Efek Politik Machiavelisma

Kedamaian Nice Terluka

| dilihat 114

Catatan Tiqué

Salah tempat mendulang kenangan indah di masa muda bagi saya adalah Nice. Kota ini ibukota Prefektur Côte d'Azur yang terus tumbuh sebagai kota terbesar kelima di Prancis.

Jauh sebelum diterkam pandemi Covid 19, arus migrasi lalu lalang manusia di Bandara Internasional Cote de Azur sangat ramai. Bandara yang terletak sekitar 6 mil dari pusat kota Nice, ini menjadi magnit tersendiri bagi siapa saja.

Tidak hanya karena menghubungkan Antibes, Cannes, dan Menton dengan berbagai kota di dunia, atau yang relatif paling dekat, kota-kota di Italia, seperti:  Genoa, Turin, Milan, Bologna, dan Florence atau kota Geneva di Switzerland, dan Barcelona di Spanyol. Tentu, Nice juga menjadi pintu masuk paling tepat untuk menikmati perjalananan ke Montecarlo di Monaco yang hanya sepenggalah (sekitar 14 kilometer).

Setiap tahun, setidaknya, dua kali kalangan selebritas dunia mampir di bandara ini, untuk bertemu dalam berbagai even seni, khasnya film di Cannes.

Keindahan Nice juga karena suasana kota yang jauh dari kebisingan, karena dengan luas 721 km2 kota ini hanya dihuni sekitar 1 juta penduduk dengan pesona Alpes Maritimes wilayah pantai Mediterania. Di zona Alpes - Côte d'Azur, Nice bersandingan dengan kota Marseille.

Nice adalah kota yang mempertemukan iklim pegunungan dan pantai. Inilah kota di Prancis yang paling telaten merawat taman aneka rupa. Kota dengan jumlah pepohonan terbanyak di Prancis, dengan pedestrian yang memanjakan pejalan kaki dan jalur sepeda yang nyaman. Sejak 2018, bahkan dilengkapi dengan jalur trem modern yang efisien.

Nice adalah kota paling layak untuk berkehidupan. Tak hanya karena peluang untuk berkehidupan yang relatif luas dan dinamis dengan berbagai agenda wisata yang tak pernah mati. Juga karena di kota ini, siapa saja bisa menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa depan. Termasuk bagaimana menikmati proses pengolah parfum dan segala produk toiletries.

Di kota ini, seni arsitektur masa lalu dan masa kini bertemu. Kota ini juga menyediakan sentra-sentra seni untuk memelihara apresiasi estetika dan artistika yang relatif kaya. Di kota ini, terdapat museum Henri Matisse, Marc Chagall, Niki de Saint Phalle, Arman dan Musée des Beaux-Arts, serta museum seni modern kota lainnya.

Di kota ini juga tersedia gedung tempat mempertontonkan berbagai lakon teater, ruang konser, bioskop a la cinepleks yang kemudian menjadi trend di seluruh dunia. Tentu, pergelaran opera.

Kesemuanya berkontribusi menjadikan Nice sebagai kota budaya dengan produk budaya berkualitas terbaik.

Nice yang juga sering disebut sebagai Nissa dari nama aslinya Nissa La Bella (dalam bahasa Niçard) yang berarti Nice yang cantik. Tahun 1912, Menica Rondelly mengabadikan keelokan Nice lewat lagu gubahannya, bertajuk Nissa la Belle.

Di kota ini, siapa saja masih bisa menyaksikan Terra Amata, sebuah situs arkeologi, bukti penggunaan api purba. Dalam banyak literatur diperoleh informasi, bahwa sekitar 350 SM, orang Yunani dari Marseille mendirikan pemukiman permanen di sini, dan menyebutnya Nikaia, yang diambil dari nama Nike, dewi kemenangan.

Selama berabad-abad, kota ini telah berpindah tangan berkali-kali. Lokasi dan pelabuhannya yang strategis memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kekuatan maritimnya. Namun, selama masa itu juga dikuasai Savoy, sebelum akhirnya menjadi antara tahun 1792 dan 1815 menjadi bagian dari Prancis. Sempat kembali ke tangan Piedmont-Sardinia sampai pada tahun 1860, dicaplok kembali oleh Prancis.

Kemolekan alam Nice mengusik hasrat para aristrokrat Inggris mengincar daerah ini untuk liburan musim dingin, pada abad ke 18. Untuk mengenang masa itu, pedestrian kota ini, sampai sepanjang Palm Beach bahkan sampai Avenue des Frères Roustan disebut sebagai Promenade des Anglais (Jalan setapak orang Inggris).

