Memperingati Wafatnya Moh Husni Thamrin

Mat Seni Cermin Perjuangan Kaum Betawi

| dilihat 419

Catatan Bang Sém

TELAH banyak beragam kisah dan cerita herois perjuangan Mohammad Husni Thamrin dituliskan dan dipublikasikan. Mulai dari kisah panjang perjalanan hidupnya, sejak dilahirkan di Sawah Besar (Jum'at, 16 Februari 1894) sampai cerita prosesi pemakamannya di Karet Bivak yang dibawa dengan kereta berkuda khusus kaum aristokrat, pada 11 Januari 1941, sebelum Indonesia yang dicita-citakannya merdeka.

Mat Seni, begitu allahyarham Mohammad Husni Thamrin biasa dipanggil oleh teman sepermainannya, kala tinggal bersama ncingnya (paman), selepas Tabri Thamrin dan Nurchomah, ayah dan ibunya wafat.

Dalam asuhan ncingnya itu Mat Seni mengalami proses tumbuh kembang dengan pendidikan memadai, di Institut Bosch, Gymnasium Konning Willem III.

Proses pendidikan yang memungkinkannya terus tumbuh dan berkembang sebagai pribadi khas kaum Betawi yang egaliter sekaligus kosmopolit, namun memiliki kepribadian khas, integritas diri yang kokoh dan keukeuh pada tujuan dan visi hidupnya melakukan transformasi. Tentu, dengan orientasi pada profesionalisme dan visioner. Setidaknya, seperti yang ditunjukkannya saat bekerja di lingkungan pemerintahan. Lalu di kalangan swasta, perusahaan ekspedisi Koninklijkle Paketvaart Maatscapij).

Secara sosio kultural, Mat Seni dipengaruhi oleh beragam sistem nilai, sebagaimana umumnya kaum Betawi yang tinggal di Jacatra, masa itu.

Nilai-nilai lokal kebetawian berdimensi Melayu, yang dalam banyak hal dipengaruhi oleh nilai-nilai Islam, nilai tradisi budaya pesisir (coastal culture) yang bersifat panoramis yang berinteraksi dengan nilai tradisi budaya sungai (river culture) yang bergerak konsisten dan tak kenal putus asa. Juga nilai yang datang dari Arab, Eropa dan China yang menularkan semangat trader nation dan visioneering, dan dinamis.

Karena itulah, dalam proses interaksinya dengan Daniel van der Zee, Mat Seni sangat mudah beradaptasi dengan prinsip - prinsip sosialisme sekaligus demokrasi.  Tak hanya ketika dia menjadi anggota Dewan Kota Praja (Gemeenteraad) pada usianya yang ke 25 tahun (1919). Bahkan, ketika harus mengisi kursi anggota Voolksraad (1927).

Mat Seni menerima posisi itu, karena melihat dimensi lain cara berjuang yang lebih moderat dengan siyasah kooperatif, ketika HOS Tjokroaminoto dan Soetomo memilih cara lain. Terutama, karena HOS Tjokroaminoto sebelumnya telah dengan lantang meneriakkan zelfbestuur - berpemerintahan sendiri pada Kongres I Sarekat Islam (Natico I - National Indische Congres) di Gedung Concordia (Gedung Merdeka, sekarang) di Bandung.

Pilihan itu dalam banyak hal juga terbabit dengan proses pembentukan karakter dirinya yang mengemban amanah ibunya, agar dia menjadi cendekia supaya mampu membela kaumnya, seperti yang diucapkannya dalam pidatonya saat dilantik menjadi anggota Gementeraad.

Juga pilihan perjuangan Perkoempoelan Kaoem Betawi yang memilihnya menjadi Ketua (1923) dengan tiga core prioritas pejuangan (sekaligus political pile) perdagangan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat, yang sejak beberapa dekade terakhir kita kenal dengan parameter keberhasilan human development index (HDI) - indeks pembangunan manusia.

Sejak pekikan awal dalam pidatonya di Gementeraad terkait dengan kampong verbetering, melalui perbaikan sistem drainase dan sanitasi kota berdimensi seratus tahun ke depan - bukan sekedar menghindari banjir.

Pekikan itu sebagai refleksi sekaligus manifestasi aktual dari konsistensinya memilih jalan populis modes dalam aksi sosio politiknya.

Pilihan orientasi dan metode yang dari sudut pandang budaya, berpegang pada prinsip 'pohon kokoh karena kekuatan pada akar, bukan batang, cabang dan ranting.'  Prinsip budaya politik: nancep di bumi, langit kesénggét, jangan ngambang, jangan melayang; jarak dengan penguasa boleh sedepa, jarak dengan rakyat jangan lebih dari sejengkal; adat budaya jarak tiada.   

