Renungan

Kaki Tak Bersandal

| dilihat 1632

Haedar al Hajj

AMIRA duduk di sudut ruang keluarga tempat kami lesehan mengaji. Udara sejuk, karena hujan turun hampir seharian. Suasana Bogor pada musim begini memang adem. Usai Mikhdam membaca beberapa penggal ayat di Surah Yassiin dengan cara murratal, giliran saya bicara, memberi tadzkirah. Saya lebih suka menyebut kata ini katimbang tausiyah. Esensinya sih, mengingatkan, baik bagi diri sendiri maupun sesama sanak saudara.

Saya bercerita apa yang pernah diajarkan almarhumah Ibu tentang kepandaian dan harta.  Almarhumah ibu sering bilang begini, “idzaa kunta dzaa ‘aqlii walam taku dzaa ghina. Fa anta kadzii rijlin walaysa lahu na’lun.” Jika kau mempunyai kepandaian namun belum berharta, engkau laksana kaki tak bersandal.

Amira nyeletuk, “Kalo kebalikannya, jidah bilang ama ami?”

Saya senyum merespon cletukan dia. Langsung saya katakan, “in kunta dzaa maalin wa lam taku äaqilaan, fa anta kadzii na’lin wa laysa lahu rijlun.” Jika kau memiliki kekayaan, namun tak pandai, maka kau ibarat sandal yang tak berkaki. Amira tertawa. Nadia dan Atiqa apalagi. Kiki tersenyum.

“Terusin Om,” cetus Kiki.

Saya melanjutkan. Di balik nasihat almarhum ibu atau nenek mereka, terkandung makna, bahwa setiap muslim harus pandai dan berharta. Intinya adalah, setiap muslim diberikan ruang oleh Allah untuk hidup dalam suatu kondisi yang sehat, cerdas, dan mampu secara ekonomi.

Karena sehat, setiap muslim dapat menuntut ilmu sebagai kewajiban yang memungkinkannya cerdas, dengan kecerdasan minimal setiap muslim mempunyai cara untuk beroleh rejeki secara halal, juga hemat dan bijak memanfaatkan hartanya, dengan begitu dia akan mampu memenuhi kewajiban infaq, zakat, dan shadaqah yang dapat memberdayakan orang lain. Tak boros, tak juga kikir.

Kayfa u’thiya?” tanya Kiki. Gimana sih memberi?

Idza lam u’thi illaa mustahiqaan faka’anan a’thaytu ghariiman,” jawab saya mengutip nasihat Hasan bin Sahal. Jika aku tidak memberi kecuali kepada yang berhak, maka aku telah memberikan kepada yang memerlukan. Maknanya, pemberian harus diberikan kepada kalangan yang tepat.

Dalam hal berikhtiar membuat diri mampu secara ekonomi dan sosial, kata kuncinya adalah kerja keras dan kerja cerdas. Kerja keras diwujudkan melalui konsistensi terhadap profesi yang kita tekuni, dan kerja cerdas adalah kemampuan untuk memilah dan memilah sesuatu pekerjaan sesuai dengan kompetensi dan kemampuan kita. Ujungnya, ya supaya ‘kaki bersandal, dan sandal punya kaki.’

Amira duduk tegak. Ia menarik punggungnya dari dinding.

Ami, ma dza law ukinna astathii’u an af’alah syai’an?” cetusnya. Dia bilang: Om, gimana kalo aku gak sanggup ngerjainnya? Lagi kemenakan yang lain tergelak dengan pertanyaan itu. Maklum Amira dikenal lebih senang berleyeh-leyeh. Dia mengucapkan pertanyaan itu sambil mesam-mesem.

Idzaa lam tastathi’ syai’an fada’hu wa jawizhu ilaa maa tastathii’u,” jawabku. Saya katakan padanya, bila kau tak sanggup mengerjakannya, tinggalkan! Lalu, beralihlah kepada sesuatu yang sanggup kau kerjakan. Intinya, “Laa yakun kasuul. Allah laa ahab anaas kasuul..” jangan malas. Allah tak suka pemalas.

Hasanaa.. tata’atsaru murråt akhraa..,” ujarnya sambil memukul kening dengan punggung tangan, membuat yang lain tertawa. Pasalnya, Amira mengatakan, “Yaahh... kepentok lagi deh...” |

* jidah : nenek; ami : paman

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Sporta
03 Sep 18, 12:41 WIB | Dilihat : 1304
Olahraga dan Pelukan Pemersatu
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 1005
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 1004
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
Selanjutnya