Di Le Cannet (Cannes) dan Juan Les Pins (Antibes) bangunan-bangunan permukiman para aristokrat Inggris masih berdiri kokoh dan terpelihara dengan baik. Di sekitar dekade 1980 - 1990 an suasana Cannes dan Antibes masih mempertahankan konsep permukiman kawasan pantai, dengan marina dan pasar ikan tradisional, termasuk berbagai restonya.

Di kawasan-kawasan itu, termasuk berbagai permukiman, masih dapat dilihat para orang tua lanjut usia bermain Pétanque (baca: petak) yang termasuk kategori olahraga boules dari bola besi, yang saya duga sebagai muasal dari bowling.

Salah satu yang khas dari Nice adalah masih ada jalur jalan berupa gang-gang sempit, khasnya di Old Nice.  Pesona ini melengkapi seluruh kawasan kota yang dapat dilihat dari berbagai sudut kota. Termasuk dari kawasan Old Nice sebelah pasar bunga dengan pasar terbuka di Cour Saleya.

Nice yang masih bertumpu di Old Nice, dengan hot spot kehidupan malam, kian diperkaya dengan La Libération, Place Garibaldi,  Place du Pin, dan pelabuhan.

Semua menawarkan suasana kota yang damai dan mengekspresikan pluralisma dan multikulturalisma, tapi belakangan, sejak tabloid Charlie Hebdo -- sejak 2015 -- kerap menghina nabi Muhammad, banyak kalangan humanis dan umat islam terusik. Aksi politik machiavellian yang diletupkan oleh pidato Presiden Macron, menodai pesona damai dan cinta di Nice.

Nice Terluka Lagi

Kamis, 29 Oktober 2020, kedamaian dan ketenangan terluka. Sebuah pisau menghabisi nyawa seorang tiga orang yang tersungkur di sekitar gereja tua. Kota di French Riviera itu pun kembali berduka dan dibekap trauma oleh serangan pelaku kriminal yang menteror di tengah serangan teror nanomonster Covid-19.

Tahun 2016, Nice 'tersedak,' ketika seorang imigran asal Tunisia melakukan serangan paling mematikan di Prancis, yang menewaskan 86 orang. Sekelomp0k orang yang sedang menikmati pesona kembgang api memperingati Hari Bastille, diseruduk truk yang dikendarainya.

Wajar, bila Walikota Nice Christian Estrosi, merasa geram, seperti dikemukakannya Jum'at (30 Oktober 2020) kepada radio Europe 1. Estrosi mendesak pemerintahan Macron mengubah Konstitusinya untuk mengesahkan undang-undang antiterorisme yang ketat.

Kemarahan dan keprihatinan tak hanya mengalir di darah Estrosi, tapi juga di kalangan muslim minoritas, yang akibat serangan Kamis malam, itu pasti menjadi sasaran kemarahan sosial. Ruang gerak hidup mereka akan semakin terbatas, karena menjadi sasaran kecurigaan.

Pasalnya, persoalan ini tak pernah diselesaikan akarnya. Usul-usul yang mengemuka cenderung menimbulkan persoalan baru di kemudian hari, seperti usul Éric Ciotti, seorang anggota parlemen yang mewakili wilayah yang mencakup Nice, yang meminta pemerintah mendirikan "Guantánamo bergaya Prancis" - merujukl ke pangkalan militer Amerika Serikat di Kuba tempat tersangka terorisme ditahan - untuk menahan orang-orang yang ditandai oleh badan intelijen sebagai risiko potensial tetapi belum dihukum karena kejahatan apa pun.

Semangat dialog dan diskusi tentang agama dan ideologi, menjadi sangat terganggu dan kemudian terhenti. Terutama, ketika Estrosi mengatakan, "Islam-fasisme adalah virus."

Kami memiliki bom permanen, orang-orang yang dicurigai melakukan kontak dengan seorang penyerang bersenjatakan pisau yang menewaskan tiga orang di sebuah gereja pada hari Kamis.

Kejadian di Nice tereksplorasi begitu rupa, bahkan ke seluruh dunia. Aurelien Breeden melaporkan untuk The NewYork Times, menteri dalam negeri Gérald Darmanin, mengatakan bahwa Prancis menghadapi ancaman terorisme tingkat tinggi dan "menjadi sasaran khusus" karena berteguh pada kebebasan berekspresi dan sekularisme.

