Ihwal Perempuan

| dilihat 433

Catatan Bang Sem

PENERBANGAN Kuala Lumpur - Jakarta, ini sungguh menyenangkan. Bukan karena sebagai subyek di dalam kabin memperoleh layanan yang cukup baik dari pramugari berusia belia.

 Juga bukan karena kenyamanan yang dijanjikan melalui iklan sungguh terbukti. Melainkan karena di dalam pesawat ini saya mendapatkan sahabat muda yang cerdas dan berkepribadian.

Zaenab, nama sahabat muda, itu. Kandidat doktor filsafat di salah satu universitas di luar Kuala Lumpur.

Berjilbab sederhana dan serasi dengan postur tubuhnya yang semampai dan cantik, sobat muda dengan mata berbinar, ini nampak cantik rupa elok budi.

Kami berbincang panjang tentang berbagai salah tampa atas firman Tuhan dan hadits nabi terkait kedudukan kaum perempuan di tengah kehidupan sehari-hari. Jebakan-jebakan fantasi (piège de fantaisie) dalam memahami kaidah dan norma yang diatur agama untuk perempuan, seringkali menyebabkan kita terseret jauh ke ruang hampa.

Ke ruang idealisasi yang sedemikian sempurna. Kita sering terlupa, justru dari sudut pandang religi kita justru memperoleh konstelasi perempuan sedemikian indah. Lepas dari belenggu berbagai batasan yang selalu berkutat dengan perdebatan tanpa ujung.

Dalam konteks religi, perempuan berada dalam dimensi kesetaraan secara gender. Terutama, ketika perempuan sungguh didudukkan sebagai manusia, yang memiliki fungsi sama dengan kaum lelaki secara fungsional.

Kalaupun ada perbedaan atasnya (selain sex function), boleh jadi hanya sekadar diferensitas aksentuasi atas fungsi insaniah secara sosial.

Lelaki diciptakan untuk menjalani fungsi sebagai pemandu (meski perempuan memiliki potensi yang sama) dan perempuan diciptakan untuk menjalani fungsi menata (menjawab pertanyaan: how to manage).

Selebihnya, sebagaimana diteladani oleh perangai Rasulullah Muhammad SAW, lelaki dan perempuan menyandang tanggungjawab kemanusiaan yang sama. Menciptakan harmonitas kehidupan manusia yang saling memuliakan satu dengan lainnya.

Zaenab benar, jebakan fantasi seringkali merangsang manusia untuk berfikir, hanya menempatkan perempuan sebagai parti atas cadre idéaliste atau kerangka idealistik.

Bingkai idealistika, yang secara psikologis, sering terkontaminasi oleh hasrat yang didominasi egosentrisma. Khasnya dari kaum lelaki.

Padahal, dalam konteks gender, kesetaraan dan keadilan (baik secara konstelatif dan struktural) merupakan bagian tak terpisahkan dari keseluruhan konstelasi manusia di tengah masyarakatnya.

Secara sederhana, bisa dikatakan, pada lelaki dan perempuan, tersandang tugas leadership yang sama.

Di wilayah domestik, misalnya, suami memainkan peran sebagai kepala keluarga, sedangkan perempuan merupakan kepala rumah tangga.

Karenanya, pada situasi tertentu lelaki dan perempuan bisa memainkan kedua peran, tanpa harus dibungkus dengan beragam istilah. Single parent, misalnya. Pun demikian halnya dalam skala fungsi yang lebih luas. Baik di sektor politik, sosial, ekonomi, maupun budaya.

Mendalami pemahaman kita tentang hakekat eksistensi penciptaan Hawa, sampai Masyithah, Mariam, Khadijah, Fathimah az Zahra, Siti Aisyah, dan entah siapa pun kaum perempuan di masa depan, kita perlu memberi bold atas pembebasan logika kita dalam memandang gender.

Pembebasan atas dikhotomi pemikiran yang membelenggu kita untuk selalu bersikap strukturalis.

Zaenab menggunakan kalimat yang indah untuk menggambarkan perlunya pembebasan logika kita atas kungkungan dikhotomi fungsional perempuan (sebagaimana sering diumbar oleh kaum feminis, terutama di lingkup budaya masyarakat paternalis).

Perempuan adalah empu kehidupan. Padanya tersandang grande mission, tugas mulia: pemuliaan manusia.

Saya sepakat dengan Zaenab, karena bukankah para nabi dan rasul, diutus Tuhan untuk menciptakan kondisi yang paling kondusif bagi pemuliaan manusia. Karena itukah Allah meletakkan surga di telapak kaki perempuan (ibu)?

Pramugari mengulas senyum, mengingatkan kami, menegakkan kembali sandaran kursi.

Zaenab melirik sambil mengulas senyum, lalu bicara: “Sesaat kita landing, Cik Gu.. Berpijak kembali di bumi, memahami hakekat perempuan sebagai manusia, tak berbedza dengan lelaki. Kita manusia, tak patut dibedza jantan dan betina..”

Hmmh... |

 

Editor : Web Administrator