Kejujuran Pergi Menjemput Petaka

| dilihat 324

N. Syamsuddin Ch. Haesy

Ketika kejujuran menghilang, ketika itulah kita melihat kiamat (akan) tiba.

Kala kanak-kanak dan mengaji di madrasah diniyah, kalimat ini seringkali diulang-ulang ustadz yang mengajar kami.

Saya tak tahu persis, kalimat itu pernyataan Rasulullah Muhammad SAW atau kata hikmah.

Kalimat itu saya temukan lagi tahun 2009, lewat tulisan Aisha Stacey, bertajuk L'honnêteté (2008). Aisha meyakini, kalimat itu bersumber dari Rasulullah Muhammad SAW.

Aisha mengawali tulisannya dengan menyatakan isyarat kejujuran yang pergi dan raib, sebagai salah satu indikator tibanya kiamat. Kiamat yang dimulai dengan rangkaian bencana dan petaka. Mulai dari bencana sosial yang bermuara pada bencana kemanusiaan.

Mengacu kepada ungkapan itu, tulis Aisha, orang-orang saleh berduka.  Terutama kini, ketika kita sedang memasuki era kebohongan yang disebut era post truth, sebagai cindai kala abad ke 21.

Berangsur-angsur kejujuran pergi menjauh dari kita dan menghilang. Akal sehat dan akalbudi ditanggalkan, diganti dengan akal-akalan. Rasionalitas insaniah yang menandai seseorang sebagai manusia, dirampas dan sekadar menjadi hayawan an nathiq, hewan yang berakal, karena ilmu pengetahuan dan teknologi telah digunakan secara sadar dan terencana untuk lebih memuliakan emosi katimbang rasio. Lantas, masyarakat - negara - bangsa menjadi ajang permainan (laiknya games) melalui proses pembebalan sistemik.

Aisha menulis dengan kalimat lugas: "Nous attendons des gens qu’ils soient honnêtes envers nous, mais nous éprouvons un certain plaisir à regarder des émissions télévisées ou des films qui font l’éloge du mensonge et de la tromperie." Hari ini, di abad ke 21, kita hidup di dunia, dimana kejujuran tak lagi dihargai dan dihina. Kita berharap (hidup ) bersama orang jujur, tetapi kita menikmati tontonan acara TV atau film yang memuja-muja kebohongan dan penipuan.

Aisha menuliskan hilangnya kejujuran, menyambut petaka (kiamat) tiba dengan kalimat yang perih.

Secara penetratif - hipodermis, televisi dan multimedia dengan multi channel dan multi platform, memaksa kita berada dalam situasi kikuk dan canggung menghadapi dinamika perubahan zaman. Hal itu tersebab hilangnya kejujuran sebagai 'ruh' peradaban.

Persis seperti isyarat dalam pantun Melayu: "diribut runduklah padi, dicupak datuk Temenggung; kalau hidup tidak berbudi, duduk tegak berdiri canggung // Tegak rumah kerana sendi, runtuh sendi rumah binasa; Sendi bangsa adalah budi, runtuh budi runtuhlah bangsa."

Pantun ini memberi amsal tentang adab dan keadaban, yang dihidupkan oleh kejujuran, nilai dasar yang menopang kemuliaan. Tapi pantun begini dan segala maknanya, dianggap kuno dan tak berguna oleh kaum pengikut post trust characters yang hidup bergelimang tipudaya dan kebohongan, memanipulasi kebenaran, mendahulukan pembenaran.

Mereka tak peduli, efek dari kebohongan yang mereka usung dan rayakan, menimbulkan luka dan pada masanya melumat mereka dari singgasananya masing-masing. Hal itu pasti bakal terjadi, ketika kejujuran sebagai kebenaran kembali datang sebagai daya dahsyat perubahan transformatif menuju kebaikan.

Kejujuran atau dalam istilah Latin, honest?tas, merupakan tolok ukur kualitas manusia atau disebut perilaku jujur. Kejujuran terkorelasi dengan kebenaran, kearifan, ketegasan, keberanian, rasionalitas, kematangan nurani, sikap jujur, adil, dan terhormat. Maknanya adalah: kejujuran merupakan indikator kualitas manusia yang tercermin dalam perilaku dan ekspresi diri dengan ketulusan dan koherensi, dan menjamin nilai-nilai keadilan dan kebenaran tegak di atasnya.

Kejujuran sering ditakuti oleh penguasa yang kumpeu (bebal) dan hanya berorientasi pada kekuasaan semata, bergerak sesuka hati dengan keinginan sendiri, melecehkan kebenaran, dan mengabaikan kemanusiaan.

