Kelitik Kopi di Warönk Uma’

| dilihat 460

SEJAK beberapa bulan lalu, di bilangan Jakarta Selatan, tepatnya di Jalan Lenteng Agung Raya No. 31 – Jagakarsa, sudah beroperasi Warönk Uma.’ Warung khas dengan sajian masakan Melayu.

Saya menyebut warung ini, sebagai warung selera khas para Sultan, diracik dengan ikhlas, dan terjangkau oleh kantung siapa saja.

Setiap Selasa dan Kamis, halaman parkir Warönk yang tak begitu luas, itu dipadati oleh mobil aneka merek dan jenis : jeep dan sedan.

Pada tengah hari di dua hari itulah, di sini sejumlah tokoh dan figur prominen datang menyantap nikmatnya Nasi Kuning, Woku, Sate Kambing, Bubur, dan aneka menu lainnya.

Sofian Mille, pemilik warung ini, sambil lalu cerita, mulanya gagasan membuka Warönk makan yang terjangkau konsumen siapa saja, ini datang dari anaknya. Belakangan, sang anak sibuk dengan aktivitasnya.

“Mau tak mau, uma’ – ibu – nya turun tangan,”tutur Sofian.

Nama Uma’ memang diperoleh dari sebutan atau panggilan untuk ibu di lingkungan masyarakat Melayu ( ada juga yang menyebut mamak, omak, dan emak).

Maka, tersedialah aneka hidangan khas rumah tangga yang biasa disajikan sehari-hari.

Kabar tentang waung ini cepat menyebar. Kemudian berdatanganlah beberapa sahabat lama pemiliknya, yang memang mantan aktivis dan mantan politisi.

“Teman-teman datang setiap Selasa dan Kamis, selepas mereka berjalan sehat di Ragunan,”cerita Sofian, yang mantan anggota DPR RI dan Bupati Luwuk Banggai, itu.

Lantas, Warönk ini jadi medium silaturrahmi para mantan aktivis mahasiswa itu. Di warung inilah bertemu, mantan menteri, mantan pejabat tinggi kementerian, mantan direktur BUMN, budayawan, dosen, dengan mantan aktivis yang menjadi wartawan, pengusaha, pengacara, peneliti, eksekutif profesional, dan lain-lain.

Warönk yang semula untuk ‘persinggahan’ bagi ‘burung-burung metropolitan’ yang tinggal di Depok dan bekerja di Jakarta, itu pun berkembang.

Lahirlah di sini beragam gagasan. Antara lain, menyelenggarakan diskusi publik yang direncanakan bulanan. Dimulai dengan diskusi publik tentang tata kelola keuangan haji.

Kepala Badan Pengekola Keuangan Haji (BPKH) Anggito Abimanyu, datang ke warung ini, berdiskusi dengan anggota DPR RI, Khatibul Umam Wiranu dan wartawan berbagai media.

Warönk Uma’ pun populer, lantas mengundang para mantan aktivis mahasiswa lainnya datang berkunjung. Silaturahmi kian hangat.

Kehangatan silaturahmi, itu ditingkah berbagai kelakar, mulai dari kelakar sosial (misalnya: ihwal kemoceng, kontrasepsi, dan sejenisnya yang lucu-lucu) sampai kelakar politik. Sofian menyebutnya Kelitik Kopi, kelakar politik komunitas pinggiran, karena warung ini memang terletak di pinggiran Jakarta.

Beberapa kali terlihat di Warönk Uma’, mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang – Ferry Mursidan Baldan, mantan Deputi Kepala BNP2TKI Ade Adam Noch, mantan anggota DPR RI: Afni Achmad, Darul Siska, dan lain-lain.

Di lain kesempatan juga terlihat para akademisi dan dosen beberapa perguruan tinggi, khasnya Universitas Indonesia santap siang di Warönk Uma’ yang menyajikan ikan laut segar dan populer dengan nasi kuningnya.

Sofian menyebut Warönk Uma’ sebagai warung terbuka. Siapa saja boleh bertandang dan menikmati menu khas melayu di sini.

“Artis yang punya masalah rumah tangga, bisa juga mendapat solusi di sini, karena di sini bisa ketemu ahli memesrakan rumah tangga,” kata Sofian.

Pun, begitu juga untuk mereka yang ingin menatap masa depan lebih baik. “Pendek kata, di warung ini boleh berbincang apa saja yang baik, rencana hidup yang hasanah..,”cetusnya.

Sofian berharap di Warönk Uma’ tersemai kebaikan dan kebajikan, sehingga aneka hidangan yang halal, nikmat, dan terjangkau kantung siapa saja, itu bisa berbuah berkah.

“Ayo datang ke sini, menikmati santapan raga, memperkaya batin, menyehatkan jiwa, dan memelihara optimisme.., pungkas Sofian |  Bang Sem

Editor : sem haesy
 
Budaya
11 Des 17, 13:07 WIB | Dilihat : 152
Museum MACAN Katarsis Menyegarkan Bagi Jakarta
17 Nov 17, 06:56 WIB | Dilihat : 533
Masjid Raya Al Mashun Sisa Digjaya Kesultanan Deli
21 Okt 17, 09:27 WIB | Dilihat : 1131
Ruh Budaya Betawi dalam Lukisan Sarnadi Adam
06 Okt 17, 17:21 WIB | Dilihat : 1529
Choreopainting Revki dan Daya Magis Biola
Selanjutnya
Energi & Tambang
05 Des 17, 20:09 WIB | Dilihat : 269
Kelola Sumberdaya Alam secara Efisien
19 Des 16, 10:43 WIB | Dilihat : 647
Perlu Kesadaran Kolektif untuk Efisiensi Energi
15 Des 16, 21:23 WIB | Dilihat : 866
Pertamina Serius Investasi di Hulu
Selanjutnya