LKB Telangkai Silaturrahmi

| dilihat 435

Bang Sém

Sabtu, 9 Maret 2019 di ball room Grand Hotel Cempaka, Jakarta Pusat, hampir separuh hari saya tak beranjak dari acara Rapat Kerja Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) yang dipimpin Beky Mardani.

Acara yang mengekspresikan intelektualisme Betawi dari sisi yang khas, itu mempertemukan lagi saya dengan sahabat lama, Hermawan Kertajaya, begawan marketing yang bersama Philip Kotler - begawan marketing dunia, tahun 2009 mengkili-kili dengan Rethinking ASEAN.

Juni 2007, separuh hari Mas HK datang ke kantor, lantas kami berdiskusi tentang tijarah, konsep entrepreneurship dalam Islam, sambil menyinggung prinsip tijarah lantabur (bisnis yang tak merugi) dan bagaimana Rasulullah Muhammad SAW, memberi teladan tentang beragam anasir bisnis, mulai dari branding, marketing, dan sales, sesuai panduan Al Qur'an.

Sebelumnya, Mas HK sudah terlebih dulu terlibat dalam urusan ketiga hal itu untuk Bank Muamalat. Perbincangan di kantor saya, lantas melipir ke sisi budaya, termasuk berbagai fatsoen nilai dari Aceh sampai Papua. Tentu, ihwal Walisanga, Cheng Ho, Sam Po Kong, dan Syekh Quro ikut kami diskusikan.

Tak terkecuali berbagai pemikiran yang berkembang ihwal peradaban mulai dari Avicena dan Ibn Khaldun, dan interaksi dagang kerajaan-kerajaan Nusantara dengan Melaka, Tiongkok, dan kemudian Eropa.

Tahun 2010, Mas HK dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Bambang Wibawarta,  mengundang saya hadir dalam studium general yang disampaikannya ihwal marketing dari sudut pandang budaya. Pemikiran segar mengemuka.


Guru matematik salah satu SMA di Surabaya (salahsatu muridnya, Jonan - Menteri Energi Sumberdaya Mineral) ini lantas alih profesi ke HM Sampoerna Group, yang lantas menginspirasinya mendirikan MarkPlus Inc.

Belakangan, Mas HK dan saya bersama-sama Tanri Abeng, Said Didu, Andi Ilham Said, Ilham Habibie, Mas Achmad Daniri, Almarhum Robby Djohan, Abdul Gani, Cosmas Batubara, dan beberapa profesional menjadi juri dalam pemilihan BUMN dan CEO BUMN paling kreatif dan inovatif. Termasuk melakukan penilaian atas eksekutif profesional perempuan di lingkungan BUMN.

Beberapa kali Mas HK mengundang saya menghadiri forum tahunan yang digelar MarkPlus dihadiri ribuan marketer. Mas HK kemudian membuat Marketing Forum BUMN. Saya di jurusan lain, imagineering mindset dan people relations.

Selepas 2014, relatif kami tak pernah berjumpa. Sebelum itu, pernah jumpa dalam satu kesempatan diskusi ihwal Marketing Paradox. LKB mempertemukan lagi.

***

Sambil menyimak sesi diskusi, Mas HK menyimak tekun apa yang dikemukakan Bang Karnedi (Dinas Pariwisata dan Budaya Pemprov DKI Jakarta) dan H. Mualif ZA (DPRD DKI Jakarta). Hanifah Husein, yang menjadi salah seorang manager pioneer Bank Muamalat (kini pengusaha) menelepon, dia kaget saya beritahu sedang bersama Mas HK. Akhirnya gantian ngobrol, bertiga. "Ngapain di acara Lembaga Kebudayaan Betawi?" tanyanya. Dia mafhum ketika kami saling memberitahu lembaga yang strategis ini.

Lepas dari itu, sesekali kami memberikan garisbawah diskusi panel yang dipandu Muhammad Sulhi, anak muda Betawi yang piawai memainkan roll sebagai moderator itu.

Sesekali Mas HK menggarisbawahi pendapat kedua panelis dan mengambil inisari kebijakan dan idealistic frame yang mengemuka dan mewakili cara pandang pemerintah dan politisi. Lantas, menghadapkannya dengan presentasi khas yang akan disampaikannya, "Branding Budaya Betawi sebagai Ruh Budaya Jakarta."

Di penghujung diskusi panel, saya keluar ruangan untuk membuat simpulan sesi panel diskusi, karena 'ditugaskan' LKB membuat rangkuman diskusi panel itu.

Saya mengurut bahasan panel diskusi itu, dan memberi aksentuasi pada Peraturan Daerah No.1/2018 tentang RPJMD DKI Jakarta 2017-2022, termasuk berbagai statement dan Governor Brief terkait dengan seni, budaya, dan kebudayaan, sejak Gubernur Anies Baswedan dilantik. Lantas mengkorelasikan secara neck to neck dengan Peraturan Daerah No. 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian dan Pengembangan Budaya Betawi, termasuk intuitive reason, mengapa LKB berdiri pada tahun 1977. 

