Masjid Apung di Tengah Aksi Transformasi Ancol

| dilihat 1252

catatan Sém Haésy

 

harapan petang

masjid apung dibangun

geliat ancol

Sabtu (9 November 2019), beberapa saat selepas salat ashar. Gubernur Jakarta Raya Anies Baswedan dan Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia, M. Jusuf Kalla, didampingi Direktur Utama Jaya Ancol, Teuku Sahir Syahali menekan sirine tanda dimulainya pembangunan masjid apung Ancol.

Upacara sederhana, itu sangat bermakna. Sahir Syahali dalam sambutannya mengabarkan transformasi Ancol yang menuju ke satu titik pencapaian dengan dua mata: profit dan benefit.

Aksi korporasi dengan misi semacam ini, memungkinkan diwujudkannya mimpi karyawan dan pengunjung taman impian Jaya Ancol memiliki masjid wisata.

Dengan sebutan Teuku di depan namanya, Sahir membawa gen kuat sebagai eksekutor sekaligus berdarah para pemberani yang jauh merantau melintasi samodera dan konsisten memegang teguh prinsip yang diwasiatkan Teuku Umar: udep saree, matee syahid, hidup mulia, mati syahid sebagai pengemban mission sacre rahmat atas alam.

Peristiwa itu kian bermakna, karena Sahir juga mengabarkan, arkitek yang berada di balik rancangan masjid, itu adalah Andra Matin, yang karib dengan konsep bangunan hijau, pantai, sungai, bidang prisma dan pola bangunan minimalis yang memungkinkan konstruksi bangunan disiapkan untuk masa yang panjang.

Seperti dituturkan Sahir, Andra Matin mendesain bangunan masjid apung Ancol dengan luas 2.00 meter dan disiapkan untuk mampu menampung 2.500 orang jemaah. Tak ada kubah, dome, dalam konsep rancangan yang menafsir konsep layar perahu pinisi dengan enam soko minaret (menara) berketinggian 25 meter -- simbol garis kenabian dan kerasulan, yang sekaligus menyiratkan prophetic continuity - perjuangan kebenaran hakiki berkelanjutan sekaligus rukun iman.

Bangunan sendiri  menegaskan bidang lima sudut pertanda rukun iman, sekaligus five moral principles (lima prinsip moral) -- termasuk Pancasila -- dalam keseluruhan konteks kebudayaan Indonesia. Bila dilihat dari udara, kata Sahir, akan nampak seperti bulan sabit.

Masjid didesain dengan kiblat ke titik multazam yang dalam konteks lokasinya di Ancol, melintasi laut lepas, mengikuti jejak panjang historikal perkembangan islam di Indonesia, baik dari barat (Samudera Pasai) maupun dari timur (Tidore). Kelak, menjadi titik berlian di garis lintas jaziratul al mulq, dari Malaka ke Maluku.

Bila hendak dikaitkan dengan peta wisata religius masa depan, ini akan menjadi rangkaian simpul-simpul masjid apung destinasi wisata yang menjanjikan harapan. Terangkai sejak dari Masjid Apung diu Corneisy - Saudi Arabia, Malaka (Malaysia), dan masjid sejenis di Makassar dan lainnya.

Perjalanan itu akan menjadi bagian dari aksi wisata islami, sebagai manifestsi firmal Allah, "Wa ja'alna bainahum wa bainal-qurallati barakna fihaa quran zahirataw wa qaddarna f?has-saiir, siiru fiihaa layaaliya wa ayyaaman aaminiin." (QS Saba' : 18) - ... Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkah kepadanya beberapa negeri yang berdekatan (berjiran), dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu -- jarak-jarak -- perjalanan. Berjalanlah (berkunjunglah) kamu di kota-kota ini pada malam hari dan siang hari dengan aman (nyaman).

Geliat Ancol, insyaAllah menjanjikan harapan masa depan yang baik dalam menghidupkan negeri yang dirahmati, aman, nyaman, sejahtera, adil, dan terbebas petaka kejahilan dan kejumudan.

Menyaksikan upacara itu saya segera mengembara untuk memahami pemikiran astronom dan filosof Persia, Abu Mashar al Balkhi tentang Kangdez, sentrum peradaban di masa lampau, sebelum terjadi pulau Sumatera dan Jawa yang terpisah dari Semenanjung Malaya dan Borneo di penghujung era es.