Konfusius, filsuf Tiongkok (551-479SM), membagi kejujuran dalam tiga level.

Level dasar (Li), kejujuran dilakukan secara personal untuk memuaskan keinginannya sendiri, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, dari saat ia menunjukkan ketulusan.

Level menengah (Yi), kejujuran dilakukan untuk mematuhi prinsip moral keadilan, sambil mengandalkan timbal balik.

Level utama (Ren), kejujuran karena kematangan pemahaman seseorang untuk memahami orang lain dan orang banyak. Kejujuran yang diwujudkan secara nyata dengan dampak kebaikan dan kebajikan bagi orang banyak, melampaui kebaikan dan kepentingan diri sendiri. Pada tingkat ini, seseorang memperlakukan semua orang (yang lebih rendah, sama atau lebih tinggi kedudukannya secara sosial), sama dan setara.  

Kejujuran yang telah menjadi kebutuhan hidup, akan dilakukan tanpa beban dan akan menjadi nilai kebaikan dan kebajikan asasi. Tapi, proses pembiasaan hal tersebut sering dikalahkan oleh pembiasaan yang kita lakukan untuk hal yang sebaliknya: kebohongan, penipuan, dan manipulasi.

Misalnya, melatih anak berbohong melalui hal-hal yang dianggap ringan, yang akhirnya menjadi kebiasaan. Antara lain, menyampaikan informasi kepada orang lain, sesuatu yang tidak sesuai dengan fakta. Termasuk menerima mentah-mentah informasi tanpa melakukan verifikasi dan konfirmasi.

Padahal, menurut kejujuran adalah mengatakan (menyampaikan informasi tentang fakta dan peristiwa) yang sebenarnya dan bisa dipercaya; ia memanifestasikan dirinya dalam pemikiran, dalam kata-kata, dalam tindakan, dan dalam interaksi dengan orang lain.

Bahkan, itu lebih dari sekadar mengatakan yang sebenarnya, tulis Aisha, kejujuran juga berarti integritas dan pengertian moral. Islam menuntut pengikutnya untuk mengatakan yang sebenarnya dan jujur ??dalam segala situasi dan melarang mereka untuk berbohong.

 "Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah (kepada Allah) dan hendaknya kalian bersama orang-orang yang jujur (benar).»(QS 9: 119)

Ibn Kathir yang sangat terkenal karena interpretasinya terhadap ayat-ayat Alquran, menjelaskan makna ayat ini. Menurut Ibn Kathir, ayat ini mengandung makna: "Menjadi orang yang jujur ??dan patuh pada kebenaran berarti menjadi orang yang jujur ??dan melindungi diri Anda dari malapetaka. Ini juga berarti, berkat sifat ini, Anda akan dengan mudah menemukan hasil yang bermanfaat dari suatu masalah yang akan Anda hadapi. "

Orang-orang mukmin, orang yang benar-benar tunduk kepada Tuhan, memiliki beberapa ciri khas, salah satunya adalah kejujuran. Rasulullah Muhammad SAW merupakan contoh kejujuran yang sempurna. Bahkan sebelum misi kerasulannya, orang-orang menjulukinya al amiin (sangat dipercaya), as shadiq (yang benar atau jujur).

Sepanjang hidupnya, kejujuran melekat pada diri pribadi kehidupan Rasulullah Muhammad SAW, hatta dalam hal siyasah (politik). Karena kejujurannya dan tak pernah berbohong dalam hidupnya, beliau sangat dipercaya. Merujuk pada keteladanan ini, kejujuran mesti menjadi watak seorang muslim. |

 

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
19 Jun 19, 10:46 WIB | Dilihat : 205
Harapan Wirausaha Kreatif Malaysia di Bahu Dzuleira
27 Mei 19, 13:43 WIB | Dilihat : 196
Sang Pemandu
16 Mei 19, 11:03 WIB | Dilihat : 336
Utang Negara dan Pembangunan Sosial
25 Mar 19, 12:00 WIB | Dilihat : 816
Lompatan Kutu Anjing
Selanjutnya
Budaya
10 Jun 19, 14:52 WIB | Dilihat : 242
Menjadi Betawi
05 Jun 19, 20:28 WIB | Dilihat : 330
Bubur Lambuk Rasa Johor
18 Mei 19, 01:58 WIB | Dilihat : 398
Gubernur Anies di Sela Ifthar Bamus Betawi
24 Mar 19, 21:09 WIB | Dilihat : 431
Sepercik Ihwal Kelembagaan Kebudayaan
Selanjutnya