Kegelisahan Politisi Masa Lalu

| dilihat 349

Delanova

Jelang pilihan raya tiba merupakan masa yang paling menggelisahkan bagi politisi masa silam, yang -- karena usia -- terpaksa menyaksikan laku politik yang tak sesuai dengan fantasi mereka.

Terutama politisi pecundang yang membungkus akhir politik mereka buram dengan berbagai kilah tentang idealisme politik dan kisah-kisah herois hari yang kemarin, dan disunting dengan kealpaan mengingat laku lebih buruk yang pernah mereka lakukan.

Dan MacArthur, penulis Fort Collins yang tak takut pada hantu, menulis dalam situas Coloradoan (28.10.14), ekspresi pilu para politisi masa lalu yang kerap terganggu semangat gelisah melihat situasi politik negerinya.

Musim tibanya pilihan raya seolah menandai dimulainya musim gelap, ketika tirai yang memisahkan mereka (politisi masa lalu) yang (masih) hidup dari yang (sudah) mati ditarik ke belakang.

Lalu, mereka yang sudah mati itu, tengah berjalan di antara mereka yang masih hidup itu sebagai pecundang, sambil menggumam gerundel. Dan para pecundang yang masih hidup, yang membiarkan waktu 'memamah' usia mereka dengan segala 'penyakit tua,' seakan mendengar gumam gerundel itu.

"Aku seharusnya tidak memaafkan Nixon." Wah. "Sialan Truman itu." Whooo. "Sialan Kennedys itu." Whooo. Gerundelan di antara ranting kerik pokok tua yang jatuh, menimpa kepala salah seorang pecundang yang sedang merasakan encok atau kliyengan karena tekanan darah tak stabil.

Pecundang yang lain, terbahak. lalu mengulang-ulang cerita heroisme dan laku politik mereka mempemainkan sidang parlemen. Termasuk mengolah isu-isu politik, menjerat para menteri dan petinggi pemerintah di masanya.

Bahkan, urai MacArthur, ada di antara mereka yang menarik ingatan kawan-kawannya, yang tak sempurna lagi, jauh ke masa lalu. Ke masa ketika masih menjadi para aktivis.

"Inilah saatnya untuk berkumpul," tulis MacArthur. "Diakui atau tidak, dalam pikiran dasar kita, kita menjadi gelisah, seperti tupai yang mempertaruhkan nyawa di bawah roda mobil, mencari makanan untuk membawa mereka melewati masa-masa risau."

Berkumpul di masa tua, sembari bercerita tentang masa lalu, adalah sesuatu yang penting dan menarik bagi para pecundang, politisi masa lalu, tulis MacArthur.

"Sama halnya dengan kawanan robin yang mampir untuk minum dan berenang di birdbath sebelum pergi menikmati musim dingin di Arizona."

Politisi masa lalu - para pecundang di Amerika Serikat, digambarkan MacArthur, akan selalu kesepian di hari tua mereka. Bekumpul di alam terbuka adalah cara menemukan sukacita sesaat, sambil berlomba berkisah tentang peran penting mereka.

Hal itu menyenangkan, sebelum kembali pada keadaan pilu, "memandangi kebun yang tak usai dikerjakan, menumpuk kayu, atau menyimpan barang-barang kenangan." Gusar dengan realitas sunyi, ketika duduk di beranda rumah atau tepian kolam ikan, sambil tidak pernah sepenuhnya yakin, bahwa matahari akan kembali."

Sebelum tiba pada momen perenungan dan lupa bertanya, "Sudahkah kita melupakan ritme Bumi?" Beberapa pecundang, dalam sunyi, terseret momen dialog batin, "Jiwa kita tampaknya masih bergerak ke arah itu tetapi kita harus duduk diam dan membiarkan gema ini mencapai kita."

MacArthur menggambarkan seorang pecundang bergumam dengan narasi lirih. "Aku duduk dengan kucing tua di bawah daun sumac yang menyala-nyala. Daun emas dari pohon-pohon sekitar lainnya yang menakjubkan. Dan menyayat hati."

Bersama kucing tua-nya, politisi masa lalu itu, bermalas-malasan dengan bahagia di bawah sinar matahari. Dia menyaksikan kucing tua, itu berguling-guling, meratakan tubuh kurusnya dengan batu pasir taman.

