Ke Mana Nalar Keadaban

| dilihat 84

Bang Sèm

Serangan COVID-19 tak hanya menyingkap karpet dan memperlihatkan begitu banyak persoalan bangsa di sebaliknya.

Nanomonster yang bermula dari Wuhan - China, itu telah menguji kemampuan kepemimpinan di berbagai negara yang terserak di seantero dunia.

Virus yang tak nampak kasad mata dan telah menyantap jutaan korban manusia dan kemanusiaan, juga menyantap dengan lahap peradaban artifisial dan kitsch culture yang menyertainya.

Di sisi lain, virus mahkota yang cepat tepa (menular) ke berbagai penjuru dunia akibat kecongkakan para petinggi di berbagai negara, pun membuka matahati dan kemanusiaan kita, betapa selama ini, isu tentang hak asasi manusia hanya bualan retoris belaka. Karena sesungguhnya, mereka tak pernah mafhum mukhallafah hakekat kesehatan sebagai salah satu hak asasi manusia.

Ketidakmampuan memilih prioritas menangani COVID-19 di banyak negara, membuka kedok ketidakmampuan para petinggi yang kadung dipilih oleh rakyat, hanya karena menjual fantasi yang mereka anggap visi. Dan rakyat di berbagai negara -- terutama yang tidak termasuk negara maju --, memang tak pernah dididik untuk membedakan fantasi dengan visi. Akhirnya, tersungkur dan terjerembab ke dalam jebakan fantasi yang sungguh memilukan.

Dehumanitas menjalar bersama dengan sebaran 'tepa' virus yang juga membuat penguasaan sains dan teknologi, ekstrimitas sekularisma, dan merebak luasnya kepandiran, sebagai tontonan yang pahit.

Sebagian pemimpin di berbagai negara, berhasil menunjukkan integritas dan kepiawaian diri mereka sebagai pemimpin, sebagai nahkoda yang paham, bagaimana mesti menyelamatkan seluruh penumpang kapal besar mereka, ketika badai menghantam dan kapal patah kemudi.

Sebagian besar lainnya, memperlihatkan kepandiran, lantas terjebak dalam keraguan, ketika kapal kian terhuyung dihantam gelombang besar yang adanya tak nampak dan tiadanya sangat terasa dampaknya.

Sebagian besar negara yang masih limbung menghadapi situasi, para petinggi mereka sibuk meraba-raba dalam gelap, dan masih sibuk berwacana yang membuat situasi krisis akan tiba pada kondisinya yang terburuk.

Para petinggi yang limbung, terhuyung-huyung dan terus menipu diri dengan nalar yang tak sinkron dengan naluri, kian buram memandang realitas. Karenanya, jangan terkejut ketika krisis di masing-masing negara akan terus merebak dan berujung pada kondisi yang sangat buruk. Jangan salahkan siapa saja yang berfikir, ketika krisis ekonomi berlangsung, segera akan menyusul krisis politik.

Rakyat dengan caranya, seperti para penumpang kapal yang terguncang dan tak terkendali, akan melemparkan para petinggi mereka ke lautan lepas dan meninggalkan catatan sejarah yang buram, ditulis dengan duka lara kematian dan dehumanitas yang pilu. Tak terkecuali para intelektual yang -- sibuk dengan intelektualisme dan meninggalkan intelektualitas -- senang berasyik maksyuk dengan pembenaran - sanjung puja-puji atas kitsch leader.

Berbagai kalangan akademisi yang berubah menjadi silly intellectual, yang tak punya kesadaran untuk segera bertransformasi, akan 'terlempar' dari posisi bermarwah mereka dalam konstelasi sosial.

Akan tiba satu keadaan ketika rakyat -- sebagai penumpang kapal -- menyesal telah memilih mereka, melantakkan kekuasaan dan memilih pemimpin baru yang mereka anggap patut dan pantas untuki menyelamatkan kapal. Untuk kemudian melanjutkan pelayaran ke pulau tujuan: kemuliaan manusia dan bangsa yang berkeadilan, beradab, dan sungguh berkemanusiaan.

COVID-19 yang boleh diamsalkan sebagai badai yang datang tiba-tiba, berubah dari beliung menjadi taufan petaka - hell storm, bergerak lebih cepat dari pikiran manusia yang menghadangnya.

