Igauan Intelektualisma Pasal Lawan dan Libas

| dilihat 2522

Bang Sem

Pelajaran pertama korelasi filsafat dengan imagineering (rekacita) adalah pengenalan dasar tentang intelektualitas dan intelektualisma yang tercermin dari bagaimana istilah dalam berbahasa digunakan untuk mengekspresikan fantasi yang bermuasal dari dark dream sebagai ekspresi beragam ketakutan. Khasnya ketakutan dalam melihat realitas.

Inilah yang segera melintas di benak, ketika mendengar segelintir orang yang mengaku lulusan Universitas Indonesia dan menyatakan diri sebagai: Masyarakat yang amat terpelajar.. dengan menyatakan simbol λ (lambda) yang dimaknai dengan kata : Lanjutkan, Lawan, Libas.

Sampai pada kata Lanjutkan, tak ada yang aneh. Tapi, ketika disertai dengan Lawan dan Libas, secara konotatif dan denotatif, maknanya tentu berbeda. Kosakata terakhir (libas) justru mengandung makna yang bertentangan dengan identitas diri sebagai ‘masyarakat yang amat terpelajar.’ Dan ketika kosakata itu diucapkan secara aksentuatif, menunjukkan, mereka yang menyatakan kosakata itu, tak mencerminkan dirinya sebagai kaum terpelajar.

Mereka nampak sedang terantuk mabuk dalam kubangan ‘jebakan fantasi’ (fantacy trap) dan sedang menjelaskan dirinya sebagai segelintir orang yang sedang mengalami sindroma eksistensialisma. Segelintir orang yang pernah belajar di lingkungan universitas dan sedang sibuk mematut diri dengan intelektualisma. Tanpa pernah paham, bahwa intelektualisma sekadar mengacu pada ‘mimpi’ sebagai seolah-olah kaum yang cerdas, dan belum terbukti cerdas.

Intelektualisma adalah doktrin metafisis yang menempatkan kosakata 'cerdas dan kecerdasan' sebagai puncak mimpi berujung fantasi. Seperti ditunjukkan Socrates, intelektualisma menentang emotivisma. Intelektualisma hanya mengacu kepada kecendekiaan yang seolah-olah.

Dari perspektif lain, intelektualisma merupakan doktrin yang membolehkan semua fakta psikis direduksi menjadi fakta intelektual, dengan mengabaikan kemurnian dan keutamaan pemahaman tentang realitas yang dapat diterima nalar, naluri, perasaan dan dria dalam satu tarikan nafas. Semata-mata hanya mengandalkan reaksi atas realitas sebenarnya yang terlihat mengepung dari beragam sudut, sensitif (dan cenderung memaksakan) eksistensi. Diungkapkan secara spontanitas (tanpa pemikiran lebih dulu) dan melambangkan kekerasan.

Klaim atas intelektualitas menenggelamkan klaim kecendekiaan (Masyarakat yang amat terpelajar), dengan konotasi negatif (dan mudah dipergunakan) untuk mengecam sikap realistis. Muaranya adalah pengorbanan atas kecerdasan akalbudi dan kepekaan naluri dalam kehidupan sehari-hari. Karena klaim  (Masyarakat yang amat terpelajar) justru menunjukan realitas kepandiran.

Seperti model matematika Pythagoras sebagai bahasa logika yang menunjukkan cara berfikir yang disharmonis dan tidak proporsional.  Karena keterpelajaran yang diklaim terbuka, bermakna sebagai keberuntungan yang hampir mustahil untuk melawan realitas tanpa dalih. Karena merupakan modifikasi atas kegusaran dan kekuatiran internal di dalam diri menjadi seolah-olah kehebatan yang dikemas dan harus dipertontonkan.

Ketidakcerdasan memungkas jalan menyikapi kritik dengan cara memilih kosakata yang cenderung penetratif dan ofensif. Terutama, karena tidak mampu secara sadar dan bernalar menanggapi kritik dengan otokritik, dan memilih jalan melawan dan melibas para pengeritik.

Di sini, pemilihan kosakata yang tidak pas, menunjukkan adanya krisis akalbudi dan ketidakmampuan melakukan dialektika gagasan, fakta, dan realitas. Pada Abad ke 18, sikap seperti ini disebut sebagai ‘menyimpan intelektualitas di tabung fantasi. Persis seperti potongan lirik lagu Cindai karya Pak Ngah yang dipopulerkan Sitti Nurhaliza : “Akar beringin tidak berbatas / Cuma bersilang paut di tepi /  Bidukku lilin layarnya kertas / Seberang laut berapi.. // Gurindam lagu bergema takbir / Tiung bernyanyi pohonan jati / Bertanam tebu di pinggir bibir  /  Rebung berduri di hati.”

