Jangan Biarkan Peternak Iblis Hidup

| dilihat 1282

Bang Sem

TERORIS adalah produk ekstrimisme kekerasan paling nista. Sumber utama ideologi ekstrimisme brutal sebagai induk terorisme dan pakan teroris adalah iblis. Karena tak ada satupun rasul yang mengajarkan terorisme dan kekerasan.

Charles Kurzman, menggambarkan, di dunia yang centang perenang dan labil, selalu ada peternak iblis, karena mereka tak lain dari iblis (itu sendiri) bercangkang manusia.

Mereka mati (akal, nurani, perasaan dan indria) tetapi hidup bersama kita. Mereka mengapung melewati lintas negara, agama, budaya, dan peradaban, tanpa tubuh, dan berkembang biak melalui di internet dan media sosial. Mereka selalu menghantui kita dengan beragam ancaman, dan  akan terus beranak pinak, ketika kita takut dan kalah dengan menghadapi mereka.

Para dedengkot teroris, yang dikabarkan sudah mati menjalani eksekusi vonis mati pengadilan, tak sungguh mati. Mereka masih hidup dan bersemayam di benak dan hadir dalam mimpi para pengikutnya.

Jejaring mereka pun tak pernah sungguh lenyap dari mukabumi, bahkan masih terus berkembang melalui berbagai rekaman audiovisual, pun buku-buku, yang bahkan ketika dipublikasi menjadi buku best seller. Rekaman audiovisual dan buku-buku, itu tak menyebut mereka sebagai iblis yang terajam. Melainkan sebagai martir.

Pemikiran-pemikiran mereka melahirkan fantasi baru di tengah penyelenggara pemerintahan di banyak negara yang menyeret rakyatnya terjebak dalam fantacy trap. Terutama, negara-negara yang gagal mewujudkan mimpi kolektif tentang keadilan, kesejahteraan ekonomi, dan kemerdekaan fungsional.

Situasi ini yang dimanfaatkan oleh siapa saja yang datang dari komunitas iblis, yang bermain di gelanggang maya perpolitikan domestik, antar negara, dan bahkan antara bangsa.

Termasuk negara bangsa yang secara sengaja pula memelihara kelompok yang saling berseteru satu dengan lainnya. Negara-negara yang membiarkan berkembangnya beragam faktor penyebab terjadinya friksi dan konflik sosial.

Di negara-negara dengan tingkat ketimpangan atau disparitas sosial ekonomi yang menganga dengan polarisasi yang ekstrim. Termasuk negara-negara yang membiarkan terjadinya ketidak-adilan meruyak di mana-mana, serta menjadikan politik dan demokrasi hanya sebagai cara berebut kekuasaan.

Kita, siapapun juga, langsung tak langsung akan menjadi bagian dari peternak iblis, ketika tidak mampu memainkan peran fungsional dan proporsional sebagai pengemban prophetic mission untuk menciptakan kedamaian dan harmoni sosial yang abadi.

Kita, boleh jadi bagian dari peternak iblis, itu ketika membiarkan terjadinya disparitas sosial ekonomi yang terus kian menganga, melakukan dekadensi peradaban, dan menggerus nilai-nilai kebaikan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Kita, boleh jadi bagian dari peternak iblis yang produktif, kala membiarkan diri dan lingkungan sosial kita, menjadi konsumen informasi dikhotomis, dan tak pernah mau ambil peduli terhadap pentingnya verifikasi dan konfirmasi kebenaran informasi.

Bila tak ingin menjadi bagian dari peternak iblis, setiap kita, secara personal, harus punya keberanian bersikap terbuka dan jernih memandang dinamika fenomena sosial – ekonomi – politik. Baik secara lokal, domestik, regional, dan global.

Setarikan nafas, kita juga mesti berkontribusi kebajikan dalam beragam skala di berbagai ajang kehidupan. Lantas secara bersama-sama, bersinergi mengatasi berbagai persoalan yang memicu ketidak-adilan. Pun, berbagai ihwal yang nyata atau samar-samar memicu berlangsungnya pengembangan fantasi dan idealistika tentang hidup di dunia.

Dengan cara demikian, kita akan membentengi seluruh umat manusia dari mimpi buruk tentang invasi (mulai dari invasi ekonomi sampai invasi militer). Dengan cara demikian juga kita membentengi masyarakat – negara – bangsa, dari jebakan fantasi.

Dengan cara demikian, kita akan mengembalikan esensi idealistika hidup, termasuk keterjaminan eksistensi dan koeksistensi damai seluruh umat manusia.

Para peternak iblis tidak boleh dibiarkan terus hidup, di manapun di atas mukabumi yang memerlukan perdamaian sejati dan harmoni kehidupan insaniah.

Untuk itu, sudah saatnya kita bahu membahu menghentikan setiap upaya mereduksi ayat-ayat suci, dan kembali menyebarluaskan pemahaman yang benar tentang pesan utama ayat-ayat suci tersebut. Lantas mengembalikan esensi setiap ayat suci secara kongkret dalam kehidupan sehari-hari.

Kita tidak boleh kalah oleh ideologi peternak iblis dan tidak pula boleh terseret menjadi bagian dari peternak iblis. Penegasan ini sekakigus bermakna, kita tidak boleh kalah dengan terorisme, teror, dan teroris.

Sekali saja kita kalah dan bertekuk dalam lipatan ideologi mereka, kita tak kan pernah kembali lagi sebagai manusia. Yakni, makhluk terbaik yang mengemban fungsi utama sebagai penebar dan pemelihara amal kebajikan. Makhluk mulia yang menjadikan keteguhan iman sebagai pilar utama dalam mewujudkan fungsi insaniah sebagai rahmat atas alam semesta.

Kita kutuk teroris. Kita bekuk ideologi ekstrim pemicu kekerasan. Kita kembalikan eksistensi kita sebagai manusia utama, dalam kehidupan yang sakinah – rukun damai, mawaddah - bersimbah cinta, dan bertabur rahmah – cinta. Karena kita diciptakan oleh Al Khaliq, sumber dari segala sumber cinta dan kasih sayang. |

 

Editor : sem haesy
 
Ekonomi & Bisnis
07 Mei 18, 12:45 WIB | Dilihat : 2804
Soal TKA Yang Diperlukan Cara Bukan Alasan
25 Apr 18, 01:49 WIB | Dilihat : 811
10 Alasan Perusahaan Gagal Dalam Layanan Prima
23 Apr 18, 12:58 WIB | Dilihat : 714
ICPF2018 Jendela Industri Kreatif dan Budaya
Selanjutnya
Sporta
16 Jul 18, 10:16 WIB | Dilihat : 507
Keajaiban dan Luah Gairah Kemenangan Perancis
15 Jul 18, 07:53 WIB | Dilihat : 515
Perancis vs Kroasia Berebut Keajaiban Piala Dunia 2018
11 Jul 18, 08:53 WIB | Dilihat : 651
Sundulan Berkah Umtiti Hantar Perancis ke Final
12 Okt 17, 09:39 WIB | Dilihat : 1431
Golf Memadupadan Olah Raga dengan Olah Rasa
Selanjutnya