"Saya juga ingin melakukannya. Menjadi satu dengan bumi," gumam politisi itu. Ia mendengar 'panggilan' halusinasi, dan bergumam lagi, "Saya mendengar bisikan samar beberapa hari. Suara-suara kecil di ujung taman. Saya akan memutuskan untuk keluar dan merasakan bumi berputar, mendengarkan pesan di dedaunan dan mengejar masa lalu saya di bawah tenda, yang sekali sekala dihangatkan api unggun."

Jalan Sunyi

Kegelisahan politisi tua menjelang tiba pilihan raya yang digambarkan secara baik oleh Dan MacArthur, adalah realitas yang tak bisa dihindarkan. Tak hanya pilihan raya umum, bahkan juga pilihan raya negeri.

Beberapa di antara mereka masih nampak bersemangat, meski sudah sakit-sakitan, karena masih berperan dalam partai politik yang mereka bangun bersama generasi baru, politisi jaman kini yang sudah lahap dengan politik transaksional.

Friksi dan konflik mereka di dalam satu partai, kini berubah menjadi pertentangan antar partai politik yang mereka dirikan. Semuanya membongkar rahasia kelam masa lalu, dan membuat situasi negeri menjadi bising, tak pernah berhenti gaduh.

Partai-partai politik yang mereka dirikan, mereka perlakukan laksana kucing tua teman bermain mengusir sepi. Sisa kemampuan retorika masa lalu, mereka asah kembali untuk membakar semangat kompetisi politik di antara politisi jaman kini.

Untuk menjaga stamina, mereka menjaga kebugaran dengan rutin berjalan kaki, mendaki bukit, dan membugarkan jasmani di tempat-tempat olah raga kebugaran. Namun, selalu saja mereka tak punya waktu untuk mengolah rasa, menyegarkan kembali akal budi.

Kegelisahan politisi masa lalu, selalu terpanggang oleh buncah percakapan teturu mereka. Ini juga yang membuat para pecundang yang tak lagi menjadi bagian dari partai politik - tetapi masih merasa menjadi pengendali partai, menghabiskan waktu mereka berada dalam percakapan di bawah pokok rindang dan tenda perkemahan.

Pilihan raya umum atau pilihan raya negeri, adalah momen yang menyediakan tungku bagi kegelisahan politisi masa lalu. Bahkan cenderung menjadi momen indah untuk meluahkan uneg-uneg menyaksikan jalannya pemerintahan. Apalagi, pemerintahan tanpa kuasa penuh. Pemerintahan koalisi.

Di beberapa negeri, momen pilihan raya umum dan pilihan raya negeri, bahkan menjadi momen untuk menanting spekulasi. Sedangkan zaman terus berubah dan bergerak ke masa depan, dan tak akan pernah menunggu siapapun yang tertambat di masa lampau atau di hari ini.

Mereka tak seberuntung politisi masa lampau yang sengaja memilih jalan sunyi, sambil menempa politisi generasi baru dalam senyap. Menanam benih kebajikan, yang kelak akan tumbuh sebagai kesadaran berbangsa yang sesungguhnya.

Boleh jadi benar, pandangan yang menginisiasi pentingnya negara mewadahi para politisi masa lalu dan politisi tua, berbagi pengetahuan dan pengalaman mereka di dalam rumah kebangsaan tanpa firqah.|

 

Editor : delanova
 
Lingkungan
27 Okt 22, 16:32 WIB | Dilihat : 159
Bukan Cuma Jual Kavling.. Men
30 Sep 22, 14:44 WIB | Dilihat : 249
Banten Al Muktabar
09 Jun 22, 11:39 WIB | Dilihat : 262
Bincang Keseimbangan Semesta di Tepian Tasik Putrajaya
Selanjutnya
Budaya
28 Okt 22, 07:08 WIB | Dilihat : 186
Demokrasi, Musyawarah dan Mufakat
02 Agt 22, 10:32 WIB | Dilihat : 282
Merawat Negeri Terindah di Dunia
07 Jul 22, 22:03 WIB | Dilihat : 359
Anies Bicara tentang Perpustakaan dan Pustakawan
Selanjutnya