Pengajian dan Diskusi Virtual FORHATI

Kembalinya Kesadaran tentang Peran Perempuan

| dilihat 114

Pengajian dan diskusi virtual yang digelar Majelis Nasional Forum Alumni HMI-wati (FORHATI), Rabu (6.04.20) memercikkan pemikiran menarik di balik situasi psikososial dan situasi ekonomi yang membuat masyarakat was-was. Terutama, karena tidak adanya tanda-tanda valid, kapan pandemi global yang dirunyamkan oleh nanomonster COVID-19 ini akan sirna. Tak hanya di Indonesia, tapi di seluruh dunia.  

Hanifah Husein, Koordinator Presidium Majelis Nasional FORHATI dalam pengantar pengajian dan diskusi virtual yang dipandu Betty Noor Idroes, itu mengemukakan, bila didekati secara hikmah. pandemi global ini, banyak memberi pelajaran bermakna bagi kehidupan keluarga.

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai solusi utama untuk memutus matarantai penyebaran virus yang telah banyak memakan korban dengan kematian, ini telah mengingatkan kembali kita, bahwa keluarga dan rumah itu merupakan tempat yang paling strategi untuk perlindungan diri.

PSBB, antara lain menyerukan siapa saja untuk berada di rumah saja. Belajar di rumah, bekerja dari rumah, jaga jarak, jaga kebersihan jasmani rohani, dan lain-lain.

"PSBB dengan segala anjuran itu, menghidupkan kembali keluaga. Sekaligus mengingatkan perempuan untuk tidak melupakan peran fungsional utamanya, menjadi manager keluarga. Menjadi simpul keharmonisan keluarga," ungkap Hanifah.

Wanita karir, tentu paaling merasakan kebijakan PSBB sebagai solusi untuk berperang melawan virus COVID-19, ini.  "Biasanya banyak di luar, makan di luar, dan seluruh urusan rumah tangga banyak dilakukan oleh asisten rumah tangga, kini harus ditanganinya langsung. Seperti  reorientasi lagi," tambah Hanifah.

“Itulah hikmah peristiwa ini. Kaum ibu -- terutama wanita karir --, diingatkan dan disadarkan kembali atas fungsi utamanya sebagai al madrasatul ula - pendidik pertama dan utama bagi anak-anaknya. Sekaligus memainkan peran diri yang lebih nyata sebagai isteri, nenek, dan sebagainya," lanjut Hanifah.

Karenanya, Hanifah mengajak semua keluarga besar Forhati untuk kembali menjalankan peran-peran strategis dan fungsional perempuan, untuk menghidupkan harmoni di dalam keluarga.

Pengajian dan diskusi itu menghadirkan pembicara : politisi dan aktivis perempuan Dr Hj Reni Marlinawati, yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) - Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati - Bandung; Dr Lely Pelitasari, Komisioner Ombudsman Indonesia, dan Ida Ismail Nasution, aktivis senior Forhati.

Tak kurang dari 30 peserta daring -- dari Sulawesi Barat, Kalimantan, Sumatera, Pulau Jawa, dan Jakarta--, terlibat dalam pengajian dan diskusi,  itu.

Dr Hj Reni Marlinawati membahas peran ibu di tengah situasi pandemi Covid. Dia mengatakan, wabah ini berdampak sangat luas. Dari data yang ada, yang paling terkena dampaknya adalah kaum perempuan dan ibu.

“Beberapa waktu lalu organisasi dunia bernama United Nations Population Fund merilis bahwa yang paling terkena dampak Covid-19 ini adalah perempuan, terutama karena 70 persen tenaga kesehatan -- yang berperang dengan wabah ini di garis paling depan -- adalah perempuan,” ujar Reni.

Sebelum membahas peran perempuan di masa Covid-19, Reni  menjelaskan kedudukan perempuan dalan Al Quran.

Dikatakannya, selama ini terbentuk minda, bahwa laki-laki ditempatkan pada posisi superior dibanding perempuan. Laki-laki telah dilebihkan sebagian dari pada perempuan, termasuk boleh poligami.

Menurut Reni, dalam struktur sosial -- yang paternalistik -- kaum laki-laki tampak lebih tinggi derajatnya dari perempuan. Lebih kuat dari perempuan, bahkan warisan pun setengah lebih dari perempuan. Reni betanya: kenapa Al Quran tidak banyak menjelaskan tentang superiortas laki-laki.

Saat bersamaan, Al Quran dan hadits banyak membahas kemuliaan untuk perempuan. Rasulullah juga menyampaikan 'surga itu terletak di bawah kaki ibu.' Bahkan ada satu sesanti, bahwa perempuan adalah tiang negara. Rusak perempuan maka rusaklah negara itu.

“Namun selain itu, ada empat takdir yang diberikan oleh Allah kepada perempuan. Pertama adalah haid atau menstruasi, kedua kehamilan, ketiga melahirkan dan keempat menyusui,” katanya.

Reni juga mengatakan, ada yang sebenarnya yang kelima. Tapi menurutnya, bukanlah takdir, hanya berasal dari hadits bahwa perempuan adalah peran utama perempuan dalam konteks long life educations bagi anak-anaknya.

