Mengenali Ulama Sufi

Integritas Syeikh Abdul Qadir Jaelani

| dilihat 451

Sitasia Sém Haesy

MALAM beranjak larut. Angin gunung berembus perlahan, masuk ke dalam ruang keluarga, tempat kami duduk 'ngariung' malam itu. Salah seorang kemenakan saya membacakan kisah hidup Syeikh Abdul Qadir Jailani. Tradisi itu biasa kami sebut syeikh-syeikhan.

Begitu usai, kami berbincang tentang Syeikh, salah seorang ulama yang masih sangat dihormati kaum muslim di berbagai penjuru dunia. Kakak sepupu saya yang mendalami ihwal Syeikh bercerita.

Dia mengutip apa yang diungkapkan Syekh Abu Al-Hassan Nad Al Ali Hassan Nadwi. Syaikh Abdul Qadir lahir di Jilan, yang juga dikenal sebagai Vailam, di Barat Laut Iran, di selatan Laut Kaspia, sekitar tahun 470.

Syeikh Abdul Qadir keturunan Arab, yang bermigrasi ke Iran bersama leluhurnya. Pada usia 18 tahun, dia pergi ke Baghdad, berguru Ibn Aqeel, Al-Baqillani dan At-Tabrizi tentang 'jalan Islam,' berbasis akidah, syari'ah, muamalah dan akhlaq.

Setelah menyelesaikan pendidikan ilmu agama, Abdul Qadir menjadi guru di madrasah yang dibangun gurunya yang lain, Mubarak ibn Ali Al-Makhrami. Kecerdasan dan kearifannya, membuat bekiau populer dan dicintai murid-muridnya.

Khutbah-khutbahnya menarik perhatian umat, yang kemudian datang berbondong-bondong dari semua wilayah Baghdad untuk menyimak ceramahnya. Terutama karena apa yang dikatakannya mewujud dalam perilaku hidupnya sehari-hari. Tak kurang dari Khalifah dan para menteri di Bagdad selalu menghadiri khutbah dan pengajiannya.

Adalah Ibn Qudama, seorang ulama dari mazhab Hanbali yang terkenal, mencatat, Syeikh Abdul Qadir sangat saleh. Dihormati karena kesalehan dan konsistensinya mengamalkan ilmu agama yang dikuasainya. Kesalehan itu, membentuknya menjadi pribadi yang tawaddu' - rendah hati dan bersahaja.

Meski populer dan terkenal, Syeikh Abdul Qadir tak pernah luput melayani anak yatim piatu, anak yatim, dan anak-anak miskin. Kaum dhu'afa mendapatkan prioritas utama darinya.

Syeikh tak segan meminta Khalifah dan para menteri menunggu, ketika beliau sedang melayani kaum dhu'afa. Bahkan, tak jarang, anak-anak miskin dan yatim, itu dilayani dengan menyuapkan sendiri makanan melalui tangannya.

Sebaliknya, Syeikh Abdul Qadir tak mengistimewakan Khalifah atau para menteri, atau siapa saja yang berkedudukan sosial tinggi. Jika mendapat informasi bahwa Khalifah akan mengunjunginya, Syeikh sengaja masuk ke dalam rumahnya, agar dia tidak harus berdiri untuk menyambut. Beliau juga biasa keluar dari rumah, setelah khalifah duduk di masjid. Abdul Qadir tidak pernah membalas panggilan kehormatan dan penghormatan kepadanya.

Saya tekun menyimak kisah yang disampaikan sepupu, itu. Meski jarak waktu berabad lamanya, mendengar kisah seperti, itu timbul rasa takjub. Terbayang konsistennya beliau dalam mengamalkan apa yang diajarkan dan dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW.

Terutama, karena beliau lebih memuliakan para orang tua dan menghormati anak-anak muda saleh yang datang berguru kepadanya. Beliau selalu memberikan rasa hormat kepada orang-orang tua dan kaum dhu'afa.

Kemuliaan dan keunggulan akhlak, serta jiwa besar dan ketulusan hatinya, menarik perhatian khalifah untuk membantu aktivitas dakwah dan pelayanannya kepada kaum dhu'afa.

Syeikh Abdul Qadir belajar sufisme, termasuk mistisisme dalam bimbingan Sheikh Abu Al-Kheir Al-Dabas dan Mubarak ibn Ali, kala usianya beranjak dewasa. Beliau tak hanya sampai pada mempelajari dan mempraktikan ilmunya, itu. Bahkan menuliskannya menjadi kitab yang penuh makna dan dipelajari banyak kalangan.

Adalah ulama Izzuddin ibn Abdul Salan dan Ibn Taimiyah yang berpandangan, bahwa karya-karya Abdul Qadir adalah 'mukjizat,' yang memenuhi hati dan menjadi solusi bagi mereka yang sedang putus asa dan 'patah hati' dengan iman. Nasihat-nasihat beliau, menjadi harapan dan menimbulkan antusiasme.

