TPI memelopori programa siaran Kuliah Subuh pertama di Indonesia – yang kemudian diikuti oleh stasiun televisi lain. Itu juga yang memungkinkan TPI memberi ruang yang luas bagi kreativitas kalangan seniman, baik musisi maupun sineas berekspresi.

Saya, yang bertanggungjawab terhadap operasional penyelenggaraan siaran TPI, tak merasa terbebani dengan apapun berbagai kepentingan, kecuali liputan siaran kirab remaja.

Sikap itulah yang memungkinkan dalam programa siaran – karena latar sebagian besar karyawan – karyawati kala itu – TPI, ruang untuk musik dangdut dan sinetron lokal (antara lain : Mat Angin, Semarak Dangdut, Kuis Dangdut, Kabayan Orang Beken, Madu Racun dan Anak Singkong, Pepesan Kosong, Lenong Bocah, Ngelaba, dan lainnya) bisa hidup dan berkembang.

Dalam hal materi politik, meski Mbak Tutut menjadi pengurus dan aktivis Golkar, sikapnya terhadap pemberitaan pihak lain, tak tertutup.

Justru ketika TVRI membatasi liputan aktivitas Mbak Mega (yang lahirnya sama dengan Mbak Tutut, tanggal 23 Januari) yang kala itu baru memulai PDI Perjuangan, Mbak Tutut memungkinkan TPI memberikan peliputan aktivitas Mbak Mega dalam programa berita Selamat Pagi Indonesia.

Ada hal yang tak terlupakan. Ketika direksi TPI rada was-was ketika saya tunjukkan materi film dokumenter The Raiding Tiger – yang berisi pandangan kritis (sekaligus ramalan) momen berakhirnya kekuasaan Pak Harto. Mbak Tutut – yang kala itu hadir dalam kegiatan pasar film televisi – MIPTV di Cannes – Perancis, malah antusias menonton film dokumenter itu.

Setahun kemudian saya keluar dari TPI, saya mengambil sikap mufarraqah – keluar -- lantaran kebijakan direksi terkait iklan bir. Tidak saja karena iklan tersebut bertabrakan dengan program Kuliah Subuh dan Lazuardi Imani, tetapi – menurut saya – juga tidak klop dengan performa Mbak Tutut – yang semenjak pulang berhaji mengenakan kerudung.

Tak berapa lama, 1998 Pak Harto meletakkan jabatan sebagai Presiden RI. Tak berapa lama, ketika Mbak Tutut ngunduh mantu pernikahan Dandy Rukmana, saya diundang dan hadir.

Dari teman itu saya peroleh kabar, sekarang Mbak Tutut – meski dalam sikap Tutwuri Handayani – aktif kembali dalam kegiatan Partai Berkarya yang dibentuk adiknya, Tommy Soeharto.

Sosok perempuan Indonesia yang memegang teguh nilai-nilai budaya Jawa dan akhlak, ini terlihat masih fresh dan – dari beberapa video di Facebook – saya lihat masih seperti dulu. Pun, masih bersikap baik dengan banyak orang. | Bang Sem

Editor : Web Administrator | Sumber : foto-foto dari blog Siti Hardiyanti Rukmana
 
Lingkungan
03 Okt 18, 15:25 WIB | Dilihat : 535
Gunung Soputan Minahasa Tenggara Meletus
01 Okt 18, 17:02 WIB | Dilihat : 399
Mari Menanam Kebajikan di Donggilu
29 Sep 18, 09:58 WIB | Dilihat : 347
Bangun Solidaritas Sosial Bantu Korban Gempa Sulteng
Selanjutnya
Energi & Tambang
25 Nov 18, 12:33 WIB | Dilihat : 326
Nicke Widyawati di Tengah Arus Transformasi Pertamina
24 Nov 18, 08:44 WIB | Dilihat : 143
Menjaga Marwah Jurnalis Via AJP2018
01 Agt 18, 13:45 WIB | Dilihat : 2759
Mendulang Kemandirian di Blok Rokan
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 781
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
Selanjutnya