Muerte Tarian Kematian Pelaku Seks Menyimpang

Majelis Nasional KAHMI Tolak Ideologi LGBT

| dilihat 1505

JAKARTA, AKARPADINEWS.COM | Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI), Senin (15/2/16) menolak dengan tegas paham/ ideologi yang membolehkan atau mengakui LGBT (lesbianisme, gay, biseksual, dan transgender).

Pernyataan sikap yang ditanda-tangani Prof. Dr. Mahfud MD (Koordinator Presidium) dan Ir. Subandriyo (Sekretaris Jenderal), itu mengimbau para pelaku LGBT dan para pendukungnnya untuk tidak lagi menyebarkan paham/ideologi dan perilaku ini kepada masyarakat dengan alasan HAM dan kebebasan, sehingga tidak merusak tatanan sosial yang sudah ada.

Majelis Nasional KAHMI, juga mengimbau kepada segenap warga masyarakat untuk tidak melakukan tindakan anarkis dan diskriminatif terhadap Pelaku LGBT. “Mari memberikan pemahaman dan ajakan kepada pelaku LGBT untuk sadar dan merubah perilakunya yang selama ini telah menyimpang dari fitrahnya,” ungkap pernyataan itu.

Selanjutnya Majelis Nasional KAHMI meminta kepada Pemerintah untuk melakukan upaya-upaya preventif dan kuratif kepada penyandang LGBT. Membuka klinik khusus untuk penyembuhan/rehabilitasi atau konsultasi para penyandang LGBT.

Menurut Majelis Nasional KAHMI, adanya kecenderungan korban penyimpangan seksual terus bertambah, terutama di kalangan anak-anak dan atau remaja. Oleh karena itu Pemerintah dan Pemangku kepentingan perlu memberikan perhatian khusus sehingga penyebarannya kepada anak-anak dapat dihentikan.

Dalam pernyataannya itu, Majelis Nasional KAHMI juga meminta kepada segenap ormas Islam dan para ulama untuk memberikan pemahaman seluas-luasnya kepada umat, terhadap bahaya LGBT dan legalisasinya.

“Pemerintah diharapkan dapat menfasilitasi program ini agar berjalan efektif dan terarah,” tegas pernyataan itu. Sekaligus menegaskan, penyimpangan seksual adalah problema umat manusia sejak dahulu kala. Bahkan dalam sejarah Nabi Luth AS dan kaumnya dikisahkan, penyimpangan seksual itu terjadi begitu terstruktur, sistematis dan masif sehingga dapat dikategorikan sebagai tragedi kemanusiaan. Akhirnya  turun azab dari Allah swt sebagai peringatan bagi umat manusia. LBGT sebagai bagian dari penyimpangan seksual adalah persoalan yang sudah lama menjadi kontroversi di luar negeri, terutama di Eropa dan Amerika.

Namun belakangan isu ini menjadi perbincangan hangat di Indonesia karena didorong publikasi yang masif dari kelompok pendukung LGBT akhir-akhir ini. Bahkan UNDP (United Nation Development Program), sebuah lembaga di PBB mengonfirmasi akan memberikan kucuran dana yang cukup besar tahun ini dalam “penanganan” LGBT di beberapa negara di Asia, termasuk Indonesia.

Berbagai kalangan telah memunculkan pendapatnya terkait propaganda LGBT di Indonesia, termasuk dari kalangan intelektual dan tokoh agama. Kenyataannya saat ini eksistensi penyandang LGBT benar adanya, bukan isu atau gosip belaka.

Para psikolog memberikan pengalaman praktisnya dalam menangani para pengidap LGBT, dimana faktor kebiasaan melihat pornografi sangat menonjol memberikan pengaruh terhadap penyimpangan seksual.

Kondisi sosial kita tidak bisa menerima praktik perkawinan sejenis, baik perempuan dengan perempuan maupun laki-laki dengan laki-laki. Tidak saja secara hukum positif, bahkan hukum agama jelas jelas menentang perbuatan itu. LGBT mengingkari fitrah manusia. Selanjutnya, bagaimana kita menempatkan masalah LGBT sesuai proposinya dan bagaimana solusinya.

Sebelumnya, di Medan – Majelis Daerah KAHMI dan FORHATI (Forum Alumni HMI-wati) juga menyatakan sikap yang sama secara formal. Kalangan alumni HMI lainnya, yang tergabung dalam berbagai grup whatsapp, juga menghimpun petisi senada. Bahkan, bersiap melakukan aksi demonstratif untuk menyatakan sikap tersebut. Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagaimana dikemukakan Ketua Umum-nya, Haedar Nashir.

Muerte – Tarian Kematian LGBT

AKARPADINEWS.COM, sebelumnya telah menurunkan artikel terkait hal tersebut, dan tegas mengemukakan, untuk tidak membiarkan aksi LGBT (melanda negeri ini. Tak ada tempat untuk mereka di negeri ini.

Pernyataan ini harus dipegang teguh oleh seluruh umat manusia di negeri ini. Tak hanya karena LGBT merupakan aksi yang mengabaikan akal budi dan akal sehat, juga karena LGBT bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan.

Mengaitkan LGBT dengan hak asasi manusia sama sekali tidak masuk akal. Karena sesungguhnya LGBT merampas dimensi kedalaman manusia, yang secara kodrati sudah jelas jenis kelaminnya, yaitu lelaki atau perempuan. Bahkan, bagi kaum khuntsa yang secara fisik berkelamin ganda, ada pilihan untuk memilih jenis kelamin yang lebih dominan dan berfungsi normal.