Syeikh Abdul Qadir menanamkan nafas kehidupan baru, semangat dan kepercayaan diri ke dalam orang banyak kalangan yang tak terhitung yang tak terhitung jumlahnya, baik melalui kepiawaian komunikasinya yang sesuai dengan perintah al Qur'an (dengan mauizah dan hikmah), dan dengan kekuatan spiritual hatinya.

Beliau, sebenarnya, merupakan berkah bagi dunia Islam karena telah memperbaiki dan menghidupkan kembali esensi tauhid dan memanfaatkan sumber kekuatan spiritual akhlak untuk Islam sebagai 'jalan kehidupan' - ad dhien, way of life.

Ketika terjadi dialog antara kami dan saudara-saudara yang lain dengan sepupu, mengemuka informasi, bahwa Abdul Qadir Al-Jilani adalah pengikut mazhab pemikiran Hanbali dan berusaha konsisten menjalankan ajaran Islam dalam peribadatan sesuai mazhab itu.

Itu sebabnya, Syeikh Abdul Qadir konsisten melaksanakan ajaran Islam mengikuti Sunnah secara ketat. Prinsip itu dipegang teguh dan diajarkannya dalam bentuk ta'lim Al-Qur'an, Hadits dan Fiqh, dan menjelaskan perbedaan antara berbagai aliran pemikiran dalam Islam. Hal itu dilakukannya setiap hari pada pagi dan sore hari. Selepas dzuhur, beliau melakukan qira'at (membaca) Al Qur'an.

Kemudian, ketika membahas berbagai hal yang mengemuka, beliau mendikte fatwanya tentang masalah agama atau hukum yang diajukan kepadanya, itu. Fatwa beliau, umumnya mengikuti aliran pemikiran Shaf'ie dan Hanbali.

Mengikuti teladan Nabi, para sahabat dan penerusnya serta para ulama masa lalu, Abdul Qadir Al-Jilani menyentuh masalah-masalah mutakhir pada zamannya, menganalisis berbagai masalah yang menjadi penyebab penderitaan dan penyakit umat, kemudian memberikan jawaban atas berbagai keraguan mereka.

Sejumlah muridnya kemudian menjadi ulama hadits dan da'i yang sangat dhormati umat. Mereka mengikuti keikhlasan dan semangat Syeikh Abdul Qadir yang tulus untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memancarkan kegairahan hidup. Hal ini pula yang meningkatkan daya tarik Syeikh dan para muridny, sehingga masuk ke relung nya hati umat.

Dari berbagai sumber rujukan lain, malam itu juga mengemuka kisah kehidupan sosial di masa kehidupan beliau. Daya keduniawian, di masa itu pun begitu kuat  (sesuai zamannya) dan mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Juga kehidupan politik, yang berorientasi pada kultus individu. Suatu situasi yang menyebabkan disorientasi nilai keagamaan, sehingga umat cenderung mengandalkan raja dan elit yang mereka muliakan untuk mewujudkan kepentingan duniawi mereka.

Sebagai ulama, Abdul Qadir berusaha keras mengajak kembali umat untuk menegakkan tauhid, dan hanya menggantungkan harapan kepada Allah semata. Karena Allah saja yang dapat memberi mereka manfaat dan menghindarkan manusia dari bahaya.

Syeikh Abdul Qadir menekankan bahwa semua ibadah harus ditujukan kepada Allah saja. Tidak ada objek ibadat palsu yang bisa ditoleransi. Dalam salah satu khutbahnya, Syeikh Abdul Qadir mengatakan: "Anda menaruh kepercayaan Anda pada diri Anda sendiri, pada orang lain, dalam kekayaan Anda, dalam ritual dan kebiasaan Anda, dalam perdagangan dan bisnis Anda, atau dalam penguasaan Anda; tetapi dalam apa pun obyek kepercayaan Anda, ibadah Anda hanya harus berpijak pada kebenaran. Jika Anda takut seseorang mendapatkan bahaya atau kebaikan darinya, atau Anda menganggapnya sebagai do'a syafa'at Anda dengan Allah, maka ia adalah objek ibadah untuk kamu."

Abdul Qadir Al-Jilani tidak hanya menasihati kaum amah (umah biasa). Beliau juga memerintahkan apa yang benar dan melarang apa yang salah kepada siapa saja. termasuk kepada penguasa. Ini adalah tugas utama semua Muslim, khususnya para ulama. Karena itu, Abdul Qadir secara terbuka mengeritik tindakan petinggi, khasnya, pejabat tertinggi pemerintah, bila dianggap perlu. Beliau melakukannya tidak untuk dirinya, tetapi untuk kepentingan umat dan manusia secara keseluruhan |

Editor : Web Administrator
 
Energi & Tambang
Polhukam
19 Okt 19, 10:03 WIB | Dilihat : 81
Obsesi Keindonesiaan
17 Okt 19, 20:45 WIB | Dilihat : 236
Langkah Anies Sudah Tepat dan Berprestasi
10 Okt 19, 12:06 WIB | Dilihat : 655
Buah Peluh Tanpa Keluh Bangsa Melayu
09 Okt 19, 09:40 WIB | Dilihat : 468
Utusan Melayu itu pun Akhirnya Ditalqinkan
Selanjutnya