Catatan Perjalanan dari Seoul (1)

Keajaiban dari Sungai Han

| dilihat 167

Sawedi Muhammad

Keajaiban dari Sungai Han (miracle on the Han river) untuk pertama kalinya diucapkan oleh Chang Myon Perdana Menteri Republik Kedua Korea Selatan saat menyampaikan pidatonya menyambut tahun baru 1961.

Ungkapan ini adalah metafora dari kebangkitan ekonomi Jerman Barat pasca Perang Dunia II; keajaiban dari sungai Rhine (the miracle on the Rhine river).

Kedua negara memang dikenal sebagai kampiun ekonomi dunia yang bangkit begitu cepat dari puing-puing perang yang mengerikan.

Sungai Han bagi Semenanjung Korea tidak hanya menjadi sumber air bersih yang melimpah. Ia sekaligus menjadi urat nadi kehidupan bangsa Korea selama beberapa abad. 

Di samping menjadi rute perdagangan penting menuju laut kuning, sungai Han menjadi palagan mematikan di masa perang Korea 1950-1953.

Operation Thunderbolt 1951 adalah operasi militer besar-besaran dari Amerika Serikat dipimpin oleh Jenderal Matthew Ridgway untuk merebut bagian selatan sungai Han yang dikuasai oleh pasukan RRC.

Bagi penyair Wang Wei, sungai Han lebih dari sekadar urat nadi kehidupan baik di masa damai atau masa perang. Ia merepresentasi seluruh keindahan. Airnya berasal dari syurga yang mengalir menembus bumi. 

Bangkit dari Perang

Pidato PM Chang Myon tentang keajaiban sungai Han ternyata menjadi kenyataan hanya sekitar tiga dekade kemudian. Korea Selatan bangkit dari keterpurukan akibat penjajahan Jepang (1910-1945) dan Perang Korea (1950-1953).

Banyak ekonom dunia, ilmuwan politik, antropolog dan sosiolog penasaran ingin mengetahui rahasia dibalik bangkitnya ekonomi Korsel.

Dekade 1950-an, Korsel adalah salah satu negara paling miskin di dunia dengan tingkat kemiskinan sama dengan negara-negara di Afrika. Bahkan di tahun 1960 pendapatan perkapitanya lebih rendah dari Haiti, Yaman dan Etiopia, bahkan lebih rendah 40 persen dari India.  Korsel di tahun 60-an adalah negara dengan pertanian subsisten, tradisional-feodalistik yang hanya 30 persen wilayahnya cocok untuk budidaya pertanian.

Apa rahasia kebangkitan ekonomi Korea Selatan yang hanya membutuhkan waktu tiga dekade untuk sederajat dengan negara maju?

Pembangunan Terencana Berkelanjutan

Kwan S. Kim, "The Korean Miracles (1962-1980) Revisited: Myths and Realities In Strategy and Development" menegaskan bahwa pembangunan ekonomi Korsel meski mengalami pergantian rezim dari demokrasi ke otoriter kemudian kembali ke rezim demokrasi, perencanaan pembangunannya konsisten dan berkelanjutan.

Kim membagi tiga fase evolusi kebijakan  pembangunan pasca Perang Korea. Pertama, strategi substitusi impor (1954-1960); Kedua, orientasi keluar menggalakkan ekspor (1961-1979); Ketiga, keseimbangan dan stabilitas (pasca 1980).

Fase pertama difokuskan untuk membangun infrastruktur fisik dan sumber daya manusia yang akan mengembangkan industrialisasi. Fase kedua berlangsung saat rezim militer Park Chung-hee menggalakkan industri berbasis ekspor. Fase ketiga menjaga keseimbangan neraca perdagangan dan stabilitas politik dalam negeri.

Tonggak bersejarah dari perencanaan pembangunan Korsel dimulai saat punggawa  junta militer Park Chung-hee berkuasa. Perencanaan pembangunan lima tahun (1962-1966) untuk pertama kalinya dijadikan sebagai haluan negara. Pembangunan nasional dimulai dengan ekspansi di bidang pertanian, industri energi seperti batu bara, kelistrikan, industri kimia, semen, penyulingan minyak, besi dan baja.

Di saat yang bersamaan ekspansi juga dilakukan untuk membangun jalan, pelabuhan, jembatan, pemanfaatan dan konservasi lahan, promosi ekspor untuk memperbaiki neraca pedagangan serta memajukan ilmu pengetahuan dan teknlogi. Secara ideologis, Korsel menerapkan sistem ekonomi campuran (mixed economy).

Kombinasi antara ekonomi pasar dan perencanaan ekonomi terpusat, campuran antara pasar bebas dan intervensi negara. Secara unik, Korsel juga menggabungkan kekuatan ekonomi perseorangan (private enterprise) dan perusahaan publik (public enterprise). |

Editor : bungsem | Sumber : foto penulis dan sumber lain
 
Sainstek
20 Nov 19, 13:05 WIB | Dilihat : 132
Rumah Ilmuwan Bukan di Menara Gading
08 Nov 19, 23:07 WIB | Dilihat : 1290
Kebijakan Perikanan Belum Berbasis Sains yang Utuh
26 Agt 19, 10:46 WIB | Dilihat : 463
Daya tarik Magnetis Monza SP2 Ferrari
30 Okt 18, 00:11 WIB | Dilihat : 898
Menerima Realitas Kecelakaan Lion JT610
Selanjutnya
Seni & Hiburan
19 Nov 19, 12:43 WIB | Dilihat : 400
Pergelaran Distraksi Menyelami Dimensi Sosial yang Luruh
06 Sep 19, 22:46 WIB | Dilihat : 305
Puisi Puisi N. Syamsuddin Ch Haesy
18 Agt 19, 21:05 WIB | Dilihat : 1143
Kemerdekaan Adalah Jiwa Raga Sehat Tegakkan Keadilan
Selanjutnya