Dan ketika para petinggi berlarat-larat dengan ketidak-pastian akibat sempoyongan - kapengpeyongan, konstelasi mereka dalam sejarah peradaban manusia kini dan mendatang, akan lebih kelam berlumuran noda kepandiran, melebihi citra para petinggi yang dilumat black death di abad ke 14.

Saat COVID-19 menerjang dan melumat bangsa-bangsa yang kumpeu, kehilangan integritas dirinya, akibat rapuhnya fundamental budaya (termasuk di dalamnya fundamental ekonomi dan politik), pertanyaan yang mengemuka adalah ke mana perginya nalar keberadaban, akalbudi?

Nalar keberadaban dan akalbudi tak pernah pergi ke mana-mana, karena selalu ada dan melekat dan diri pemimpin yang sesungguhnya. Para pemimpin yang berada di  barisan depan memimpin penyelamatan jiwa rakyat dan kemanusiaan, memelihara akal sehat dan nurani segar mereka, dan berani mengambil keputusan-keputusan berdimensi peradaban di tengah situasi storm und drang yang tak terduga ini.

Di manapun kita berada, sebagai warga bangsa dan warga negara apapun kita, tak ada pilihan lain yang bisa kita lakukan, kecuali melepaskan ketergantungan kepada para petinggi yang ke bawah tak berakar, ke atas tak berpucuk.

Melepaskan ketergantungan dari para bandar politik yang mendikte kebijakan sesuai kepentingan kapitalistik mereka. Lantas berkonsentrasi, menghimpun kecendekiaan yang sesungguhnya, untuk merancang peradaban baru.

Adalah tugas kemanusiaan sedikit pemimpin, wiseman, intelektual sejati, dan rakyat yang bernalar, berkeadaban, serta konsisten dan konsekuen pada kemuliaan insaniah untuk menemukan cara hidup (way of life) utama, merancang peradaban baru.

Dilandasi oleh sebersih-bersih tauhid, ilmu pengetahuan dan siyasah, menghadapi distruction of universe dengan memusatkan perhatian pada peradaban baru yang memuliakan manusia berbasis kesehatan (tangguh melawan ancaman pandemi virus), membalik kemiskinan, mengendalikan singularitas dan transhumanitas, mempertemuan percepatan sains dan teknologi - skill dengan kearifan dan moralitas budaya tempatan dan mondial.

Biarkan para petinggi canggung dan limbung dilahap 'piranha' yang mereka pelihara sendiri di samodera lepas. Jangan hiraukan mereka. Kita tak perlukan mereka di era baru setelah Tuhan melakukan clean up atas bumi sebagai bagian dari universe clean up.

Dengan visioneering yang jelas dan terang benderang, serukan: selamat datang peradaban baru.

Kita pelihara optimisme: Ajali fo tuda-tuda, Sone fo madodohu ua - ( ajal selalu kita bawa ke manapun pergi, tapi mati tak pernah kita ketahui). Lawan Covid-19 dan segala virus kepandiran, biar lenyap bersama lenyapnya zaman dan peradaban sungsang.

Kita berseru untuk kesepakatan kemanusiaan: Mikke’de’ di attonganan, Mippalingutti’ di assamaturuang, Missulekka di ammesang ( berdiri tegak di atas kebenaran dan keadilan, merunduk pada komitmen kemanusiaan, dan bersila -- dalam kesetaraan -- pada persatuan dan kesatuan mondial. | #jakarta #stayathome #060520

Editor : Web Administrator
 
Humaniora
22 Mei 20, 08:48 WIB | Dilihat : 421
Prof. Dr. Hj. T. Fatimah Djajasudarma dalam Kenangan
21 Mei 20, 00:28 WIB | Dilihat : 85
Ke Mana Nalar Keadaban
15 Mei 20, 04:27 WIB | Dilihat : 82
Khalwat
09 Mei 20, 09:06 WIB | Dilihat : 254
Tantangan Cendekiawan Muslim Sejati
Selanjutnya
Seni & Hiburan
22 Mei 20, 05:26 WIB | Dilihat : 247
Refleksi Lagu Kanyaah Indung Bapak
19 Mei 20, 09:55 WIB | Dilihat : 317
Selamat Jalan Alex Aman Chalik
18 Mei 20, 05:02 WIB | Dilihat : 141
Pandemi dan Ramadan dalam Puisi Gus Nas
Selanjutnya