Bila manusia yang mengabaikan nilai-nilai budaya dan agama dipandang setara dengan hewan yang berakal, pelaku LGBT jauh lebih dari rendah dari hewan itu sendiri (http://www.akarpadinews.com/read/humaniora/tak-ada-toleransi-untuk-lgbt).

Para penganut faham – ideologi LGBT, sebagaimana yang berlangsung di Amerika Serikat, mengutip pernyataan Che Guevara untuk memperjuangkan aksi mereka: “Revolusi bukan apel yang jatuh ketika sudah matang, anda harus membuatnya jatuh.”  

Dalam konteks itu, melalui gerakan Human Right Watch, menyurati dan mendesak Presiden Joko Widodo. Dalam suratnya, direktur hak LGBT di Human Rights Watch, Graeme Reid, menyatakan, "Presiden Jokowi harus membuat pernyataan ambigu dukungan untuk hak-hak dasar dari seluruh masyarakat Indonesia dan berjanji untuk melindungi orang-orang LGBT dari serangan."

Pemerintah Indonesia harus membela hak-hak lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) dan melindungi mereka dari pernyataan orang per orang dan publik, dan mengutuk para pejabat yang berkomentar terlalu diskriminatif terhadap kaum yang berkelakuan menyimpang itu.

Human Right Watch menilai, sejak Januari 2016, berbagai pejabat pemerintah dan para tokoh masyarakat Indonesia telah membuat komentar publik yang merendahkan komunitas LGBT, dan menunjukkan bahwa negara dan pemerintah, serta pejabat lokal dan nasional terdidik telah mendorong perlakuan diskriminatif terhadap kelompok LGBT. Termasuk menghentikan aksi pencegahan HIV/AIDS di kalangan pria gay dan biseksual.

Sambil menyatakan Presiden Jokowi sebagai tokoh yang memperjuangkan pluralisme dan keberagaman, Graeme Reid menyerukan, "Presiden Jokowi harus segera mengutuk pernyataan anti-LGBT oleh pejabat. Ini adalah kesempatan untuknya menunjukkan komitmen (terhadap pluralisme dan keberagaman."

Dalam surat dan pernyataannya, Reid melukiskan, seolah-olah sudah terjadi aksi kekerasan terhadap kaum yang menyimpang secara seksual dan anti keberagaman itu. Dan dikesankan, mereka yang melakukan aksi itu dari kalangan umat Islam. Padahal, tak pernah terjadi penyerangan terhadap kaum lines, itu.

Akal sehat dan akal budi telah diabaikan oleh kaum berperilaku seksual menyimpang ini. Kejadian menyolok terjadi pada malam 2 November 1995, di Mexico, ketika mereka melakukan aksi demonstrasi dengan menyajikan tarian tarian interaktif dramatis mempersonifikasikan "Muerte" (kematian).

Di tengah ruang utama, sesosok tinggi mengenakan jubah hitam dan memakai masker tengkorak keluar untuk berdansa dengan siapa pun yang hadir. Semua orang harus menyentuh tangan Muerte, laki-laki dan perempuan, anak-anak muda dan tua, termasuk personifikasi kakek-nenek mereka.

Tarian itu merupakan tarian yang meratapi para lesbian, gay, biseksual, dan transgender yang tak kuasa melawan HIV/AIDS. Octavio Paz yang memimpin aksi menjelaskan, tarian itu merupakan perspektif kematian yang menakutkan mereka. Namun hendak mereka lawan sedemikian rupa.

Kala itu, sejumlah lelaki dan perempuan, anak-anak dan remaja terjangkiti HIV/AIDS yang mematikan, di Virgen de Guadalupe Family Center, tempat el Dia de los Muertos dipertunjukkan dalam demonstrasi.

Mulanya mereka menutupi kondisi mereka, seolah-olah HIV/AIDS bukan merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh perilaku seks menyimpang yang mereka anut. Belakangan, keluarga mereka kian paham, bahwa derita dan kematian akibat HIV/AIDS itu mereka ciptakan sendiri dengan perilaku seks menyimpang. Untuk merasakan solidaritas derita dan kematian, itulah kaum berperilaku seks menyimpang ini, memperluas aksinya, agar jumlah pengikutnya bertambah banyak.

Mereka juga menyebar penyalahgunaan narkoba,  yang selama ini mereka pakai untuk menipu diri sendiri, seolah mengenyahkan derita. Kian mereka bergerak, sebagian terbesar keluarga menolak ideologi yang sarat dengan penyimpangan di berbagai hal ini.  Masyarakat menentang aksi mereka yang menuntut berbagai kalangan, khususnya pemerintah meningkatkan toleransi terhadap perilaku mereka.

Di berbagai belahan dunia, setidaknya di Russia dan Singapura, Undang Undang yang mempertegas sikap anti perlakuan menyimpang itu (LGBT) telah disahkan oleh Presiden Putin dan Perdana Menteri Lee Hsien Loong. Bagaimana dengan Jokowi, Jusuf Kalla, dan Ade Komaruddin (Ketua DPR RI) ? | bang sem

Editor : sem haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Polhukam
20 Mei 18, 08:20 WIB | Dilihat : 609
Ke Jakarta Anwar Ibrahim Pelihara Ghirah Reformasi
19 Mei 18, 22:25 WIB | Dilihat : 830
Lima Tahun Najib Menabung Kekalahan
18 Mei 18, 21:12 WIB | Dilihat : 1222
Polisi Sita Uang dan Perhiasan Mewah di Rumah Najib
16 Mei 18, 23:23 WIB | Dilihat : 1382
Mencoreng Jelaga di Muka Sendiri
Selanjutnya
Energi & Tambang
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 526
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 937
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
15 Des 16, 21:23 WIB | Dilihat : 1192
Pertamina Serius Investasi di Hulu
Selanjutnya