Jejak Virus China dari Black Death sampai Covid 19

| dilihat 175

Virus corona alias X?ngu?n bìngdú adalah virus baru yang belum dikenali sebelumnya. Itu sebabnya, Stanford Institut, California, Amerika Serikat memburunya dengan menggelar konferensi virtual, April 2020 mendatang.

Saya lebih suka menyebutnya Virus Amoy, daripada sejumlah teman yang menyebutnya virus Lu? nà.

Tentu berbeda saja Virus Amoy ini berbeda dengan virus mematikan yang pernah melantakkan Eurosia (Eropa - Asia) dan sebagian Timur Tengah, termasuk Afrika di abad ke 14, yang dikenal se agai black death. Kendati sama-sama berasal dari China.

Black Death, menurut dua ilmuan Université de Bordeaux, Perancis, Stéphane Barry dan Nobert Gualde, dalam bukunya bertajuk, "La Peste noire dans l’Occident chrétien et musulman, 1347–1353" (2008) sungguh virus mematikan. Pergerakannya massif. Pola migrasinya bersamaan dengan migrasi manusia dari satu tempat ke tempat lain dalam jumlah yang besar.

Virus yang menyumbat saluran pernafasan ini, dari berbagai literatur dan informasi yang saya baca, sangat 'genit' dan mudah sekali berkembang biak, sekaligus mudah pula mati.

Karena penyebarannya tak melalui udara, melainkan melalui benda hidup dan benda mati, salah satu cara memutus mata rantai perkembangannya adalah dengan menjaga jarak fisik antar manusia dengan manusia lain, dan peluruhan langsung melalui pembersihan anggota tubuh, termasuk pakaian. Plus, minum yang kerap.

Jangan menganggap enteng Virus Amoy dari Wuhan ini. Selain datang tak diundang dan pergi tak dihantar, dia bisa mengenai siapa saja. Para petugas medis yang berada di garda depan, yang gigih menyelamatkan korban keganasannya, seperti kaum lanjut usia, sangat riskan menjadi korban ini.

Pada abad ke 14, Itali termasuk negara pertama di Eropa yang lantak oleh virus black death, lantaran karakter masyarakatnya yang cuek dan secara geografis Itali terkoneksi dengan banyak wilayah lain di Eropa dan Afrika. Kali ini, Itali juga yang menjadi negara pertama setelah China, dengan jumlah korban tertinggi.

Italia dengan 4.825 kematian, merupakan negara yang paling terkena dampak virus Amoy dengan bernama Covid-19 ini, melebihi China (3.255) yang menjadi prime house bagi virus ini, dan kemudian Iran (1.556). Virus Amoy ini sudah merenggut 12.592 nyawa di seluruh dunia,  mayoritas di Eropa (7.199) dan Asia (3.459).

Boleh jadi virus Amoy bernama Covid-19 ini berbeda dengan virus black death di abad ke 14, itu. Tetapi, sebagaimana halnya virus yang datang dari China kemudian pada pertengahan abad ke 19, virus ini memiliki seperangkat karakteristik epidemiologis, pandemis, dan klinis yang selalu baru.

Akibatnya, penanganannya relatif lebih rumit, karena perlu dikenali lagi dengan aksi penelitian dan penanganan persoalan yang ditimbulkannya secara paralel. Terutama untuk memahami perjalanan epidemi dan pandemi yang mengerikan ini, serta reaksi masyarakat yang beragam, karena berbagai aspek dan faktor yang mempengaruhinya. Termasuk faktor budaya.

Pada tahun 1894, wabah menakutkan menyerang kembali. Menurut Stéphane Barry dan Nobert Gualde, ini merupakan pandemi ketiga, yang muncul di Cina pada pertengahan abad ke-19. Adalah pastor Alexandre Yersin di Hong Kong yang mengidentifikasi awal virus tersebut itu pula sebabnya virus tersebut diberinama Yersinia pestis. Virus ini disebarkan oleh tikus.

 

Empat tahun kemudian, seorang pendeta lain, Paul-Louis Simond, menemukan kutu sebagai vektor penting penularan penyakit, baik antara tiku, maupun dari tikus kepada manusia. Dalam empat tahun, dua penemuan besar ini “menghancurkan mitos,” sehingga manusia akhirnya menemukan jawaban untuk penyakit abad ke 19 itu.

Virus sejenis Yersinia pestis, menurut ahli bakteriologi evolusi, diperkirakan muncul di Asia Tengah, sekitar 20.000 tahun yang lalu, dari klon Yersinia pseudotuberculosis. Epidemiologi wabah itu kompleks. Bakteri yang menyebar dengan cara epidemi dan kadang-kadang pandemi, itu pertama-tama dikenal sebagai penyakit epizootic yang sangat ganas dan secara pertama kali menyerang hewan pengerat liar. Lantas, secara tidak sengaja menjangkiti manusia melalui tikus komensal dan kemudian kutu penghisap darah pestigenik, yang dikatakan rentan terinfeksi.

Epidemi wabah menyebar karena beberapa faktor: bakteri, tikus, kutu dan manusia. Dalam banyak hal, ungkap Stéphane Barry dan Nobert Gualde, kita tahu sedikit tentang operator pandemi baru ini karena dalam enam abad, kuman, tikus, kutu dan manusia telah berevolusi secara biologis.

"Kita tidak boleh lupa bahwa makhluk hidup terus berubah, terutama dalam kasus interaksi yang saling bertentangan antara patogen dan manusia," tulis dua ilmuan itu.

Tiga strain kuman Yersinia pestis diketahui, berkembang dari bentuknya yang kuno, yang mulanya menyebar di sekitar danau-danau besar Afrika, abad pertengahan di Asia Tengah. Kemudian menyerang secara luas ke Timur dan Amerika.

Masing-masing strain telah lama dianggap penyebab salah satu dari tiga pandemi wabah yang telah terjadi selama ini, tetapi baru-baru ini penemuan terobosan dalam epidemiologi penyakit telah dibuat.

Tim multidisiplin yang menyatukan para arkeolog, antropolog, dokter, dan sejarawan telah menemukan, dari penggalian kuburan massal korban wabah di Prancis dan analisis mikrobiologis paleo, terutama dari pulp gigi, bahwa “hanya strain orientalis yang memiliki potensi untuk diseminasi yang memadai untuk menciptakan pandemi.”

Untuk mencapai kesimpulan ini, tulis kedua ilmuwan itu lagi, para peneliti mengembangkan metode baru amplifikasi dan karakterisasi genetik yang berlaku untuk DNA (Deoxyribonucleic acid) purba.

Untuk mencapai kesimpulan ini, para peneliti mengembangkan metode baru amplifikasi dan karakterisasi genetik yang berlaku untuk DNA purba, itu. Metode ini, didasarkan pada dekripsi area non-coding genom tertentu dan membutuhkan jumlah DNA yang sangat kecil.

Hasil penelitian ini sangat penting pada saat ada peningkatan wabah di berbagai belahan dunia. Tidak boleh dilupakan bahwa wabah tersebut merupakan pertanyaan nyata untuk masa depan karena merupakan salah satu penyakit yang paling banyak dipelajari sebagai senjata bakteriologis.

 

Muncullah pertanyaan: Apakah dalam hal ini, kutu yang paling bertanggung jawab atas epidemi Barat?

Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa "seperangkat argumen ekologis dan epidemiologis serta kekhususan dan kelimpahan pada manusia dari iritasi Pulex menunjuk spesies ini sebagai vektor potensial". Yang lain menganggap bahwa peran kutu manusia harus dikurangi untuk memberi manfaat lagi bagi Nosopsyllus fasciatus, kutu tikus hitam pada abad keempat belas.

Hingga 1930-an, yang terakhir dianggap sebagai salah satu vektor utama wabah. Tapi, selama dekade yang sama, pencapaian ini dipertanyakan dengan teori penyebaran wabah pes oleh kutu dari manusia dan bukan dari tikus.

Hipotesis ini kemudian menurunkan tikus dan kutu-kutu ke peran terbatas dalam rantai epidemi, demi kutu manusia. Diakui dan diterima oleh sejumlah besar ilmuwan dan sejarawan, bahkan di masa lalu, teori ini masih banyak dibahas.

Karena itu, tampak jelas bahwa seseorang tidak dapat menangani sejarah wabah tanpa menekankan hubungan-hubungan tidak wajar yang menyatukan ektoparasit yang paling terkenal dari citra manusia dan dua host predileksinya: tikus dan manusia.

Tetapi ini masih merupakan interaksi antara spesies hidup yang berevolusi dan, sesungguhnya, sulit untuk mengetahui yang mana pada abad keempat belas, kutu “paling nyaman” untuk Yersinia pestis bertahan hidup selama penyebarannya oleh serangga. Memodifikasi satu gen dapat "meningkatkan" kelangsungan hidup bakteri dalam vektornya.

Bagaimana dengan interaksi biologis yang tepat antara bacillus wabah dan kutu pada saat itu?

"Kita hanya dapat mencatat bahwa, dalam banyak hal, kita tahu sedikit tentang operator Black Death, karena dalam enam abad, semua pemain dalam patocenosis baru ini, di mana wabah, dari abad keempat belas, telah berevolusi secara biologis.

Bagaimana dengan kemunculan virus Amoy - Avid-19 yang kini sedang melanda dunia. Apakah merupakan siklus yang tak pernah tuntas diputuskan, meski sains dan teknologi berkembang sedemikian cepat. Mungkinkan kita baru beroleh jawabannya etelah melintasi beberapa masa ke depan? | tique

Editor : Web Administrator | Sumber : berbagai sumber
 
Lingkungan
22 Mar 20, 20:46 WIB | Dilihat : 79
Konferensi Virtual Bahas Covid 19
22 Mar 20, 19:06 WIB | Dilihat : 206
Aromaterapi dan Parfum Pernah Dipakai Melawan Wabah
17 Mar 20, 11:00 WIB | Dilihat : 134
Darurat Corona untuk Keselamatan Rakyat
Selanjutnya
Energi & Tambang