Keterpelajaran yang kering, terbakar sugesti sensibilitas. Denominasi ini kelak akan ditingkah gerakan sensibilitas dan “romantisme” menggerakkan reformasi, padahal yang sedang digerakkan adalah proses deformasi.

 Bolehjadi mereka yang mengklaim diri sebagai “Masyarakat yang amat terpelajar,” itu merupakan kaum penganut Neo Aristotelian - Thomist di masa lalu. Aliran filosofi berbasis budaya patronase sempit, pengagungan figur secara berlebihan, yang kemudian menjadi kebiasaan mendahulukan pembenaran daripada kebenaran.

Penganut Neo Aristotelian – Thomist yang berkawin-mawin dengan penganut Neo Hegelian memandang anarki moral dan sosial yang dipicu secara terorganisasi hanya merupakan konsekuensi dari perkembangan kaum terdidik yang masih memerlukan pengakuan khalayak luas. Karenanya, selalu memandang penting keberpihakan massa sebagai pendengar atas rangkaian pesan keberhasilan yang disampaikan secara penetratif – hipodermis, seperti teori Schlözer dan Stravinski, di paruh awal Abad ke 21.

Mallarmé menolak keadaan kesadaran terorganisir, vertebrata, yang identik dengan penabalan diri mereka sebagai pemilik arah yang paling benar atas kehidupan sosial masyarakat dengan mereduksi (bahkan mengabaikan) fakta. Terutama, karena intelektualisme menganut doktrin, semua (fakta dan kebenaran) yang ada dapat direduksi.

Mereka tak kuasa menerima realitas, bahwa kritik yang dilontarkan masyarakat atas figur yang dijunjungnya secara empirik, bukanlah cahaya yang menerangi jalan perubahan dinamis masyarakat.  Mereka bersikap: setiap kritik harus dilawan dan dilibas (dibinasakan).

Mereka tak bisa menerima realitas empirik yang memberikan fenomenologi deskriptif, karena tak mampu menerima kenyataan, bahwa efusi romantis dan intelektualisme dangkal, berpunggungan dengan realitas kebenaran. Bahaya dari  intelektualisma adalah layu dalam dogma dan proses. Dan masyarakat akan terus terjebak dalam jebakan fantasi, karena tidak mendapatkan pertukaran gagasan segar di masyarakat.  

Mereka seperti para jawara imitasi yang rajin mengasah belati hanya untuk memotong mentega. Dalam sisindiran Sunda, diamsalkan laksana, bangkong dikongkorong kujang. (Katak yang dikalungi senjata pusaka Kujang). Bangsa ini memerlukan kaum yang sungguh terpelajar, yang tak sibuk meracau sambil mengurusi selendang intelektualisme.

Siapa dia? Leluhur Bugis menyebutnya: Naiya riyasenngé pannawanawa, mapaccingi riatinna, sappai rinawanawanna, nalolongenngi sininna adaé enrenngé gau’ é napoléié ja’ enrenngé napoléié décéng. (Cendekiawan yang sungguh merupakan orang-orang yang ikhlas, yang pikirannya selalu menelisik menemukan solusi atas beragam persoalan yang dihadapi, termasuk menelisik mana perilaku yang menjadi sumber bencana dan sumber kebajikan). |

Editor : sem haesy
 
Seni & Hiburan
24 Nov 18, 19:07 WIB | Dilihat : 262
AJP2018 dan Kaus Kaki Hesti
29 Okt 18, 22:01 WIB | Dilihat : 368
Hujan dan Emak Emak Suburkan Spirit Melayu di JMF 2018
29 Okt 18, 15:57 WIB | Dilihat : 281
Ibu Ajari Aku Menangis
Selanjutnya
Polhukam
10 Des 18, 16:18 WIB | Dilihat : 37
Ihwal Gagasan Sandiaga Uno Membangun Tanpa Utang
06 Des 18, 09:43 WIB | Dilihat : 214
Anies Baswedan Pemimpin Pas di Masa Sungsang
06 Des 18, 00:08 WIB | Dilihat : 167
TNI Mesti Tumpas Pemberontak Papua Merdeka
Selanjutnya