Termasuk perubahan tren sosiobudaya masyarakat Jakarta, minimal lima tahun ke depan. Termasuk frame of think (FOT) Mas HK, baik yang terkait dengan Marketing 4.0, Citizen 3.0, dan beragam dimensi yang terkait dengan itu. Globalisasi ( a la Soros) di satu sisi dan Glokalisasi (a la Philip Kotler) di sisi lain. Tentu, dengan mengambil range pemikiran peserta rapat kerja yang berada antara pelestarian dan pengembangan.

Saya juga membuat point-point focal concern LKB, karena ketika diskusi panel berlangsung Mas HK menyebut sekira 13 kali menjadi juri Abang dan None Jakarta, dan begitu perkembangan dinamis kaum Betawi sejak Gubernur Sutiyoso sampai Gubernur Anies Baswedan. Ketika orientasi bisnis bertumpu pada marketing dan belum mengubah orientasi lebih luas. Termasuk  paradigma aksi marketing dengan preposisi dari product centric ke costumers centric,  serve dan delivery.

Dalam obrolan yang diselingi canda, saya dan Mas HK juga mengulik sejenak ihwal jarak seniman sebagai produsen, LKB sebagai produser, dan masyarakat sebagai costumers, termasuk perkembangan generasi millenials (kaum alaf 21) dengan beragam varian. (Baca: Hermawan Kertajaya Memandang Betawi sebagai Peradaban)

Sambil bercanda, banyak sekali leap of think dan perubahan sikap Mas HK yang sangat menarik, sampai akhirnya dia berbisik, "Kita harus bantu LKB." Isyarat tersirat dari pernyataan itu adalah karena sesuai dengan prinsip reorientasi nilai dimensi sosio-budaya akan menjadi kata kunci. Di situ, brand tidak hanya bertumpu pada sekadar merk yang merefleksikan produk barang dan jasa, brand adalah janji kepada costumers tentang kualitas produk dengan beragam perniknya.

Kata kuncinya adalah reorientasi dari making product ke promise of quality produk itu sendiri, karena marketing paradox lebih cenderung memusatkan perhatian pada value (nilai). Dalam konteks budaya, lompatannya sangat jauh.

Mas HK menegaskan Betawi 4.0 sebagai peradaban. Di tempat yang sama, pada Kongres Kebudayaan Betawi 2011, saya menegaskan hal yang sama. Apa yang dikemukakan Mas HK lebih dahsyat, karena secara langsung mengkoneksikan pemahaman tentang Betawi sebagai peradaban dalam keseluruhan konteks kebangsaan, Betawi sebagai spirit yang mengalir dalam berfikir global dan bersikap Indonesia.

Pertanyaan dasar yang tersirat dari Mas HK adalah: Apakah Betawi merupakan maverick inovatif dalam konteks peradaban Indonesia ke depan? Apa yang andal dan berbeda (secara khas dari Betawi)? Maknanya adalah jangan memposisikan Betawi hanya sebagai etnis, karena dimensi peradabannya jauh lebih besar dari itu.

Untuk memformulasikan itu, Mas HK bersedia membantu penuh. Menyediakan dirinya, bahkan kantornya untuk melakukan elaborasi khas. Kalau Mas HK sudah bicara seperti itu, dia konsisten, tinggal lagi bagaimana LKB mesti merespon.

LKB telah menjadi telangkai silaturahmi saya dengan Mas HK, pun para pendiri LKB, mantan pengurus LKB, dan kampiun praktisi dan pendidik seni budaya Betawi, seperti Sarnadi Adam, Abdul Chaer, Yasmien Shahab, Tuti Tarwiyah, Yahya Andi Saputra, Yoyo, dan generasi muda Betawi yang kreatif lainnya.  |

Editor : Web Administrator
 
Budaya
18 Mei 19, 01:58 WIB | Dilihat : 251
Gubernur Anies di Sela Ifthar Bamus Betawi
24 Mar 19, 21:09 WIB | Dilihat : 384
Sepercik Ihwal Kelembagaan Kebudayaan
11 Mar 19, 08:08 WIB | Dilihat : 363
Hermawan Kertajaya Memandang Betawi sebagai Peradaban
Selanjutnya
Lingkungan
24 Mar 19, 11:13 WIB | Dilihat : 611
Surat Gubernur Anies Baswedan untuk Pekerja Proyek MRT
06 Mar 19, 12:36 WIB | Dilihat : 336
Sungai Bersih dan Masjid Jamek Pesona Khas Kuala Lumpur
02 Mar 19, 00:45 WIB | Dilihat : 376
Beranda Jakarta dan Rekacita Masjid Terapung Ancol
27 Feb 19, 13:14 WIB | Dilihat : 343
Jangan Menutup Matahari dengan Jemari
Selanjutnya