Desain Andra Matin yang imagineering basic-nya dalam bentuk rekarupa dan diperlihatkan di lokasi pemancangan pondasi, lebih dari apa yang saya bayangkan, ketika menulis narasi tentang lintas nilai peradaban Islam dan konteksnya dengan Ancol. Satu titik di sepanjang pesisir, antara Masjid Agung Banten - Masjid Luar Batang - Langgar Syekh Quro - Karawang, Masjid Ciptarasa - Cirebon, Masjid Demak, dan Masjid Giri Gresik.

isyarat petang

tiga titik komitmen

pesan gubernur

Pada upacara petang itu, Gubernur Anies Baswedan berharap, agar pembangunan masjid apuk yang berlokasi di Pantai Ria, itu: on schedule, on quality, dan on budget.

Bukan sembarang pesan. Ada nafas sosioreligius dalam pesan itu. Masjid adalah tempat salah ditegakkan, tempat umat islam dididik untuk punya agenda jelas dengan waktu yang tepat (shubuh, dzuhur, ashar, maghrib, dan isya').

Masjid adalah simbol pencapaian puncak kualitas (al islaamu ya'lu wa laa yu'la alaih) - islan itu (bermutu) tinggi dan tak tertandingi nilainya.

Masjid bukan hanya sentra ubudiah, masjid harus dikelola secara efektif, efisien, dan sesuai dengan prinsip good corporate governance - seperti yang dicontohkan para pengurus masjid, jelang khutbah.

Peringatan tentang: kewajaran (fairness), kejelasan (tranparancy), tanggungjawab (responsibility), kebertanggungjawaban (accountability), dan kemandirian (independency).

Bila proses pembangunannya diawali dengan sikap tersebut, harapan Gubernur dan seluruh stakeholders Ancol, khasnya pengunjung akan mewujud. Yakni, masjid apung Ancol yang didesain hemat energi, itu menjadi ikon sekaligus wahana untuk beroleh pengalaman unik. Termasuk untuk berkontemplasi.

Di situ, ucapan Anies, bahwa masjid ini mendorong pariwisata kultural yang berdimensi fungsi pembangunan sosial budaya -- tak hanya ekonomo (tijarah lantabur, bisnis berdimensi profit dan benefit) menjadi penting sebagai langkah awal. Dengan begitu, kriterium ikonik bisa dicapai, kelak.

Pesan H.M Jusuf Kalla (JK), Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia juga perlu direnungkan untuk menyempurnakan rancangan. Terutama, seperti kata JK,  karena bentuknya yang kontemporer dan futuristik, perlu penanda yang mudah diketahui khalayak, bahwa bangunan apung itu adalah masjid. Bukan convention hall.

Hal lain yang penting pula diakomodasi dari pandangan JK dalam sambutannya adalah perihal akustik masjid. Selain karena ada keperluan asasi 'mendengar dan menyimak,' bagi 80 persen jama'ah masjid; dan keperluan 'khusyuk beribadah: salat dan berdo'a.'

Dengan situs dan desain arsitektural masjid yang terapung di atas laut, pasal akustik memang menjadi penting. Apalagi, lokasinya relatif tak berjauhan dari Ancol Big City (ABC) yang kerap menjadi tempat pergelaran musik terbuka. Panggung musik lain di antara Pantai Ria dan ABC tentu bisa ditata ulang dengan eksplorasi efektif Pantai Festival dan pantai lain di Ancol.

Saya hanya membayangkan, kelak ketika masjid ini beroperasi dan penataan ulang Pasar Seni pun rampung, Ancol dapat sungguh menjadi destinasi wisata jasmani - rohani yang lengkap.

Ada wahana berekspresi dimensi kemanusiaannya di Pasar Seni, pengembangan wawasannya tentang bahari di Seaworld, Atlantis, Gelanggang Samudera, pengembangan fantasi di Dufan sekaligus ruang katarsis untuk mengekspresikan histeria insaniahnya. Dan ruang muhasabah di Masjid Apung.

Seperti kata Gubernur Anies Baswedan, sebelum mengayuh sepeda meninggalkan lokasi, "Kita duduk bareng untuk menyempurnakan rencana aksi pembangunannya." |

 

Baca Juga : Mimpi Karyawan di Sebalik Pembangunan Masjid Ancol.

Editor : Web Administrator
 
Seni & Hiburan
Budaya
28 Okt 19, 11:57 WIB | Dilihat : 502
Sumpah (Serapah) Pemuda
29 Agt 19, 14:19 WIB | Dilihat : 670
Mitra Binaan Pertamina Semarakkan Pameran Warisan
24 Agt 19, 17:24 WIB | Dilihat : 515
Kongko Bersama Kaum Muda Kreatif Betawi
Selanjutnya