Sayangnya, kata Reni, realitas sekarang banyak ibu melepas tanggungjawab mendidik, setelah anak-anak masuk sekolah. Seolah-olah, "Setelah masuk sekolah selesailah tugas mendidik anak," kata Reni.

“Tetapi di dalam PSBB ini, ada sesuatu yang sangat berharga. Bagi saya, masa PSBB ini menegaskan dan mengkonfirmasikan hadits Rasulullah bahwa peran ibu itu betul-betul yang utama bagi anak,” katanya.

Menurut Reni, PSBB memungkinkan ibu-ibu hari ini melaksanakan tugas utamanya, anak-anak belajar di dan dari rumah, maka yang terdepan membimbing anak-anak adalah ibu.

Karena iru, PSBB ini memberi kesempatan bagi ibu untuk lebih dekat, melakukan pendampingan, membimbing anaknya tadarus, doa-doa, etika, sopan santun, dan seterusnya.

“Ketika Allah memuliakan perempuan karena tugas dan bebannya yang berat, maka dalam kehidupan sehari-hari peran ini tidak akan berjalan dengan sempurna tanpa peran bapak-bapak. Itulah dalam Islam bahwa bapak adalah imam dari perempuan,” kata Reni.

Menurut Reni kemudian, di masa PSBB ini, peran perempuan -  ibu-ibu menjadi segala-galanya. Bahkan bukan saja dalam peran mendidik anak, tepi dalam situasi Covid-19 ini menjadi penentu.

Pembicara lain, Komisioner Ombudsman RI, Dr Lely Pelitasari melihat konteks sosial dan ekonomi dari dampak Covid-19, sambil  menceritakan pengalamannya satelah terpapar positif Covid-19.

Dia mengatakan, setelah positif kena virus corona, ia memutuskan keluar rumah dan masuk rumah sakit khusus Covid-19 di Wisma Atlet. Sebab, Lely khawatir menjadi carrier bagi keluarga satu rumah.

Beban kekhawatiran itu mempengaruhi psikologisnya. Namun Lely bersyukur, partisipasi warga, utamanya Ibu-ibu tetangga, mmbesarkan semangatnya.

“Selama saya di rumah sakit, satu rumah itu diurus ibu-ibu tetangga. Karena tidak ada dari dalam rumah yang bisa keluar. Jadi yang berdiri di pagar itu ibu RT,” kata Lely Pelitasari.

Selain menjaga, ibu-ibu tetangganya juga aktif membantu menghubungi keluarga lain mengabarkan keadaan di rumah. Jadi inilah juga peran ibu-ibu di masa Covid-19 ini.

“Tapi secara keseluruhan dalam konteks PSBB, sekarang saya melihat perempuan dalam posisi dua hal. Pertama sebagai korban langsung, dan kedua sebagai warga terdampak,” katanya.

Sebagai warga terdampak, ini ada beberapa aspek. Pertama aspek sosial seperti para kisah-kisah para medis yang kemudian nggak bisa kembali ke tempat kos. Dan itu juga perempuan yang paling banyak.

Kemudian dari segi ekonomi bagi perempuan yang mencari nafkah, ketika kemudian diterapkan PSBB, multitasking-nya benar-benar diuji.

“Di luar cari nafkah, di rumah harus jadi guru, harus jadi koki, harus jadi satpam karena ngingetin minum vitamin dan segala macem gitu ya. Saya rasakan setelah kembali dari rumah sakit, berubah menjadi rewel kepada anak-anak,” ujarnya.

Yang juga menarik untuk dilihat dalam PSBB ini dan konteks ekonomi adalah ketika bansos itu disalurkan dalam bentuk natura atau barang ini mirip dengan raskin (beras miskin). Pertentangan antara raskin atau cash transfer itu sekarang bergulir kembali dalam konteks nansos.

“Kita di Ombudsman baru membuka posko daring melalui jalur online dan WA, dengan email itu kalau dilihat laporan yang masuk, yang paling banyak dilaporkan dari per hari ini baru kita buka 5 harian itu sudah 200-an pengaduan masuk dan 66 persen atau 137 di antaranya itu tentang bansos,” kata Lely.

Bantuan itu banyak dilaporkan bermasalah. Apakah itu kurang jumlahnya, tidak kebagian, dan lain-lain, di mana paling terdampak adala ibu-ibu dan kemudian yang juga menerima manfaat di keluarga adalah ibu-ibu.

“Kalau dilihat dari aspek itu, maka sesungguhnya bagaimana pemerintah bisa memberikan pilihan-pilihan dari bantuan sosial yang ada,” katanya.

Senior FORHATI, Ida Ismail Nazar Nasution memberi pandangan ihwal peran perempuan. Terutama peran domestik dan sosial kader hijau hitam untuk melawan Covid-19. | T. Uma

Editor : Web Administrator
 
Sporta
22 Okt 19, 13:15 WIB | Dilihat : 1016
Pertamax Turbo Ajak Konsumen ke Sirkuit F2 Abu Dabi
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1856
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1550
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
Selanjutnya
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 1193
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1584
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 775
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 1196
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya