[Nasihat Habib Alwi Assegaff]

Jangan Takut dan Jangan Bersedih

| dilihat 2244

DALAM hal menegakkan kebajikan dan membanteras perbuatan  buruk (amar ma’ruf nahyi munkar) dalam Islam berlaku prinsip: jangan takut dan jangan bersedih. Seringkali dalam menegakkan segala yang benar dan bajik, kita dihadapkan oleh kenyataan pahit. Apalagi bila sudah menyangkut hal yang terkait dengan lingkungan sosial sendiri. Terutama keluarga.

Katakanlah, salah satu anggota keluarga kita, anak dan istri sendiri disangka melakukan perbuatan buruk, melakukan tindakan kriminal biasa atau tindakan kriminal kemanusiaan (crime against humanity) dalam bentuk korupsi dan suap. Lalu ia menghindari hukum yang disepakati bersama. Maka kewajiban kitalah menempuh ikhtiar, mencari, mendapatkan, dan menyerahkannya kepada penegak hukum. Tak ada alasan bagi suami atau istri untuk membiarkan istri atau suaminya menjadi buronan, sehingga masalahnya tak pernah selesai.

Rasulullah Muhammad SAW telah mengajarkan kita untuk bersikap dan bertindak berani menempuh jalan terbaik menyelesaikan masalah. Beliau bersabda, “Seandainya puteriku, Fathimah az Zahra mencuri, maka aku sendiri yang akan menghukumnya.” Artinya, Rasulullah memandu kita untuk menempuh jalan kepeloporan sebagai teladan dalam menegakkan hukum.

Apa yang diserukan dan diajarkan Rasulullah Muhammad SAW, itu relevan dengan perintah Allah SWT: Lindungi dirimu dan keluargamu dari bahaya api neraka. Kuu anfuusakum wa ahliikum naara. Setiap kita berkewajiban melakukan ikhtiar mendidik dan memberikan keteladanan terbaik bagi seluruh anggota keluarga, agar mereka tak berbuat jahat.

Setiap muslim yang terus meningkatkan kualitas dirinya menjadi mukmin dan mukhsin, akan mengambil inisiatif terbaik bagi kepentingan kebaikan kolektif masyarakat dan bangsanya, selain kebaikan bagi dirinya dan keluarganya. Menghindari diri dari upaya menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar hanya karena kita tenggelam dalam kesedihan dan kerisauan dalam ‘melindungi’ anggota keluarga, merupakan tindakan yang justru akan menyengsarakan anggota keluarga sendiri. Juga masyarakat luas.

Selain itu, adalah mulia, setiap insan yang menyadari kenyataan, menegakkan kebenaran adalah kewajiban yang tak bisa ditawar, meskipun terasa pahit. Karena sesungguhnya tegaknya kebenaran dan kemampuan melawan kepentingan diri sendiri untuk menegakkan hukum dan keadilan, merupakan tindakan yang akan ‘berbuah manis.’ Karena bagaimanapun, tindakan tersebut, merupakan bentuk kesadaran kemanusiaan dan kesalehan kita, yang akan mempunyai nilai positif bagi terbentuknya kesalehan sosial.

Semoga kita selalu berada dalam lindungan Allah SWT dan selalu menjadi muslim yang taat, dan berani menegakkan amar ma’ruf nahyi munkar. |

 

Editor : Web Administrator
 
Ekonomi & Bisnis
31 Agt 21, 19:09 WIB | Dilihat : 443
Pandemi dan Pemulihan Ekonomi Lokal
14 Mar 21, 23:46 WIB | Dilihat : 512
Sindroma Ambivalensia
16 Des 20, 07:56 WIB | Dilihat : 677
Peta Bank Syariah di Indonesia Berubah
Selanjutnya
Budaya
12 Jan 22, 08:56 WIB | Dilihat : 119
Cermin Adab di Jalan Tol
11 Jan 22, 09:20 WIB | Dilihat : 161
Pesona Masjid Rao Rao di Sungai Tarab Bungo Satangkai
17 Des 21, 07:31 WIB | Dilihat : 239
Membaca Zaman Edan dengan Isyarat Pantun Bogor
07 Okt 21, 09:26 WIB | Dilihat : 439
Cindai Kebangsaan yang Koyak dan Lusuh
Selanjutnya