Mat Seni membuktikan konsistensinya, memainkan peran strategis anggota Volksraad memediasi kepentingan rakyat dengan penguasa. Dia sangat lantang menyuarakan dan  memperjuangkan kesejahteraan kaum buruh (yang didukung para kerani, klerk).

Dia juga memperjuangkan penghapusan bleid pemerintah Hindia Belanda yang melarang operasi sekolah Muhammadiyah dan Taman Siswa, sehingga tahun 1933 sekolah-sekolah itu beroperasi kembali.

Mat Seni menjadi mashur di Sumatera, karena dengan lantang dia mengeritik perlakuan pemerintah Hindia Belanda terhadap buruh di Sumatera Timur, yang selain menuntut kerja keras dengan fasilitas sosial terbatas, juga membangun tempat maksiat (judi dan mabuk), serta aturan kejam hukum cambuk.

Kritik Mat Seni di Volksraad bergema ke dunia internasional, dan memantik reaksi keras Amerika Serikat, yang menandai awal 'perang dagang' di pasar tembakau dunia untuk tidak membeli tembakau Deli, selama Poenale Sanctie masih berlaku di perkebunan milik Belanda. Akhirnya, Poenale Sanctie dihapuskan.

Perjuangan politik berbasis kecendekiaan, itu beroleh apresiasi dari HOS Tjokroaminoto, Soetomo, dan tokoh lain. Mat Seni pun beroleh kepercayaan sebagai Ketua Fraksi Nasional. Di bawah kepemimpinan Mat Seni, Fraksi Nasional sangat kritis, lantang dan dengan kecaman pedas menghadang aksi pemerintah Hindia Belanda terhadap gerakan perjuangan kemerdekaan.

Langkah ini mendorong Kaoem Betawi memainkan peran dalam Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI), yang terbentuk sejak 1927 di Bandung. Lantas, Mat Seni terpilih sebagai Ketua, didampingi Otto Iskandar Dinata sebagai Wakil Ketua dalam Kongres organisasi ini di Surabaya.

Di lapangan politik praktis pun demikian, Mat Seni bergabung dalam Partai Indonesia Raya (Parindra) sebagai Wakil Ketua. Sejak Soetomo - Ketua - wafat pada 1938, Mat Seni memainkan peran memimpin partai ini.  

Pemerintah Hindia Belanda terus menguntit dan mencari celah untuk menghentikan aksi Mat Seni. Jelang Perang Pasifik, ketika Jepun mem-fait accomply rakyat Indonesia mendukung Jepun yang menuntut konsesi besar dalam pembelian minyak bumi dan batubara, pemerintah Hindia Belanda langsung menuduh Mat Seni berkolaborasi dengan Jepun. Dengan tuduhan itu, Mat Seni diisolasi sebagai tahanan rumah, sampai kemudian wafat, disaksikan dokter yang merawatnya, istri dan anak-anak angkatnya, dan Entong pembantu pribadinya.

Mat Seni adalah cermin perjuangan politik dan cendekia kaum Betawi. Di masanya, sebagai politisi dan tokoh cendekia H. Ridwan Saidi, Hj. Tutty Alawiyah, H. Zarkasih Noer, Fauzi Bowo, dan lainnya sudah melanjutkan langkah Mat Seni. Lantas, memasuki fase 'ada tapi tiada.'

Dalam banyak hal, dalam formatnya yang lain, pandemi Covid-19 mengisyaratkan situasi fenomena global dan nasional saat ini, sedang mengulang sejarah.

Transformasi budaya, resesi politik dan ekonomi global dan pola 'perang dagang' yang sedang bergerak ke Indo Pasifik, plus singularitas, transhumanitas, oligarki politik, oligopoli, kemiskinan dan pandemi saat ini sedang mengisyaratkan, kaum Betawi mesti kembali ke DNA perjuangan praktis politik dan ekonomi.

Dengan kualitas modalitas (insan dan sosial) yang jauh lebih besar dibandingkan dengan masa perjuangan Mat Seni, kondisi saat ini merupakan weak up call bagi kaum (muda - intelektual) Betawi untuk unjuk performa dengan kapasitas dan kompetensinya untuk berkiprah dengan orientasi outward looking. Jangan lagi sibuk bekutet di kandang kendiri. Perkumpulan cendekia Gerbang Betawi, sudah memulai proses transformasi menjawab tantangan itu.. |

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Energi & Tambang
Humaniora
25 Jan 21, 05:55 WIB | Dilihat : 150
Aslih
25 Jan 21, 00:26 WIB | Dilihat : 106
Virus dan Kematian itu Bukan Fiksi
24 Jan 21, 10:31 WIB | Dilihat : 132
Siapa Resik versus Siapa Jorok
23 Jan 21, 23:31 WIB | Dilihat : 134
Gubernur Anies Ingin Kaum Betawi Jeli Baca Perubahan
Selanjutnya