Macron dan Darmanin tak juga sadar, perdebatan tentang kartun Nabi Muhammad telah terus membuat tegang hubungan Prancis dengan beberapa negara mayoritas Muslim sejak terbunuhnya Samuel Paty, profesor sejarah, oleh mahasiswanya dari Chechnya, seorang pemuda muslim.

Perlakuan Macron dan Darmanin berlebihan, ketika mengabaikan prinsip kebebasan dengan tanggungjawab dan toleransi yang kuat terhadap keragaman. Serangan seorang pria memasuki basilika Notre-Dame di Nice, pada Kamis, diduga merupakan ekses dari sikap Macron dan pemerintahannya yang mengabaikan aspirasi umat islam se dunia.  

Serangan di Nice, dalam laporan Breeden menyatakan, peristiwa di Nice mirip dengan pembunuhan Samuel Paty, yang telah menunjukkan kartun Nabi Muhammad di kelas dengan nada sinistik.

Penyebab ini tak pernah diungkap sebagai pemicu, karena Macron asik memainkan situasi untuk mendongkrak popularitas dan elektabilitasnya yang merosot, karena tak mampu mengatasi persoalan fundamental sosio ekonomi Perancis di tengah krisis pandemi dan resesi ekonomi berat.

Sejak pembunuhan Paty, polisi Prancis sesuai perintah petinggi, telah melakukan tindakan keras terhadap apa yang mereka anggap sebagai ekstremis Islam di Prancis, melakukan lusinan penggerebekan, menutup sementara sebuah masjid besar dan membubarkan dua kelompok yang mereka tuduh "mendukung Islam radikal" dan ujaran kebencian. .

Setelah serangan itu, Presiden Macron bersumpah Presiden bahwa Prancis akan melindungi hak atas karikatur yang telah dikecam oleh beberapa pemimpin Muslim. Pejabat Prancis semakin marah atas serangan verbal itu.

Darmanin berkata, “Kami sedang berperang, menghadapi musuh yang merupakan musuh internal dan musuh eksternal. Kami tidak berperang melawan sebuah agama, tapi melawan ideologi, ideologi Islam. "

Dan Jean-Yves Le Drian, menteri luar negeri Prancis, mengatakan di Parlemen pada hari Kamis bahwa Prancis tidak dapat menerima "kampanye disinformasi dan manipulasi" terhadap Prancis oleh mereka yang "menggambarkan komitmen kami terhadap kebebasan fundamental sebagai serangan terhadap kebebasan beribadah.

"Transisi dari" kebencian virtual ke kekerasan nyata "berlangsung cepat, kata Le Drian, meskipun dia juga mengirim 'pesan perdamaian ke dunia Muslim.

“Prancis bukanlah negara penghinaan atau penolakan - itu adalah negara toleransi,” katanya. Jangan mendengarkan suara-suara yang berusaha menimbulkan ketidakpercayaan. Agama dan budaya Muslim adalah bagian dari sejarah Prancis dan Eropa kami. "

Bruno Le Maire, menteri ekonomi, mengatakan kepada radio France Inter pada hari Jumat bahwa dia tidak menyukai penggunaan karikatur nabi Islam. “Tapi saya akan menjadi yang pertama membela mereka yang membuatnya dan mereka yang mendistribusikannya,” katanya.

Dunia Islam mendesak Macron cumsuis menciptakan damai, seperti kedamaian yang indah di pantai Mediterania, Nice yang masih menyimpan sisa nilai peradaban manusia yang jauh dari gejala tempra emosia.|

Editor : Sem Haesy | Sumber : berbagai sumber
 
Budaya
30 Nov 20, 11:25 WIB | Dilihat : 120
Buku Adalah Subversif?
26 Nov 20, 21:50 WIB | Dilihat : 134
Mencuci Piring Melatih Pikiran
25 Nov 20, 07:25 WIB | Dilihat : 125
Merenung Jarak Budaya
19 Nov 20, 21:00 WIB | Dilihat : 160
Dinamika Ronggeng di Tengah Transisi Masyarakat
Selanjutnya
Ekonomi & Bisnis
09 Okt 20, 21:01 WIB | Dilihat : 183
Mengharap Garuda di Langit
03 Okt 20, 19:40 WIB | Dilihat : 164
KAMI Tolak Bailout Jiwasraya 22 Triliun Rupiah
18 Sep 20, 21:20 WIB | Dilihat : 217
Naik Turun Indeks Harga Saham itu Niscaya
11 Sep 20, 23:04 WIB | Dilihat : 350
Penghiburan Bank Dunia & IMF dan Tuas Rem Darurat Anies
Selanjutnya